© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang anda ketahui tentang Udang Putih atau Banana (White) Prawn ?

Udang Putih

Klasifikasi Udang Putih

Klasifikasi udang putih (Litopenaeus vannamei) adalah sebagai berikut:

  • Kingdom : Animalia
  • Sub kingdom : Metazoa
  • Filum : Arthropoda
  • Subfilum :Crustacea
  • Kelas : Malacostraca
  • Subkelas : Eumalacostraca
  • Superordo : Eucarida
  • Ordo : Decapodas
  • Subordo : Dendrobrachiata
  • Familia : Penaeidae
  • Sub genus : Litopenaeus
  • Spesies : Litopenaeus vannamei

Morfologi Udang Putih

Udang putih memiliki tubuh berbuku-buku dan aktivitas berganti kulit luar (eksoskeleton) secara periodik (moulting). Bagian tubuh udang putih sudah mengalami modifikasi sehingga dapat digunakan untuk keperluan makan, bergerak, dan membenamkan diri kedalam lumpur (burrowing ), dan memiliki organ sensor, seperti pada antenna dan antenula.

Kepala udang putih terdiri dari antena, antenula,dan 3 pasang maxilliped. Kepala udang putih juga dilengkapi dengan 3 pasang maxilliped dan 5 pasang kaki berjalan (periopoda). Maxilliped sudah mengalami modifikasi dan berfungsi sebagai organ untuk makan. Pada ujung peripoda beruas-ruas yang berbentuk capit (dactylus). Dactylus ada pada kaki ke-1, ke-2, dan ke-3. Abdomen terdiri dari 6 ruas. Pada bagian abdomen terdapat 5 pasang (pleopoda) kaki renang dan sepasang uropods (ekor) yang membentuk kipas bersama-sama telson (ekor).

Bentuk rostrum udang putih memanjang, langsing, dan pangkalnya hamper berbentuk segitiga. Uropoda berwarna merah kecoklatan dengan ujungnya kuning kemerah-merahan atau sedikit kebiruan, kulit tipis transparan. Warna tubuhnya putih kekuningan terdapat bintik-bintik coklat dan hijau pada ekor (Wayban dan Sweeney, 1991).

Udang betina dewasa tekstur punggungnya keras, ekor (telson) dan ekor kipas (uropoda) berwarna kebiru-biruan, sedangkan pada udang jantan dewasa memiliki ptasma yang simetris. Spesies ini dapat tumbuh mencapai panjang tubuh 23 cm ( Wyban dan Sweeney, 1991).

Aspek Biologis Udang Putih

Udang putih mempunyai kemampuan beradaptasi terhadap salinitas yang luas dengan kisaran salinitas 0 sampai 50 ppt (Tizol et al., 2004). Temperatur juga memiliki pengaruh yang besar pada pertumbuhan udang. Udang putih akan mati jika terpapar pada air dengan suhu dibawah 15 derajat C atau diatas 33 derajat C selama 24 jam atau lebih. Stres subletal dapat terjadi pada 15-22 derajat C dan 30-33 derajat C. Temperatur yang cocok bagi pertumbuhan udang putih adalah 23-30 derajat C. Pengaruh temperatur pada pertumbuhan udang putih adalah pada spesifitas tahap dan ukuran. Udang muda dapat tumbuh dengan baik dalam air dengan temperatur hangat, tapi semakin besar udang tersebut, maka temperatur optimum air akan menurun (Wyban et al., 1991).

Apa yang anda ketahui tentang Udang Putih atau Banana (White) Prawn ?

Karakteristik

Udang putih mempunyai kulit (carapace) halus, licin dan mengkilap. Badan berwarna putih kekuningan dengan bintik coklat dan hijau samar-samar. Ujung ekor dan kaki berwarna merah. Nama ilmiah untuk jenis Udang ini adalah Penaeus merguiensis.

Habitat

Udang Putih termasuk jenis demersal dan menyenangi substrat dasar yang halus (pasir dan sedikit lumpur). Termasuk jenis Scavenger, jenis makanan utamanya adalah Detritus.

Alat Tangkap

Udang ini bisa mencapai panjang 30 cm, namun umumnya tertangkap pada ukuran 15 – 25 cm. Dulunya Udang ini ditangkap dengan alat Trawl. Lokasi potensial untuk perikanan Udang adalah Pantai Sumatera, Utara Jawa, kalimantan Timur dan Laut Arafura. Saat ini, alat tangkap yang biasa digunakan adalah Jaring Klitik, Dogol dan Sero. Hasil tangkapan umumnya dijual beku untuk konsumsi ekspor (headless) dan pasar domestik. Perikanan Udang ini bernilai ekonomis tinggi dan penting bagi nelayan lokal.

Klasifikasi Udang Putih


Klasifikasi Udang putih (P. merguiensis de Man) menurut Myers et al. (2008) adalah sebagai berikut :

  • Kingdom : Animalia
  • Phylum : Arthropoda
  • Subphylum : Crustacea
  • Class : Malacostraca
  • Subclass : Eumalacostraca
  • Super Ordo : Eucarida
  • Ordo : Decapoda
  • Sub Ordo : Dendrobranchiata
  • Super Family : Penaeoidea
  • Famili : Penaeidae
  • Genus : Penaeus
  • Species : Penaeus merguiensis de Man

Jenis-jenis udang yang termasuk ke dalam Famili Penaedae (termasuk udang putih P. merguiensis) secara garis besar dapat dibedakan dari jenis udang famili lainnya oleh dua ciri utama yaitu : pinggir kulit bagian depan pada segmen kedua tertutupi oleh kulit pada segmen pertama, dan tiga kaki jalan (periopod) pertama mempunyai capit (chelae) yang hampir sama besarnya (Naamin 1984).

Morfologi Udang Putih


Udang putih secara morfologi ditandai dengan warna badan yang berwarna putih kekuningan dengan bintik coklat dan hijau. Umumnya memiliki panjang total 24 cm untuk betina, dan 20 cm untuk jantan. Ujung ekor dan kakinya berwarna merah, antennulae bergaris-garis merah tua dan antena berwarna merah.

Bittner dan Ahmad (1989) menyatakan tubuh udang putih dapat dibagi atas dua bagian utama, yaitu bagian kepala yang menyatu dengan dada (sepalotoraks), dan bagian tubuh sampai ke pangkal ekor yang disebut abdomen. Bagian kepala ditutupi oleh sebuah kelopak kepala (karapaks) yang bagian ujungnya meruncing dan bergigi disebut cucuk kepala (rostrum). Pada udang putih gigi rostrum bagian atas biasanya berjumlah 8 buah dan bagian bawah 5 buah sehingga didapatkan rumus gigi rostrum 8/5. Seluruh tubuh terbagi atas ruas-ruas yang ditutupi oleh kulit luar yang mengeras (eksoskeleton) terbuat dari kitin, di bagian kepala terdapat 13 ruas dan bagian perut 6 ruas.

Mulut terletak di bagian bawah kepala diantara rahang (mandibula). Di kanan kiri sisi kepala yang tertutup oleh kelopak kepala terdapat insang. Di bawah pangkal rostrum terdapat mata majemuk bertangkai yang dapat digerakkan. Ukuran mata udang putih jauh lebih besar dari udang windu, dan ukuran mata ini dapat digunakan untuk membedakan jenis udang putih dengan udang windu pada tingkat juvenil.

Morfologi udang putih P. merguiensis de Man
Gambar Morfologi udang putih P. merguiensis de Man.

Di bagian kepala terdapat beberapa anggota tubuh yang berpasangan antara lain sungut kecil (antenula), sungut besar (antena), sirip kepala (skafoserit), rahang bawah (mandibula), alat pembantu rahang/rahang atas (maksila) yang terdiri atas 2 pasang, dan maksiliped yang terdiri atas tiga pasang. Kaki jalan (periopod) terdiri atas lima pasang, dan 3 pasang diantaranya dilengkapi capit yang disebut chelae. Pada bagian abdomen terdapat lima pasang kaki renang (peliopod) yang terletak di setiap ruas, sedangkan pada ruas keenam terdapat kaki renang yang telah berubah bentuk menjadi ekor kipas atau sirip ekor (uropoda) yang ujungnya membentuk ujung ekor (telson). Di bawah pangkal ujung ekor terdapat lubang dubur (anus).

Secara keseluruhan ciri morfologi udang putih P. Merguiensis de Man disajikan pada Tabel berikut ini,

Tabel Tingkatan, sub tingkatan dan ciri morfologi P. Merguiensis de Man (Bittner & Ahmad 1989)
Tingkatan, sub tingkatan dan ciri morfologi P. Merguiensis de Man

Daur Hidup Udang Putih P. merguiensis de Man


Pada umumnya daur hidup udang penaeid menurut Dall et al. (1990) dibedakan atas 3 tipe, yaitu :

  • Tipe 1. Udang penaeid yang seluruh daur hidupnya berada di estuari, termasuk dalam kelompok ini adalah: Metapenaeus elegans, M. conjunctus, M. benettae, M. moyebi dan M. brevicornis. Pada tipe ini pasca larva cenderung bermigrasi ke bagian hulu sungai dengan salinitas rendah. Setelah tumbuh menjadi juvenil, bergerak kembali ke muara sungai yang bersalinitas lebih tinggi. Seluruh spesies penaeid ini bersifat euryhaline dan mampu bertahan hidup pada perairan tawar.

  • Tipe 2. Udang penaeid yang pada tahap pascalarva dan juvenil berada di estuari, tetapi memijah di dasar perairan antara pantai (inshore) dan lepas pantai (offshore). Termasuk dalam tipe ini adalah jenis Penaeus indicus, P. monodon, P. japonicus, P. merguiensis, P. setiferus, Parapenaeopsis hardwickii dan Xiphopenaeus kroyery.

  • Tipe 3. Udang penaeid yang pada tahap pascalarva dan juvenil berada di pantai, tetapi memijah di dasar perairan lepas pantai. Udang jenis ini lebih menyukai salinitas tinggi, sehingga tahapan dari siklus hidupnya tidak ada yang tinggal di estuari, umumnya bersifat stenohaline. Termasuk di dalamnya Atypopenaeus dearmatus, Heteropenaeus longimanus, Macropetasma africanus, Protrachypene precipua, dan Trachypenaeus curvirostris.

Garcia dan Le Reste (1981), Dall et al. (1990), Naamin et al. (1992), Stewart (2005), dan FAO (2005) menyatakan daur hidup udang putih P. merguiensis terbagi menjadi dua fase, yaitu fase laut dan fase estuari.

Daur hidup udang putih P. merguiensis de Man
Gambar Daur hidup udang putih P. merguiensis de Man

Udang putih P. merguiensis banyak dijumpai di perairan tropik dan sub tropik Asia dan Australia, antara 67° sampai 166° bujur timur dan antara 25° lintang utara sampai 29° lintang selatan. Di Indonesia, daerah penyebaran udang putih adalah di perairan sepanjang pantai barat Sumatera, Selat Malaka, pantai timur Sumatera, pantai utara Jawa, pantai selatan Jawa, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Teluk Bintuni, Kepulauan Aru dan Laut Arafura (Naamin 1984). Daerah penyebarannya mulai dari daerah muara sungai sampai ke tengah laut yang bervariasi menurut tingkatan hidupnya (larva, juvenil, dan dewasa).

Chan (1998) menyatakan pada udang penaeid termasuk udang putih, telurnya akan menetas setelah 14 - 24 jam menjadi larva sederhana yang disebut nauplius. Setelah mengalami delapan kali pergantian kulit, nauplius berubah menjadi zoea selama lebih kurang 6 hari. Pada fase ini udang masih bersifat planktonis, dan mulai muncul ke permukaan perairan yang secara berangsur- angsur bergerak menuju perairan pantai yang ada di sekitarnya. Zoea akan berubah menjadi mysis setelah mengalami tiga kali pergantian kulit (selama lebih kurang 4 hari), sudah bersifat kanibalisme, dan sasarannya adalah udang-udang muda yang sedang molting dan masih dalam kondisi lemah. Sifat kanibalisme ini sering muncul saat udang dalam kondisi lapar. Mysis akan berubah menjadi pascalarva setelah mengalami tiga kali pergantian kulit (selama lebih kurang 10 hari).

Dall et al. (1990) menyebutkan pada fase pascalarva ini udang sudah aktif berenang dan bermigrasi ke bagian hulu yang memiliki salinitas rendah, dan mulai menuju ke dasar perairan. Kirkegaard et al. (1970) dalam Naamin (1984) dan Naamin et al. (1992) menyatakan pada saat pascalarva, udang putih umumnya hidup di muara sungai yang ada hutan mangrovenya dengan salinitas rendah. Hal ini disebabkan hutan mangrove memiliki perakaran menjulur ke dalam perairan, sehingga sangat baik untuk tempat berlindung udang tersebut dari predator.

Di perairan mangrove, pascalarva secara bertahap akan berubah menjadi udang muda/juvenil setelah mengalami beberapa kali pergantian kulit (selama lebih kurang tiga bulan). Setelah tumbuh menjadi juvenil, udang akan bergerak kembali ke muara sungai berhutan bakau (dengan salinitas lebih tinggi), dan aktif mencari makan di kawasan ini. Selama tiga sampai empat bulan selanjutnya udang juvenil akan tumbuh menjadi dewasa, kemudian mulai beruaya ke arah perairan terbuka di sekitar kawasan tersebut (seperti estuari, laguna, dan teluk), yang selanjutnya akan sampai ke daerah pemijahan/spawning ground dengan kedalaman > 12 m.

Pakan dan Pemanfaatan Pakan


Vitalitas organisme adalah daya hidup untuk bertahan, tumbuh dan berperan dalam habitatnya. Vitalitas ditandai pada kemampuan memanfaatkan pakan untuk pertumbuhan. Larva udang penaeid membutuhkan pakan untuk mempertahankan eksistensi hidup serta pertumbuhannya. Selama stadia nauplius larva udang menggunakan kuning telur yang dibawa sejak menetas sebagai sumber pakannya. Kuning telur tersebut merupakan satu-satunya sumber materi dan energi bagi seluruh aktivitas metabolisme larva baik untuk keperluan osmoregulasi maupun untuk metamorfosis. Kualitas dan kuantitas kuning telur yang terkandung dalam tubuh nauplius sangat menentukan vitalitas larva. Makin besar energi yang digunakan untuk metabolisme (termasuk osmoregulasi) selama perkembangan telur maka kandungan kalori di dalam nauplius makin kecil sehingga vitalitas untuk hidup makin berkurang (Mathavan et al. 1986 dalam Anggoro 1992).

Larva udang mulai membutuhkan pakan dari luar pada stadia zoea, setelah kandungan kuning telurnya habis. Pada stadia zoea ini, udang mulai memakan plankton, detritus dan nauplius udang-udang kecil (Liao 1985), selanjutnya pada saat dewasa udang secara alamiah sudah bersifat omnivora, karnivora, pemakan bangkai serta pemakan detritus.

Pertumbuhan Udang Putih


Pertumbuhan adalah perubahan bentuk atau ukuran, baik panjang, bobot atau volume dalam jangka waktu tertentu (Hartnoll 1982). Secara morfologi, pertumbuhan diwujudkan dalam perubahan bentuk (metamorfosis), sedangkan secara energetik pertumbuhan dapat diwujudkan dengan perubahan kandungan total energi (kalori) tubuh pada periode tertentu. Allen et al. (1984) menyatakan pertumbuhan udang umumnya bersifat diskontinyu karena hanya terjadi setelah ganti kulit yaitu saat kulit luarnya belum mengeras sempurna.

Hartnoll (1982) menyatakan pertumbuhan larva dan pascalarva udang merupakan perpaduan antara proses perubahan struktur melalui proses metamorfosis dan ganti kulit (molting), serta peningkatan biomassa sebagai proses transformasi materi dan energi pakan menjadi massa tubuh udang.

Lebih lanjut Gilles (1979) dalam Anggoro (1992) menyatakan hewan air yang pertumbuhannya ditentukan oleh kelancaran ganti kulit, mekanisme osmoregulasinya ditentukan oleh osmoefektor antara cairan intra sel (CIS) dengan cairan ekstra sel (CES). Osmoefektor anorganik (Na+ dan Cl-) berkonsentrasi tinggi di dalam cairan ekstra sel, sebaliknya osmoefektor organik (asam amino bebas) dan ion K+ berkonsentrasi tinggi di cairan intra sel. Perimbangan ini sangat menentukan pH optimum dan kemantapan osmolaritas cairan tubuh, sehingga perlu dipertahankan agar sel-sel penyusun jaringan tubuh tumbuh dengan normal.

Pertumbuhan pada udang ditandai dengan adanya pergantian kulit/molting, yang secara sederhana digambarkan sebagai berikut :

  • udang berganti kulit, melepaskan dirinya dari kulit luarnya yang keras/eksoskleton.
  • air diserap, ukuran udang bertambah besar.
  • kulit luar yang baru terbentuk,
  • air secara bertahap hilang dan diganti dengan jaringan baru.

Berdasarkan hal tersebut pertumbuhan panjang individu merupakan fungsi berjenjang/step function. Tubuh udang akan bertambah panjang pada setiap ganti kulit, dan tidak bertambah panjang pada saat antara ganti kulit (intermolt). Pada setiap ganti kulit integumen membuka, pertumbuhan terjadi cepat pada periode waktu yang pendek, sebelum integumen yang baru menjadi keras (Hartnoll 1982; Fox 1972).

Anggoro (1992) menyatakan prinsip faali dan karakteristik ganti kulit pada udang sebagai berikut:

  • Mobilisasi dan akumulasi cadangan material metabolik seperti Ca, P dan bahan organik ke dalam hepatopankreas selama akhir periode antar ganti kulit (intermolt akhir).

  • Pembentukan kulit baru diiringi dengan reasorbsi material organik dan anorganik dari kulit lama selama periode persiapan/awal ganti kulit (premolt).

  • Pelepasan kulit lama pada saat ganti kulit dan diikuti dengan absorpsi air dari media eksternal dalam jumlah besar.

  • Pembentukan dan pengerasan kulit baru dari cadangan material organik dan anorganik yang berasal dari hemolimfe (darah) dan hepatopankreas (sebagian kecil berasal dari media eksternal), yang terjadi pada periode setelah ganti kulit (postmolt).

  • Pertumbuhan jaringan somatik selama periode setelah ganti kulit dan awal antar ganti kulit (intermolt awal).

Laju pertumbuhan udang secara internal tergantung pada kelancaran proses ganti kulit dan tingkat kerja osmotik/osmoregulasi yang dialaminya (Hartnoll 1982; Ferraris et al. 1987).

Selama stadia larva, udang penaeid mengalami beberapa kali metamorfosis dan ganti kulit sampai stadia pascalarva (PL). Berdasarkan ciri-ciri morfologinya, tahap pertumbuhan larva udang penaeus dibedakan menjadi 4 stadia, yaitu: nauplius (N), zoea (Z), mysis (M) dan pascalarva (PL). Dari empat stadia tersebut dapat dibedakan lagi menjadi: enam sub stadia nauplius (N1-N6), tiga sub stadia zoea (Z1-Z3), tiga sub stadia mysis (M1-M3) sebelum mencapai PL1 (Motoh 1981; Solis 1998). Pertumbuhan udang setelah substadia M3 lebih ditekankan pada perubahan biomassa, baik bobot maupun ukuran tubuh. Pada setiap ganti kulit sebagian massa hilang sebagai eksuvia. Kehilangan massa pada setiap ganti kulit ini mengakibatkan model pertumbuhan (bobot) udang menjadi diskontinyu (Allen 1984).

Pertumbuhan udang pada dasarnya bergantung kepada energi yang tersedia, bagaimana energi tersebut dipergunakan di dalam tubuh dan secara teoritis hanya akan terjadi bila kebutuhan minimum untuk kehidupannya terpenuhi. Udang memperoleh energi dari pakan yang dikonsumsi, dan kehilangan energi sebagai akibat metabolisme termasuk untuk keperluan osmoregulasi. Efisiensi pemanfaatan energi (pakan) untuk pertumbuhan sangat bergantung pada daya dukung lingkungannya (Anggoro 1992).

Reproduksi Udang Putih


Udang putih termasuk ke dalam kelompok heteroseksual, sehingga secara morfologi dapat dibedakan antara udang jantan dan betina (sexual dimorphisme). Udang jantan mempunyai alat kelamin yang disebut petasma terletak diantara kaki renang pertama, sedangkan alat kelamin udang betina disebut telikum yang terletak diantara pangkal kaki jalan keempat dan kelima dengan lubang saluran kelamin terletak diantara pangkal kaki ketiga (Bittner & Ahmad 1989).

Motoh (1981) menyatakan organ reproduksi udang putih jantan terdiri atas organ internal dan eksternal. Organ internal terdiri atas sepasang testis, sepasang vas deferens, dan sepasang terminal ampul. Testis terletak di tengah bagian dorsal cephalothorax, tepatnya di bagian ventral jantung (tepat di bawah sinus perikardia dan bagian dorsal hepatopankreas).

Vas deferens merupakan saluran testis yan membentuk banyak gulungan berkelok-kelok, terletak di bagian anterior memanjang sampai organ hepatopankreas membentuk tabung hampir lurus di bawah pinggiran posterolateral kepala dan diteruskan sampai ke terminal ampul yang membesar. Terminal ampul merupakan alat yang membentuk kantong diselaputi dengan lapisan otot tipis yang terletak pada kaki jalan kelima. Organ eksternalnya adalah petasma yang merupakan modifikasi dari bagian endopodit kaki renang pertama. Petasma berfungsi untuk menyalurkan sperma dan meletakkannya pada alat kelamin betina. Organ eksternal lainnya adalah apendix masculina yang terletak pada kaki renang kedua.

Organ reproduksi udang putih betina juga terdiri atas organ internal dan eksternal. Organ internal terdiri atas sepasang ovarium yang memanjang di tengah bagian dorsal karapaks, tepatnya di bagian ventral jantung dan bagian dorsal hepatopankreas sampai ke bagian pangkal ekor. Saluran telur/oviduct keluar dari bagian tengah kedua sisi ovarium, bermuara pada suatu lubang yang terdapat dalam koksapodit dari pasang kaki jalan ketiga. Organ eksternal udang betina adalah telikum. Pada bagian dalam telikum terdapat seminal reseptakel yang berfungsi untuk menyimpan spermatofor setelah terjadi kopulasi.

Udang putih betina menurut Bittner dan Ahmad (1989) dapat menghasilkan telur hingga mencapai 100.000 butir dalam sekali peneluran. Peter et al. (2003) menyatakan udang putih P. merguiensis dapat menghasilkan telur berkisar 100.000 - 450.000 butir dalam sekali peneluran. Pada saat pelepasan telur biasanya induk udang betina berenang berputar-putar dengan kecepatan tinggi. Telur dilepaskan melalui saluran telur.

Pelepasan telur membutuhkan waktu dua menit dan biasanya didahului oleh pelepasan sperma yang tersimpan di dalam telikum induk udang betina (Nurdjana 1986; Chamberlain 1987). Pembuahan terjadi di dalam air setelah sperma bertemu dengan telur. Pertemuan antara sperma dan telur seringkali telah dimulai pada saat telur dikeluarkan melalui bulu- bulu halus tempat menempelnya sperma di dalam telikum induk udang betina (Chamberlain et al. 1987).

Tingkat Kematangan Gonad


Tingkat kematangan gonad (TKG) merupakan gambaran tentang perkembangan kematangan gonad. Gonad udang putih terletak pada bagian dorsal tubuh. Pengamatan tingkat kematangan gonad udang menurut Effendi (1997) dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara morfologis dan histologis. Pengamatan secara morfologis lebih mudah sehingga banyak dilakukan oleh para peneliti. Motoh (1981), Croccos dan Kerr (1983), Primavera (1983), serta King (1995) menyatakan bahwa penentuan tingkat kematangan gonad secara morfologis dapat dilakukan menggunakan variabel bentuk, ukuran panjang dan berat, warna dan perkembangan isi gonad.

Motoh (1981) membuat kriteria lima tahapan perkembangan tingkat kematangan gonad sebagai berikut:

  • Tingkat 1 : Belum matang. Ovari tipis, bening dan tidak berwarna.
  • Tingkat 2 : Kematangan awal. Ovari membesar, bagian depan dan tengah berkembang.
  • Tingkat 3: Kematangan lanjut. Ovari berwarna hijau muda dan dapat dilihat melalui eksoskeleton, bagian depan dan tengah berkembang penuh.
  • Tingkat 4: Matang telur. Ovari berwarna hijau tua. Ovum lebih besar dari tingkatan sebelumnya. Pada tingkatan ini dianggap sebagai tingkat kematangan telur.
  • Tingkat 5: Spent. Ovari lembek dan kisut. Ovum sudah dilepaskan. Biasanya tubuh udang terasa lembek dan rongga bagian atas abdomen kosong.

Primavera (1983), Naamin dan Purnomo (1972) dalam Naamin (1984) membagi tingkat TKG udang penaeid menjadi 5 tingkatan.

  • Tingkat 1 : Gonad tipis dan transparan, belum terlihat dengan jelas.
  • Tingkat 2 : Gonad terlihat seperti benang halus yang berwarna hijau pekat.
  • Tingkat 3 : Gonad semakin tebal dengan warna semakin gelap.
  • Tingkat 4: Gonad semakin melebar, di bagian anteriornya (ruas badan pertama dan kedua) terlihat adanya lekukan-lekukan dan bulatan-bulatan. Pada tahap ini udang sudah siap memijah.
  • Tingkat 5: Gonad berwarna jernih atau pucat karena seluruh atau sebagian telurnya telah dilepas.

Tingkat perkembangan dan kematangan gonad induk betina udang putih P. merguiensis de Man
Gambar Tingkat perkembangan dan kematangan gonad induk betina udang putih P. merguiensis de Man. Naamin dan Purnomo (1972).

Croccos dan Kerr (1983) menghubungkan tingkat kematangan gonad (TKG) dengan perubahan makroskopis ovari, sehingga dapat memperkirakan TKG udang tanpa harus melakukan pembedahan mikroskopis, sebagai berikut:

  • Tingkat 1: Ovari jernih, diameter lebih kecil dari usus. Oosit belum berkembang.
  • Tingkat 2: Ovari buram dan diameter sama besar dengan usus. Ukuran oosit bertambah
  • Tingkat 3: Ovari berwarna kekuningan dan diameter lebih besar dari usus.
  • Vitelin terakumulasi dalam oosit.
  • Tingkat 4: Ovari berwarna lebih gelap dan terletak di bagian dorsal tubuh. Oosit matang
  • Tingkat 5: Ovari telah dipijahkan, sehingga lembek dan terbelit. Ovum yang tersisa diserap kembali (reabsorbsi).

Rekruitmen Udang Putih


Rekruitmen diartikan sebagai penambahan baru ke dalam stok perikanan (Effendie 1997). Stok adalah kelompok ukuran biota (udang) yang tersedia pada waktu tertentu sehingga dapat tertangkap oleh alat tangkap. Masuknya sediaan/stok dari luar wilayah perikanan ke dalam suatu stok perikanan berasal dari hasil reproduksi yang telah mencapai ukuran stok. Faktor penentu besarnya penambahan baru/rekruitmen udang putih di alam adalah jumlah induk udang yang siap memijah dan mortalitas pada rentang waktu antara pemijahan sampai dengan udang mencapai ukuran stok, atau disebut juga dengan mortalitas per rekruitmen.

Udang Putih

Preferensi Udang Putih terhadap Parameter Fisik-Kimia Air


Parameter fisik-kimia air adalah faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi keberadaan dan pertumbuhan udang putih di habitat alaminya. Udang putih di alam menempati habitat yang berbeda-beda berdasarkan stadia daur hidupnya. Faktor fisik kimia air yang mempengaruhi keberadaan dan pertumbuhan udang putih di alam antara lain:

  • Suhu Perairan

    Suhu perairan merupakan salah satu variabel utama yang mempengaruhi pertumbuhan udang putih. Fast dan Lester (1992) menyatakan suhu perairan sangat mempengaruhi pertumbuhan, aktifitas, maupun nafsu makan udang putih. Suhu perairan di bawah 20°C akan menghambat pertumbuhan udang putih. Suhu juga sangat dibutuhkan udang putih pada saat memijah guna menjaga kelulusan hidup larva, perkembangan embrio, dan penetasan telur.

  • Kedalaman Perairan

    Kedalaman suatu perairan sangat mempengaruhi distribusi udang putih terutama dalam hal memijah. Udang berukuran dewasa banyak dijumpai pada perairan yang memiliki kedalaman lebih dari 12 m (Kirkegaard et al. 1970). Crocos dan Kerr (1983) menyatakan P. merguiensis berukuran besar ditemukan memijah pada kedalaman < 15 m di perairan Teluk Carpentaria, Australia. Lebih lanjut Naamin (1984) menyatakan udang putih betina dewasa di Perairan Arafura banyak ditemukan memijah pada kedalaman antara 13 m – 35 m.

  • Kecepatan Arus

    Kecepatan arus berperan dalam distribusi udang-udang muda/juvenil. Pertambahan aliran sungai akibat terjadinya hujan dapat menyebabkan udang- udang muda banyak meninggalkan sungai. Kecepatan arus dapat mempengaruhi distribusi udang secara langsung maupun tidak langsung. Dall et al. (1990) menyatakan secara tidak langsung pengaruh kecepatan arus dapat menentukan distribusi partikel-partikel sedimen dasar, dan secara langsung dapat mempengaruhi tingkah laku udang. Arus yang cukup kuat akan menyebabkan udang membenamkan diri di dalam substrat, sedangkan bila kecepatan arus lemah udang banyak melakukan aktifitas.

  • Salinitas

    Salinitas adalah jumlah total garam-garam terlarut (dinyatakan dalam gram), yang terkandung dalam 1 kg air laut. Salinitas berperan dalam mempengaruhi proses osmoregulasi udang putih khususnya selama proses penetasan telur dan pertumbuhan larva. Tingkat salinitas yang terlalu tinggi atau rendah dan memiliki fluktuasi lebar dapat menyebabkan kematian embrio dan larva udang. Hal ini disebabkan terganggunya keseimbangan osmolaritas antara cairan di luar tubuh dan di dalam tubuh udang, serta berkaitan dengan perubahan daya absorbsi terhadap oksigen. Udang akan tumbuh lebih baik pada perairan dengan kisaran salinitas 15‰ - 30‰. Salinitas yang terlalu tinggi dapat menyebabkan laju pertumbuhan udang menurun (Boyd & Fast 1992).

  • Oksigen Terlarut

    Oksigen terlarut merupakan faktor pembatas bagi kehidupan organisme perairan. Perubahan konsentrasi oksigen terlarut dapat menimbulkan efek langsung yang berakibat pada kematian organisme perairan termasuk udang putih. Kandungan oksigen terlarut dapat mempengaruhi kelulusan hidup udang putih juvenil. Gaudy dan Sloane (1981) dalam Anggoro (1992) menyatakan laju respirasi udang juvenil mengikuti ketersediaan oksigen perairan. Jika kelarutan oksigen dalam perairan tinggi, maka laju respirasi udang akan meningkat.

  • pH Air

    Derajat keasaman atau pH merupakan indikator keasaman dan kebasaan air. Nilai pH merupakan fakor penting karena dapat mempengaruhi proses dan kecepatan reaksi kimia di dalam air maupun di dalam embrio/telur udang. Telur udang memiliki toleransi yang rendah terhadap pH tinggi. pH air juga berperan dalam mendukung pertumbuhan udang. Nilai pH air yang terlalu rendah dapat menyebabkan kandungan CaCO3 pada kulit udang akan berkurang, akibatnya konsumsi oksigen akan meningkat, permeabilitas tubuh menurun dan insang udang akan mengalami kerusakan (Sumeru & Anna 2010).

Sumber : Miswar Budi Mulya, Kajian Bioekologi Udang Putih (Penaeus merguiensis de Man) di Ekosistem Mangrove Percut Sei Tuan Sumatera Utara, Institut Pertanian Bogor, 2012.