Apa yang anda ketahui tentang Teori Kuznets dalam pertumbuhan ekonomi ?

Pertumbuhan ekonomi

Apa yang anda ketahui tentang Teori Kuznets dalam pertumbuhan ekonomi ?

Simon Kuznets menghitung dan menganalisis sejarah pertumbuhan ekonomi pada negara maju dalam jangka panjang. Pertumbuhan kapasitas produksi didasarkan pada perkembangan teknologi, pembangunan institusi atau kelembagaan, sikap dan ideologi.

Terdapat enam karakteristik yang ditemui pada hampir semua negara maju, yaitu:

  1. pertumbuhan output per kapita yang tinggi,

  2. kenaikan tingkat produktifitas faktor produksi yang tinggi,

  3. transformasi struktur ekonomi yang cepat,

  4. tingkat transformasi sosial dan ideologi yang tinggi,

  5. terdapat kecenderungan negara maju untuk memperluas pasar dan sumber bahan baku pada negara lain (penetrasi ekonomi internasional),

  6. penyebaran pertumbuhan ekonomi yang terbatas, hanya mencapai sekitar sepertiga penduduk dunia.

Kuznets mengemukakan bahwa modernisasi pertanian akan berdampak pada perubahan struktur ekonomi. Perubahan ini dimulai dari sektor primer (tradisional), sekunder. dan berakhir pada sektor tersier (jasa). Maka itu, petani akan beralih profesi meninggalkan pekerjaannya menuju sektor industri atau jasa di kota demi mengikuti transformasi struktural tesebut. Hal ini disebabkan karena peningkatan peran sektor industri yang umumnya padat modal dan menggunakan teknologi, mengakibatkan permintaan akan sumber daya manusia meningkat. Dengan demikian proporsi pekerja di sektor pertanian akan menurun bila dibandingkan dengan proporsi pekerja di sektor industri dan jasa.

Disamping itu, Kuznets juga membandingkan perubahan yang terjadi di tiap sektor ekonomi dalam menghasilkan produksi nasional, dengan perubahan masing-masing sektor dalam penyerapan tenaga kerja. Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitiannya ialah sebagai berikut :

  1. Sektor pertanian: perubahan sektor ini dalam penciptaan produksi nasional secara relatif hampir bersamaan dengan perubahan terhadap penyerapan tenaga kerja.

  2. Sektor industri: perubahan sektor ini dalam penciptaan produktivitas nasional secara relatif lebih besar jika dibandingkan dengan perubahan terhadap penyerapan tenaga kerja.

  3. Sektor jasa: perubahan sektor ini dalam penciptaan produktivitas nasional secara relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan perubahan terhadap penyerapan tenaga kerja.

Teori-teori pembangunan yang berkembang tidak menyinggung masalah kemiskinan secara eksplisit sebagai suatu permasalahan yang memerlukan pendekatan khusus dalam penyelesaiannya. Teori pembangunan yakin masalah kemiskinan akan teratasi dengan sendirinya melalui mekanisme pertumbuhan ekonomi. Bahkan Kuznets berpendapat bahwa ketimpangan pendapatan merupakan syarat keharusan bagi pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Jadi pada awal pertumbuhan ekonomi tingkat kesenjangan ekonomi makin tinggi sampai pada tingkatan tertentu baru kemudian menurun.

Teori Harrod-Domar juga menyatakan demikian, di mana untuk pertumbuhan yang tinggi diperlukan akumulasi modal (capital) melalui tabungan (saving). Komponen masyarakat yang mampu menabung adalah kelompok orang kaya, bukan dari kelompok orang miskin. Sehingga pertumbuhan ekonomi hanya dapat dimotori oleh kelompok masyarakat yang mampu menumpuk modal.

Dengan demikian, pada tahap awal pertumbuhan hasil pembangunan hanya dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat yang memiliki modal besar, baru setelah “kue” pembangunan cukup besar mekanisme pemerataan secara otomatis berjalan melalui distribusi kesempatan kerja dan berusaha.

Beberapa pendapat yang membantah bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan diikuti dengan tingkat kesenjangan yang tinggi, yaitu:

  1. Tingkat kesenjangan yang tinggi pada akhirnya melahirkan kemiskinan. Masyarakat miskin tidak mampu membiayai pendidikan anaknya sehingga kualitas sumber daya yang dihasilkan rendah, yang menyebabkan produktivitas rendah. Dalam jangka panjang justru akan mempengaruhi pertumbuhan eknonomi,

  2. Kelompok masyarakat yang kaya tidak selalu menginvestasikan pendapatannya untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi justru cenderung bersifat konsumtif dengan membeli barang-barang mewah yang diimpor atau belanja ke luar negeri, sehingga menimbulkan kebocoran ekonomi yang berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi,

  3. Pendapatan yang rendah menimbulkan standar hidup yang rendah, tingkat kesehatan, dan nutrisi yang rendah, yang menyebabkan produktivitas rendah, dan pada akhirnya menurunkan pertumbuhan ekonomi,

  4. Kesenjangan yang tinggi menimbulkan efek pisikologis yang berdampak buruk pada kondisi sosial politik. Kesenjangan yang tinggi menimbulkan potensi konflik sosial, sehingga menciptakan iklim yang tidak baik untuk investasi dan berusaha, serta berdampak pada pertumbuhan ekonomi,

  5. Meningkatnya pendapatan kelompok miskin akan menstimulus permintaan yang mendorong ekspansi ekonomi.

Pada pertemuan tahunan ke-67 dari The American Economic Association di tahun 1954, Simon Kuznets memberikan sambutan presiden asosiasi dengan judul Economic Growth and Income Inequality. Kuznets menduga bahwa dengan semakin meningkatnya pendapatan per kapita, ketimpangan pendapatan juga akan meningkat pada awalnya, akan tetapi pada suatu titik balik (turning point) tertentu ketimpangan tersebut akan mulai menurun (Kuznets, 1955). Kuznets percaya bahwa distribusi pendapatan menjadi tidak merata pada tahap-tahap awal pertumbuhan ekonomi akan tetapi kemudian distribusi pendapatan ini mulai berbalik semakin merata seiring berlanjutnya pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan analisis empiris yang dilakukannya, didapat basil bentuk kurva yang senng disebut Kurva U Terbalik atau Kurva Kuznets seperti pada gambar di bawah.


Kurva U terbalik Kuznets

Pada tahun 1991, Kurva Kuznets mendapatkan eksistensi baru. Konsep ini menjadi alat baru untuk menjelaskan hubungan antara pendapatan per kapita dan kualitas lingkungan. Hasil penelitian empiris Grossman & Krueger (1991) dalam Stem (2004) secara khusus memperlihatkan bahwa terdapat temuan bahwa tingkat degradasi lingkungan dari beberapa polutan dan pendapatan per kapita mempunyai hubungan yang sama dengan bentuk Kurva Kumets. Kurva baru yang menggambarkan hubungan pendapatan per kapita dengan kualitas lingkungan ini disebut Environmental Kuznets Curve (EKC) seperti terlihat pada kurva di bawah.
image
Environmental Kuznets Curves (EKC)

Simon Kuznets yang menganalisis pertumbuhan historis di negara-negara maju mengemukakan bahwa pada tahap awal pertumbuhan ekonomi dalam distribusi pendapatan cenderung akan memburuk. Namun, pada tahap berikutnya, dalam distribusi pendapatannya akan membaik. Observasi ini dikenal secara luas sebagai teori kurva “U-Terbalik” karena perubahan dalam distribusi pendapatan akan menurun seiring dengan peningkatan GNP per perkapita pada tahap pembangunan kemerosotan jangka pendek dalam pertumbuhan pendapatan per kapita sering mengakibatkan ketimpangan yang menajam (Todaro dan Smith, 2009). Hipotesis Kuznets (kurva U terbalik) dapat dibuktikan dengan membuat PDRB per kapita dan Indeks kesenjangan. Grafik tersebut merupakan hubungan antar pertumbuhan PDRB dengan Indeks Entropi Theil selama periode pengamatan. Kurva U – terbalik menggambarkan kesenjangan distribusi pendapatan yang meningkat pada tahap awal pembangunan dan menurun pada tahap-tahap berikutnya (Raswita dan Suryana, 2013).

Referensi
  1. https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/9164/JURNAL.pdf?sequence=2&isAllowed=y
  2. http://perpustakaan.bappenas.go.id/lontar/file?file=digital/159848-[Konten]-Devy_Priambodo_Kuswantoro.pdf

Hipotesis U-Terbalik Kuznet

Simon kuznet mengemukakan bahwa pada awal tahapan pertumbuhan Perekonomian, distribusi pendapatan akan cenderungg memburuk; hanya pada tahapan berikutnyalah distribusi itu akan membaik. Akhirnya dikenal dengan kurva kuznet “ U terbalik” karena adanya pola perubahan longitudinal (deret waktu) dalam distribusi pendapatan yang diukur, misalnya dengan koefisien gini-kurvanya tampak seperti bentuk U terbalik, seiring kenaikan GNI per kapita dalam beberapa studi yang dilakukan Kuznets. Seperti yang dijelaskan pada gambar berikut.

image

Penjelasan tentang mengapa ketimpangan semakin memburuk selama tahapan awal pertumbuhan ekonomi sebelum akhirnya meningkat cukup banyak. Semua penjelasan itu hampir selalu berkaitan dengan hakikat perubahan structural. Pertumbuhan awal mungkin saja, seperti dijelaskan dalam model lewis, dikonsentrasikan pada sektor industri modern yang kesempatan kerjanya terbatas tetapi upah dan produktifitasnya tinggi.
Seperti yang telah kita lihat , kurva Kuznets dapat dihasilkan oleh proses pertumbuhan berkesinambungan yang memperluas sektor modern ketika suatu negara bergerak dari Perekonomian tradisional ke Perekonomian modern. Selain itu, hasil atas investasi pendidikan pada awalnya mungkin meningkat dan penawaran pekerja tidak terampil menurun. Jadi meskipun Kuznets tidak menjelaskan mekanisme yang dapat menghasilkan kurva U terbalik ini, pada dasarnya hipotesisnya sejalan dengan proses pembangunan ekonomi yang berlangsung secara bertahap. Akan tetapi, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya pertumbuhan dengan pengayaan sektor tradisional dan sektor modern akan cenderung menarik ketimpangan ke arah yang berlawanan; sehingga perubahan yang sungguh-sungguh terjadi dalam ketimpangan menjadi tidak jelas, dan keabsahan kurva Kuznets secara empiris masih patut dipiertanyakan.

Dengan mengabaikan manfaat dari perdebatan metodologi, beberapa ekonom pembangunan mengemukakan bahwa tahapan Kuznets yang menunjukan kenaikan dan kemudian penurunan ketimpangan merupakan hal yang memang seharusnya seperti itu. Sekarang telah cukup banyak studi kasus dan contoh negara yang spesifik seperti Taiwan, korea selatan, kosta rika, dan sri lanka yang menunjukan bahwa tingkat pendapatan yang lebih tinggi dapat disertai dengan penurunan alih-alih tingkat ketimpangan. Semuanya bergantung pada hakikat proses pembangunan.