Apa yang anda ketahui tentang tanaman pegagan?

Pegagan merupakan tanaman liar yang banyak tumbuh di perkebunan, ladang, tepi jalan, serta pematang sawah. Tanaman ini berasal dari daerah Asia tropik, tersebar di Asia Tenggara termasuk Indonesia, India, Republik Rakyat Tiongkok, Jepang dan Australia kemudian menyebar ke berbagai negara-negara lain.

1 Like

Kalian tau apa itu tanaman pegagan? Kalau Centella asiatica pasti nggak asing, pernah denger Centella asiatica, kan? Akhir-akhir ini memang Centella asiatica banyak digunakan sebagai salah satu bahan dasar skincare yang katanya kaya akan manfaat. Manfaatnya apa aja sih? Apakah bisa dibudidayakan? Kenalan lebih jauk yuk sama tanaman ini.


Gambar 1. Tanaman Pegagan (Centella asiatica)

Di Indonesia tanaman pegagan sudah lama dikenal, tetapi belum banyak mendapat perhatian. Tanaman ini belum banyak dibudidayakan dan lebih banyak dijumpai sebagai gulma yang tumbuh di tempat terbuka, pada tanah lembab dan subur, misalnya di padang rumput, tegalan, tepi parit di antara batuan, atau di tepi jalan dan tembok. Tanaman pegagan (Centella asiatica L. Urban) merupakan tanaman liar yang banyak tumbuh di berbagai tempat seperti di ladang, perkebunan maupun di pekarangan. Pegagan berasal dari Asia tropik, menyukai tanah yang agak lembab, cukup sinar atau agak terlindung serta dapat ditemukan di dataran rendah sampai dengan ketinggian 2500 m dpl (Heyne, 1987; Dalimartha, 2000).

Tanaman Pegagan berasal dari daerah Asia Tropik, tersebar luas di Asia Tenggara (Indonesia), India, Tiongkok, Jepang dan Australia. Januwati, (2002) menyatakan pegagan (Centella asiatica L. Urban) atau Hydrocotyle asiatica L. termasuk dalam family Umbelliferae (Apiaceae). Di Indonesia dikenal dengan nama rumput kaki kuda (Sumatera), antanan (Sunda), pegagan (Jakarta), tikusan (Madura), Pegaga (Makassar), piduh (Bali), kari-kari (Halmahera) dan gagan-gagan (Jawa). Selain itu, pegagan juga dikenal dengan nama takip-kohot (Filiphina), brahma butu (India), Indian Hydrocotyle atau Indian Pennywort (Inggris)

Morfologi Tanaman


Sebelum membahas lebih jauh tentang manfaat dan budidayanya, kita harus tau dulu mengenai morfologi tanaman ini. Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban.) merupakan tumbuhan herba aromatik yang tumbuh merayap diatas permukaan tanah dan berbunga sepanjang tahun. Pegagan memiliki bau aromatik karena adanya kandungan minyak esensial yaitu resin pada organ tubuhnya. Apabila dilihat dari gambar di bawah ini, awalnya kita akan mengira bahwa organ memanjang kecil seperti ini adalah batang. Namun sebenarnya tanaman pegagan tidak mempunyai batang. Organ tersebut adalah tangkai daun.


Gambar 2. Morfologi Tanaman Pegagan

Pegagan tumbuh merayap menutupi tanah, tidak memiliki batang, tinggi tanaman antara 10 – 50 cm. Pegagan memiliki daun satu helaian yang tersusun dalam roset akar dan terdiri dari 2 – 10 helai daun. Daun berwarna hijau dan berbentuk seperti kipas, buah berbentuk pinggang atau ginjal. Pegagan juga memiliki daun yang permukaan dan punggungnya licin, tepinya agak melengkung ke atas, bergerigi, dan kadang-kadang berambut, tulangnya berpusat di pangkal dan tersebar ke ujung serta daunnya memiliki diameter 1-7 cm. Pegagan memiliki tangkai daun berbentuk seperti pelepah, agak panjang dan berukuran 5 - 15 cm. Pada tangkai daun pegagan dipangkalnya terdapat daun sisik yang sangat pendek, licin, tidak berbulu, berpadu dengan tangkai daun.

Skema tumbuhan pegagan
Gambar 3. Skema tumbuhan pegagan . 1) Herba pegagan dengan susunan daun dalam roset akar, 2) Tangkai daun dengan pangkal menyerupai pelepah, 3) dan 4) Susunan tulang daun, 5) Stolon dengan tunas, bunga dan akar yang tumbuh pada buku, 6) Bunga dan 7) Buah

Pegagan memiliki bunga putih atau merah muda yang tersusun dalam karangan yang berbentuk payung. Buah pegagan berbentuk lonjong atau pipih, berbau harum dan rasanya pahit, panjang buah 2 –2,5 mm. Buah pegagan berdinding agak tebal, kulitnya keras, berlekuk dua, berusuk jelas, dan berwarna kuning. Pegagan merupakan tumbuhan berbiji tertutup dan berkeping dua. Pegagan memiliki akar rimpang yang pendek serta geragih, akar keluar dari buku dan berupa akar tunggah berwarna putih (Savitri, 2016). Stolon tumbuh dari sistem perakaran, memiliki ukuran yang panjang dan tumbuh menjalar. Pada setiap stolon akan tumbuh tunas yang akan menjadi cikal bakal tumbuhan pegagan yang bary(Winarto dan Subakti, 2003).

Daun pegagan pada dasarnya bentuknya sama yaitu menyerupai kipas. Namun ternyata bentuk daunnya agak sedikit berbeda di setiap daerah di Indonesia.


Gambar 4. Bentuk dan warna daun 12 aksesi pegagan asal Cibodas, Cianjur, Banjaran, Cicurug, Bali, Bengkulu, Manoko, Malaysia, Ciwidey, Sumedang, Majalengka, dan Gunung Putri

Budidaya Pegagan


Pegagan tidak tahan terhadap tempat terlalu kering, curah hujan tinggi, intensitas cahaya 30 – 40% dan dapat tumbuh di semua jenis tanah. Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban.) dapat tumbuh pada berbagai macam jenis tanah, seperti tanah lembap, tanah berpasir, tanah lempung, dan tanah kaya humus.8 Habitat pegagan (Centella asiatica (L.) Urban.) umumnya didaerah tropis dan sub tropis9. Daerah pertumbuhan tanaman pegagan tersebar mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi yang mencapai ketinggian 2.500 m di atas permukaan laut (dpl). ketinggian tempat optimum untuk tanaman pegagan adalah 200 - 800 m dpl., akan tetapi di atas 1.000 m dpl.

Pegagan tumbuh baik di tempat yang teduh atau ternaungi. Pada tempat seperti ini, tanaman akan tumbuh dengan helaian daun lebih besar dan tebal dibandingkan di tempat terbuka, sedangkan pada tempat yang kurang cahaya helaian daunnya akan menipis dan berwarna pucat. Selain itu, untuk memperoleh daun yang lebar diperlukan kelembaban dan kesuburan tanah yang cukup. Kelembaban udara yang diinginkan antara 70-90 % dengan rata-rata temperatur udara antara 20 - 25ΒΊC dan tingkat keasaman tanah (pH) netral antara 6 – 7 (Winarto dan Surbakti, 2003).

Apakah tanaman pegagan bisa dibudidayakan?

Jawabannya adalah iya. Walaupun pegagan adalah tanaman liar, namun apabila kita dapat menyediakan lingkungan yang cocok dan mendukung pegagan dapat tumbuh subur. Di Indonesia, hingga saat ini tanaman pegagan masih jarang dibudidayakan. Hal ini disebabkan karena pegagan banyak yang tumbuh liar di alam. Petani tanaman obat hanya menanam dalam jumlah terbatas agar dapat dipanen saat daunnya masih segar. Berbeda dengan Malaysia yang membudidayakan pegagan untuk keperluan industri. Industri tanaman obat menuntut ketersediaan yang teratur setiap harinya sesuai dengan kapasitas produksi yang telah direncanakan (Winarto dan Maria, 2003). Tanaman obat ini mudah untuk dibudidayakan dan diperbanyak secara vegetatif.

Menurut (Mahendra, 2006) hal-hal yang perlu kita perhatikan apabila ingin membudidayakan tanaman pegagan antara lain:

1. Pengolahan Lahan

Pengolahan lahan untuk budidaya pegagan tidak sulit karena akar pegagan pendek. Pengolahan tanah dilakukan sedalam 30 cm, digemburkan dan dibersihkan dari gulma dan ranting-ranting, lalu dibuat bedengan dan saluran drainase, untuk mencegah terjadinya genangan di lahan. Selain di lahan, pegagan juga dapat ditanam dalam pot dan polybag.

Cara ini biasanya dilakukan oleh para pengobat atau pengusaha ramuan obat tradisional. Ukuran polibeg atau pot yang digunakan tidak ada patokan. Namun, kebanyakan digunakan polibeg atau pot yang berdiameter sekitar 15 cm. Media tanam yang digunakan pada prinsipnya mengandung banyak bahan organik dan gembur.

2. Pembibitan

Tanaman pegagan mempunyai stolon yang di setiap buku batangnya tumbuh daun dan akar. Dengan pemotongan buku-buku tersebut, pegagan dapat diperbanyak. Satu buku yang masih mempunyai akar dapat tumbuh menjadi tanaman baru. Namun, untuk perbanyakan sebaiknya satu bibit mempunyai tiga buku untuk menjamin pertumbuhannya. Panjang bibit berupa stolon minimum 3 ruas. Stolon yang akan digunakan sebaiknya diambil beserta tanahnya, kemudian direndam di dalam air selama lebih kurang 1 jam. Hal ini dilakukan agar akar di ruas stolon mengandung air yang cukup, sehingga jika terjadi penguapan, stolon tidak akan layu dan mati.

Naungan sangat penting dalam pembibitan, terutama pada hari pertama sampai hari kelima masa pemisahan dari tanaman induk. Pembibitan dapat juga dilakukan di bedengan atau di dalam polibeg. Letak bedengan pembibitan sebaiknya tidak begitu jauh dari lahan penanaman yang telah dipersiapkan. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengangkutan saat akan melakukan penanaman.

3. Penanaman

Pegagan bisa ditanam baik di polybag maupun di bedengan. Jarak tanam yang dianjurkan adalah 20 x 20 cm. Setelah penanaman, langsung dilakukan penyiraman dengan memperhatikan jumlah air yang digunakan. Sebaiknya bedengan tidak sampai kekurangan air agar penanaman tidak mengalami kegagalan.

4. Perawatan Tanaman

Penyiraman

Penyiraman dilakukan sekali atau dua kali sehari, tergantung dari kondisi lahan. Di daerah kering, penyiraman dilakukan paling sedikit 2 kali sehari. Sementara itu, untuk daerah yang kandungan airnya banyak, penyiraman hanya dilakukan sekali sehari. Penyiraman dilakukan untuk mempertahankan kelembapan tanah sehingga penyerapan hara dari tanah oleh akar tanaman dapat berjalan dengan lancar. Ketersediaan air di media tanam mutlak diperlukan terutama saat tanaman masih muda. Air sangat membantu proses vegetative tanaman pegagan. Di areal persawahan, biasanya penyiraman tidak perlu dilakukan karena kandungan air sudah cukup memadai. Namun, kandungan air tanah harus tetap dijaga agar pertumbuhan tetap optimal.

Pemupukan

Kesuburan tanah merupakan faktor penting dalam pertumbuhan tanaman pegagan sehingga pemberian pupuk menjadi bagian yang penting. Pupuk yang dibutuhkan berupa pupuk kandang atau kompos. Pupuk kimia (anorganik) tidak dianjurkan dalam budidaya tanaman obat karena dikhawatirkan dapat memberikan efek negatif berupa residu kimia. Pemupukan dapat dilakukan pada awal tanam. Pemupukan susulan dilakukan sesuai dengan kondisi kesuburan tanah yang terlihat saat itu

Dalam pertanian biofarmaka, peranan pupuk sangat berpengaruh terhadap kualitas tanaman obat yang akan dipanen. Harus diupayakan efek farmakologis yang dikandung pegagan menjadi hilang atau malah menjadi buruk akibat pemupukan yang salah, sehingga menjadi bumerang bagi pemanfaatannya sebagai tanaman obat tradisional.

5. Pemanenan dan Pasca Panen

Panen dan pasca panen adalah tahap terakhir dari budidaya tanaman. Sebelum melakukan penanean ada baiknya kita mengetahui kapan waktu panen yang tepat dan bagaimana cara panenya.

Menurut (Winarto dan Surbakti, 2003) pemanenan dilakukan terhadap pegagan yang berdaun segar, berukuran lebar dan tidak terserang hama atau penyakit. Waktu panen yang terlalu cepat sebaiknya tidak dilakukan karena pembentukan zat-zat yang terkandung di dalam pegagan belum sempurna. Sebaliknya, panen yang terlambat dapat mengakibatkan daun menjadi keras dan tua. Pemanenan yang terlambat menyebabkan daun mengalami penuaan (senescence) sehingga mutunya rendah karena bahan aktifnya sudah terdegradasi. Panen pegagan biasanya dilakukan setelah tanaman berumur 3 – 4 bulan, dengan cara memangkas bagian daun dan batangnya. Selang pemanenan dengan panen selanjutnya sekitar dua bulan. Hasil produksi total sekitar 15 - 25 ton /ha segar atau setara 1,5 - 2,5 ton/ha kering.

Cara panen pegagan di bedengan:

  • Pemanenan dapat dilakukan sebanyak 3 kali dengan cara memotong tanaman dari pangkal daun
  • List itPemotongan dilakukan dengan alat yang bersih dan tajam
  • Hindari terjadinya pelukaan di permukaan batang yang dipotong.
  • Sulur tetap dibiarkan tumbuh sampai panen terakhir. Jadi selama periode panen tersebut dapat dilakukan pemanenan sesuai dengan kebutuhan.

Cara panen pegagan yang ditanam dalam polybag:

  • Sebaiknya dilakukan sekali saja. Hal ini disebabkan jumlah dan ukuran hara di media tanam (polibag) terbatas.

Setelah pemanenan maka langkah terakhir adalah pasca panen. Pasca panen tanaman pegagan dilakukan dengan menyortir tanaman pegagan yang daunnya bagus dan segar. Setelah itu dapat segera diolah atau dipasarkan.

Khasiat Pegagan


Sebagai Obat Herbal

Pegagan (Centella asiatica) telah lama dimanfaatkan sebagai obat tradisional baik dalam bentuk bahan segar, kering maupun yang sudah dalam bentuk ramuan (jamu). Selama ini, pegagan dimanfaatkan sebagai obat penyembuh luka. Banyaknya manfaat tanaman ini nampaknya berkaitan dengan banyaknya komponen minyak atsiri seperti sitronelal, linalool, neral, menthol, dan linalil asetat yang terkandung dalam pegagan.

Pegagan digunakan sebagai anti-infeksi, antitoksik, penurun panas (antipiretik), dan peluruh kencing (diuretik) tetapi pegagan juga memiliki sifat narkotis sehingga dalam pemakaiannya harus sangat hati- hati. Selain itu pemberian dalam dosis yang tinggi dapat menyebabkan pasien menjadi pening. Dalam penelitian yang lain seperti pada penelitian Lisiswanti dan Fiskasari(2017) Centella asiatica memiliki efek perlindungan terhadap berbagai penyakit saraf, salah satunya adalah penyakit Alzheimer. Ekstrak etanol Centella asiatica dianggap memiliki kemampuan antioksidan yang sangat baik, termasuk mampu mengaktifkan sistem pertahanan antioksidan dalam otak. Sudewo,

Bambang dalam bukunya yang berjudul Basmi Kanker dengan Herbal mengatakan bahwa pegagan dapat mengobati penyakit radang, hati, hipertensi, wasir, rematik, TBC, keracunan makanan dan keracunan obat-obatan. Ekstrak methanol pegagan dapat menghambat proliterasi sel kanker payudara manusia.

Sebagai Bahan Dasar Perawatan Kulit

image
Gambar 5. Produk Perawatan Kulit yang Mengandung Centella asiatica

Produk perawatan kulit atau skincare akhir-akhir banyak yang menggunakan Centella asiatica sebagai bahan dasar produknya. Mengutip dari laman situs alodokter disebutkan bahwa Centella asiatica mengandung saponin, flavonoid, phenolic acid, dan terpenoid yang bermanfaat bagi kulit. Manfaat-manfaat tersebut antara lain:

  • Melembabkan kulit, kandungan saponin dari tanaman ini juga mampu mempertahankan air lebih lama pada kulit dan mencegah penguapan air dari lapisan epidermis di kulit.

  • Mencegah dan mengurangi kerusakan kulit, Centella asiatica kaya akan antioksidan, seperti flavonoid dan phenolic acid. Antioksidan dari tanaman ini dapat mengurangi peradangan dan mencegah kerusakan sel yang dapat menyebabkan penuaan dini pada kulit. Penuaan dini pada kulit ini dapat disebabkan oleh paparan radiasi sinar ultraviolet (UV) matahari dan polutan

  • Mengurangi peradangan, selain membantu menjaga kelembaban kulit, saponin juga dapat memberikan perlindungan pada kulit, dan meredakan iritasi kulit dengan cara menghambat sel-sel yang memicu peradangan.

Sebagai Olahan

Penelitian (Sutardi, 2016) menjelaskan bahwa pegagan juga mengandung bahan aktif seperti alkaloid, saponin, tanin, flavonoid, steroid, dan triterpenoid. Selain itu pehahan juga mengandung garam mineral antara lain kalium, natrium, magnesium, kalsium, dan besi, fosfor, minyak atsiri, pektin, asam amino, vitamin B, dan zat pahit vellarine. Bahan aktif bermanfaat untuk kesehatan dan meningkatkan sistem imun tubuh. Kandungan tersebut dapat langsung kita peroleh dengan mengolah daun pegagan menjadi jus, teh, sayur ataupun cemilan seperti keripik pegagan atau cokelat pegagan.

Nah, dari penjelasan diatas kalian sudah tau kan manfaat Pegagan (Centella asiatica L. Urban) yang ternyata banyak sekali. Berawal dari yang belum mengenal pegagan sama sekali sampai akhirnya tau bagaimana cara budidayanya. Setelah mengetahui syarat tumbuhnya maka kita bisa membudidayakan pegagan secara mandiri. Daripada membiarkan pegagan tumbuh liar di alam begitu saja kita bisa memanfaatkannya dengan cara menanam sendiri di rumah dan mengolahnya. Maka dari itu ayo mulai membiasakan bercocok tanam di rumah, salam sehat.

Referensi
  • Dalimartha, S. 2000. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 2. Jakarta: Trubus Agriwidya

  • Hananti, Alya. 2019. Beragam Manfaat Centella Asiatica untuk Kesehatan Kulit. https://www.alodokter.com/beragam-manfaat-centella-asiatica-untuk-kesehatan-kulit

  • Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid lll. Terjemahan Badan Litbang Kehutanan. Yayasan Sarana Wana Jaya, Jakarta.

  • Januwati, M., S. Sudiatso, dan S.W. Andriani. 2002. Pengaruh dosis pupuk kandang dan tingkat populasi terhadap pertumbuhan dan produksi pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) di bawah tegakan kelapa (Cocos nucifera L.). Jurnal Bahan Alam Indonesia 1(2): 49-57.

  • Lisiswanti, Rika dan Fiskasari, Sekar Ronna. 2017. Manfaat Pegagan (Centella asiatica) terhadap Pengobatan Penyakit Alzheimer. Majority. 6(2): 132-136.

  • Mahendra, B. 2006. 13 Jenis Tanaman Obat Ampuh. Jakarta: Penebar Swadaya

  • Savitri, A. 2016. Tanaman Ajaib Basmi Penyakit Dengan TOGA (Tanaman Obat Keluarga). Jakarta Timur: Bibit Publisher

  • Sudewo, Bambang. 2012. Basmi Kanker Dengan Ramuan Herbal. Jakarta: Visi Media

  • Sutardi, 2016. Kandungan Bahan Aktif Tanaman Pegagan Dan Khasiatnya Untuk Meningkatkan Sistem Imun Tubuh. Jurnal Litbang Pertanian. 35(3): 121-130.

  • Winarto, W.R dan Maria Surbakti. 2003. Khasiat dan Manfaat Pegagan. Jakarta: Agromedia Pustaka.

1 Like