Apa yang anda ketahui tentang tanaman jawawut?

Jawawut (Setaria Italica) adalah tanaman yang masuk ke dalam golongan rerumputan. Jawawut biasanya tumbuh tinggi mencapai 60-120 cm. Setelah beberapa bulan ditanam, jawawut akan berbunga yang bentuknya juga memanjang hingga 30 cm. Bunga tersebut berisi bulir-bulir kecil yang bisa dikomsumsi. Bulir-bulir jawawut bermacam-macam yaitu kuning, ungu, merah, hingga jingga kecoklatan.

Dulunya, jawawut pernah menjadi makanan pokok. Namun, setelah padi dikenal luas, jawawut semakin terlupakan. Kini, sudah banyak yang tidak mengenal jawawut. Petani yang membudidayakannya pun semakin sedikit. Padahal jawawut memiliki banyak manfaat. Nutrisinya bahkan lebih tinggi dibanding padi.

Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang subur, adanya sinar matahari yang menyinari sepanjang tahun dan curah hujan yang mencukupi mampu membuat segala macam jenis tanaman tumbuh subur di Indonesia. Tanaman yang bukan endemik asli Indonesia pun dapat tumbuh subur dan berproduksi maksimal di Indonesia, salah satunya adalah tanaman jawawut.

Tanaman jawawut sendiri memiliki berbagai macam spesies, diantaranya adalah Panicum miliacum atau yang lebih populer dengan nama Broomcorn millet, P. italicum atau yang dikenal dengan Italian millet dan P. frumentaceum atau yang lebih dikenal dengan nama Japanese barnyard millet yang semuanya termasuk kedalam tanaman jawawut yang dapat tumbuh dengan baik pada iklim sedang. Sedangkan untuk jenis tanaman jawawut yang banyak terdapat di Indonesia adalah jenis spesies tanaman jawawut yang masuk kedalam spesies Pennisetum typhoideum dan Pennisetum glaucum , yang dapat tumbuh dengan baik didaerah dengan iklim tropik seperti Indonesia. Tanaman jawawut dari spesies Pennisetum sp. diduga kuat berasal dari Afrika yang ditemukan pertama kali pada 3000 tahun sebelum masehi didaerah Sahara yang kemudian mulai menyebar ke Afrika yang memiliki iklim tropika kering hingga terus menyebar kedaerah di India.

Secara internasional tanaman jawawut ini menempati lahan pertanian sekitar 92,8%, tetapi untuk di Indonesia sendiri tanaman jawawut ini baru ditemukan dibeberapa daerah saja. Jawawut ( Pennisetum spp.) memiliki potensi yang sangat baik sebagai tanaman pangan alternatif ditinjau dari aspek kandungan gizi, dan kemampuan tumbuhnya di daerah beriklim kering.

Dilihat dari segi kandungan gizinya, jawawut berpotensi sebagai sumber energi, protein, kalsium, vitamin B1, riboflavin (vitamin B2), sedangkan nutrisi lainnya setara dengan beras. Potensi hasil yang dapat dicapai di Indonesia adalah 4 ton per ha pada kondisi agroekologi yang marginal, dimana pertumbuhan serealia lainnya kurang berhasil. Jawawut dipanen sebagai tanaman pangan semusim.

Morfologi Tanaman Jawawut


jawawut

Morfologi tanaman jawawut menyerupai morfologi tanaman padi. Jenis yang sudah banyak dibudidayakan umumnya memiliki tinggi tanaman sekitar 100 – 150 cm. Umur panen jawawut berkisar 75-180 hari atau lebih. Di Indonesia sangat memungkinkan dapat ditanam sepanjang tahun. atau tiga kali musim tanam dalam setahun. Daunnya berbulu, ligulanya pendek, daunnya berbentuk pedang linier, struktur bunga berupa malai bentuk selinder atau elips. Tongkol kompak dan padat panjangnya bisa mencapai 15-200 cm.

Kariopsis berbentuk konikal (subsilinder) berwarna putih, kuning, putih kebiruan atau abu-abu, bijinya berukuran 3-4 mm, bobotnya 5-12 mg. Sistem perakaran membentuk satu akar seminal atau radikula yang berkembang menjadi akar primer. Penetrasi akar cepat dan dalam waktu 35 hari setelah tanam bisa mencapai kedalaman 100 cm. Pengisian biji 22-25 hari setelah penyerbukan. Biji jawawut mempunyai keunggulan yang sangat menguntungkan yaitu tahan disimpan dalam jangka waktu lama, bahkan bisa tahan lebih dari 10 tahun tanpa kemunduran fisik atau tanpa adanya serangan kutu biji.

jawawut

Biji jawawut sangat disukai burung yang merupakan hama utama di pertamanan sebelum dipanen. Jawawut yang dihasilkan sebagai pakan ternak hijauan (forage) atau sebagai pakan yang dikeringkan ditanam dengan jarak tanam yang rapat, dengan kebutuhan benih sekitar 40-50 kg per ha.

Jawawut sebaiknya dipanen pada saat muncul tongkol sebelum terjadi persarian. Sedangkan untuk sebagai pangan dipanen bijinya, cukup dengan kebutuhan benih sekitar 20-30 kg per ha. Dipanen bila biji sudah mengeras dan daun serta jerami mulai mengering.

Syarat Tumbuh dan Daya Adaptasi Tanaman Jawawut


Jawawut dapat tumbuh pada agroekologis yang marginal dimana pertumbuhan tanaman serealia lainya kurang memuaskan, yaitu kondisi iklim kering, tanah tidak subur dan irigasi terbatas, namun jawawut dapat tumbuh optimal dengan potensi hasil bisa mencapai 4 ton/ha. Jawawut merupakan tanaman berhari pendek yang beradaptasi dari iklim subtropik kering sampai iklim gurun pada 690 - 850 BT, 80 - 310 LU. Umumnya ditanam pada ketinggian lebih dari 600 meter di atas permukaan laut. Jawawut ditanam pada musim kemarau atau musim hujan. Curah hujan tahunan rata-rata 150-750 mm.

Suhu lingkungan untuk tumbuh normal pada suhu optimal 25-35 C, suhu minimal 17,5-25 C dan suhu maksimal 30-35 C. Evaporasi yang ditolerisasi jawawut adalah 1400 – 2000 mm per tahun, toleran terhadap kadar air tanah tersedia 50-75% dari kapasitas lapang dan tidak berpengaruh terhadap perkecambahan. Jawawut termasuk ke dalam golongan tanaman yang memiliki fotosintesis C-4, sehingga menjadikannya toleran terhadap iklim kering dan panas.

Kemampuan jawawut mentolerasi kekeringan jauh lebih baik dibandingkan dengan jagung dan sorghum, demikian juga dari segi kualitas nutrisinya. Adaptasi jawawut meluas ke daerah iklim tropik panas. Pertumbuhan jawawut yang optimal menghendaki iklim panas selama masa pertumbuhannya. Pemasakkan biji semakin cepat pada bulan-bulan panas. Tanaman ini umumnya produktif bila curah hujan bulanan merata sepanjang pertumbuhannya, bahkan lebih produktif lagi di daerah iklim agak panas (semi arid). Jawawut yang tumbuh di Cina memiliki kemampuan bertahan terhadap angin yang temporer ataupun yang permanen. Hal ini disebabkan jawawut mempunyai sistem perakaran yang dalam. Adanya fase kering akan mempercepat fase pematangan dan umur panen. Beberapa varietas jawawut untuk pakan ternak yang dikeringkan (hay) bisa dipanen pada umur 60-70 hst.

Kandungan Gizi Tanaman Jawawut


Jawawut merupakan sumber energi dan protein jutaan penduduk di Asia dan Afrika. Bijinya dapat dimanfaatkan dalam berbagai cara, dikonsumsi sebagai makanan pokok, dibuat tepung untuk kue-kue dan roti, dimasak sebagai bubur dan bahan minuman berenergi tinggi seperti Milo . Di India jawawut dijadikan makanan pokok kedua setelah sorghum, juga difermentasi dijadikan minuman beralkohol. Komposisi nutrisi biji jawawut hampir sama dengan biji serealia penting lainnya, sehingga jawawut dapat dikonsumsi oleh manusia sebagai serealia pangan alternatif dengan kecukupan gizi.

Komposisi gizi jawawut dibandingkan serealia penting lainnya jika dibandingkan dengan beras, gandum, jagung dan sorghum memiliki kadar serat yang tertinggi (2,9%) dan vitamin B2, yang berupa riboflavin 0,33 mg/100 g, data nutrisi lainnya sedikit di bawah sorghum (protein, energi, dan karbohidrat). Seperti diketahui sorghum agak sulit diproses untuk dijadikan bahan pangan dan kandungan tanin agak tinggi sehingga rasanya agak kesat dan berwarna merah keungu-unguan, sementara jawawut tidak demikian.

Pengolahan jawawut untuk bahan pangan dalam bentuk beras atau biji dan tepung relatif mudah dan lebih murah. Biji jawawut disosoh kemudian di-‘sangrai’ untuk dijadikan bahan kue-kue dan digiling halus untuk dijadikan tepung substitusi terigu. Di beberapa tempat di Jawa Barat mudah didapatkan produk makanan yang berasal dari jawawut yaitu jenis makanan yang dikenal sebagai teng-teng dan borondong, misalnya di Kabupaten Ciamis, Kabupaten Bandung, Kabupaten Garut dan sekitarnya. Selain itu biji kualitas campuran dapat digunakan untuk pakan ternak unggas (burung). Hijauannya sebagai pakan ternak mamalia, jerami-nya pun dapat digunakan sebagai pakan ternak, untuk atap rumah, bantalan penahan main anggar dan bahan bakar. Di AS sendiri, jawawut terutama digunakan sebagai pakan burung atau campuran makanan ternak lainnya.

Potensi Tanaman Jawawut diIndonesia


Di Indonesia sendiri, millet tidak terlalu dikenal sebagai bahan pangan manusia. Millet justru lebih dikenal sebagai pakan burung. Baik burung perkutut, tekukur, puter, maupun burung pemakan biji lainnya seperti parkit. Millet yang paling dikenal masyarakat sebagai pakan burung adalah jewawut (foxtail millet, Setaria italica).

Jewawut sudah biasa dibudidayakan di Indonesia, sebagai pakan perkutut, tekukur, dan puter. Di daratan China, jewawut sudah dibudidayakan sejak 6.000 tahun SM, sebagai bahan makanan manusia. Padahal, tanaman jewawut merupakan komoditi yang sangat potensial sebagai pangan fungsional karena mengandung antioksidan dan serat. Jewawut memiliki kandungan protein yang hampir sama dengan terigu dan bahkan mengandung sedikit protein gluten. Meskipun demikian, menyebutkan bahwa 4 jewawut memiliki kandungan protein lebih tinggi dari jenis jewawut lainnya. Hal ini karena pearl millet memiliki lembaga (germ) yang besar sehingga kaya protein albumin dan globulin.

Di Indonesia sendiri pemanfaatan jewawut pada saat ini masih belum banyak dikenal, penggunaannya juga belum berkembang di masyarakat. Selain itu jewawut masih terbatas digunakan dilingkup penelitian. Oleh karena itu perlu dilakukan teknologi pengolahan komoditas pangan yang sesuai, seperti penyajian biji-bijian agar lebih menarik untuk dikomsumsi atau dilakukan sosialisasi jewawut dalam bentuk pangan yang disukai oleh masyarakat serta diharapkan dapat meningkatkan kandungan gizinya .

Alasan mengapa masyarakat Indonesia enggan memilih jawawut sebagai makanan pokok karena keberatan konsumen terhadap serealia yang kulit arinya melekat erat pada biji adalah, kelezatannya akan menurun. Nasi dari beras pecah kulit, terasa kasar dan sulit dicerna perut. Kelemahan ini, sekarang justru menjadi sifat unggul dari serealia yang kulit arinya melekat erat pada biji. Sebab kulit ari biji, termasuk biji millet, adalah serat serealia paling baik, untuk membantu pencernaan. Namun, saat ini telah muncul macam macam teknologi yang mampu menghilangkan keberatan tersebut ialah jawawut itu direbus setengah masak, baru kemudian digiling untuk membuang sekamnya. Resikonya adalah, kulit ari itu akan tetap melekat pada biji. Serealia yang telah direbus setengah masak, juga tidak mungkin ditepungkan. Sekarang sudah ditemukan teknologi penggilingan, dan penyosohan serealia berkarakter mudah hancur, termasuk jawawut dan sorghum. Hasilnya bisa masih berupa biji utuh, maupun tepung.

Dengan demikian, dilihat dari berbagai aspek, jawawut memiliki potensi yang sangat baik sebagai sumber bahan pangan serealia alternatif, terutama untuk mendukung program diversifikasi pangan menuju ketahanan pangan masyarakat. Jawawut dapat ditanam pada ekosistem lahan kering yang masih cukup luas tersedia di Indonesia. Tanaman jawawut sangatlah memiliki potensi yang tinggi untuk mewujudkan program diversifikasi pangan nasional. Semakin maju dan berkembangnya pola pikir masyarakat Indonesia akan menjadikan pikiran mereka terbuka dan mau untu beralih ke pilihan alternatif lainnya. Semakin majunya teknologi dan perkembangan industri juga mendukung pengolahan serta pengelolaan tanaman jawawut untuk menjadikan produk yang semakin berkembang dan banyak diminati masyarakat. Selain itu, ketersediaan lahan yang masih berpotensi untuk pembudidayaan tanaman jawawut ini. Dapat dilihat dengan banyaknya manfaat serta kandungan gizi dan serat dari tanaman jawawut ini akan mampu mencukupi dan mengurangi kekurangan gizi.

References:

Nurmala Tati. 2003. Prospek Jawawut (Pennisetum spp.) Sebagai Tanaman Pangan Serealia Alternatif. Jurnal Bionatura, Vol. 5, No.1.

BPTP Balitbangtan Sulawesi Barat. 2020. Potensi Dan Teknologi Budidaya Tanaman Jewawut (Setaria Italica) Di Sulawesi Barat. http://sulbar.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/info-teknologi/365-potensi-dan-teknologi-budidaya-tanaman-jewawut-setaria-italica-di-sulawesi-barat.