Apa yang anda ketahui tentang Racun Sianida?

image

Racun (toxicant atau toxic) didefinisikan sebagai semua substansi bahan kimia yang menyebabkan efek berbahaya apabila diberikan kepada organisme. Hal ini dibedakan dengan racun yang dihasilkkan di dalam tubuh organisme atau makhluk hidup sebagai hasil metabolisme yang disebut dengan toksin (toxin).

Racun merupakan substansi (kimia maupun fisik) yang dapat menimbulkan cidera atau kerusakan pada sistem biologik sehingga menimbulkan gangguan fungsi sistem itu bermanifestasi sebagai gangguan kesehatan (Ngatidjan, 2006).

Racun dapat berupa racun sintetis, berasal dari mineral, hewan maupun tumbuhan. Cara masuknya juga bisa melalui mulut, suntikan, inhalasi atau penyerapan melalui kulit dan membran mukosa. Selain itu, racun dapat masuk ke dalam tubuh dengan cara sublingual, masuk ke bagian tubuh yang berongga seperti telinga, hidung dan vagina, melalui enema, dan secara parenteral yakni melalui subkutan, intramuskular dan intravena. Cara kerja racun pun dapat melalui beberapa cara, antara lain dapat bekerja secara lokal untuk jenis racun yang korosif, bekerja lokal jauh yang menyebabkan reaksi lokal pada organ tertentu, dapat bekerja secara sistemik yang dapat menyebabkan gangguan fisiologis pada sistem tubuh tertentu misalnya sistem gastro-1 intestinal, sistem urogenital dan yang terakhir dapat bekerja dengan cara umum yang dapat meyebabkan gangguan pada lebih dari satu sistem tubuh dan dapat menyebabkan kematian (Chadha, 1995).

Sianida tergolong racun yang sangat toksik, garam sianida dalam takaran 150-250 mg sudah cukup untuk menimbulkan kematian, sedangkan asam sianida 200-400 ppm didalam udara akan menyebabkan kematian dalam waktu 30 menit, pada konsentrasi yang lebih besar dapat menimbulkan kematian dalam hitungan detik (Mason, 1988 ; Kenneth, 1993).

Sianida dalam dosis kecil dapat ditemukan di alam dan ada pada setiap produk yang biasa kita makan dan gunakan. Sianida banyak digunakan pada industri terutama dalam pembuatan garam seperti natrium, kalium atau kalium sianida. Efek sianida dapat sangat cepat menimbulkan kematian dalam jangka waktu beberapa menit. Banyaknya perusahaan pertambangan, serta maraknya penyalahgunaan sianida dalam masyarakat, menyebabkan kasus kematian keracunan akibat sianida menjadi semakin banyak. Bahkan dalam lima tahun terakhir di Instalasi kedokteran Forensik RSUP Dr. Sardjito, sianida menempati urutan kedua sebagai penyebab kematian setelah intoksikasi alkohol. Pada tahun 2007 di Daerah Istimewa Yogyakarta sedikitnya ada lima kasus tndak kriminal menggunakan sianida, salah satunya dicampurkan pada jamu pelangsing. Pada tahun 2009 kasus diduga keracunan sianida tiga kasus dari lima kasus (60%) positif sianida (Nirmalasari dan Suhartini, 2011).

Penentuan sianida secara kualitatif dapat dilakukan dengan beberapa pemeriksaan yang sederhana seperti :

  • Reaksi biru berlin,
  • Cara mikro difusi
  • Cara kertas saring yang diberi asam pikrat jenuh (picric acid test).

Penentuan sianida secara kuantitatif dapat dilakukan dengan pemeriksaan spektofotometri (Idries dkk, 1995).

3 Likes

Sianida adalah senyawa kimia berbahaya yang dapat membunuh manusia dan hewan dalam porsi yang sangat kecil. Hanya dengan dosis antara 60-90 mg, sianida dapat menyebabkan kerusakan yang fatal bagi tubuh manusia, dan dalam porsi 20-80 ppb dapat membunuh ikan, seperti ikan rain bow dan brown trout. Walaupun sangat berbahaya, namun sianida terus diproduksi dalam jumlah yang sangat banyak. Sianida diproduksi untuk keperluan industri hidrometalurgi, elektroplating, dan manufaktur. Satu koma empat juta ton racun sianida diproduksi setiap tahunnya di dunia industri (Sun et al, 2005).

Selain untuk keperluan industri, sianida juga kadang disalahgunakan oleh orang untuk penangkapan ikan. Sejak tahun 1960-an, sianida sering digunakan untuk penangkapan ikan hias di Asia, khususnya di kepulauan Filipina. Sekitar 150.000 kg sianida digunakan setiap tahunnya di Filipina. Jika hal ini terus berlangsung maka akan mempengaruhi ekosistem di kepulauan tersebut. Sianida dapat meracuni binatang liar yang hidup di sekitar kepulauan tersebut. Pada level konsentrasi antara 40-200 ppm dapat langsung membunuh hewan yang terkena sianida. Pada dosis yang sama juga berlaku bagi manusia jika terkena (Keusgen et
al, 2004).

Selain disebar di lautan, sianida juga sering disebar di daratan. Pada industri pertambangan, misalnya pada pertambangan emas dan perak, sianida telah menggantikan fungsi merkuri untuk mengekstrak emas dan perak dari bijihnya. Sianida yang disemprotkan pada bijih emas dan perak ini juga akan berdampak pada lingkungan sekitar. Berbagai makhluk hidup yang ada di sekitar lingkungan penambangan akan secara langsung maupun tidak langsung terkontaminasi sianida ini (Schnepp et al, 2006). Hal ini akan menyebabkan kematian pada makhluk hidup yang ada di sekitarnya. Jika sianida ini masuk ke dalam sungai dalam jumlah yang cukup banyak, maka dapat menyebabkan kematian bagi ikan dan makhluk hidup yang dilalui racun sianida ini.

Berbagai kasus keracunan sianida pernah terjadi. Kasus keracunan sianida antara lain terjadi di sebuah gedung industri di Hongkong (Lam et al, 2000). Di dalam satu gedung tersebut terjadi 4 jenis kasus akibat kebocoran sianida di salah satu tangki sianida. Selain itu kasus keracunan juga penah terjadi di Chicago pada tahun 1982 dimana menimpa 7 warga Chicago. Mereka meminum kapsul Tylenol yang telah tercemar sianida. Kasus kematian salah satunya terjadi pada seorang remaja bernama Maryland karena meminum campuran sianida dengan Coca-Cola (Sun et al, 2005).

Karena sangat berbahayanya senyawa sianida ini, pada tahun 1994 World Health Organization (WHO) memberikan batas maksimal kandungan sianida untuk air minum yaitu 0,07 mg/L. Batasan yang lain juga diberikan oleh United States Environmental Protection Agency sebesar 0,2 mg/L, European Union sebesar 0,05 mg/L, dan oleh Bank Dunia 0,5 mg/L (Sun et al, 2005).

1 Like