Apa yang anda ketahui tentang Prasasti Talang Tuo?

Prasasti Talang Tuo ditemukan oleh Louis Constant Westenenk (Residen Palembang) pada tanggal 17 November 1920 di kaki Bukit Seguntang / Bukit Siguntang dan dikenal sebagai salah satu peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Keadaan fisiknya masih baik dengan bidang datar yang ditulisi berukuran 50 cm × 80 cm. Prasasti ini berangka tahun 606 Saka (23 Maret 684 Masehi), ditulis dalam Aksara Pallawa, Berbahasa Melayu Kuno, dan terdiri dari 14 baris. Sarjana pertama yang berhasil membaca dan mengalihaksarakan prasasti tersebut adalah van Ronkel dan Bosch, yang dimuat dalam Acta Orientalia. Sejak tahun 1920 prasasti tersebut disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta dengan nomor inventaris D.145.

Apa yang anda ketahui tentang Prasasti Talang Tuo ?

Prasasti Talang Tuo di temukan di Palembang oleh L.C. Westenenk pada tanggal 17 November 1920 yaitu di sebelah barat Palembang atau wilayah Talang Tuo tidak jauh dari Bukit Siguntang. Prasasti ini ditemukan dipermukaan tanah dengan kondisi tertelungkup ke tanah dengan kondisi fisiknya baik (Coedes, 2014).

Prasasti Talang Tuo ini terdapat 14 baris dengan tulisan aksara Palawa dan berbahasa Melayu Kuno dan sekaligus tertulis tahun 606 Saka atau 684 Masehi.

Prasasti Talang Tuo

Isi Prasasti Talang Tuo


Adapun isi dari keempat belas parasasti Talang Tuo dan terjemaahannya menurut Coedes diantaranya adalah (Coedes, 2014).

  1. // svasti. Sri sakavarsatita 606 dim dvitiya sukalapaksa vulan caitra. Sana tatkalana parlak sriksetra ini. Niparvuat.

  2. Parvanda punta hiyam sri jayanasa. Ini pranidhananda punta hiyam. Savanakna yam nitanam di sini. Niyur pinam hanau ru.

  3. Mviya dnan samisrana yam kayu nimakan vuahna. Tathapi haur vuluh pattum ityevamadi. Punarapi yam parlak vukan.

  4. Dnan tavad talaga savanakna yam vuatku sucarita paravis prayojanaka punyana sarvvastva sacaracar. Varopayana tmu.

  5. Sukha. Di asannakala di antara margga lai. Tmu muah ya ahara dnan air niminumna. Savanakna vuatna huma parlak mancak mu

  6. Ah ya mamhidupi pasu prakara. Marhulun tuvi vrdddhi muah ya janan ya niknai savanakna yam upasargga. Pidanu svapnavigna. Varam vua.

  7. Tana kathamapi. Anukula yam graha naksatra paravis diya. Nirvyadhi ajara kavuatanana. Tathapi savanakna yam nhtyana.

  8. Satyarijava drdhabhakti muah ya dya. Yam mitrana tuvi janan ya kapatayam vinina mulam anukula bharyya muah ya. Varam stha

  9. Nana lagi curiuca vadhana paradara di sana. Punarapi tmu ya kalyanamitra. Marvvanun vodhicitta dnan maitri.

  10. Dhari di dam hyam ratnatraya janan marsarak dnan dam hyam ratnaraya. Tathapi nityakala tyaga marsila ksanti marvvanun viryya rajin

  11. Tahu di samisrana silpakala paravis. Samahitacina. Tmu ya prajna. Snrti medhavi. Punarapi dhairyyamani mahasattva

  12. Vajrasarira. Anupamasakti. Jaya. Tathapi jatismara. Avikalendriya. Mancak rupa. Subhaga hasin halap. Ade

  13. Yavakya. Vramaswara. Jadi laki. Svayambhu. Punarapi tmu ya cintamanindhana. Tmu janmavasita karmavasita. Klesavasita.

  14. Avasana tmu ya anuttarabhisamyaksamvodhi.

Terjemahan

  1. Selamat sejahtera! Pada hari kedua paroterang, Bulan Caitra, Tahun 606 Saka, saat itulah taman (yang bernama) Sri Ksetra ini dibuat.

  2. Punta Hyam Sri Jayanasa wujud pranidhana Punta Hiyam, (dan) hendaknya semua tanaman yang telah ditanam di taman Sri Ksetra ini seperti kelapa, pinang,

  3. Aren, dan sagu serta jenis-jenis pohon bambu, seperti bambu haur, bambu (wuluh), dan bambu betung dan sejenisnya. Termasuk pula taman-taman, bendungan- bendungan,

  4. Telaga-telaga. Semua amal saya berikan hendaknya dipelihara, demi kesejahteraan dan kepentingan seluruh makhluk hidup seperti manusia, binatang (bergerak) dan tanaman (tidak bergerak). Sebagai tempat yang memberi rasa nyaman.

  5. Kebahagian. Sebagai tempat beristirahat dan melepaskan lelah bagi mereka yang sedang dalam perjalanan, penawar lapar dan dahaga. Semoga pula kebun-kebun yang ada di taman ini hasilnya berlimpah, sehingga

  6. Ternak-ternak terurus karenanya. Demikian pula para juru peliharanya. Semoga mereka senantiasa aman, tenang, nyaman tidur dan berbahagia apapun yang mereka perbuat.

  7. Semoga semua yang ada di taman ini dilindungi oleh planet dan rasi serta selalu dalam keberuntungan, awet muda, panjang usianya selama menjalankan tugas mereka. Semoga para hamba

  8. Yang setia dan berbakti memelihara taman ini selalu dicintai, keluarganya di karuniai kebahagian. Dan para pengunjung taman ini selalu yang jujur, dari manapun mereka datang dan singgah

  9. Tidak ada pencuri, perampas, pembunuh, atau penzinah (pelacur). Selalu itu semoga mereka yang datang merupakan kawan dan penasehat yang baik, dan dalam jiwanya terlahir pikiran Bodhi serta persahabatan (–)

  10. Selalu sesuai dan tak terpisah dari ajaran suci tiga ratna. Dan semoga mereka senantiasa (mereka bersikap) murah hati, taat pada peraturan, dan sabar. Semoga dalam diri mereka timbul tenaga, kerajinan.,

  11. Pengetahuan, dan seluruh citarasa keindahan. Semoga semangat mereka terpusatkan, mereka memiliki pengetahuan, ingatan kecerdasan. Lagi pula semoga mereka teguh pendapatnya, bertubuh intan seperti mahasattwa,

  12. Berkekuatan tiada tara, berjaya dan juga ingat akan kehidupan- kehidupan mereka sebelumnya, berindera lengkap, berbentuk penuh, berbahagia, bersenyum, tanang,

  13. Bersuara merdu seperti suara brahma. Semoga mereka terlahir sebagai pria yang menjadi wadah batu ajaib, mempunyai kekuasaan atas kelahiran-kelahiran, kekuasaan atas karma, dan kekuasaan atas

  14. Noda-noda, semoga akhirnya mereka mendapat penerangan yang sempurna dan agung.

image
Gambar Lokasi ditemukannya Prasasti Talang Tuo

Pernyataan P.J. Zoetmulder yang dikutip Kartakusuma, menekankan pentingnya peranan agama dalam kebudayaan dan tidak ada satupun kebudayaan di dunia yang lepas dari pengaruh agama. Oleh sebab itu peninggalan-peninggalan kehidupan manusia yang ditinggalkan sebagian terbesar dari hasil kebudayaan yang disaksikan kini umunya dikususkan bagi tujuan keagamaan. Hal ini menunjukan bahwa hasil kebudayaan yang mencermikan agama lebih bertahan dari hasil kebudayaan yang mencerminkan kehidupan sehari-hari. Kondisi dan kenyataan ini berlaku pula bagi sejarah perkembangan kebudayaan masa Sriwijaya termasuk perkembangan agama Budha dan corak kerajaan di Sriwijaya.

Peninggalan kerajaan Sriwijaya memang tidak ada habisnya, semakin hari temuan-temuan berupa manik-manik, barang keramik, prasasti, arca dan masih banyak yang lainnya dapat ditemukan disekitar wilayah Palembang sendiri. Berdasarkan tinggalan prasasti Talang Tuo yang tertera 14 baris dan mengandung makna yang mulya bagi raja Sriwijaya yang telah memberikan gambaran kepemimpinan raja yang bijaksana, adil, tegas dan sekaligus pemimpin yang melindungi agama serta taat dalam menjalankan ajaran agama Budha.

image
Gambar Perkiraan daerah Taman Sriksetra di Prasasti Talang Tuo

Dalam kultur dan pemahaman penganut agama Hindu-Budha bahwa raja dianggap sebagai wakil dewa di dunia kepercayaan itu disebut kultus dewaraja. Begitu halnya yang terdapat isi pada prasasti Talang Tuo merupakan pernyataan kultus individu dari Dapunta Hiyang Sri Jayanasa. Ajaran Budha kemungkinan manusia mencapai tingkat kedewaan pada saat masih hidup adalah aliran Tantra atau Budha Mahayana. Ajaran Tantrayana di Nusantara terdapat dalam Budha Mahayana merupakan hasil sintese mantrayana (mengutamakan semadi/yoga) dan paramitayana (ilmu pengetahuan tertinggi).
Makna yang terkandung pada isi prasasti Talang Tuo merupakan sebuah pesan dan gambaran kondisi politik, sosial-budaya, ekonomi dan agama di kerajaan Sriwijaya yang apabila dipahami dengan seksama menunjukan dua hal kondisi yang sedang berkembang maupun kondisi kepemimpinan seorang raja yang sangat taat pada ajaran agama budha. Dapat dikelompokan isi yaang terkandung pada 14 baris pada prasasti Talang Tuo yaitu, pertama tentang ajaran Budha Mahayana (Tantarayana) dan pendirian Taman Sriksetra.

Pembuatan prasasti Talang Tuo oleh raja Sriwijaya telah menggambarkan sebuah kepemimpinan yang sangat religius dalam agama Budha dan sekaligus pemimpin yang adil dan bijaksana kepada rakyatnya. Prasati Talang Tuo adalah usaha Dapunta Hiyank Sri Jayanasa yang bertujuan untuk mensejahterakan pemerintahan dan rakyatnya tertib, teratur sesui dengan dharma sekaligus menyelamatkan rakyatnya dari samsara atau penderitaan dunia. Usaha itu dilakukan pada saat Dapunta Hiyank Sri Jayanasa telah mampu atau dianggap telah mencapai tingkat kedeawaan (sebagai dewa di dunia) dalam masa pemerintahannya. Proses pendewaan ini secara normatif diperoleh melalui Tantra, sebagai dewaraja ia dapat menjangkau pengertian yang luas dalam usaha menyelamatkan segala makhluk atas penderitaannya, dan seluruh wujud usaha itu antara lain adalah pembuatan Taman Sriksetra.

Taman Sriksetra dibuat pada tahun 606 Saka (684 M), dapat dipahami karena saat itu Dapunta Hiyank Sri Jayanasa baru beberapa waktu mejalani pemerintahannya, sehingga ia perlu mengadakan kultus individu sebagai dewaraja sebagaimana syarat yang harus dipunyai seseorang raja. Uraian Talang Tuwo memang mencerminkan seseoarang yang telah paham dan menghayati ajaran Budha. Pada masa itu Dapunta Hiyank Sri Jayanasa telah menjadi seseorang dewa, sedangkan masa sebelumnya ia belum sampai taraf sedemikian tinggi seperti pernyataan Satyawati Suleiman tahun 1985. Dengan demikian prasasti Talang Tuwo adalah bukti tertulis yang sengaja dibuat sehubungan kepentingan legitimasi dan wujud kultus dewaraja melalui ajaran Budha dari Dapunta Hiyank Sri Jayanasa.

Sumber : Kabib Sholeh, Prasasti talang tuo peninggalan kerajaan sriwijaya sebagai materi ajar sejarah indonesia di sekolah menengah atas, Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Palembang