Apa yang anda ketahui tentang Prasasti Panai Sumatera Utara ?


(Simpton) #1

Prasasti Panai

Prasasti Panai dahulu dinamakan Prasasti Batu Gana. Penamaan tersebut diberikan berdasarkan hasil bacaannya pada baris ke-6 yang berbunyi ―… batu ganam ….
Pemberian nama Prasasti Paņai karena kata Paņai tertera pada prasasti. Sementara itu, bacaan ―… batu ganam… sebenarnya berbunyi … batu tanam…. Prasasti Paņai juga disebut dengan nama Prasasti Bahal I mengingat prasasti tersebut ditemukan di kompleks Biaro Bahal I.

Prasasti Paņai sekarang disimpan di Museum Negeri Medan dengan nomor inventaris 2186. Prasasti Paņai diguratkan pada media berbahan batu kapur atau batu putih yang berbentuk silindrik. Aksara yang digunakan adalah aksara pasca-Pallawa sedangkan bahasanya adalah Melayu Kuno. Prasasti tersebut berukuran tinggi 81 cm, keliling terkecil 89 cm, dan keliling terbesar 124 cm. Keadaan prasasti tidak baik, sebagian media tulis tersebut sangat aus sehingga sebagian tulisannya sulit bahkan tidak dapat dibaca.

Apa yang anda ketahui tentang Prasasti Panai Sumatera Utara ?


(Muhammad Iqbal Farras Pratama) #2

Prasasti Panai tidak memiliki angka tahun yang absolut. Prasasti ini menggunakan aksara pasca-Pallawa atau aksara Kawi Akhir dan berbahasa Melayu Kuno. Prasasti ini terbuat dari batu putih atau batu kapur yang berbentuk silinder berukuran tinggi 81 cm, keliling terbesar 124 cm, dan keliling terkecil 89 cm. Tulisan diukir melingkar mengikuti bentuk medianya. Sebagian besar, kondisi prasasti ini dalam keadaan aus karena media yang digunakan adalah batu yang sifatnya sangat rapuh dan sensitif dengan iklim sehingga mudah rusak, sehingga sebagian tulisan sulit untuk dibaca. Tulisan yang dapat dibaca pada prasasti ini sebanyak sepuluh baris

Prasasti ini ditemukan di kompleks Biaro Bahal I, Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara. Sebelumnya, prasasti sempat dikenal sebagai Prasasti Batu Gana, kemudian menjadi Prasasti Batu Gana I, penemuam ini berdasarkan adanya penemuan baru berupa prasasti dengan nama yang sama sekitar 2 kilometer di sebelah utara Biaro Bahal I. Ada juga yang menyebutnya sebagai Prasasti Bahal I mengingat prasasti ini ditemukan di kompleks Biaro Bahal I. Namun kini, setelah melewati sepuluh tahun, prasasti tersebut dinamai Prasasti Panai. Hal ini sesuai dengan hasil pembacaan akhir yang menyebutkan nama “Panai” pada baris kesepuluh.

Catatan perjalanan Armenia menyebut dua pelabuhan yang mengekspor kamper dalam jumlah yang besar: “P’anès” dan “Lewang”. Kemungkinan besar, nama tempat yang pertama tidak lain adalah Panai. Identifikasi nama yang kedua lebih sulit. Jelas bahwa pelabuhan tersebut terletak di selatan Panai dan di utara Jambi (Melayu) – mungkin Belawan, yang sekarang merupakan pelabuhan dari Medan.

Kutipan-kutipan di atas menunjukkan bahwa pada zaman Lobu Tua, kamper tersedia di beberapa pelabuhan dari Selat Malaka, baik di pantai Sumatera, maupun di pantai Semenanjung. Tersedianya bahan ini di pasar Panai dan “Lewang”, yang menurut teks asli tampaknya berhubungan, mungkin berarti bahwa sebagian dari kamper yang berasal dari Barus dibawa melalui jalan darat yang melewati Padang Lawas, sebelum menuju ke pantai timur melalui sungainya. Dari situ, kamper disebarkan ke berbagai pelabuhan di Selat Malaka.

Prasasti Panai ini merupakan salah satu artefak yang membuktikan keberadaan Kerajaan Panai yang pernah disebut pada Prasasti Tanjore (India) dan Kitab Negarakertagama (Indonesia).


(Danastri Luna Badira) #3

Prasasti Paņai sebelumnya dinamai Prasasti Batu Gana, kemudian Prasasti Batu Gana I, penamaan ini berdasarkan adanya penemuan baru berupa prasasti dengan nama yang sama. Ketika ditemukan prasasti tersebut terletak pada 2 km di utara Biaro Bahal I (Susetyo, 2010). Kini prasasti tersebut dinamai Prasasti Paņai.

Sebagaimana diketahui bahwa penamaan prasasti dilakukan dengan tiga cara, yaitu :

  • Pertama, jika sebuah prasasti menyebutkan nama suatu tempat, maka nama tempat yang disebutkan itu diambil untuk dijadikan sebagai nama prasasti.

  • Kedua, jika tidak ditemukan nama tempat, maka penamaan prasasti dilakukan dengan mengambil nama tempat penemuannya.

  • Ketiga, jika identitas prasasti tidak diketahui, maka nama tokoh yang tertera pada prasasti dijadikan sebagai nama prasasti itu sendiri. Ketiga cara tersebut merupakan kesepakatan para ahli epigrafi, tetapi tidak berupa kesepakatan tertulis melainkan terapan.

Pemberian nama Prasasti Paņai dilakukan dengan cara yang pertama, yakni berdasarkan nama tempat yang tersurat pada prasasti itu sendiri. Hal ini sesuai dengan hasil pembacaan akhir yang menyebutkan nama Paņai pada baris kesepuluh. Penamaan dengan cara yang demikian pernah dilakukan oleh Boechari dan Damais dalam memberikan nama pada beberapa prasasti yang ditemukan di Jawa.

Sekarang ini Prasasti Paņai disimpan di Museum Negeri Provinsi Sumatra Utara. Pemindahan artefak bertulis ini dilakukan mengingat kondisi fisiknya yang sudah aus serta bahannya yang mudah rusak. Jika dibiarkan di tempat dimana prasasti tersebut ditemukan, dikhawatirkan akan terjadi kerusakan yang lebih parah lagi. Selain itu, yang paling ekstrim adalah kemusnahan yang diakibatkan ulah tangan manusia, baik aktivitas vandalisme maupun pencurian.

Bentuk, Ukuran, dan Keadaan Prasasti Panai


Prasasti Paņai berbentuk silindrik dengan ukuran tinggi 81 cm, keliling terbesar 124 cm, dan keliling terkecil 89 cm. Tulisan diukir melingkar mengikuti bentuk medianya, yaitu batu putih atau batu kapur. Kondisi prasasti sebagian besar sangat aus karena media yang digunakan adalah batu yang sifatnya sangat rapuh dan sensitif dengan iklim sehingga mudah rusak. Hal ini membuat sebagian tulisan sulit untuk dibaca.

Diduga tulisan diguratkan diseluruh permukaan batu, tetapi kondisi yang sangat aus membuat sebagian besar tulisan tidak hanya kabur, tapi juga hilang. Semakin ke kiri dari sisi A (lihat foto 1), tulisan semakin aus. Bagian atas prasasti tampak terpenggal. Diduga prasasti ini lebih tinggi dari ukuran sekarang. Dugaan ini muncul selain karena bentuk potongan yang tidak teratur pada bagian atas prasasti, juga terdapat indikasi tulisan sebelum baris pertama yang turut terpotong.

Selain pada bagian atasnya yang terpotong, terdapat beberapa kerusakan lain pada prasasti ini, seperti keretakan, noda berwarna hitam, noda berwarna kuning, pengelupasan, rompal , pecah, dan berlubang. Sisi A adalah bagian yang paling baik dari bagian lainnya. Sebagian besar tulisan pada bagian ini terlihat sangat jelas dan dapat dibaca. Meskipun kerusakan, seperti retakan dan noda hitam terkadang mengganggu proses pembacaan prasasti.

Sisi B atau sebelah kiri sisi A, terlihat mengalami keausan dan rompal serta terdapat noda berwarna hitam pada bagian ini. Hanya sebagian kecil tulisan yang dapat dibaca. Kerusakan paling parah terlihat pada bagian yang bertolak belakang atau sisi C dengan tulisan yang masih terbaca. Parahnya kerusakan pada bagian ini tidak menyisakan sedikitpun indikasi tulisan. Sementara itu, pada sisi D hanya terlihat satu baris tulisan, yakni baris kesepuluh. Tulisan sembilan baris sebelumnya tidak terlihat karena pada bagian ini keadaan prasasti sangat aus atau kulit batu terkelupas.

Sekitar sepertiga dari tinggi prasasti tersebut, tepatnya pada bagian bawah prasasti terlihat sangat aus. Lapisan terluar batu terkelupas bahkan rompal. Diduga pada bagian ini masih ada tulisan, tetapi karena kondisinya yang sangat parah membuat tulisan tersebut tidak terlihat lagi. Ada pula kerusakan berupa lubang pada bagian ini. Noda hitam yang membujur dari bagian atas hingga bagian bawah prasasti juga terlihat.

image

Aksara


Tulisan yang dapat dibaca pada Prasasti Paņai sebanyak 10 baris. Aksara yang digunakan dalam penulisan prasasti tersebut adalah aksara pasca-Pallawa, yakni aksara yang berakar dari Aksara Pallawa yang mengalami perkembangan dan digunakan untuk menuliskan bahasa lokal, Bahasa Melayu Kuno. Huruf ditulis cenderung miring ke kanan.

De Casparis (1975) dalam bukunya, Indonesian Palaeography, membagi aksara ke dalam beberapa masa:

  • Aksara sebelum abad VIII
  • Aksara Pallawa Awal, misalnya: Prasasti Kutai, Prasasti Tarumanagara, prasasti-prasasti dari Kedah.
  • Aksara Pallawa Akhir, misalnya: Prasasti Tuk Mas, prasasti-prasasti Sriwijaya, dan Prasasti Canggal.
  • Aksara Kawi Awal (750—925 M)
  • Aksara Jawa Kuno, seperti: Prasasti Plumpungan, Prasasti Dinoyo, dan prasasti-prasasti yang berasal dari tahun 760—856 M.
  • Aksara Standar, seperti: prasasti-prasasti Kayuwangi—Balitung dan prasasti-prasasti yang berasal dari tahun 910—925 M.
  • Aksara Kawi Akhir (925—1250 M)
  • Prasasti-prasasti yang menggunakan Aksara Kawi Akhir adalah prasasti- prasasti dari Jawa Timur, masa Airlangga, masa Kadiri, dari Bali, Sunda, dan Sumatra Selatan.
  • Aksara Majapahit (1250—1450 M)

Berdasarkan pembagian masa aksara tersebut, Prasasti Paņai mungkin termasuk prasasti yang menggunakan Aksara Kawi Akhir. Pembabakan untuk aksara pada prasasti-prasasti di Sumatra belum diteliti secara detail. Hal ini berbeda dengan Jawa yang memiliki tinggalan prasasti paling banyak di Indonesia dan bukti tertulis tersebut lengkap dari masa paling awal hingga paling akhir dalam sejarah kuno Indonesia. Tersedia dan lengkapnya bukti-bukti sejarah, khususnya dalam tulis-menulis, di Jawa menghasilkan sebuah karya tentang perkembangan aksara di Indonesia pada masa lampau. Sementara itu, wilayah lain, seperti Sumatra yang memiliki tinggalan prasasti tidak terlalu banyak dan tidak lengkap dari setiap masa, maka untuk mengidentifikasi aksara pada prasasti di Sumatra lazim merujuk atau membandingkannya dengan pola atau standardisasi aksara di Jawa (Aksara Kawi).

Alih Aksara dan Catatan Alih Aksara


  1. la naºikx. dańa x [n] x

    • Griffiths juga membacanya dengan naik . Setianingsih membacanya dengan … narjak…

    • Setianingsih dan Griffiths membacanya data . Huruf yang berada tepat pada retakan itu terlihat seperti huruf /ńa/ karena garis lengkung bagian atasnya lebih panjang demikian pula garis lengkung pada bagian bawahnya sehingga terlihat lebih mirip huruf /ńa/. Meskipun jika dilihat pada foto abklats yang dibuat oleh Griffiths, huruf tersebut terlihat lebih mirip /ta/, garis pada retakan terlihat jelas.

    • Tanda kurung siku ([…]) berarti tulisan yang di antara kedua tanda tersebut merupakan dugaan atau rekonstruksi. Diperkirakan setelah kata /dańa/ akan ada huruf /n/ dengan tanda wirama. Sementara itu, Griffiths melihat ada tanda anuswara di atas huruf yang ia baca /ta/ meskipun ia meragukan tanda tersebut. penulis menganggap goresan di atas huruf /ń/ itu adalah kerusakan. Adapun Setianingsih membaca semua baris pertama ini dengan satu kata, yaitu …lanarjakdata.

  2. … yaŋ di (da)xlaŋ savah naºik.x

    • Tulisan yang di dalam tanda kurung ((…)) merupakan bacaan yang tidak pasti, tetapi pada prasasti terlihat meskipun tidak jelas terbaca.

    • Secara keseluruhan hasil bacaan penulis sama dengan Griffiths, tetapi Setianingsing membacanya dengan …yapawaga sawah ja i sā.

  3. … ºikatx. (malava)xn. (man)dax [la]x

    • Griffiths membacanya bu(k)it . Tidak ada tanda vokalisasi /i/ di atas huruf /k/.

    • Semua huruf terlihat menyatu sehingga sangat sulit diidentifikasi. Griffiths membacanya (pa/sa)saran.

    • Huruf /ma/ disini berbeda dengan yang terdapat pada baris lainnya. Bagian kiri huruf retak dan ukuran huruf juga tidak proporsional sehingga masih diragukan apakah itu huruf /ma/ atau bukan. Pasangan /nda/ juga tidak begitu jelas karena media prasasti aus. Griffiths membacanya ma(n)da sedangkan Setianingsih membaca seluruh baris ke-3 kabanatya .

    • Kemungkinan ada huruf /la/ setelah /manda/ sehingga diterjemahkan dengan wilayah kekuasaan lembaga keagamaan Buddha

  4. … n. turun. manamatx. ºax

    • Griffiths membacanya manapak . Meskipun pada prasasti huruf /pa/ terlihat seperti /ma/ karena garis di bagian kiri aksara terlihat tidak lurus sehingga kurang tepat dibaca /pa/. Demikian pula huruf /ka/ terlihat seperti /ta/ karena goresan pada kaki kiri huruf jelas terlihat melengkung dan bersambung dengan garis di tengah aksara.

    • Setianingsih membaca baris ini dengan … pwa n mangsak ā .

  5. … (s)uńai ńa parayunanx. maŋxhilirāx

    • Griffiths tidak memenggal kata ini. Ia membacanya para(y)unan dan masih meragukan huruf /ya/. Menurut penulis huruf tersebut jelas /ya/ dengan vokalisasi /u/. Awalnya penulis memenggal kata tersebut dengan para yu nan— kata yu berarti sejenis ikan—tetapi kata para tidak lazim digunakan untuk hewan (ikan). Jika kata tersebut dibaca parayunan yang bertarti ―alat untuk berayun‖ kata tersebut kurang cocok dengan kata setelahnya (maŋhilirā) sehingga penulis menganggap bahwa ini adalah kekurangtelitian penulis prasasti atau citralekha. Kata yang seharusnya tertulis adalah parahu nan maŋhilirā yang artinya perahu yang ke arah hilir. Kata ini juga sedikit menguatkan kata suńai sebelumnya.

    • Griffiths meragukan huruf tersebut /ma/. Meskipun terdapat retakan ditengah-tengah huruf tersebut, ciri-ciri bahwa huruf tersebut adalah /ma/ sangat jelas. Setianingsih melihatnya lebih mirip dengan /pa/ dan tidak mengakui tanda anuswara yang terdapat di atas aksara tersebut.

    • Huruf /ra/ memiliki garis tambahan pada bagian kanan atas aksara tersebut. Setianingsih mungkin tidak melihat tanda perpanjangan vokal itu. Sementara itu, Griffiths memberi tanda hubung setelah kata (m)aŋhilir a- seolah-olah kata tersebut masih belum lengkap.

  6. … kaxn. naºik.x {2/3}t.x batu taxnam. yaŋx di paxdaŋ

    • Jika dibaca melalui foto digital, huruf /ka/ sangat jelas. Kemungkinan Griffiths lebih mengutamakan abklats dalam membaca sehingga ia meragukan huruf tersebut dengan menuliskan bacaan /ka/ di antara tanda kurung atau ―(ka)‖. Inilah salah satu kelemahan abklats, goresan tipis tidak terlihat. Setianingsih tidak membaca bagian ini.

    • Sama halnya dengan kasus pada huruf sebelumnya, Griffiths juga masih meragukan ini huruf /ka/, tetapi ia melihat tanda wirama setelah aksara dengan jelas. Sebaliknya, terdapat keraguan terkait dengan tanda wirama tersebut karena terlihat berupa kerusakan. Tebalnya sisa kerusakan itu membuat tanda seperti wirama terlihat jelas. Ketika dibandingkannya dengan kata pada baris sebelumnya dan menetapkan bahwa memang seharusnya ada tanda wirama setelah aksara /ka/.

    • Griffiths tidak membaca bagian ini. Setelah kata naik , ia langsung menulis kata batu . Padahal seharusnya masih ada sekitar 2—4 huruf di antara kedua kata tersebut. Sebelum kata batu, terlihat jelas huruf /ta/ dengan tanda wirama setelahnya. Selain itu, sebelum huruf /ta/ seharusnya ada 2—3 aksara lagi yang tidak terbaca karena parahnya kerusakan pada bagian itu. Tambahan pula, Setianingsih melihat huruf sebelum kata batu adalah /ba/.

    • Sama dengan pembacaan Griffiths, tetapi Setianingsih membaca huruf ini dengan /ga/. Padahal terlihat jelas bahwa kaki tengah dan kiri aksara bersambung ( ).

    • Griffiths melihat tanda anuswara di atas huruf /ya/, tetapi Setianingsih tidak demikian.

    • Terdapat kejanggalan pada aksara ini karena dituliskan terlalu miring dan berbeda dengan /pa/ lainnya. Selain itu terlihat garis pada bagian kiri huruf ini yang mengenai huruf sebelumnya sehingga kedua huruf ini terlihat menyatu.

  7. … (s)uńaix marla(mpa)xm.x hilir.x

    • Vokalisasi /u/ terlihat pada prasasti hanya huruf /s/ yang tidak terlihat, tetapi Griffiths masih meragukan pembacaannya dengan memberi tanda kurung di awal dan akhir kata suńai .

    • Pasangan /mpa/ terlihat tidak wajar karena pasangan huruf di bagian lainnya tidak sejajar, seharusnya huruf yang dimatikan berada di atas huruf pasangannya.

    • Meskipun retak, terlihat tanda wirama setelah huruf /ma/. Griffiths memisahkan huruf /ma/ ini dari kata marlampa dan menggabungkannya dengak kata setelahnya. Sebaliknya, Setianingsih membacanya dengan damarhaya .

    • Huruf /ma/ yang digabungkan oleh Griffiths dianggapnya memiliki tanda anuswara meskipun ia agak ragu. Kata ini dibacanya dengan ma(ŋ)hilir . Setianingsih tidak melihat tanda anuswara sehingga ia membacanya mahilir .

  8. … (?)ux kami dańax(n.) {2/3}n.x pramanax bhumix pańkanax di yaŋx ºa

    • Bagian sebelah kiri huruf rusak yang terlihat hanya bagian kanannya yang berbentuk garis vertikal dan di bawahnya terdapat tanda vokalisasi /u/.

    • Kemungkinan oleh Griffiths, bacaan ini yang digabungkan dengan /n/ yang terletak tepat sebelum kata pramana . Padahal masih ada jarak ( space ) sekitar tiga huruf di antara /ńa/ dan /n./

    • Baik pada foto prasasti maupun foto abklats, huruf sebelum /n./ tidak terbaca. Meskipun demikian, tidak mungkin huruf tersebut /ńa/ karena bagian paling kanan aksara tersebut terlihat jelas berupa garis vertikal. Sebagaimana diketahui bahwa bagian kanan huruf /ńa/ tidak berupa garis lurus.

    • Setianingsih membacanya prapa dan hasil pembacaan tersebut tidak sama dengan Griffiths yang membacanya pramana .

    • Tulisan ini sangat jelas, tetapi Setianingsih membacanya darmang . Vokalisasi /i/ terlihat jelas sehingga tidak mungkin berupa tanda anuswara.

    • Setianingsih membacanya dengan pangkara , oleh Griffiths dibaca pańka huruf na digabung dengan kelompok kata berikutnya. Pengelompokan kata yang dibuat oleh Setianingsih lebih tepat, tetapi perlu dikoreksi bahwa /ra/ yang dibaca Setianingsih sebenarnya /na/.

    • Pengelompokan kata yang dibuat oleh Setianingsih lebih tepat, sedangkan Griffiths menggabungkan huruf /na/ dengan /di/ kemudian memisahkannya dari huruf setelahnya, yaitu /ya/ dengan tanda anuswara di atasnya.

  9. … (na) (pa) {1} (ma)x li (da)x kuţi hajix dix {3}ix mañusuk.x bhumix ºinan.x mula rix

    • Terdapat keraguan pada huruf /ma/ ini, tetapi Griffiths yakin dengan pembacaannya. Juga diduga ada tiga huruf yang tidak jelas terbaca sebelum huruf /ma/, Griffiths melihat dua huruf. Tapat sebelum /ma/ huruf sangat aus sehingga tidak dapat dibaca. Sebelum huruf tersebut terlihat huruf seperti /pa/ yang oleh Griffiths dianggap /da/. Satu huruf sebelum /pa/ juga tidak jelas, tetapi diduga merupakan huruf /na/. huruf ini tidak dibaca oelh Griffiths.

    • Huruf ini mirip /da/dan /ńa/, tetapi lebih cenderung terlihat sebagai huruf /da/, sementara Griffiths menduganya /ńa/. Enam aksara pertama yang terbaca pada baris ke-9 ini sengaja dituliskan perhuruf karena kesulitan memberikan tafsiran. Sementara itu, Griffiths membuat pemenggalan kata, khususnya pada kata mali(ńa) .

    • Tanda vokalisasi /i/ terlihat jelas, tetapi Griffiths meragukannya.

    • Penggalan kuti haji di dibaca maha dana oleh Setianingsih. Sementara itu, Griffiths meragukan kata /di/ dan menduga bahwa huruf itu adalah /n/ atau /d/ serta meragukan tanda vokalisasi /i/ di atasnya.

    • Vokalisasi /i/ terlihat jelas, tetapi tiga huruf sebelumnya—termasuk yang divokalkan tidak dapat diidentifikasi. Griffiths juga merasa demikian. Setianingsih tidak membaca bagian ini.

    • Hanya Setianingsih yang membacanya manusuk .

    • Terbaca jelas, tetapi Setianingsih membacanya śima .

    • Setianingsih memenggal kata ini dengan menyebutnya i nan . Griffiths tidak memenggalnya.

    • Vokalisasi /i/ terbaca sangat jelas, tetapi Setianingsih menganggapnya sebagai tanda anuswara.

  10. … dari kabayan.x punyax kuţix hinaxn. kuţix haji bava bvat.x paņaix samuha

    • Setianingsih membacanya berbeda, yaitu kabayaj .

    • Terdapat pasangan huruf /na/ dengan /ya/ sehingga dibaca nya . Griffiths sepakat bahwa kata yang terbentuk adalah punya , tetapi Setianingsih membacanya pu gwa .

    • /ţi/ dianggap /dhi/ oleh Setianingsih.

    • Griffiths masih meragukan huruf /na/ karena pada abklats kerusakan di bawah huruf tersebut terlalu parah sehingga abklats yang terbentuk ―mengabaikan‖ bagian bawah huruf itu. Meskipun huruf tersebut terlihat jelas pada foto prasasti. Berbeda dari hinan , Setianingsih membacanya hang dajā .

    • Setianingsih membacanya sama dengan kata serupa sebelumnya, yakni kudhi .

    • Griffiths memberi catatan koreksi untuk kata bava bvat menjadi barbvat, tetapi penulis kata tersebut tidak perlu dikoreksi. Sebaliknya, kata tersebut sudah tepat dan tidak perlu dikoreksi karena kata bava bvat lebih padu untuk keseluruhan baris kesepuluh (lihat alih bahasa).

    • Vokalisasi /ai/ terlihat jelas, tetapi Setianingsih menganggap salah satunya sebagai layar atau pasangan /ra/ sehingga ia membacanya parnno dan digabung dengan kata samuha. Sebaliknya, Griffiths membacanya paņai dan terpisah dari kata setelahnya, yaitu samuha .

Catatan :

  • Ketiga tanda titik berarti diperkirakan masih ada tulisan yang tidak terbaca
  • Huruf vokal yang berdiri sendiri diberi tanda ini (º) sebelumnya
  • x berarti kata tersebut mempunyai keterangan

Alih Bahasa dan Catatan Alih Bahasa


  1. … naik dengan

    Grifftihs menerjemahkannya sesuai dengan hasil alih aksaranya, yakni datang.

  2. … yang di (dalam) sawah naik

    Terjemahan ini diberi tanda kurung karena masih belum pasti baik alih aksara maupun alih bahasanya. Terjemahan pada baris ini sama dengan hasil terjemahan Griffiths.

  3. … (melawan) manda-

    Menurut terjemahan Griffiths, sebelum penggalan kata manda- adalah ke bukit sebagai target atau sasaran. Sementara terdapat kesulitan membaca bagian tersebut. Hanya dapat dibaca dengan malawan dan masih meragukan hasil bacaan tersebut sehingga terjemahannya juga diberi tanda kurung.

  4. … turun mengakhiri

    Manamat dari kata tamat yang diambil dari bahasa Arab. Kemungkinan sudah ada kontak dengan budaya Arab. Griffiths menerjemahkannya dengan menapaki atau mengikuti jalan.

  5. … sungai…perahu yang mengalir ke hilir/hanyut

    Parayunan berarti tempat/alat untuk berayun. Jika dihubungkan dengan kata manghilira atau mengalir/hanyut, kata parayunan lebih tepat dikoreksi menjadi parahu nan. Griffiths tidak memberikan terjemahan untuk kata ini.

  6. … naik… batu tanam yang di padang

    Batu yang ditanam atau mungkin sama dengan tiang atau tugu. Jika dikaitkan dengan kata naik, lebih tepat diartikan tangga yang terbuat dari batu yang sebagiannya ditanam agar lebih kokoh.

  7. … Sungai yang ada ikannya di hilir

    Marlampam dari kata lampam yang berarti sejenis ikan gurame, maka diterjemahkan menjadi berikan atau ada ikannya. Griffiths tidak menerjemahkan kata ini.

  8. … pramanax bumi/wilayah Pańkanax kepadax

    • Sumber ilmu pengetahuan. Griffiths menerjemahkannya dengan dimensi.

    • Menurut Griffiths, kata ini adalah Pańka Nadi atau Sungai Mud, tetapi lebih mengarah bahwa kata tersebut adalah Pańkana yang merupakan nama daerah/wilayah.

    • Kata ini diterjemahkan oleh Griffiths dengan yang.

  9. … kuţi x haji… mendirikanx wilayahx yang bermula di

    • Sebuah bangunan suci untuk agama Buddha. Griffiths menerjemahkannya dengan bilik.

    • Mañusuk berasal dari kata susuk atau susok yang menurut Kamus Bahasa Melayu berarti mendirikan (daerah). Jadi mañusuk bhumi berarti mendirikan wilayah. Hal ini berbeda dengan kata manusuk sima yang lazim dijumpai pada prasast-prasasti di Jawa. Griffiths menerjemahkan kata ini dengan membatasi yang maknanya sama dengan yang lazim dijumpai pada prasasti sima di Jawa.

    • Terjemahan oleh Griffiths berhenti pada kata ini. Adapun pada kata sesudahnya yang dibacanya dengan nan mulari, tidak diterjemahkan.

  10. … dari kabayanx punya kuti hinan dan kuti haji yang dibawa untuk (masyarakat)x Paņai semuanya

    • Griffiths menerjemahkannya dengan kepala kampung (head-man). tetapi sebaiknya tidak menerjemahkan kata ini karena merupakan gelar.

    • Terjemahan tambahan.

Tinjauan Tokoh


Tidak ada nama tokoh yang terbaca pada Prasasti Paņai, tetapi terdapat penggunaan nama gelar, yakni haji dan kabayan . Haji adalah nama gelar untuk tokoh tertentu. Kata haji dituliskan sebanyak dua kali dan kedua kata tersebut selalu diikuti kata kuţi . Sebagaimana diketahui bahwa kuţi merupakan sebuah nama yang erat kaitannya dengan bangunan suci agama Buddha. Dengan demikian kuţi haji dapat diartikan sebagai bangunan suci untuk seorang haji.

Menurut Griffiths, kuţi sama dengan gandhakuţi yang berarti ‗ruangan wangi‘. Ruangan wangi yang dimaksud merujuk pada bagian Biara tempat Sang Buddha yang digambarkan dalam bentuk arca diletakkan. Griffiths mengajukan empat bukti untuk mengemukakan arti dari kata kuţi . Bukti pertama adalah Prasasti Cap dari Nālandā, India (abad VIII). Prasasti tersebut menyebutkan:

  • śrīnālandāyāŋ śrībālādityagandhakuţīvārikabhikşūņāŋ
    (dimiliki para biksu yang mengurus gandhakuţi milik śrî Bālāditya di śrî Nālandā)

  • śrīnālandāyāŋ śrīdharmapāladevagandhakuţīvārikabhikşūņāŋ
    (dimiliki para biksu yang mengurus gandhakuţi milik śrîdharmapāladeva di śrî Nālandā)

  • Śrīdevapālagandhakuţyāŋ
    ([dicap] di gandhakuţi milik devapāla) (Griffiths, 2012)

Bukti kedua adalah prasasti dari Angkor, Kamboja (abad IX) yang berbunyi:

  • dvau lekhakau rājakuţīpālau pustakarakşiņau tāmbūlikau ca pānīyahārau şaţ pattrakārakāh.
    (dua juru tulis, dua penjaga kuţī raja, dua penjaga pustaka, dua tukang sirih, dua tukang air minum, enam pengrajin lempeng (lontar))

  • rājakuţyantare rājadvijātinŗpasūnavah. viśeyur atra nirddoşan ta evābharaņānvitāh.
    (sekedar raja dan pangeran berhak masuk ke dalam kuţī raja tanpa dihukum, jika mereka memakai hiasan) (Griffiths, 2012)

Bukti ketiga adalah Prasasti Jawa Kuno, Jawa (abad XI) dengan kutipannya sebagai berikut:

  • … gandhakoţi i vimalāśramavihāra…
    (Ruangan Wangi di Biara Vimalāśrama)

  • … sań hyań kuţi i vimalāśrama…
    (Sang Dewa [yang berada di] Ruangan [Wangi] di Vimalāśrama) (Griffiths, 2012)

Adapun bukti keempat adalah Deśavarņana 17.10 (abad XIV) menggambarkan bahwa:

  • tāmbeniń kahavan vinārņa ri japan kuţi kuţi hana caņdi sāk ŗbah,

  • vetan tań tĕbu pāņdavan ri daluvań babala muvah. Hi kañci tan madoh, len tekań kuţi rātnapańkaja muvah. kuţi haji kūţi pańkajādulur,

  • pañjrak maņdala len ri po ńgiń i jińan kuvu hañār i samipaniń havan.

    (Yang pertama dilewati dan dideskripsi ialah Japan, di mana ada berbagai kuţi [dan] candi yang rusak total. Ke arah Timur ada Tebu, Pandawan, Daluwang, Babala, serta Kanci tidak jauh. Selain itu ada kuţi Ratnapańkaja, kuţi haji beserta kuţi pańkaja. Lagi Panjrak, Mandala dan Pongging, serta Jingan dan Kuwu Hanyar di tepi jalan) (Griffiths, 2012).

Jadi, berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh Griffiths beserta paparan keempat bukti tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kuţi haji dalam Prasasti Paņai adalah sebuah bangunan suci yang memiliki ruangan wangi tempat Sang Buddha yang digambarkan dalam bentuk arca ditempatkan. Bangunan yang dimaksud merupakan bangunan yang dibangun oleh seorang haji atau didirikan untuk seorang haji (bangunan pendharmmaan). Meskipun demikian tokoh haji yang dimaksud belum jelas terungkap dari Prasasti Paņai.

Penyebutan gelar haji menunjukkan bahwa kerajaan Paņai kemungkinan bukanlah kerajaan besar karena gelar haji hanya digunakan untuk tokoh yang berpengaruh atau raja yang memimpin wilayah yang relatif kecil. Sebaliknya untuk raja yang memimpin wilayah yang besar, gelar yang disandangkan adalah maharaja atau maharajadiraja. Meskipun kerajaan Paņai tidak besar, tetapi kerajaan tersebut memiliki keunggulan yang membuatnya menjadi populer sehingga kerajaan besar dari India dan Jawa ingin menjadikannya sebagai wilayah atau kerajaan bawahan/taklukan. Selain itu, Prasasti Paņai juga menyebutkan nama kabayan . Nama tersebut menunjukkan bahwa pada masa lampau telah dikenal sesosok tokoh yang berpengaruh bagi masyarakat sekitarnya sehingga tokoh tersebut diberi gelar kabayan . Penyebutan nama tersebut juga terdapat pada beberapa prasasti di Jawa, seperti Prasasti Kańcana 782 Ç, Prasasti Waharu I 795 Ç, dan Prasasti Poh 827 Ç (Damais, 1970: 294). Tokoh Kabayan memang sangat terkenal di Jawa, khususnya di Jawa Barat. Tokoh tersebut merupakan pejabat desa yang bertugas sebagai pesuruh.

R. J. Wilkinson menulis Kamus Bahasa Melayu dengan terjemahan Bahasa Inggris. Dia menuliskan kata kabayan dengan kĕbayan (Wilkinson, 1902). Menurutnya kata kabayan tersebut memiliki dua versi, yakni versi Jawa dan Melayu. Menurut versi Jawa kata tersebut diterjemahkan sebagai an order; a village regulation; a village headman . Adapun versi Melayu dikenal istilah neneķ kĕbayan yang merupakan sesosok perempuan tua semacam peri yang melindungi tuan putri. Hampir sama dengan terjemahan Wilkinson, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kebayan (versi Jawa) diartikan sebagai pegawai desa yang pekerjaannya menyampaikan perintah dan menjaga keamanan desa; orang perempuan tua yang biasa berperan sebagai perantara hubungan antara pria dan wanita; atau orang yang pekerjaannya disuruh-suruh (KBBI, 2007).

Berdasarkan kedua sumber rujukan tersebut kabayan sama dengan kĕbayan atau kebayan . Kata tersebut merupakan istilah untuk penyebutan tokoh tertentu yang memiliki peranan penting dalam lingkungan masyarakat Jawa. Terjemahan inilah yang dirasa lebih sesuai untuk tokoh kabayan pada Prasasti Paņai. Jika demikian halnya, maka istilah tersebut diambil dari Bahasa Jawa bukan dari Bahasa Melayu. Bukti penyebutan kata kabayan dalam prasasti berbahasa Melayu adalah pada Prasasti Hujung Langit yang berangka tahun 919 Ç. Sementara itu, beberapa prasasti Jawa telah terlebih dahulu menyebutkan kata tersebut sejak tahun 782, 795, dan 872 Ç. Hal ini menjadi jawaban yang bertolak belakang atas pendapat Griffiths yang menyatakan bahwa tidak terdapat sedikitpun bukti bahwa Bahasa Jawa pernah digunakan di daerah Padang Lawas.

Peristiwa/aktivitas


Parahnya tingkat kerusakan yang terjadi pada Prasasti Paņai menyebabkan tidak sempurnanya hasil pembacaan yang telah dilakukan. Ketidaksempurnaan ini berdampak pada interpretasi yang akan dibangun, khususnya untuk menjabarkan peristiwa yang diperoleh dari sumber tertulis tersebut. Meskipun demikian penulis mencoba mengemukakan beberapa asumsi mengenai peristiwa yang tergambar pada Prasasti Paņai.

Kata naik yang berarti (berjalan) ke tempat yang lebih tinggi dituliskan sebanyak tiga kali dalam Prasasti Paņai. Hal ini menggambarkan bahwa keadaan alam yang berbukit-bukit atau pegunungan dan orang-orang yang hidup pada masa itu beraktivitas tidak hanya di tempat-tempat yang rendah tapi juga yang lebih tinggi. Bahkan masyarakat masa lampau—khususnya Samosir yang tidak jauh dari Padang Lawas—tinggal di tempat-tempat yang tinggi, seperti gunung atau bukit (Wiradnyana, 2011)

Kemungkinan lain di balik kata naik adalah kondisi alam yang berupa daratan dan perairan. Perairan tergambar dengan kata sungai pada Prasasti Paņai. Posisi bentang alam perairan lebih rendah dari dataran sehingga ketika seseorang yang berada di air ingin mendarat, maka tindakan itu disebut naik. Kata turun yang pasti berkaitan dengan kata naik juga disebutkan dalam Prasasti Paņai. Hal ini memperkuat dugaan mengenai aktivitas pada tempat yang memiliki ketinggian yang berbeda-beda.

Dahulu kala manusia mendirikan hunian dengan mempertimbangkan hal-hal yang menunjang kelangsungan hidup mereka, misalnya kondisi tanah yang akan diolah menjadi lahan pertanian, perkebunan, perladangan, peternakan, dan sebagainya. Selain tanah, sumber air juga sangat penting, baik berupa mata air, sungai, maupun rawa untuk menunjang aktivitas pengolahan tanah, perolehan sumber makanan, dan sarana transportasi (Wiradnyana, 2011). Pemanfaatan air dalam aktivitas pertanian disebutkan dalam Prasasti Paņai dengan kata savah (sawah). Sungai juga dimanfaatkan sebagai sumber makanan. Hal ini digambarkan dalam Prasasti Paņai dengan menyebut marlampam (berikan). Sedangkan untuk pemanfaatan sebagai sarana transportasi disebutkan kata parahu .

Peristiwa lain yang dapat diketahui dari Prasasti Paņai ini adalah adanya aktivitas pertanian berupa sawah . Sebagaimana diketahui bahwa sawah adalah lahan pertanian yang basah/berair, kemungkinan aktivitas persawahan tersebut berkenaan dengan sungai yang juga disebut dalam prasasti.

Masih berhubungan dengan paragraf sebelumnya, kata parahu dan hilir, selain menggambarkan kondisi alam juga menggambarkan aktivitas yang berhubungan dengan air yang menggunakan alat berupa perahu. Diduga aliran sungai dimanfaatkan sebagai sarana transportasi untuk mengangkut hasil-hasil alam yang akan diperdagangkan ke pelabuhan.

Kata batu tanam diduga berhubungan dengan aktivitas pertanian, tetapi tidak pada lahan basah (sawah) melainkan pada lahan kering. Dugaan ini muncul karena kata batu terkadang diartikan sebagai biji, buah, atau bulir tanaman. Selain itu, kata padang yang dalam konteks ini diartikan sebagai ladang juga mendukung kata sebelumnya, yakni batu tanam. Peristiwa yang tergambar dari penggalan kalimat

batu tanam yaŋ di padang… adalah adanya aktivitas perladangan, yakni penanaman biji-bijian di lahan yang kering. Kemungkinan lain mengenai makna kata batu tanam adalah batu tonggak yang ditanam sebagai pembatas wilayah.

Menurut kamus bahasa Melayu (Wilkinson, 1902) padang dapat diartikan sebagai tanah datar, hamparan ( plain ), atau lahan terbuka yang ditumbuhi semak belukar. Kemungkinan nama Padang Lawas diambil dari kondisi lingkungan alam setempat, yakni tanah luas yang ditumbuhi belukar. Hingga sekarang padang masih ditemukan di kawasan Padang Lawas. Sebagian besar lahan atau padang tersebut diolah dijadikan ladang atau perkebunan karet dan kelapa sawit.

Sehubungan dengan kata pada baris yang sama, sangat mungkin padang berarti lahan terbuka yang diselimuti semak belukar dan batu tanam berarti tonggak batas wilayah. Jika demikian halnya, maka aktivitas yang tergambar dari baris ke-6 Prasasti Paņai ini adalah … naik atau mendaki melewati tonggak pembatas wilayah (wilayah perbatasan) yang berada di padang (lahan semak).

Asumsi yang berbeda mengenai pengertian kata padang sebagai ladang dibandingkan dengan masyarakat Jawa yang memanfaatkan padang sebagai ladang (lahan kering) yang merupakan salah satu sumber mata pencaharian pada zaman Raja Sang Ratu Çri Ugrasena (Astawa, 1991). Masyarakat Bali Kuno juga mengenal istilah padang yang mereka jadikan ladang sebagai salah satu sumber mata pencaharian (Suwarbhawa, 1991). Dengan demikian sangat mungkin bahwa di Padang Lawas juga dikenal pengelolaan tanah berupa padang yang dijadikan ladang sebagai sumber makanan, lebih jauh lagi sebagai sumber mata pencaharian masyarakat setempat pada zaman kerajaan Paņai.

Mengenai kata mañusuk bhumi pada prasasti ini kemungkinan tidak sama dengan kata manusuk sima (membatasi wilayah sima) pada prasasti-prasasti Jawa. Menurut Kamus Bahasa Melayu (Wilkinson, 1902) susok (kata dasar dari mañusuk ) dapat diartikan dengan to found (mendirikan atau membangun), sedangkan bhumi diartikan sebagai bumi, tanah, atau wilayah sehingga penggalan kalimat mañusuk bhumi nan mula ri… diartikan sebagai mendirikan suatu wilayah yang bermula dari ? (tidak jelas). Dituliskannya kata mañusuk bhumi pada Prasasti Paņai menunjukkan bahwa ketika itu telah dilakukan pendirian suatu daerah yang mungkin tidak hanya untuk wilayah hunian, tetapi juga untuk bangunan suci keagamaan. Bangunan suci yang dimaksud adalah kuţi hinan dan kuţi haji meskipun kedua bangunan tersebut belum dapat dipastikan letaknya sekarang ini. Namun yang pasti terlihat hingga sekarang bahwa di kawasan Padang Lawas masih tersisa bangunan- bangunan keagamaan yang bernafas Buddha.

Penyebutan kata kuţi pada Prasasti Paņai memunculkan asumsi bahwa prasasti tersebut ada kaitannya dengan bangunan-bangunan purbakala berupa candi yang oleh masyarakat setempat disebut biaro meskipun belum jelas biaro yang dimaksudkan, baik Biaro Bahal I, II, III atau biaro-biaro lainnya yang ada di Padang Lawas. Tidak hanya Prasasti Paņai yang ditemukan di kompleks biaro, beberapa prasasti lain juga ditemukan di lokasi yang tidak jauh dari bangunan keagamaan, misalnya Prasasti Joreng Belangah, Porlak Dolok, Tandihat I dan II, Sitopayan I da II, dan sebagainya (Mulia, 1980; Setianingsih dkk, 2003).

Khusus untuk kata kuţi yang terdapat pada Prasasti Paņai erat kaitannya dengan bangunan suci agama Buddha. Griffiths (2012) mengartikan kata tersebut dengan ruangan yang wangi tempat Sang Buddha yang berbentuk arca diletakkan. Sejalan dengan itu, biaro-biaro yang ditemukan di kawasan Padang Lawas merupakan biaro yang bernafaskan agama Buddha (Griffiths, 2012; Bronson dkk, 1973; Mulia, 80; Schnitger, 1936; Suleiman, 1976). Lebih jauh lagi peneliti-peneliti kepurbakalaan Padang Lawas, termasuk Mulia dan Griffiths, meyimpulkan bahwa agama yang berkembang di wilayah setempat adalah agama Buddha aliran Tantrayana atau Vajrayana. Hal itu tergambar pada relief biaro dan prasasti yang berisi mantra aliran Vajra. Bukti-bukti tersebut memunculkan asumsi bahwa agama yang dianut oleh masyarakat dan/atau raja dari kerajaan Paņai adalah agama Buddha aliran Tantrayana atau Vajrayana .

Tokoh yang bergelar haji yang didharmakan menunjukkan bahwa kerajaan Paņai merupakan kerajaan kecil yang memiliki potensi alam yang luar biasa. Komoditas utama yang tersedia dari kerajaan kecil ini adalah kamper di samping emas dan rempah-rempah. Barang-barang tersebut diperdagangkan di pelabuhan, baik pelabuhan yang terletak di pantai barat (Barus) maupun di timur (Labuhan Bilik) (Kévonian, 2002: 70).

Diduga kerajaan Paņai memiliki dua ―pintu gerbang‖, yakni di pantai timur (Labuhan Bilik) dan barat (Barus). Dugaan ini dibangun berdasarkan kondisi geografi kerajaan Paņai yang terletak di antara kedua pelabuhan tersebut. Sungai-sungai di Padang Lawas yang bermuara di pantai timur sangat mungkin digunakan sebagai sarana transportasi menuju pelabuhan. Sungai tersebut digunakan untuk membawa hasil-hasil alam yang akan diperdagangkan. Sementara itu, pelabuhan di pantai barat jaraknya lebih dekat dari Padang Lawas dibanding pantai timur sehingga sangat mungkin merupakan pelabuhan di bawah kekuasaan kerajaan Paņai. Ketika itu, kedua pelabuhan tersebut menyediakan komoditi utama yang sangat diburu oleh pedagang- pedagang asing. Barang yang dimaksud adalah kamper atau kapur barus (Guillot, 2008). Hasil alam lainnya yang juga diperdagangkan adalah rempah-rempah, kayu gaharu, dan emas (Wolters, 2011).

Menurut Adrian B. Lapian (2008) masyarakat pedalaman masa lampau memanfaatkan sungai untuk mengangkut hasil sawah dan kebunnya ke pelabuhan. Sangat mungkin hal ini juga dilakukan oleh masyarakat Paņai dari Padang Lawas ke pelabuhan di pantai timur. Mengenai hasil alam yang diangkut telah dijelaskan sebelumnya, yakni hasil dari sawah dan ladang yang tidak dijelaskan secara rinci pada Prasasti Paņai.

Pelabuhan yang ideal, seperti yang dikemukakan Lapian, adalah terhubung dengan sungai, agak menjorok (masuk) ke dalam, terletak di muara yang agak terbuka dan di dalam sebuah teluk (Lapian, 2008). Syarat-syarat tersebut ada pada pelabuhan pantai timur yang diduga milik kerajaan Paņai. Meskipun dikatakan ideal, keadaan pantai seperti itu berdampak negatif bagi pantai itu sendiri, yakni terjadinya pendangkalan karena sungai yang mengalir dari hulu membawa membawa material- material yang akan terdeposit di muaranya.

Lapian menambahkan pula (2008) bahwa pada umumnya pelabuhan-pelabuhan di bagian barat Indonesia, seperti di Sumatra timur, berada pada pantai yang merupakan daratan aluvial yang luas yang lambat laun akan menyebabkan muara menjadi dangkal karena endapan sungai yang terus-menerus. Keadaan yang demikian akan menjadi penghambat bagi kapal-kapal yang hendak masuk pelabuhan. Hal ini lah yang mungkin membuat pelabuhan pantai timur (Labuhan Bilik) ini mulai tidak dikunjungi oleh pedagang-pedagang asing. Sebaliknya pelabuhan pantai barat (Barus) semakin berjaya. Hal ini terlihat dari banyaknya berita-berita asing yang menyebutkan kebesaran Barus. Bahkan di daerah sekitar pelabuhan tersebut terdapat kelompok pedagang Tamil (Subbarayalu, 2002).

Begitu besarnya nama Barus di kalangan bangsa asing karena hasil alamnya yang sangat terkenal, yaitu kapur barus. Meskipun mungkin tidak hanya Barus yang menghasilkan kapur barus, tetapi barang berharga tersebut paling banyak ditemukan di Barus dan mutunya pun paling baik (Guillot dkk, 2008). Berhubung pedagang- pedagang asing hanya mendatangi, singgah atau tinggal di pelabuhan yang termashur itu sehingga mereka hanya mengenal daerah pelabuhan itu saja tanpa mengetahui kerajaan yang menguasainya. Mereka datang hanya untuk kepentingan ekonomi dan berurusan langsung dengan penduduk lokal yang tinggal atau bekerja di lingkungan pelabuhan itu saja dan tidak pernah mengenal raja atau penguasa pelabuhan penting yang mereka datangi.

Claude Guillot dkk (2008) mengatakan bahwa Barus bukanlah bagian dari Sriwijaya. Penulis setuju dengan pendapat tersebut, tetapi menurut penulis daerah atau pelabuhan tersebut merupakan bagian dari Paņai yang tidak jauh dari lokasi tersebut. Pendapat ini diperkuat dengan pernyataan Suleiman (1980) bahwa Barus adalah pelabuhan di bawah Paņai mengingat jaraknya lebih dekat dengan Padang Lawas dibanding Labuhan Bilik. Selain itu, pohon yang menghasilkan kapur barus terdapat di daerah pedalaman yang dekat bahkan mungkin tepat di Padang Lawas. Sebagaimana dipaparkan sebelumnya bahwa hasil alam yang dibawa ke pelabuhan atau yang akan diperdagangkan berasal dari daerah pedalaman.

Adapun bahasa yang digunakan oleh masyarakat Padang Lawas adalah Bahasa Melayu Kuno. Bahasa tersebut juga digunakan ketika melakukan transaksi atau berkomunikasi baik dengan masyarakat yang datang dari berbagai pulau di nusantara maupun bangsa asing yang datang dari mancanegara.

Griffiths dalam artikelnya (2012) berpendapat bahwa kemungkinan besar Paņai adalah nama asli dari Padang Lawas. Jika dibandingkan dengan apa yang tertera pada Prasasti Tanjore, kemungkinan Paņai seharusnya terletak di Kawasan Padang Lawas yang memiliki beberapa aliran sungai dan kenampakan alam yang bergelombang (berbukit/bergunung). Bumi tempat manusia beraktivitas di atasnya itu, dibangun dan didirikan bangunan suci agama Buddha.

Baris terakhir yang terbaca dari Prasasti Paņai merupakan baris terpanjang yang dapat dibaca. Kesinambungannya dengan baris sebelumnya terlihat lebih jelas dibanding dengan baris-baris yang lainnya. Peristiwa yang tergambar dari dua baris terakhir ini adalah bahwa ada seorang tokoh yang mendirikan suatu daerah ( bhumi ). Daerah yang dimaksud kemungkinan adalah Paņai. Seorang pejabat desa yang bergelar kabayan diberi tugas yang berhubungan dengan bangunan suci agama Buddha. Bangunan suci tersebut diduga merupakan bangunan pendarmaan terhadap tokoh hinan dan haji. Meskipun belum jelas bahwa kedua tokoh tersebut didarmakan pada satu atau dua bangunan. Selain itu, sebagai seorang pesuruh, kabayan membawa sesuatu (tidak jelas) kepada semua orang yang ada/tinggal di Paņai.

Berdasarkan analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa kerajaan Paņai sudah ada sebelum abad ke-11 atau sebelum Rajendra Chola melakukan aksi penyerangan pada tahun 1025 M. Kerajaan yang diperkirakan terletak di kawasan Padang Lawas tersebut merupakan kerajaan kecil karena pada Prasasti Paņai tokoh yang disebutkan hanya bergelar haji bukan maharaja atau maharajadiraja .

Kerajaan Paņai memiliki dua pintu gerbang yang berupa pelabuhan, yakni Labuhan Bilik di pantai timur dan Barus di pantai barat. Pusat kerajaan dan pantai timur dihubungkan oleh Sungai Barumun, tetapi antara pusat kerajaan dan pantai barat tidak terdapat sungai yang menghubungkan keduanya. Selain sebagai sumber kehidupan, sungai yang mengalir ke arah timur laut atau Labuhan Bilik dimanfaatkan untuk mengolah lahan sekaligus trasportasi pengangkutan hasil alam dari Padang Lawas. Demikian pula halnya dengan pelabuhan Barus, hasil alam juga dibawa dan diperdagangkan disana. Komoditi yang khas dari kedua pelabuhan ini adalah kamper atau kapur barus.

Kemungkinan pada masa lampau, Padang Lawas lebih subur dibanding sekarang sehingga kerajaan Paņai kemungkinan besar sangat kaya akan hasil bumi (emas), hutan (kapur barus), dan ternak. Hanya masyarakat yang kaya dan makmurlah yang mampu membangun candi-candi, seperti di Padang Lawas. Selain makmur, masyarakat Paņai juga memiliki kepandaian sehingga mereka dapat menghasilkan ukiran atau pahatan yang luar biasa pada relief-relief candi dan arca-arca yang ditemukan di kawasan Padang Lawas (Suleiman, 1980).

Penduduk Paņai ketika itu telah mengenal agama Buddha. Penduduk setempat juga adalah orang-orang yang taat beragama dan sangat menghormati pemimpinnya. Hal ini tercermin pada pembangunan kuţi pendharmaan untuk tokoh penting yang bergelar hinan(?) dan haji . Sebaliknya tokoh penting juga mengayomi warganya. Hal ini juga tergambar pada Prasasti Paņai yang menyebutkan bahwa tokoh kabayan yang bertugas sebagai pesuruh melaksanakan tugasnya yang berhubungan langsung dengan semua masyarakat Paņai.

Secara umum peristiwa yang tergambar dalam Prasasti Paņai adalah adanya suatu perjalanan dengan maksud untuk membuka wilayah baru yang letaknya berlawanan dengan mandala. Perjalanan itu melewati batas wilayah yang di lahan semak dan ditempuh dengan mendaki dan menuruni wilayah yang dilalui. Tidak hanya melalui darat, perjalanan itu juga melalui sungai dengan menggunakan perahu menuju ke hilir. Sesampainya di wilayah Pańkana, dibukalah daerah tersebut kemudian didirikan pula bangunan kuţi (bangunan suci Buddha), yakni kuţi hinan dan kuţi haji . Kabayan pemilik kuţi hinan dan kuţi haji , membawa kedua bangunan suci itu untuk semua masyarakat Paņai.

Meskipun informasi mengenai adanya bangunan suci agama Buddha disinggung dalam Prasasti Paņai, tetapi hal ini belum bisa menjawab pertanyaan mengenai hubungan Prasasti Paņai dengan bangunan tempat ditemukannya prasati tersebut. Belum dapat dipastikan letak kuţi hinan maupun kuţi haji.

Sumber : Lisda meyanti , Prasasti paņai, Universitas Indonesia