Apa yang anda ketahui tentang Orang utan?

Orang utan

Orang utan adalah hewan mamalia yang merupakan salah satu primata atau hewan asli indoneisa tepatnya di kalimantan, keberadaan orang utan sendiri sudah mulai terancam akibat pembukaan lahan yang dilakukan oleh warga sekitar dan perusahaan asing dan lokal untuk dijadikan perkebunan terutama perkebunan sawit.

Ciri ciri orang utan antara lain :

  • Orang utan merupakan hewan mamalia dimana menyusui anaknya.

  • Orang utan termasuk dalam bangsa kera yang berukuran besar, saat dewasa orang utan bisa mencapai bobot 50 hingga 95 Kg tergantung dari asupan gizinya.

  • Orang utan memiliki dua buah mata yang digunakan untuk melihat.

  • Makanan utama orang utan adalah buah – buahan yang ada di sekitar hutan.

  • Orang utan memiliki bulu yang berwarna kemerah – merahan yang dimana merupakan ciri khas dari hewan ini.

  • Orang utan jantan dan betina memiliki perbedaan yang mencolok pada saat dewasa dimana orangutan jantan akan memiliki pipi yang sedikit leber sedangkan wanita tidak sama sekali.

  • Dalam sekali melahirkan orang utan dapat melahirkan 1 hingga 2 ekor anak dan akan di asuh oleh indukan betina.

  • Kehidupan orang utan biasanya di dalam hutan dan di atas pepohonan dan kerap kali turun ketanah untuk mencari minum dan sembari mencari makan, namun seiring dengan rusaknya habitat mereka orang utan mencari makan ke permukiman warga sekitar.

  • orang utan termasuk hewan yang dilindungi oleh negara karena populasinya yang semakin sedikit di alam.

Orang utan adalah bagian dari keluarga kera besar, sehingga mereka tidak memiliki ekor dan cenderung lebih besar dan lebih berat daripada monyet, meskipun keduanya adalah primata. Kera besar juga memiliki otak yang lebih besar dan dapat menggunakan alat-alat, seperti tongkat, untuk membantu mereka mendapatkan makanan untuk makan atau daun untuk membuat kerai atau payung.

Orangutan hidup di Asia dan ditemukan di pulau Kalimantan dan Sumatera, yang tinggal di dataran rendah dan hutan hujan tropis berbukit.

Ada tiga jenis atau subspesies orang utan yang dapat ditemukan di Kalimantan:

  • Pongo pygmaeus pygmaeus adalah spesies yang paling terancam punah dari orang utan Kalimantan dengan perkiraan populasi antara 1.500 sampai 3.500 orang. Ditemukan di Kalimantan Barat dan juga Sarawak.

  • Pongo pygmaeus morio ditemukan di Timur Utara sekitar Sabah dan Kalimantan Timur, dengan populasi diperkirakan antara 8.000 dan 18.000.

  • Pongo pygmaeus wurmbii adalah subspesies Kalimantan Tengah terbanyak, bisa mencapai 40.000 individu.

Sumber: https://orangutann.wordpress.com/fakta-orangutan/

Orangutan (Pongo pygmaeus)


Nama orangutan berasal dari bahasa Melayu yang berarti “orang hutan”. Orangutan Pongo pygmaeus di Kalimantan dan orangutan Pongo abelii di Sumatra merupakan satu-satunya kera besar yang hidup di Asia. Ketiga jenis kera besar lainnya ditemukan di Afrika, yaitu Bonobo (Pan paniscus), Simpanse (Pan troglodytes) dan Gorilla (Gorilla gorilla). Semua kera besar digolongkan ke dalam suku pongidae yang merupakan bagian dari bangsa primata.
Orangutan (Pongo pygmaeus) merupakan satu-satunya kera besar yang hidup di Asia. Orangutan memiliki warna rambut cokelat tua sampai kehitaman. Anak orangutan yang baru lahir memilki kulit muka dan tubuh berwarna pucat, sedangkan rambutnya berwarna coklat muda. Kemudian warna rambut akan berubah sesuai perkembangan umur. Ukuran tubuh jantan dewasa dua kali lebih besar dari pada betina, yaitu sekitar 125-150 kg sedangkan di tempat
pemeliharaan beratnya dapat mencapai 150-an kg. Pada orangutan betina berat badan di alam berkisar antara 30-50 kg dan dapat mencapai 70-an kg ditempat pemeliharaan. Orangutan jantan mempunyai kantong suara yang berfungsi mengeluarkan seruan panjang.

Berdasarkan catatan fosil para ahli menyimpulkan bahwa orangutan berasal dari daratan Asia, di suatu tempat di Pegunungan Himalaya (Hooyer 1948; von Koningswald, 1981 dalam Rijksen & Meijaard, 1999). Hingga akhir Pleistosen, orangutan dapat ditemukan di sebagian besar hutan dataran rendah di Asia Tenggara, dari kaki perbukitan Wuliang Shan di Yunan, Cina Selatan,
sampai ke selatan di Pulau Jawa, dengan luas total sebaran mencakup 1,5 juta km². Akan tetapi, saat ini orangutan hanya ditemukan di Kalimantan dan di bagian utara Sumatra, dengan 90% dari total populasinya berada di wilayah Indonesia (Hooyer 1948; von Koningswald, 1981 dalam Rijksen & Meijaard, 1999). Dengan demikian, sudah selayaknya jika melestarikan orangutan menjadi kewajiban nasional.

Berdasarkan hasil penelitian genetika, morfologi, ekologi, tingkah laku, dan daur hidup (life history), orangutan yang hidup di Sumatra dibedakan dari orangutan yang ada di Kalimantan (Delgado& van Schaik, 2000, Groves, 2001, Zhang et al., 2001,). Orangutan sumatra, Pongo abelii, dan orangutan borneo, Pongo pygmaeus, telah terpisah secara geografis paling sedikit sejak 10.000 tahun yang lalu saat terjadi kenaikan permukaan laut antara kedua pulau itu.
Variasi morfologi dan genetik terdapat pada populasi orangutan Kalimantan, sehingga dikelompokkan ke dalam 3 subspesies yang berbeda (Groves, 2001; Warren dkk., 2001), diantaranya sebagai berikut :

  1. Pongo pygmaeus pygmaeus
    Terdistribusi di bagian barat Kalimantan (Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum, dan sekitarnya), utara Sungai Kapuas dan bagian barat Sungai Barito.
  2. Pongo pygmaeus wurumbii
    Jenis ini terdapat di barat daya Kalimantan, bagian selatan Sungai Kapuas dan bagian barat Sungai Barito.
  3. Pongo pygmaeus morio
    Jenis ini terdapat di Sabah dan bagian timur Kalimantan hingga sepanjang aliran Sungai Mahakam.

Taksonomi, Karakteristik Habitat dan Syarat Hidup, Perilaku Orangutan

Orangutan (Pongo pygmaeus) merupakan primata endemik di Kalimantan Timur. Berdasarkan morfologinya orangutan diklasifikasikan menurut Groves (2001) adalah sebagai berikut :

  • Kingdom : Animalia
  • Filum : Chordata
  • Subfilum : Vertebrata
  • Kelas : Eutheria
  • Ordo : Primata
  • Super Famili : Hominoidea
  • Famili : Hominidea
  • Sub Famili : Ponginae
  • Marga : Pongo
  • Jenis : Pongo pygmaeus

Karakteristik Habitat dan Syarat Hidup Orangutan


Hutan tropik di seluruh dunia bersifat khas karena susunannya yang sangat majemuk dan kekayaannya akan flora yang berupa pepohonan yang sangat melimpah (Ricards, 1952 ; Galdikas, 1986). Meskipun semua hutan hujan tropik sangat mirip satu dengan yang lainnya dalam hal susunannya, perkembangan pergantian dan dalam penyesuaian umumnya dengan jenis-jenis tanah dan kondisi tertentu (Ricards, 1952 ; Galdikas, 1986). Kemudian Galdikas (1986) dalam bukunya ’Adaptasi Orangutan Di Suaka Tanjung Putting’ mejelaskan bahwa
hutan hujan Indo – Malaya adalah nomor dua terbesar di seluruh dunia. Hutan di daerah ini sangat menarik dan bernilai karena berbagai alasan sebagai berikut :

  1. Hutan tropik mempunyai keragaman yang terbesar dalam spesies tanaman/tumbuhan dan juga jumlahnya yang banyak.

  2. Meskipun pada daerah-daerah tertentu terjadi pengambilan kayu dan penggundulan yang ekstensif, di beberapa tempat hutan Indo-Malaya, khususnya di daerah Malaysia, masih ada yang tetap utuh dan belum terjamah oleh manusia.

  3. Sangat besar kemungkinannya bahwa tanaman berbunga berasal dari Asia Tenggara. Ini berarti bahwa beberapa hutan di Malaysia sebenarnya merupakan komunitas tanaman yang ”tertua” yang pernah dikenal di bumi, hasil dari evolusi yang terus menerus dan berkelanjutan selama kurang lebih 60 juta tahun.

Komposisi hutan tropis sebenarnya tidak seragam, tetapi hutan tropis adalah komunitas tumbuhan yang mempunyai komposisi berbeda, yang terdiri dari beberapa jenis, dengan tumbuhan berukuran besar dan kecil. Di dalam hutan ini, orangutan berminat terhadap tumbuhan yang menyediakan pakan baginya, terutama pohon-pohon dan liana yang jenis buahnya ’paling sesuai’. Sumber makanan ini jelas tidak tersebar secara acak dalam hutan ini.
Supriatna & Wahyono (2000) mengatakan bahwa orangutan hidup di hutan tropik dataran rendah, rawa-rawa, sampai hutan perbukitan pada ketinggian mencapai 1.500 m dpl, pada umumnya mereka hidup pada hutan primer dan sekunder.

Kemudian Groves (1971) menambahkan bahwa di Kalimantan batas ketinggian untuk komunitas orangutan berada pada ketinggian sekitar 500 m dpl. Orangutan tidak tersebar merata menurut waktu dan lokasi di suatu kawasan. Mereka lebih sering berada di hutan aluvial dan ekoton-ekoton lainnya, yang berdasarkan distribusi dan kualitas sumber makanan utama menurut waktu dan tempatnya. Faktor yang penting adalah pada komposisi pepohonan dan liana yang menyediakan makanan selama musim produktif secara terus menerus
sepanjang tahun dan dalam jarak perjalanan yang bisa dijangkau. Maka habitat yang paling optimal bagi orangutan paling sedikit mencakup dua tipe lahan utama yaitu tepi sungai dan dataran tinggi kering yang berdekatan. Tepi sungai yang berupa dataran banjir, lembah aluvial atau rawa, sedangkan dataran tinggi berupa kaki bukit. Habitat orangutan yang baik biasanya berupa mosaik petak-petak hutan kecil dengan tingkat tumbuhan berkayu yang berbeda, yang beberapa di antaranya mempunyai kerapatan jenis pohon buah yang sangat tinggi. Jenis makanan orangutan sebanyak 317 spesies makanan yang dapat diidentifikasi, terdiri atas 227 spesies tanaman yang berbeda, empat spesies fungi, lima jenis serangga, satu jenis madu liar.

Orangutan juga minum air dari sungai, genangan rawa, dan lubang-lubang di dalam pohon (Galdikas, 1986). Meskipun variabilitas pada susunan makanan orangutan sangat besar, orangutan pada dasarnya bersifat frugivora. Orangutan memanfaatkan buah, bunga, daun, kuncup dan kulit kayu serta cairan dari berbagai spesies pohon, tanaman menjalar dan tanaman lain, dan juga berbagai tanaman merambat yang kecil, anggrek, akar alang-alang air, rayap, ulat, semut ”weaver ants”, jamur (fungus), madu, pangkal dan batang tunas rotan muda, tanaman menjalar, epifit, pakis dan palma kecil, kebanyakan jenis makanan orangutan (235 atau 74%) berasal dari spesies pepohonan (Galdikas, 1986).

Orangutan merupakan salah satu jenis primata di Indonesia yang terancam punah. Sebaran habitat orangutan di Kalimantan terbatas yaitu tempat-tempat rehabilitasi yang berupaya meliarkan lagi satwa ini. Fasilitas tersebut dapat ditemukan di Taman Nasional Tanjung Putting di Kalimantan Tengah, Taman Nasional Kutai dan Bukit Semboja di Kalimantan Timur, serta Gunung Palung, Batung Karihun, Bukit Baka di Kalimantan Barat. Supriatna dan Wahyono (2000) menyebutkan bahwa satwa ini memiliki kesukaan hidup pada hutan primer maupun sekunder. Sebaran habitat ini terdapat di hutan tropik dataran rendah, rawa-rawa, sampai hutan perbukitan pada ketinggian mencapai 1.500 meter dpl. Umumnya mereka hidup pada hutan primer dan sekunder. Namun saat ini karena kerusakan habitat aslinya, mereka dapat
ditemukan di pinggiran ladang, perkebunan atau dekat perkampungan. Kera besar ini bergerak dengan bergantungan dari dahan ke dahan, untuk mencapai dahan di depannya, mereka menarik ranting terlebih dahulu, kemudian baru pindah. Bila berjalan di dahan yang besar mereka menggunakan keempat anggota tubuhnya. Betina, jarang sekali turun ke tanah, hanya jantan yang sering melakukan pergerakan di atas tanah, karena badan yang besar
memungkinkan bergerak di tanah lebih cepat. Daerah jelajah kera ini antara 44-770 ha, dengan
jelajah harian antara 300-800 m (Supriatna dan Wahyono, 2000).

Setiap menjelang petang mereka membuat sarang untuk tidur. Sarang biasanya dibangun pada percabangan pohon, dengan menyusun patahan ranting dan dedaunan. Sarang tidak berbanding lurus dengan jumlah orangutan, satu sarang dapat dipakai untuk beberapa malam dan satu orangutan dapat membuat lebih dari satu sarang. Namun, kadang-kadang mereka juga menggunakan sarang bekas, baik sarang sendiri ataupun sarang orangutan lain, bila sarang tersebut berdekatan dengan pohon buah atau sumber pakan lainnya. Sarang bekas tersebut
hanya ditambahkan beberapa ranting baru sebelum dipakai kembali. Terdapat beberapa kasus orangutan jantan membuat sarang di dasar hutan, umumnya dilakukan oleh orangutan jantan yang telah lanjut usia, yang sudah tidak mampu bergerak dipohon (Supriatna dan Wahyono, 2000).

Perilaku Orangutan

1. Perilaku Sosial

Orangutan hidup semi soliter, tidak membentuk kelompok tetap seperti spesies kera dan monyet lainnya. Kera besar ini berasosiasi dengan individu lain hanya pada saat kawin yang berlangsung selama 2-3 minggu dan saat mengasuh 1-2 ekor anaknya. Orangutan betina hanya melahirkan satu anak setiap kelahiran, setelah masa kehamilan lebih kurang selama 9 bulan. Anak masih mengikuti induknya hingga berumur 5-6 tahun. Dalam suatu kasus orangutan betina dewasa dapat mengambil anak angkat dari anak orangutan lain. Oleh karena itu induk
orangutan tidak membedakan cara mengasuhnya baik kepada anak kandung atau anak angkat (Supriatna dan Wahyono, 2000).

1. Perilaku Bersuara

Jantan dewasa dapat mengeluarkan suara (”long call”) yang cukup nyaring dan dapat terdengar sejauh 3 km. Suara yang dikeluarkan berfungsi untuk mengundang betina yang telah memasuki masa birahi, atau menantang orangutan jantan lain yang berada disekitarnya. Jika suara itu terdengar oleh orangutan jantan lain yang belum terkalahkan, jantan tersebut akan mendekat kearah suara, sehingga terjadi perkelahian. Orangutan yang memenangkan pertarungan tersebut akan menguasai wilayah itu (Supriatna dan Wahyono, 2000).

1. Perilaku Makan

Menurut Supriatna dan Wahyono (2000) mengatakan bahwa pakan orangutan sangat bervariasi, buah merupakan sumber pakan utama yaitu 60 %, sedangkan sisanya berupa bunga, daun muda, kulit kayu dan berbagai jenis serangga. Lebih jauh lagi Galdikas (1986) menyatakan orangutan memakan 317 pakan yang terdiri atas 227 spesies tumbuhan, 4 jenis jamur, 5 jenis serangga, dan 1 jenis madu liar dan tanah. Orangutan juga sering turun ke tanah untuk mencari
anai-anai (rayap) pada kayu lapuk atau gundukan tanah yang menjadi sarang serangga tersebut. Pada awal musim hujan saat banyak telur ulat yang menetas, orangutan bertambah berat tubuhnya dengan banyak memakan larva atau kepompong. Tumbuhan rengas (Semecarpus heterophyllus) yang getahnya sangat berbahaya bagi kulit manusia, merupakan salah satu pakan orangutan.

1 Like

Orang Utan mempunyai nama lain yaitu awas merupakan sejenis kera besar yang mempunyai lengan panjang dan berbulu kemerah-merahan/coklat. h

Hewan ini hidup di hutan tropika Indonesia dan malayasia, Khususnya di pulau kalimantan dan sumatra.

Istilah Orang Utan ini diambil dari kata bahasa melayu yaitu Orang yang berarti Manusia. Dan Utan Berarti Hutan. Orang Utan ini mencakup 2 Sub-spesies yaitu Orang utan sumatra dan orang utan kalimantan. Hewan ini memiliki keunikan yaitu hewan ini memiliki kekerabatan dekat dengan manusia pada tingkat kingdom animalia, dimana orang utan memiliki tingkat kesamaan DNA sebesar 96.4%.

Deskripsi Orang Utan

Orang utan memiliki tubuh yang gemuk dan besar, berleher besar, lengan yang panjang, kaki yang pendek dan tertunduk, dan hewan ini tidak mempunyai ekor. Hewan ini memiliki tinggi sekitar 1.25 sampai 1.5 Meter, untuk berat orang utan jantan sekitar 50 sampai 90 Kg, sedangkan orang utan betina beratnya sekitar 30 sampai 50 Kg.

Saat mencapai tingkat kematangan seksual, orangutan jantan memiliki pelipis yang gemuk pada kedua sisi, ubun-ubun yang besar, rambut menjadi panjang dan tumbuh janggut disekitar wajah. Mereka mempunyai indera yang sama seperti manusia, yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecap, dan peraba.

Habitat Orang Utan

Orangutan ditemukan di wilayah hutan hujan tropis Asia Tenggara, yaitu di pulau Borneo dan Sumatra di wilayah bagian negara Indonesia dan Malaysia. Hewan ini biasa tinggal di pepohonan lebat dan sarangnya terbuat dari dedaunan. Orang Utan dapat hidup Di berbagai tipe hutan, mulai dari hutan keruing, perbukitan dan dataran rendah, daerah aliran sungai, hutan rawa air tawar, rawa gambut, tanah kering di atas rawa bakau dan nipah, sampai ke hutan pegunungan.