© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang anda ketahui tentang Kuda Laut ?

Kuda laut

Kuda laut (Hyppocampus spp) diperdagangkan sebagai ikan hias dan juga sebagai bahan obat. Beberapa sifat dari kuda laut yang menjadikan hewan ini rentan terhadap eksploitasi yang berlebihan antara lain adalah penyebarannya sedikit, jarak habitat sempit, fekunditas rendah, dan kesetiaan pada pasangan. Masa kehamilan dan melahirkan dialami oleh kuda laut jantan.

Klasifikasi Kuda Laut

  • Kingdom: Animalia
  • Filum: Chordata
  • Sub Filum: Vertebrata
  • Class: Pisces
  • Sub Class: Teleostomi
  • Ordo: Gasterosteiformes
  • Family: Syngnathidae
  • Genus: Hippocampus
  • Species: Hippocampus spp

Fakta-fakta Kuda Laut

  • Salah satu hewan paling rakus di dunia.
  • Satu satunya ikan yang memiliki ciri fisik tidak seperti ikan pada umumnya.
  • Memiliki mata dan kulit seperti bunglon.
  • Kuda laut berenang secara vertikal.
  • Kuda Laut hewan yang setia pada pasangannya.
  • Memiliki 54 spesies di dunia.

Apa yang anda ketahui tentang Kuda Laut ?

Kuda laut adalah hewan yang telah mengalami evolusi sejak 40 juta tahun lalu (Fritzhe, 1997). Digolongkan ke dalam genus Hippocampus, nama Hippocampus berasal dari bahasa Yunani yang berarti binatang laut berbentuk kepala kuda, ( hippos = kepala kuda ; campus = binatang laut). Kuda laut termasuk dalam jenis ikan, dan bernafas dengan insang. Taksonomi kuda laut menurut Burton dan Maurice (1983) adalah sebagai berikut :

  • Phylum : Chordata
  • Subphylum : Vertebrata
  • Class : Pisces
  • Subclass : Teleostomi
  • Order : Gasterosteiformes Family : Syngnathidae
  • Genus : Hippocampus
  • Species : Hippocampus barbouri (Jordan & Richardson, 1908)

Kuda laut mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : tubuh agak pipih, melengkung, permukaan kasar, seluruh tubuh terbungkus dengan semacam baju baja yang terdiri atas lempengan-lempengan tulang atau cincin. Kepala mempunyai mahkota dan moncong dengan mata kecil yang sama lebar. Ekor prehensil (dapat memegang) lebih panjang dari kepala dan tubuh. Sirip dada pendek dan lebar,sirip punggung cukup besar dan sirip ekor tidak ada. Pada kuda laut jantan mempunyai kantung pengeraman yang terletak dibawah perut (Burton dan Maurice, 1983).

image

Keterangan gambar, antara lain :

  1. Kepala
  2. Mahkota
  3. Tulang Mata
  4. Tulang Hidung
  5. Mulut (Tube Like)
  6. Tulang PIpi
  7. Keel
  8. Inferior Trunk Ridge
  9. Sirip Anal
  10. Cincin badan terakhir
  11. Kantung Pengeraman
  12. Anterior
  13. Ventral
  14. Posterior
  15. Lateral
  16. Dorsal
  17. Cincin Ekor Pertama
  18. Sirip Punggung
  19. Sirip Dada
  20. Cincin Badan Pertama
  21. Insang Pembuka
  22. Badan
  23. Ekor
  24. Panjang Total

Tubuh bersegmen dan mempunyai satu sirip punggung, insang membuka sangat kecil yang dilengkapi sepasang dada (pectoralfin), satu sirip dubur (analfin) yang sangat kecil, sirip perut dan sirip ekor tidak ada. Ekornya dapat mencengkram dan digunakan untuk memegang pada suatu objek. Kuda laut jantan dilengkapi dengan kantong pengeraman (brood pouch) pada bagian bawah ekor (Burton dan Maurice, 1983). Bentuk morfologi dari kuda laut ditunjukkan pada Gambar diatas.

Menurut Simon and Schuster (1997), warna dasar kuda laut berubah- ubah dari dominan putih menjadi kuning tanah, kadang-kadang punya bintik- bintik atau garis terang atau gelap. Perubahan terebut secara perlahan-lahan dari ujung ke ujung tergantung pada intensitas cahaya. Walaupun sebagian besar kuda laut mempunyai warna kecoklat-coklatan alami, warna campuran abu-abu dan coklat atau bahkan warna hitam agar sesuai dengan lingkungannya, ternyata kuda laut dapat berubah warna seperti halnya bunglon selama mendekati dan meminang pasangannya, dan juga untuk bersembunyi dari pemangsa.

Pertumbuhan Dan Sintasan


Menurut Effendi (1979) pertumbuhan adalah resultan dari pertambahan panjang dan berat individu dalam suatu waktu. Bila jumlah energi makanan yang dicerna melebihi jumlah energi makanan yang diperlukan untuk mempertahankan hidup maka proses pertumbuhan akan berlangsung (Sastrawidjaja, 1992).

Menurut Lockyear (1998) beberapa faktor yang mempengaruhi proses pertumbuhan yakni faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal meliputi salinitas, suhu, kuantitas pakan, pH, kadar oksigen terlarut serta ruang gerak kuda laut. Sedangkan faktor internal terdiri atas : keturunan, ketahanan terhadap penyakit, umur, dan kemamampuan untuk memanfaatkan pakan.

Makanan merupakan faktor utama dalam menunjang pertumbuhan organisme. Disamping makanan, jumlah makanan dan frekuensi pemberian pakan juga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan sintasan (Al Qodri dkk., 1997). Selanjutnya Lockyear (1998) mengemukakan bahwa laju pertumbuhan akan sama apabila pada organisme yang berat dan panjangnya sama diberikan jumlah pakan yang sama. Juwana kuda laut yang di pelihara dengan pemberian pakan yang teratur akan memberikan hasil yang terbaik pada pertumbuhannya. Pertumbuhan kuda laut dipengaruhi oleh tingkah laku atau kebiasaan makan kuda laut. Juwana kuda laut aktif makan pada siang hari sedangkan pada malam hari kurang aktif. Pada pemeliharaan juwana kuda laut di ruangan tertutup harus memiliki sumber cahaya agar dapat melihat makanannya. Juwana kuda laut yang terlambat makan selama 12 jam maka besar kemungkinan pada malam hari berikutnya tidak mau makan sehingga pertumbuhan terhambat dan bahkan menyebabkan kematian (Sudaryanto dan Al Qodri, 1993).

Hicking (1979) mengatakan bahwa selain ketersediaan pakan yang mempengaruhi pertumbuhan, jumlah kepadatan dalam media pemeliharaan sangat mempengaruhi pertumbuhan. Selanjutnya menurut (Mangampa dkk., 2002) mengatakan bahwa semakin tinggi padat penebaran maka semakin tinggi pula kompetisi ruang gerak dan makanan sehingga pertumbuhan yang dicirikan oleh berat individu semakin rendah dengan semakin tingginya padat penebaran.

Sintasan merupakan persentase jumlah individu yang mampu bertahan hidup pada periode tertentu (Effendi, 1997) selanjutnya Anindiastuti dkk., (1998) mengatakan bahwa tinggi rendahnya sintasan dipengaruhi oleh kondisi induk, ketersediaan pakan serta kondisi lingkungan pemeliharaan.

Al Qodri dkk., (1997) mengemukakan bahwa ketersediaan pakan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan selama pemeliharaan juwana kuda laut. Jenis, mutu, dosis dan frekuensi pemberian pakan sangat berpengaruh terhadap peningkatan sintasan juwana kuda laut.

Lockyear (1998) menambahkan bahwa kepadatan minimal pakan dengan kepadatan pakan yang meningkat tidak memberikan hasil yang berbeda nyata terhadap pertumbuhan dan sintasan. Sedangkan jumlah pakan yang berada di bawah tingkat kritis akan mengakibatkan lambatnya pertumbuhan dan tingkat kematian yang tinggi.

Rendahnya sintasan kuda laut menjadi penghambat dalam usaha pelestarian kuda laut. Hal ini ditunjukkan oleh hasil penelitian dilakukan oleh Mangampa dkk., (2002) dengan memperoleh sintasan 16,29% dengan padat penebaran 1–2 ind/L dan kepadatan pemberian Artemia salina 1–2 ind/mL. Selain itu kematian pada pemeliharaan kuda laut banyak terjadi pada saat pemeliharaan awal sampai umur 30 hari karena kegagalan dalam proses osmoregulasi dan fluktuasi suhu yang tinggi.

Hasil penelitian dari Mulyadi (2004) dengan kepadatan 1 ekor per liter diperoleh sintasan 83,33%, pertumbuhan panjang dan bobotnya masing masing 3,12 cm dan 0,139 gr. Padat penebaran yang berbeda tidak memberikan pengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan panjang dan bobot juwana kuda laut (Hippocampus barbouri), tetapi memberikan pengaruh yang nyata terhadap sintasan juwana kuda laut (Hippocampus barbouri).

Penelitian yang sama juga telah dilakukan oleh Sudaryanto dan Al Qodri (1993) dengan memperoleh sintasan 30% pada hari ke 11 – 15 dengan padat penebaran awal 1000 – 1500 ekor/ton dan kepadatan pemberian Artemia salina 1 – 2 ind/mL. Selanjutnya hasil penelitian yang dilakukan oleh Khaerunnisa (2004) memperoleh sintasan 72% dan laju pertumbuhan panjang dan bobot masing-masing 2,29% dan 5,25% dengan padat penebaran 1-2 ekor/L dan kepadatan Artemia salina 1-2 ind/L.