© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang Anda ketahui tentang Anti Kanker?

Antikanker

Banyak ditemukan obat-obat yang digunakan untuk mengobati kanker. Biasanya kanker diobati dengan metode kemoterapi. Berikut tumbuhan-tumbuhan yang mempunyai senyawa antikanker:

  1. Daun dan Kulit batang tumbuhan Erythrina variegate (Dadap Ayam) yang mengandung senyawa alkaloid dan terpenoid, dan senyawa isoflavonoid

  2. Tanaman genus Clerodendrum yang mengandung golongan steroid, terpenoid, flavonoid, konstituen volatil, glikosida cianogenik, fenolik, karbohidrat, ribosome-inactivating protein, pheophorbide sitotoksik (Shrivastava dan Patel 2007).

  3. Tanaman lengkuas (Alpinia galangal) yang mengadung senyawa flavonoid

Apa yang Anda ketahui tentang Anti Kanker?

Anti kanker atau yang sering disebut obat sitostatika merupakan suatu obat yang digunakan untuk membunuh atau menghambat mekanisme proliferasi sel kanker. Obat ini bersifat toksik bagi sel kanker itu sendiri maupun sel normal yang proliferasinya cepat, khususnya sel pada sumsum tulang belakang, sel pada epitel gastrointestinal, dan sel folikel rambut. Terapi antikanker dapat diberikan secara per oral atau secara parenteral. Dengan adanya obat antikanker diharapkan memiliki toksisitas selektif, artinya hanya menghancurkan sel kanker tanpa harus merusak jaringan normal disekitarnya. (Neal, 2005).

Tetapi obat antikanker memiliki efek toksik yang dapat muncul ketika sedang melakukan pengobatan atau beberapa waktu setelah pengobatan. Efek toksik yang sering muncul antara lain mual, muntah, tubuh terasa lemas, gangguan hematologis, gangguan gastrointestnal, toksisitas pada rambut, neurotoksisitas, toksisitas saluran kemih, kelainan metabolik, hepatotoksisitas, sitotoksisitas, kardiotoksisitas, toksisitas paru, toksisitas gonad, gangguan indera perasa kelainan otot dan saraf, kelainan pada darah, kulit kering, produksi hormon tidak stabil, dan lain-lain (Remesh,2003).

Penggolongan Senyawa Anti Kanker


Obat antikanker diklasifikasikan menjadi enam golongan antara lain :

  1. Golongan senyawa pengalkilasi
  2. Antimetabolit
  3. Antikanker produk bahan alam
  4. Hormon
  5. Agen target molekular
  6. Agen miscellaneous

Dari masing-masing golongan terbagi menjadi beberapa sub golongan antara lain golongan senyawa pengalkilasi terdiri dari 7 sub golongan antara lain sub golongan nitrogen mustard, etyleneimina dan methyleneimina, alkil sulfonat, nitrosourea, metilhidrazin, triazine, dan platinum compleks. Golongan antimetabolit terdiri dari 3 sub golongan, yaitu sub golongan antagonis asam folat, antagonis pirimidin, dan antagonis purin. Golongan produk bahan alam terdiri dari 4 sub golongan, yaitu sub golongan vinca alkaloid, taxane, antibiotik antikanker, dan inhibitor topoisomerase. Golongan agen target molekular terdiri dari 3 sub golongan, yaitu sub golongan retinoid, antibodi monoklonal, dan inhibitor tyrosin kinase. Terapi antikanker dapat diberikan secara per oral atau secara parenteral. Dengan adanya obat antikanker diharapkan memiliki toksisitas selektif, artinya hanya menghancurkan sel kanker tanpa harus merusak jaringan normal disekitarnya (Missailidis, 2008).

Toksisitas Anti Kanker


Salah satu karakteristik yang membedakan obat antikanker dengan obat lainnya adalah frekuensi dan keparahan efek samping yang ditimbulkan pada dosis terapi. Kebanyakan obat antikanker yang beredar saat ini bersifat sitotoksik.Pada kemoterapi dilakukan kombinasi yang terdiri dari beberapa obat antikanker, hal ini tentu dapat menimbulkan efek samping yang semakin kompleks, sehingga toksisitas obat antikanker meningkat. Beberapa obat antikanker juga memiliki sifat karsinogenik dan mutagenik yang berisiko dapat menimbulkan kanker periode kedua.Toksisitas yang umum terjadi antara lain yaiu toksisitas hematologi, gastrointestinal, kulit, toksisitas terhadap folikel rambut, toksisistas terhadap sistem saraf, toksisitas pada organ vital , toksisitas saluran kemih. Berikut akan dijabarkan terkait toksisitas dari masing-masing golongan antikanker (Grace dan Adjei, 2013).

Karsinogenik adalah suatu senyawa yang dapat menyebabkan kanker atau meningkatkan risiko timbulnya penyakit kanker. Saat ini penelitian mengenai kanker sedang banyak dilakukan guna untuk mencegah terjadinya penyakit kanker. Adapun suatu organisasi penelitian pertama yang memberikan pengetahuan baru terkait kanker yaitu International Agency for Research on Cancer (IARC). IARC dibentuk pada tahun 1965 oleh WHO yang bertujuan untuk mempromosikan kerjasama internasional dalam penelitian kanker. Misi dari organisasi ini yaitu mencari tahu penyebab kanker pada manusia, mekanisme karsinogenesis, dan strategi untuk pencegahan kanker. Penelitian yang dilakukan sejak 50 tahun terakhir ini memberikan sebuah informasi mengenai zat-zat karsinogen terhadap manusia (Saracci dan Wild, 2015). Klasifikasi obat antikanker berdasarkan IARC Monographs, Volume 1- 116 dapat dilihat pada tabel berikut :

Grup Keterangan Obat Antikanker
Grup 1 Karsinogen terhadap manusia Chlorambucil, Cyclophosphamide, Etoposide, Melphalan, Thiotepa, Tamoxifene
Grup 2A Kemungkinan besar karsinogenik terhadap manusia Doxorubicin, Azacitidine, Procarbazine, Teniposide
Grup 2B Kemungkinan karsinogenik terhadap manusia Dacarbazine, Daunorubicin,
Mitomycin, Mitoxantrone, Streptozocin
Grup 3 Tidak diklasifikasikan karsinogenik pada manusia Dloroxifene, 5-Fluorouracil, Ifosfamid, 6-mercaptopurine,
Methrotrexat,Toramifene,
Grup 4 Kemungkinan besar tidak karsinogen terhadap manusia -

Golongan Pengalkilasi


Agen pengalkilasi merupakan salah satu golongan obat antikanker yang bekerja dengan membentuk senyawa kationik yang diikuti pemecahan cincin membentuk io karbonium reaktif, ion ini bereaksi melalui reaksi alkilasi, membentuk ikatan kovalen dengan gugus pendonor elektron yang terdapat pada struktur asam amino. Reaksi ini membentuk cross lingking antara dua rangkaian DNA dan mencegah mitosis. Sehingga proses pembentukan sel terganggu dan terjadi hambatan pertumbuhan sel kanker (Siswandono, 2008).

Terdapat beberapa toksisitas yang umum terjadi ketika menggunakan obat golongan ini antara lain, yaitu neurotoksisitas, oral toksisitas, toksisitas pada rambut, toksisitas hematologi, toksisitas gastrointestinal toksisitas pulmo (Remesh, 2003). Insiden busulfan dapat menyebabkan pulmotoksisitas yaitu (4 %) (Sweetman, 2009).

Pada beberapa kasus di Amerika, obat ini terkadang dapat menyebabkan terjadinya Acute Myelogenous Leukemia (AML)dan Myelodysplastic Syndrome (MDS) . Kejadian paling sering yaitu diawali dengan MDS yang kemudian berkembang menjadi AML. Penelitian telah menunjukkan bahwa leukemia terjadi sekitar 2 tahun setelah pengobatan menggunakan obat antikanker golongan agen pengalkilasi, dan risiko semakin meningkat setelah 5 sampai 10 tahun pada pemakaian obat antikanker golongan agen pengalkilasi. Insiden dari AML periode yaitu sekitar 1% - 10% (Sweetman, 2009). Berikut beberapa obat yang dapat menyebabkan leukemia seperti mechloretamin, chlorambucil, cyclophosphamide, melphalan, lomustine, carmustine, dan busulfan (Travis, 2006).

Pada penelitian ini obat golongan pengalkilasi yang digunakan antara lain mekloretamin, melphalan, chlorambucil, cyclophosphamide, ifosfamid,bendamustine, alretamin, thiotepa, busulfan , carmustine, lomustine, streptozocin, fotemustine, nimustine, cloretazine, cystemustine, procarbazine, dacarbazine, temozolomide, cysplatin, carboplatin, oxaliplatin, dan nedaplatin (Missailidis, 2008).

Golongan Antimetabolit


Antimetabolit merupakan obat antikanker yang bekerja menghambat enzim-enzim yang diperlukan untuk memproduksi basa yang menjadi bahan penyusun DNA (Cheung-Ong, 2013). Antimetabolit dan juga asam folat dapat mencegah terjadinya pembelahan pada sel kanker. Obat ini juga memiliki toksisitas yang hampir sama dengan golongan agen pengalkilasi yaitu neurotoksisitas, oral toksisitas, toksisitas pada rambut, toksisitas hematologi, toksisitas gastrointestinal (Remesh, 2003). Methrotrexat merupakan salah satu dari golongan antimetabolit yang memiliki efek pulmotoksisitas (7 %) (Sweetman, 2009).

Pada penelitian ini obat golongan antimetabolit yang digunakan antara lain methotrexat, pemetrexed, pemetrexed dinatrium, 5-fluorouracil, capecitabine, gemcitabine, cytarabine, gemcitabine hcl, azacitidine, tegafur, floxuridine, doxifluridine, decitabine, sapacitabine, 6-mercaptopurin, thioguanin, pentostatine, cladribine, fludarabine, nelarabine, cordycepin, clofarabine, triciribine phospate, pelitrexol, dan dezaguanine (Devoti, 2006).

Golongan Produk Bahan Alam


Terdapat beberapa obat yang berasal dari produk alam yang dapat mengikat DNA dengan proses interkalasi sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada kromosom sel kanker serta menghambat pembelahan sel kanker (Indrawati, 2009).

Pada golongan produk bahan alam terdapat sub golongan penghambat enzime topoisomerase, yang dapat menyebabkan leukimia, utamanya yaitu Acute Myelogenous Leukemia (AML) . Leukimia berkembang lebih cepat pada pengobatan dengan menggunakan obat golongan ini apabila dibandingkan dengan golongan agen pengalkilasi. Kasus leukimia ditemukan setelah pemakaian 2 sampai 3 tahun yang diawali dengan Myelodysplastic Syndrome (MDS) terlebih dahulu. Insiden dari AML periode yaitu sekitar 1% - 10% (Sweetman, 2009). Berikut beberapa obat yang dapat menyebabkan leukimia yaitu Etoposide, Teniposide, Mitoxantron, Doxorubicin, Daunorubicin, Epirubicin, dan Idarubicin (Travis, 2006).

Pada penelitian ini obat golongan produk bahan alam yang digunakan antaralain vincristine, vincristine sulfat, vinblastine, vinblastine sulfat, vinorelbine, paclitaxel, docetaxel, docetaxel trihidrat, dactinomycin,daunorubicin, doxorubicin, doxorubicin hcl, epirubicin, epirubicin hcl, idarubicin, valrubicin, mitoxantron, bleomycin, bleomycin hcl, mitomycin, dexrazoxan, porfiromycin, apaziquone, topotecan, irinotecan, irinotecan hcl trihidrat, etoposide, dan teniposide (Missailidis, 2008).

Golongan Hormon


Penelitian toksisitas akut dan kronik telah menunjukkan bahwa sebagian besar temuan yang diamati terkait dengan efek hormonal dari obat antikanker golongan hormon salah satunya toremifen. Toremifen berguna dalam mengobati kanker payudara, seiring dengan kemajuan di bidang kedokteran, terdapat beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa penggunaan toremifen dalam jangka waktu lama dapat berpotensi menyebabkan kanker endometrium sekunder pada wanita serta pada tikus dapat menyebabkan hepatocarcinoma. Oleh karena itu International Agency for Research on Cancer (IARC) mengklasifikasikan toremifen kedalam kelas 3 penyebab karsinogen (Yang, et al. , 2013).

Pada penelitian ini obat golongan hormon yang digunakan antara lain tamoxifene, raloxifene, arzoxifene, fulvestrant, medroxyporgesterone, megestrol, anastrozole, goserelin, idoxifene, dloroxifene, toramifene, flutamide, leuprorelin , leuprolide acetate, leuprolide mesylate, exemestane, letrozole, dan megestrol acetate (Missailidis, 2008).

Golongan Target Molekular


Obat golongan ini bekerja melawan sel kanker dengan menargetkan pada gen atau protein tertentu. Vemurafenib dan Darafenib adalah obat yang menargetkan protein BRAF. Orang yang menggunakan obat ini memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap karsinoma sel skuamosa pada kulit (Choi, 2016).

Pada penelitian ini obat golongan target molekular yang digunakan antara lain bexarotene, tretinoin, alitretinoin, pazopanib, sorafenib, imatinib, imatinib mesylate, geftinib, erlotinib, sunitinib, sunitinib malate, crizotinib, nilotinib, dan nilotinib hcl monohidrat, dasatinib, almetuzumab, cetuximab, trastuzumab, rituximab, bevacizumab, gemtuzumab orgamicin, ibritumumab tiuxetan (Devoti, 2006).

Golongan Lain-lain


Obat golongan ini digunakan dalam pengobatan kanker, mekanisme kerja obat ini masih belum bisa dijelaskan secara rinci. Akan tetapi obat golongan ini sudah lama digunakan dan terbukti dapat mengobati kanker selama beberapa dekade ini. Porfimer sodium merupakan salah satu bagian dari golongan lain-lain ini. Porfimer sodium biasanya digunakan untuk terapi Billiary Tract Carcinoma (BTC) . Beberapa penelitian menyebutkan bahwa obat ini aman untuk digunakan, namun untuk efek karsinogen masih belum ada data penelitian terkait karsinogenisitas pada pofimer sodium (Pereira, et al. , 2012).

1 Like