Apa yang anda ketahui tentang Abu Yazid Al-Bushtami ?

tokoh_islam

(Bima Satria) #1

Abu Yazid Al-Bustami

Abu Yazid Al-Bustami adalah sufi abad III Hijriyah berkebangsaan Persia, lahir tahun 804 M/188H. Nama kecilnya adalah Tayfur, sedang lengkapnya Abu Yazid Tayfur ibn Isa ibn Surusyan al-Busthami. Dalam literatur-literatur tasawuf, namanya sering ditulis dengan Bayazid Bastami. Setelah dikaruniai seorang putra bernama Yazid, ia kemudian lebih dikenal dengan nama Abu Yazid (arti:Ayah Yazid). Al-Busthami sendiri adalah nisbah (ditujukan) pada daerah kelahirannya Bistami, Qumis, di daerah tenggara Laut Kaspia, Iran.

Apa yang anda ketahui tentang Abu Yazid Al-Bushtami ?


(Yalanda Cahya Hardiyani) #2

Asal Usulnya

Abu Yazid al-Bisthami berasal dari Biztham, sebuah kota didaerah yang terletak didekat sudut tenggara dari laut Kaspia. la dilahirkan kurang lebih pada tahun 801 dengan nama lengkepnya Abu Yazid (Taifur) anak Isa anak al-Bisthami.

Dalam bahasa Parsi dikenal dengan Bayazid dari Bistham. Ibunya termasuk seorand zahid dan kakeknya adalah seoranq zoroaster, yang kemudian masuk agama Islam. Orang tuanya termasuk orang berada di Bistham, tetapi Abu Yazid memilih kehidupan sederhan dan menaruh cinta kasih kepada fakir miskin dan la termasuk orand yang patuh kepada ibunya.

Hidupnya sebelum jadi sufi

Sebelum jadi sufi Abu Yazid belejar syariat Hanafi. Muridnya ialah Abu Ali al—Sindi, yang akhirnya juga menjadi gurunya, karena ia belajar tashawuf dari beliau. la termasuk orang yang tidak banyak keluar dari Bistham sehingga ketika kepadanya dikatakan, “bahwa orang yang mencarl hakekat selalu berpindah dari satu tempat ketempat yang lain”, ia menjawab:

Temanku (Maksudnya Allah swt) tidak pernah bepergian dan oleh karenanya akupun tidak pernah bergerak dari sini.

Hidup sesudah jadi sufi.

Sebagian besar hidup Abu Yazid dipergunakan untuk beribadah dan memuja Allah swt. Malah lebih dari pada itu; sebagaimana dikisahkan bahwa sejak waktu mudanya, Abu Yavid sudah mulai hidup menyendiri. Dua puluh tahun ia bersemadi, sehingga ia telah mengira. bahwa ia telah sampai kepada apa yang dimaksud. la kembali kemasyarakat dan bertemu dengan seorang yang telah sangat tua, berwajah berseri-seri. Kemudian orang tua tersebut berkata kepadariya :

“Nak sebenarnya engkau baru bertunas, belum sampai kepada buah”.

Maka setetah mendengar kata-kata itu. Abu Yazid kembali bersemadi lagi dua puluh tahun lamanya ia beribadah dengan penuh cinta, pengagungan dan fana dalam zat Hakekat yang Abadi.

Panghormatan sepeninggalnya.

Peda tanun 874 M, Abu Yazid meninggal dunia dalam usia 73 tahun. Makamnya terletak di tengah-tengah kota yang banyak dikunjungi oleh pengikut-penqikutnya.

Dan pada tahun 1313 M, Sultan Monggol Uljaitu Muhammad Ichudabanda memerintahkan untuk mendirikan sebuah kubbah (koepel) diatas makam Abu Yazid.

Ajaran Tashawufnya

Sebagai orang yang mengerti hukum-hukum yang dikaji melalui fikih bermazhab Hanafi, kepatuhannya pada syariat Islam sangatlah kuat. Hal ini dapat dibuktikan dari sejumlah pernyataan yang pernah diucapkannya. Ia pernah berkata demikian,

“Kalau engkau melihat seseorang sanggup melakukan pekerjaan keramat , seperti duduk bersila di udara, maka janganlah engkau terperdaya olehnya. Perhatikanlah apakah ia melaksanakan perintah Tuhan, mejauhi larangan (Tuhan), dan menjaga dirinya dalam batas-batas syariat.”

Selain itu, Abu Yazid juga pernah mengajak keponakannya, Isa bin Adam, untuk memperhatikan seseorang yang dikenal oleh masyarakat sebagai zahid (orang yang menolak dunia, berpikir tentang kematian, yang memandang bahwa apa yang dimilikinya tidaklah punya nilai dibandingkan dengan apa yang dimiliki oleh Allah swt).

Waktu itu orang tersebut sedang berada di dalam masjid dan terlihat batuk lalu meludah ke depan, ke arah kiblat di dalam masjid). Karena menyaksikan kejadian tersebut, yang mana hal ini tidak sesuai dengan adab (akhlak) yang diajarkan oleh Rasulullah saw, Abu Yazid pergi dan berkomentar,

“Orang itu tidak menjaga satu adab dari adab-adab yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Bila ia begitu, ia tidak dapat dipercaya atas apa-apa yang didakwakannya (omongannya tidak dapat dipercaya).”

Ia juga mengungkapkan bahwa pernah terbesit di hatinya untuk memohon kepada Allah agar dia diberikan sifat ketidakpeduliaan terhadap makanan dan wanita sama sekali, tetapi hatinya kemudian berkata,

“Pantaskah aku meminta kepada Allah sesuatu yang tidak pernah diminta oleh Rasulullah saw?”

Bahkan karena begitu taatnya pada ajaran agama, dia menghukum dirinya sendiri jika melanggar. Katanya,

“Aku ajak diriku untuk mengerjakan sesuatu yang termasuk dalam perbuatan taat, namun kemudian diriku tidak mematuhinya. Oleh karena itu, selama setahun diriku tidak kuberi air (minum).”’

Kisah lain juga pernah ia alami. Sebuah riwayat (cerita turun-temurun) memberitahukan bahwa suatu ketika ia bermalam di padang pasir dan menutup kepalanya dengan pakaian lalu tertidur. Tak disangka, dia mengalamai hadats besar (suatu kondisi yang dapat menghalangi seseorang melakukan shalat, seperti haid, keluarnya mani, dan lain-lain), sehingga diwajibkan mandi jinabat /mandi wajib(mengalirkan air dan mengusap seluruh angota tubuh dengan melafalkan niat tertentu). Akan tetapi malam itu terlalu dingin dan ketika terbangun, dirinya merasa enggan untuk mandi dengan air yang juga terlalu dingin. Abu Yazid berniat untuk mandi saat matahari sudah tinggi, namun setelah menyadari betapa ia tidak mempedulikan kewajiban agama, akhirnya dia bangkit dan melumerkan salju pada jubahnya. Setelah itu Abu Yazid mandi dengan menggunakan jubah yang basah dan dingin tersebut lalu dia dipakainya kembali. Tubuhnya kedinginan, lalu ia jatuh pingsan.

Dari kisah diatas, yang perlu ditekankan disini adalah, tasawuf tidaklah “mengabaian” syariat, bahkan sebaliknya, Tasawuf sangat menekankan pada syariat. Hal ini yang banyak disalahartikan oleh sebagian orang, terutama yang belajar tasawuf tanpa melalui guru yang mumpuni.

Hal ini seperti yang disampaikan oleh Abu Yazid sendiri, dimana ketika Abu Yazid ditanya perihal sufi. Jawaban dari Abu Yazid adalah sebagai berikut,

Sufi adalah orang yang tangan kanannya memegang kitabullah (Al-Qur’an), sedangkan tangan kirinya memegang sunnah Rasulullah, salah satu matanya memandang ke surga dan yang lainnya memandang ke neraka, baginya dunia hanyalah sarung dan akhirat adalah mantelnya, kemudian sambil berseru, labbayka ya Allah (aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah)”.

Referensi :

Azyumardi Azra, Ilyas Ismail, dkk (2008). Ensiklopedi Tasawuf. Bandung: Penerbit Angkasa.