Apa sajakah dampak Bonus Demografi bagi Indonesia?

Apa sajakah dampak Bonus Demografi bagi Indonesia ?

Dalam bahasa ekonomi kependudukan, bonus demografi (demographic dividend) dimaknai sebagai keuntungan ekonomis yang disebabkan oleh semakin besarnya jumlah tabungan dari penduduk produktif. Hal ini dapat memacu investasi dan pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut juga lazim dikenal sebagai jendela kesempatan (windows of opportunity) bagi suatu negara untuk melakukan akselerasi ekonomi dengan menggenjot industri manufaktur, infrastruktur, maupun UKM karena berlimpahnya angkatan kerja.

Banyak negara menjadi kaya karena berhasil memanfaatkan jendela peluang bonus demografinya untuk memacu pendapatan per kapita sehingga kesejahteraan masyarakat tercapai. Namun yang menjadi efek negatif berikutnya pasca bonus demografi adalah meledaknya usia tua, sedangkan transisi usia muda menjadi usia produktif belum sempurna (Adioetomo, 2005). Hal itulah yang kemudian menyebabkan pembengkakan jaminan sosial dan pensiunan sehingga terjadi stagnasi dalam perekonomian nasional karena tabungan dari usia produktif dialihkan sebagai dana talangan kedua hal tersebut.

Secara historis, tanda-tanda munculnya fenomena bonus demografi di Indonesia dimulai pada awal 1990-an melalui keberhasilan progam Keluarga Berencana (KB). Program KB ini dilakukan atas dasar logika developmentalisme dengan asumsi bahwa ketika populasi penduduk mengalami kelebihan kapasitas (overload), maka itu akan berimplikasi simetris dengan kemiskinan. Hal ini berbeda dengan konsep keluarga berencana yang dilakukan di negara maju yang lebih berorientasi pada pengendalian angka fertilitas. Kebijakan keluarga berencana di negara berkembang diarahkan pada perhitungan ekonomi yang diarahkan dalam rangka memajukan masyarakat agraris yang masih terbelakang. Oleh karena itulah, dalam rangka memperbaiki kualitas hidup masyarakat sekaligus pula mengurangi kemiskinan sehingga beban ekonomi negara berkurang, pertumbuhan penduduk perlu dikekang. KB dimplementasikan ke tingkat desa melalui program posyandu, imunisasi, dan vasektomi dengan memanfaatkan saluran korporatisme negara, seperti PKK, HKTI, maupun kelompencapir.

Keberhasilan program-program tersebut selama tiga puluh tahun telah mampu menggeser anak-anak dan remaja berusia di bawah 15 tahun yang biasanya besar dan berat di bagian bawah dari piramida penduduk Indonesia ke bagian piramida dengan usia yang lebih tinggi, yaitu usia di atas 15 tahun atau pada usia 15-64 tahun. Pergeseran bagian dasar dari piramida dengan jumlah penduduk yang besar itu dan masih tetap diikuti kesetiaan pasangan usia subur pada program KB menyebabkan angka fertilitas tetap rendah. Angka fertilitas yang rendah menyebabkan jumlah dan persentase anak-anak dan remaja di bawah usia 15 tahun juga tetap rendah. Struktur penduduk seperti ini menyebabkan beban ketergantungan maupun dukungan ekonomi yang harus diberikan oleh penduduk usia produktif pada penduduk usia anak-anak dan tua menjadi lebih ringan. Kenyataan ini juga berbeda dan sekaligus menepis anggapan beberapa orang yang mengkritik seakan program KB di masa lalu dipaksa dan tidak akan tahan lama. Fertilitas yang rendah karena kesetiaan ber-KB dan masih bertahan sekaligus membuktikan bahwa pasangan usia subur itu ber-KB bukan karena dipaksa, tetapi kesadaran sendiri.

Perbincangan mengenai korelasi antara pertambahan penduduk dengan pertumbuhan ekonomi telah menjadi sumber perdebatan panjang di kalangan ahli ekonomi kependudukan. Hal ini karena terdapat berbagai macam varian cara pandang dalam melihat dua permasalahan tersebut. Beberapa di antaranya melihat dari ukuran (size) penduduk, pendapatan (income), ketimpangan (inequality), maupun kondisi perekonomian nasional, hingga pada stuktur penduduk (population structure) berikut angka natalitas, fertilitas, maupun mortalitasnya (Lee, 2003).

Dalam hal ini, terdapat tiga tesis penting untuk melihat korelasi pertambahan penduduk dengan naiknya pertumbuhan ekonomi, yakni menolak (restrict), mendukung (promote), dan netral (independent) (Bloom, 2003). Ketiga indikasi tersebut setidaknya merupakan konklusi dari penelitian di berbagai negara lainnya yang kemudian akan dicoba dalam kasus Indonesia.

  • Teori menolak (restrict) atau pesimis
    Beranggapan bahwa pertambahan penduduk justru akan semakin mengurangi pertumbuhan ekonomi. Hal ini didasarkan pada fakta generasi baby boom yang terjadi pasca Perang Dunia II ketika suasana perdamaian dan kondisi negara maju maupun negara dunia ketiga yang tengah membangun kembali ekonomi membutuhkan banyak tenaga kerja. Masifnya jumlah tenaga kerja justru membuat ekonomi menjadi overheated dan mengalami inflasi tinggi karena manusia semakin banyak, tetapi tidak diiringi dengan pertambahan luas lahan. Akibatnya adalah kawasan industrialisasi maupun ekonomi lainnya berkembang menjadi kawasan penduduk kumuh. Industri tidak dapat menampung banyak lagi jumlah penduduk menjadi tenaga kerja karena telah surplus berlebihan tenaga kerja. Akibatnya yang terjadi kemudian adalah tersendatnya inovasi dalam perekonomian karena investasi dialihkan pada upah karyawan dan negara dalam hal jaminan sosial dan pensiun yang besar karena pembengkakan jumlah penduduk tersebut. Penambahan penduduk justru menjadi beban karena pengangguran yang besar tidak dapat dioptimalkan akibat minimnya faktor produksi yang dimiliki. Secara garis besar, teori menolak ini diilhami dari pemikiran Thomas Robert Malthus (1789) maupun Garret Hardin (2001) dengan lokus penolakan sebenarnya antara relasi pertambahan penduduk dengan pertumbuhan ekonomi adalah pada masalah keterbatasan (limitation). Dalam aliran Malthusian, keterbatasan terjadi karena untuk hidup, manusia memerlukan bahan makanan, sedangkan laju pertumbuhan makanan jauh lebih lambat (deret hitung) dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk (deret ukur). Oleh karena itu, untuk dapat keluar dari permasalah kekurangan pangan tersebut, pertumbuhan penduduk harus dibatasi.

  • Mendukung (promote)
    Perspektif optimistis justru melihat ada korelasi positif antara keduanya. Keduanya dapat disatukan untuk menggerakkan pengembangan ekonomi. Jumlah penduduk yang kian bertambah justru menjadi pangsa besar dalam perekonomian, baik dalam produksi maupun konsumsi. Dari segi produksi, terjadi pertambahan tenaga kerja yang melimpah untuk mendukung proses industrialisasi. Adanya pertambahan tersebut juga berdampak pada kuantitas buruh yang murah (blue-collar labor) sehingga mampu menghemat biaya produksi. Selain itu pula, buruh terdidik (whitecollar labor) juga semakin meningkat karena naiknya kesadaran masyarakat modern terhadap jenjang pendidikan tinggi maupun vokasi (Bloom, 2003).

    Dasar pemikiran dari perspektif optimistis hadir dari pemikiran Amartya Sen mengenai pembangunan manusia. Pembangunan ekonomi yang selama ini diorientasikan untuk mencari laba semata tanpa ada timbal balik dengan manusia dan alam justru menciptakan bencana ekonomi manusia. Bencana tersebut, seperti angka ketimpangan besar yang dapat ditunjukkan dengan semakin meroketnya koefisien gini di negara dunia ketiga, kemiskinan akut, maupun kelaparan. Hal itulah yang kemudian memicu terjadinya orientasi dalam pembangunan dari semula ekonomi menjadi manusia. Pembangunan manusia, seperti peningkatan asupan gizi, perbaikan fasilitas kesehatan, terjangkaunya fasilitas pendidikan, maupun redistribusi ekonomi yang seimbang, merupakan kunci dalam mengoptimalkan potensi penduduk menjadi potensi ekonomi. Meningkatnya kuantitas penduduk dan kualitas penduduk kemudian menjadi kunci untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi berbasis investasi sumber daya manusia (human capital investment).

  • Independen/netral
    Melihat antara variabel pertambahan penduduk dengan variabel pertumbuhan ekonomi pada dasarnya tidak berkorelasi dan berjalan secara independen tanpa ada ikatan. Adanya pertumbuhan ekonomi yang berfluktuasi sebenarnya bukan hanya tergantung pada tingkat konsumsi penduduk sebagai konsumen maupun produksi tenaga kerja. Pertumbuhan ekonomi justru dilihat sebagai adanya spesialisasi antara faktor produksi antarpenduduk yang kemudian terjadi tukar-menukar barang jasa sesuai dengan nilai ekonomisnya. Sementara itu, pertambahan penduduk sendiri dipandang sebagai proses alami seiring dengan meningkatnya pendapatan, iklim perekonomian yang kompetitif, maupun kebutuhan sandang, papan, dan pangan yang kian meningkat. Adanya pertambahan penduduk justru mengakibatkan perekonomian tidak berkembang secara maksimal karena minimnya kualitas tenaga kerja maupun minimnya angka konsumsi masyarakat.

Dampak bonus demografi untuk Indonesia antara lain :

  • Pasokan tenaga kerja
    Pengaruh transisi demografi pada pasokan tenaga kerja terjadi dengan dua cara :

    • Adanya pengaruh pertambahan usia dari generasi baby-boom yaitu ketika generasi tersebut berumur 15-64 tahun dan masuk ke pasar kerja maka rasio ketergantungan menjadi lebih rendah. Ketika generasi tersebut mencapai puncak usia kerja, yaitu 20-54 tahun pengaruh ini secara khusus menjadi sangat kuat.

    • Adanya peningkatan penduduk perempuan masuk pasar kerja karena makin kecilnya ukuran keluarga. Kondisi ini diperkuat oleh kenyataan bahwa mereka dilahirkan dari generasi yang sudah menganut keluarga kecil, sehingga mereka lebih berpendidikan dan pada gilirannya meningkatkan produktivitas saat masuk pasar kerja.

  • Tabungan
    Bonus demografi memicu pertumbuhan tabungan ( savings ) dan pada gilirannya akan meningkatkan investasi dan pertumbuhan ekonomi. Penduduk muda dan penduduk tua mengkonsumsi lebih banyak dari yang bisa produksi. Sedangkan penduduk usia kerja cenderung mempunyai tingkat output ekonomi yang lebih tinggi dan cenderung mempunyai tingkat tabungan yang lebih tinggi pula. Kemampuan menabung yang lebih besar pada penduduk usia kerja terutama pada usia 40-an dimana support untuk anak sudah minimal. Pada akhirnya, kekuatan menabung secara kolektif dapat menjadi sumber daya untuk investasi yang dapat menggairahkan pertumbuhan ekonomi.

  • Penawaran Tenaga Kerja
    Perubahan demografi dan transformasi perekonomian yang sedang berlangsung mempunyai dampak yang besar pada kondisi dan prospek ketenagakerjaan. Kedua hal tersebut mempengaruhi pasar kerja secara bersamaan, baik melalui sisi permintaan maupun penawaran pekerja. Perubahan kondisi demografi yang demikian cepat mempengaruhi pasar kerja melalui kebutuhan perubahan kebutuhan masyarakat, yang merupakan elemen penting dalam penentuan permintaan terhadap barang dan jasa dalam perekonomian. Permintaan terhadap barang dan jasa ini selanjutnya akan menentukan permintaan terhadap pekerja dan akan mempengaruhi sisi penawaran pekerja.

    Jumlah dan pertumbuhan penduduk sangat mempengaruhi jumlah dan pertumbuhan angkatan kerja serta employment . Perubahan komposisi penduduk menurut usia dan jenis kelamin menentukan siapa yang berkompetensi masuk dalam pasar kerja. Komposisi mutu penduduk juga mempengaruhi pekerjaan apa yang dapat dan dimaui oleh pasar kerja terhadap permintaan barang dan jasa, dan kemudian berdampak pada permintaan terhadap pekerja. Oleh sebab itu perlu adanya mekanisme pasar dan campur tangan pemerintah akan menentukan bagaimana kebutuhan yang tidak muncul di pasar tersebut dapat diubah menjadi permintaan. Perubahan dalam perekonomian juga akan mempengaruhi penawaran terhadap pekerja.

  • Meningkatnya angka pengangguran
    Adanya bonus demografi juga dapat menyebabkan angka pengangguran. Hal ini dikarenakan adanya peningkatan jumlah penduduk yang didukung oleh tingginya kemajuan teknologi. Sehingga dapat meningkatkan angka persaingan antar pekerja.

  • Meningkatkan angka kemiskinan
    Tidak dapat menutup kemungkinan, peningkatan angka kemiskinan ini dapat terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Peristiwa ini disebabkan oleh banyaknya masyarakat yang tidak bisa mengikuti angka persaingan. Sedangkan pemerintah tidak mampu membekali masyarakat dengan kemampuan yang sama.

  • Meningkatnya jumlah Tenaga Kerja Indonesia
    Peningkatan jumlah tenaga kerja akan diikuti dengan peningkatan TKI, peristiwa ini sudah sangat lazim di masyarakat. Kebutuhan akan lapangan pekerjaan yang tidak dapat terpenuhi di negara sendiri menimbulkan banyak masyarakat memilih untuk bekerja di luar negeri.