Apa saja unsur-unsur bentuk yang terdapat di dalam puisi ?

puisi

( Aurora Ridha Zetana) #1

Puisi

Puisi adalah ekspresi pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi pancaindera dalam susunan yang berirama. Puisi merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang palaing berkesan.

Apa saja unsur-unsur bentuk yang terdapat di dalam puisi ?


(Calandre Kei Ashana) #2

Secara umum bahan dasar puisi adalah bahasa. Bahasa yang dimaksud, secara semiotis, meliputi dua jenis, yakni penanda dan petanda. Unsur bentuk puisi merupakan penanda, yakni unsur yang dapat diamati dengan indra, seperti pendengaran dan atau penglihatan. Unsur itu meliputi bunyi, kata, larik, bait, dan tipografi. Petandanya adalah makna dari penanda tersebut. Ada makna yang dapat dicari di dalam kamus. Akan tetapi banyak juga makna yang perlu penafsiran. Unsur penanda puisi adalah unsur yang maknanya perlu penafsiran.

Unsur Bunyi

Bunyi merupakan pananda yang dapat diamati melalui pendengaran dan atau penglihatan. Dalam puisi, bunyi memiliki peran antara lain adalah agar puisi itu merdu jika dibaca dan didengarkan, sebab pada hakikatnya puisi adalah merupakan salah satu karya seni yang diciptakan untuk didengarkan (Sayuti, 2002).

Mengingat pentingnya unsur bunyi dalam puisi, bahkan seorang penyair melakukan pemilihan dan penempatan kata sering kali didasarkan pada nilai bunyi. Beberapa pertimbangan tersebut antara lain adalah :

  1. Bagaimanakah kekuatan bunyi suatu kata yang dipilih itu diperkirakan mampu memberikan atau membangkitkan tanggapan pada pikiran dan perasaan pembaca atau pendengarnya;
  2. Bagaimanakah bunyi itu sanggup membantu memperjelas ekspresi;
  3. Ikut membangun suasana puisi,
  4. Mungkin juga mampu membangkitkan asosiasi-asosiasi tertentu (Sayuti, 2002).

Unsur bunyi dalam puisi, pada umumnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut. Dilihat dari segi bunyi itu sendiri dikenal adanya sajak sempurna, sajak paruh, aliterasi, dan asonansi.

Dari posisi kata yang mendukungnya dikenal adanya sajak awal, sajak tengah (sajak dalam), dan sajak akhir.

Berdasarkan hubungan antarbaris dalam tiap bait dikenal adanya sajak merata (terus), sajak berselang, sajak berangkai, dan sajak berpeluk. Kadang-kadang berbagai macam ulangan bunyi (persajakan) tersebut dapat ditemukan dalam sebuah puisi.

Sajak sempurna adalah ulangan bunyi yang timbul sebagai akibat ulangan kata tertentu, seperti tampak pada contoh berikut.

“Katanya Kau”

Katanya kau keturunan pisau
Katanya kau keturunan pisau yang terengah
Katanya kau keturunan pisau yang terengah dan mengucurkan darah
Katanya kau keturunan pisau yang terengah dan mengucurkan darah sehabis menikam ombak laut
Dan terkubur Di rahimnya

(Sapardi Djoko damono, Mata Pisau, 1982).

Sajak paruh merupakan ulangan bunyi yang terdapat pada sebagian baris dan kata-kata tertentu, seperti tampak pada contoh berikut.

Berita Libaanon

Sisi timur hancur
Sisi selatan curam
Sisi barat gelap
Sisi utara berbisa Kau dan aku tiarap dan
Berdebar-debar memeluk bantal Sisi atas bocor
Sisi bawah susah Sisi kiri dikebiri
Sisi kanan ditikam

Kau dan aku tengkurap di langit
……

(F. Rahardi, Sumpah WTS, 1985)

Pada kutipan tersebut ulangan bunyi yang ditimbulkan oleh ulangan kata, hanya terdapat pada awal-awal baris, sehingga disebut sebagai sajak paruh.

Asonansi adalah ulangan bunyi vokal yang terdapat pada baris-baris puisi, yang menimbulkan irama tertentu, sementara aliterasi adalam ulangan konsonan.

Asonansi, misalnya terdapat dalam kutipan berikut.

Asmaradana

Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun karena angin pada angin pada kemuning.
Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti yang jauh…
(Goenawan Mohamad, Pariksit,1971)

Pada kutipan tersebut terdapat asonansi berupa ulangan bunyi i- a, e-a, u-a, a-i, berulang-ulang sepanjang baris-baris puisi tersebut yang menimbulkan irama sehingga puisi enak dibaca.

Dalam kutipan tersebut juga terdapat aliterasi, terutama pada ulangan konsonan d, k, p, l, n, ng, r, s yang ketika dikombinasikan dengan bunyi asonansi cenderung menimbulkan irama dan suasana muram.

Sajak awal adalah ulangan bunyi yang terdapat pada tiap awal baris, sementara sajak tengah terdapat pada tengah baris, dan sajak akhir terdapat pada akhir baris.

Contoh sajak awal tersebut tampak pada kutipan berikut.

Colonnes Sans Fin

Tiang tanpa akhir tanpa apa di atasnya
Tiang tanpa topang apa di atasku
Tiang tanpa akhir tanda duka lukaku
Tiang tanpa siang tanpa malam tanpa waktu

(Sutardji Calzoum Bachri, O Amuk Kapak, 1981)

Sajak tengah tampak pada contoh berikut.

Puake

puan jadi celah
celah jadi sungai
sungai jadi muare
muare jadi perahu

perahu jadi buaye
buaye jadi puake
puake jadi pukau
pukau jadi mau
……
(Sutardji Calzoum Bachri, O Amuk Kapak, 1981)

Contoh sajak akhir adalah sebagai berikut.

Denyut

akan kau kau kan kah hidupmu?
kau nanti kau akan kau mau kau mau

siapa yang tikam burung yang waktu
waktukutukku waktukutukku waktukutukku waktukutukku
….
(Sutardji Calzoum Bachri, O Amuk Kapak, 1981)

Pada kutipan tersebut sajak akhir tampak pada persamaan bunyi u di semua kahir baris.

Berdasarkan hubungan antarbaris terdapat sajak merata, yang ditandai pada ulangan bunyi a-a-a-a di semua akhir baris; sajak berselang, yang ditandai dengan ulangan bunyi a-b-a-b di semua akhir baris; sajak berangkai: a-a-b-b; dan berpeluk: a- b-b-a.

Contoh sajak merata tampak pada kutipan puisi berikut.

Mari kita bersama-sama
Naik sepeda bersuka ria
Jangan lupa ajak kawan serta
Agar hati yang sedih jadi terlupa

Contoh sajak berselang adalah pada kutipan pantun berikut ini.

Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke ketepian
Bersakit- sakit dahulu
Bersenang- senang kemudian

Contoh sajak berangkai (a-a-b-b) tampak pada contoh berikut.

perahu jadi buaye
buaye jadi puake
puake jadi pukau
pukau jadi mau

Contoh sajak berpeluk (a-b-b-a) tampak pada contoh berikut.

Gelombang menari ditingkah angin
Camar-camar berebut ikan
Biru laut biri ikan-ikan
Aku pun ingin menjelma angin

Yang perlu diingat ulangan bunyi dalam puisi, bukan semata-mata sebagai hiasan untuk menimbulkan nilai keindahan, tetapi juga memiliki funsgi untuk mendukung makna dan menimbulkan suasana tertentu.

Oleh karena itu, sesuai dengan suasana yang ditimbulkan oleh ulangan bunyi dikenal bunyi efony (bunyi yang menimbulkan suasana menyenangkan) dan cacophony (bunyi yang menimbulkan suasana muram dan tidak menyenangkan).

Efony misalnya tampak pada pusi berikut.

Tuhanku
Berdekatankah kita
Sedang rasa teramat jauh
Tapi berjauhankah kita
Sedang rasa begini dekat
Seperti langit dan warna biru
Seperti sepi menyeru
….
(Emha Ainun Nadjib, “5”, 99untuk Tuhan,1983)

Efony tampak pada ulangan bunyi u, a, i, e yang dipadu dengan b, d, k, t yang domonan dalma puisi tersebut yang menimbulkan suasana mistis dalam dialog antara manusia dengan Tuhan yang menyenangkan.

Contoh cacophony, misalnya tampak pada kutipan berikut.

Katanya Kau

Katanya kau keturunan pisau
Katanya kau keturunan pisau yang terengah
Katanya kau keturunan pisau yang terengah dan mengucurkan darah

(Sapardi Djoko Damono, Mata Pisau, 1982

Puisi tersebut didominasi oleh ulangan bunyi k,p,t,s, u, au yang menimbulkan suasana muram dan tidak menyenangkan.

Untuk pemahaman berikutnya, coba cermati puisi karya Ramadhan KH berikut ini.

Tanah Kelahiran

Seruling di pasir ipis, merdu
antara gundukan pohonan pina
tembang menggema di dua kaki,
Burangrang – Tangkubanprahu.

Jamrut di pucuk-pucuk, Jamrut di air tipis menurun.

Membelit tangga di tanah merah
dikenal gadis-gadis dari bukit
Nyanyikan kentang sudah digali,
kenakan kebaya merah ke pewayangan.

Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut di hati gadis menurun.

Puisi Ramadhan KH di atas banyak memanfaatkan perulangan bunyi, baik di dalam maupun di akhir larik. Coba cari dan rumuskan pola perulangan bunyi tersebut berdasarkan penjelasan berikut ini.

Rima, yakni bunyi yang berselang/berulang, baik di dalam maupun pada akhir larik. Di dalam perulangan di dalam maupun di akhir larik, dapat diklasifikasi lagi ke dalam berbagai aspek, seperti asonansi, aliterasi, rima dalam, rima akhir, rima rupa, rima identik, dan rima sempurna. Perulangan bunyi vokal disebut dengan asonansi, sedangkan perulangan bunyi konsonan disebut aliterasi. Perulangan bunyi, baik asonansi maupun aliterasi, di antara kata-kata dalam satu larik disebut rima dalam.

Di samping rima dalam terdapat pula rima akhir. Rima ini dapat dicermati melalui bunyi akhir setiap larik. Rima ini akan melahirkan pola persajakan. Di dalam pantun, pola persajakan sudah menjadi konvensi, seperti a-a-a-a atau a-b-a-b. Di dalam puisi modern, pola persajakan sangat beragam. Bahkan, mungkin tidak begitu jelas. Oleh karena itu, kecermatan kita di dalam menentukan pola persajakan menjadi sangat penting.

Rima rupa merupakan pengulangan bunyi, baik vokal maupun konsonan, yang bentuk grafisnya sama akan tetapi pelafalannya berbeda. Ketika dihadapkan kepada pengulangan kata yang sama, artinya kita berhadapan dengan rima identik. Rima sempurna merupakan bentuk pengulangan antara vokal dengan konsonan.

Perulangan bunyi dalam puisi Ramadhan KH akan berimplikasi kepada unsur musikalitas. Coba Anda identifikasi pula unsur musikalitas puisi tersebut berdasarkan penjelasan berikut ini.

Irama, yakni paduan yang menimbulkan unsur musikalitas, baik berupa alunan keras-lunak, tinggi rendah, panjang-pendek, dan kuat-lemah yang keseluruhannya mampu menumbuhkan kemerduan, kesan suasana serta nuansa makna tertentu. Timbulnya irama itu, selain akibat penataan rima juga akibat pemberian aksentuasi dan intonasi maupun tempo sewaktu melaksanakan pembacaan secara oral (Aminuddin, 1987).

Di samping rima dan irama, bunyi juga memiliki ragam lain, yakni bunyi euphony, bunyi cacophony, dan anomatope.

  • Bunyi euphony adalah ragam bunyi yang mencerminkan suasana riang, penuh semangat, dan lincah. Menurut Aminuddin (1987), bunyi ini dapat dicermati melalui bunyi vokal pada kata-kata kunci puisi, terutama vokal di akhir kata.

  • Bunyi cacophony, dapat dicermati melalui bunyi konsonan di akhir kata. Bunyi demikian mencerminkan suasana yang sepi dan sedih.

  • Bunyi anomatope merupakan ragam bunyi berupa peniruan atas bunyi-bunyi yang ada di alam semesta, seperti bunyi angin, laut, pohon, binatang, dan sebagainya, dalam bentuk penanda.

Unsur Kata

Kata-kata yang digunakan dalam sebuah puisi, pada umumnya berkaitan dengan persoalan diksi (pilihan kata) (Abrams, 1981). Setiap penyair akan memilih kata-kata yang tetpat, sesuai dengan maksud yang ingin diungkapkan dan efek puitis yang ingin dicapai. Diksi sering kali juga menjadi ciri khas seorang penyair atau zaman tertentu.

Secara semiotis, kata dapat diklasifikasi ke dalam ikon, indeks, dan simbol.

  • Ikon merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan yang bersifat alamiah antara penanda & petanda. Bentuknya berupa persamaan: potret manusia menandai manusia yang dipotret.

  • Indeks merupakan tanda yang menunjukkan hubungan kausal antara penanda dengan petanda: asap menandai api.

  • Simbol, tanda yang menunjukkan hubungan manasuka (konvensi) antara penanda dengan petanda. Salju jatuh, salju di pohon, salju terbang dalam konvensi bahasa Indonesia tetap salju. Bagi masyarakat yang mengenal musim salju, pembedaan itu amat berarti. Kata ’jamrut’ pada Jamrut di pucuk- pucuk pohon tidak lagi diartikan sebagai benda hiasan yang mahal harganya, melainkan ’embun’.

Puisi merupakan sistem tanda yang memiliki satuan tanda (minimal) seperti kosakata atau bahasa kiasan yang meliputi personifikasi, simile, metafora, dan metonimia. Tanda-tanda ini bermakna dalam konvensi sastra. Di antara konvensi itu adalah konvensi kebahasaan, yakni: bahasa kiasan, sarana retorika, & gaya bahasa; konvensi ambiguitas, kontradiksi, dan nonsense; serta konvensi visual (bait, baris sajak, enjambemen, sajak (rima), dan tipografi). Konvensi kepuitisan visual sajak dalam linguistik tidak signifikan, dalam sastra signifikan. Cermati puisi karya Taufiq Ismail berikut ini.

Karangan Bunga

Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu

’Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi’

Coba Anda klasifikasi sistem tanda pada puisi Taufiq Ismail. Klasifikasi pertama meliputi ikon, indeks, dan simbol. Klasifikasi kedua meliputi konvensi kebahasaan; konvensi ambiguitas, kontradiksi, serta nonsense; dan konvensi visual

Kata di dalam puisi merupakan wujud ketaklangsungan ekspresi. Wujud itu meliputi penggantian arti, penyimpangan arti, dan penciptaan arti. Penggantian ini disebabkan penggunaan metafora dan metonimia dalam karya sastra. Metafora merupakan bahasa kiasan yang membandingkan sesuatu tanpa kata pembanding: bagai, seperti, ibarat, dsb. Contoh: Bumi ini perempuan jalang, Sorga hanya permainan sebentar, Aku boneka engkau boneka (eksplisit); Di hitam matamu kembang mawar dan melati, Serasa apa hidup yang terbaring mati/Memandang musim yang mengandung luka (implisit).

Penyimpangan meliputi ambiguitas, kontradiksi, dan nonsense. Ambiguitas tampak dalam arti kata, frase, atau kalimat: Tuhanku/Aku hilang bentuk/remuk//Tuhanku/Aku mengembara di negeri asing//Tuhaku/Di pintumu aku mengetuk/Aku tak bisa berpaling; kontradiksi disebabkan oleh paradoks atau ironi: Serasa apa hidup yang terbaring mati; nonsense kata yang secara linguistik tidak berarti, hanya berupa rangkaian bunyi dan tidak ada dalam kamus: puisi Sutardji. Penciptaan: berupa bentuk visual yang secara linguistik tidak berarti, tetapi menimbulkan makna (organisasi teks di luar linguistik): pembaitan, persajakan, enjambemen, tipografi.

Coba Anda klasifikasi puisi Chairil Anwar berikut ini berdasarkan wujud ketaklangsungan ekspresi. Wujud itu meliputi penggantian arti, penyimpangan arti, dan penciptaan arti.

Cintaku Jauh di Pulau

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut tenang, tetapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja”.

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ’kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?

Manisku jauh di pulau.
Kalau ’ku mati, dia mati iseng sendiri.

Ikon yang oleh Aminuddin (1987) disebut lambang dalam puisi mungkin dapat berupa kata tugas, kata dasar, maupun kata bentukan, sedangkan simbol dapat dibedakan antara lain :

  1. Blank symbol, yakni bila simbol itu, meskipun acuan maknanya bersifat konotatif, pembaca tidak perlu menafsirkannya karena acuan maknanya sudah bersifat umum, misalnya ”tangan panjang”, lembah duka”, mata keranjang”,

  2. Natural symbol, yakni bila simbol itu menggunakan realitas alam, misalnya ”cemarapun gugur daun”, ganggang menari”, ”hutan kelabu dalam hujan”, dan

  3. Private symbol, yakni bila simbol itu secar khusus diciptakan dan digunakan penyairnya, misalnya ”aku ini binatang jalang”, ”mengabut nyanyian”, ”lembar bumi yang fana”. Batas antara private symbol dengan natural symbol dalam hal ini sering kali kabur.

Dari uraian tersebut tampak bahwa posisi kata dalam puisi begitu penting, paling tidak puisi pada umumnya. Seorang pakar sastra kenamaan, yakni A. Teeuw, menulis buku berjudul Tergantung pada Kata. Ini menandakan bahwa kata menjadi penentu mutu dari suatu puisi. Hampir semua penyair akan bergulat dengan kata. Tak terkecuali dengan Sutardji Calzoum Bachri yang dengan puisi manteranya, atau Radhar Panca Dahana yan menyatakan ”kata telah mati”. Mereka tetap bergulat dengan kata. Dengan katalah, Ramadhan KH menciptakan puisi-puisi yang mencitrakan alam yang damai, yang kemudian dituangkan ke dalam Priangan si Jelita.

Karena posisinya yang begitu penting, dari kata-lah para penelaah memulai petualangan penikmatannya. Mengapa begitu penting?

Kata di dalam puisi telah direkayasa oleh penyair. Ia akan menggunakan kata- kata di luar kata-kata dalam keseharian. Kata-kata yang sudah lugas dan jelas dalam bahasa sehari-hari dipertukartempatkan oleh kata-kata lain yang juga sudah biasa digunakan di dalam bahasa sehari-hari. Kata ’jamrut’ dipertukartemaptkan dengan kata ’embun’ oleh Ramadhan.

Selain penukartempatan, penyair juga merekayasanya melalui pengubahan bentuk, seperti pada kata ’winka’ yang berasal dari bentuk kawin oleh Sutardji. Begitupun dengan Chairil Anwar mengubah struktur ’kali ini’ dengan ’ini kali’. Dalam puisi berjudul ”Malam di Teluk” Abdul Hadi WM menggunakan kata rusuk pada baris ’Dan bulan yang tinggal rusuk’, kata yang tidak lazim dalam konvensi bahasa sehari-hari.

Pergulatan para penyair itu bukan sekadar mencari-cari supaya produksi kata- katanya dianggap sebagai puisi. Ia justru ingin menyampaikan resepsinya dalam wujud yang indah, dalam wujud yang representatif sehingga puisi bukan sekadar menyampaikan suatu kasus, melainkan generalisasi dari kasus-kasus itu. Kasus-kasus itu direpresentasikan melalui analogi sehingga dipilihlah kata-kata yang berdimensi generalistik. Bagaimana agar rasa sakit yang mendalam yang tak terkirakan terkonkretkan sehingga dapat betul-betul dirasakan oleh pembacanya, penyair tidak menggunakan kata-kata sakit sekali. Ia membuat metafor dengan kata-kata ’seperti disayat sembilu’. Penggunaan kata demikian, di samping merupakan generalisasi dari berbagai ragam rasa sakit, juga wujud rasa itu menjadi konkret. Kita diberi gambaran bagaimana sembilu menyayat bagian dari tubuh kita.

Penggunaan kata-kata metafor sesungguhnya sebagai wujud dari kata yang bermakna kias. Kata-kata kias dipergunakan penyair untuk mengiaskan sesuatu ke dalam kata lain yang tentunya memiliki kemiripan karakter. Kata ’jamrut’ yang berkarakter bening kehijau-hijauan merupakan pengiasan dari kata ’embun’ yang juga berkarakter percikan air di daun-daun yang umumnya berwarna hijau.

Menurut Effendi (2004) penggunaan kata yang bermakna kias ini dapat memperkonkret, memperlengkap, mempercermat, dan memperkhas imaji sesuatu yang diungkapkan dalam sajak.

Berikut ini contoh telaah kata di dalam puisi yang dikutip dari Aminuddin (1987). Bacalah bait pertama puisi ”salju” di bawah ini secara cermat!

Ke manakah pergi
mencari matahari
ketika salju turun
pepohonan kehilangan daun

Seandainya kita penggal secara terpisah, maka dari bait puisi di atas akan kita jumpai adanya bentuk (1) ke, (2) mana, (3) –kah, (4) men, (5) cari, (6) matahari, (7)
ketika, (8) salju, (9) turun, (10) pohon, (11) ke-an, (12) hilang, dan (13) daun.

Bentuk ke sebagai kata depan, dan bentuk men-serta ke-an sebagai imbuhan keberadaannya tidak dapat dilepaskan dari kata-kata yang mengikutinya, sedangkan kata ketika dapat ditentukan sebagai kata tugas, yang keberadaannya tidak dapat dilepaskan dengan kata yang mendahuluinya dan mengikutinya. Bentuk demikian itu umumnya hanya mengandung makna yang denotatif atau makna yang bersifat gramatikal.

Setelah kembali membaca bait puisi di atas secara berulang-ulang, ternyata pada larik pertama puisi di atas tidak kita jumpai adanya keanehan karena kita sering menggunakan kalimat ”Ke manakah pergi?” Dengan kata lain, bentuk ”ke manakah” dan ”pergi” dapat diidentifikasi sebagai ikon dan indeks. Akan tetapi, pada larik kedua kita jumpai adanya keanehan karena tidak pernah ada orang pergi mencari matahari. Kata-kata demikian itulah pada dasarnya yang perlu digarisbawahi pembaca.

Sewaktu Anda bersedih hati, mungkin teman Anda akan memberikan nasihat, ”Jangan bersedih ah, esok toh matahari masih terbit”. Anda pun maklum bahwa esok matahari masih terbit (sekalipun ada gerhana matahari total!)., dan Anda pun maklum bahwa penggunaan frase ”matahari masih terbit” di atas berhubungan dengan ungkapan ”hidup kita masih panjang dan di depan terentang sejuta harapan”. Bila demikian halnya, bentuk matahari dapat kita tetapkan sebagai simbol, dalam hal ini adalah termasuk ragam natural symbol.

Pada larik ketiga, kembali dijumpai adanya keanehan karena larik ”ketika salju turun” berhubungan dengan keinginan seseorang untuk pergi serta berhubungan dengan matahari, dan kitapun maklum, saat salju turun, orang lebih senang tinggal di rumah daripada pergi. Dengan demikian, untuk salju dan turun dapat ditetapkan sebagai simbol yang acuannya bersifat konotatif. Bentuk tersebut lebih dapat dikelompokan dalam satu kesatuan salju turun yang termasuk dalam natural symbol.

Bila kita mendengar orang berkata, ”Pohon itu daunnya berguguran”, mungkin tidak akan terasa aneh. Akan tetapi, bila ada pohon kehilangan daun, kita tentu akan berpikir sejenak. Apakah pohon itu merasa dan sadar bahwa dirinya telah kehilangan daun? Dari adanya berbagai macam pertanyaan yang pada dasarnya juga menyiratkan adanya berbagai makna yang terkandung dalam larik tersebut, akhirnya dapat juga kita tetapkan bahwa bentuk pohon dan daun adalah simbol.

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa kata-kata yang tergolong ke dalam simbol adalah kata yang bermakna kias.

Unsur Bahasa Kiasan

Bahasa kiasan (figurative language) merupakan penyimpangan dari pemakaian bahasa yang biasa, yang makna katanya atau rangkaian katanya digunakan dengan tujuan untuk mencapai efek tertentu (Abramss, 1981). Bahasa kiasan memiliki beberapa jenis, yaitu personifikasi, metafora, perumpamaan (simile), metonimia, sinekdoki, dan alegori (Pradopo, 1978).

Personifikasi

Personifikasi adalah kiasan yang menyamakan benda dengan manusia, benda- benda mati dibuat dapat berbuat, berfikir, dan sebagainya seperti manusia. Karena benda-benda mati dan noninsani disamakan dengan manusia, maka bagi pembaca penggunaan personifikasi akan mempermudah pemahamannya terhadap persoalan atau hal yang diekspresikan penyair dalam puisinya.

Perhatikan dan rasakan pengaruh penggunaan personifikasi (khususnya pada frase yang dicetak miring) dalam puisi berikut:

Mata Pisau

Mata pisau itu tak berkejap menatapmu:
Kau yang baru saja mengasahnya
Berfikir: ia tajam untuk mengiris apel
Yang tersedia di atas meja
Sehabis makan malam
Ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu
(Sapardi Djoko Damono, Mata Pisau, 1982)

Dalam kutipan tersebut pisau dipersonifikasikan mampu menatap dan membayangkan objek seperti halnya manusia.

Personifikasi mempunyai efek untuk memperjelas imaji (gambaran angan) pembaca karena dengaan menyamakan hal-hal nonmanusia dengan manusia, empati pembaca mudah ditimbulkan karena pembaca merasa akrab dengan hal-hal yang digambarkan atau disampaikan dalam puisi tersebut.

Metafora

Metafora adalah kiasan yang menyatakan sesuatu sebagai hal yang sebanding dengan hal lain, yang sesungguhnya tidak sama (Altenbernd& Lewis, 1969). Dalam sebuah metafora terdapat dua unsur, yaitu pembanding (vehiche) dan yang dibandingkan (tenor).

Dalam hubungannya dengan kedua unsur tersebut, maka terdapat dua jenis metafora, yaitu metafora eksplisit dan metafora implisit. Disebut metafora eksplisit apabila unsur pembanding dan yang dibandingkan disebutkan, misalnya cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar. Cinta sebagai hal yang dibandingkan dan bahaya yang lekas jadi pudar sebagai pembandingnya. Disebut metafora implisit, apabila hanya memiliki unsur pembanding saja, misalnya sambal tomat pada mata, untuk mengatakan mata yang merah, sebagai hal yang dibandingkan.

Untuk memahami metafora, perhatikan puisi berikut:

Perjalanan

Perjalanan ini
Menyusuri langsai-langsai kehidupan
Menyusuri luka demi luka
Menyusuri gigiran abad padang-padang lengang
Menyusuri matahari
Dan laut abadi dasyat sunyi

(Korrie Layun Rampan, Suara Kesunyian, 1981).

Dalam puisi tersebut, perjalanan hidup manusia disamakan dengan menyusuri langsai kehidupan, luka, padang lenggang, matahari, juga lautan yang sunyi.

Metonimia

Metonimia (pengganti nama) diartikan sebagai pengertian yang satu dipergunakan sebagai pengertian yang lain yang berdekatan (Luxemburg dkk. 1984). Contoh metonimia, misalnya adalah: Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh (“Perahu Kertas”, Sapardi Djoko Daamono). Si tua merupakan metonimia dari Nuh. Contoh lain: tetapi si raksasa itu ayahmu sendiri… (“Benih”, Subagio Sastrowardoyo). Si raksasa merupakan metonimia dari Rahwana.

Metonimia berfungsi untuk memperjelas imaji karena melaluimetonimia dikatakan keadaan konkret dari hal-hal yangingin disampaikan, seperti tampak pada puisi “Benih” gambaran tentang Rahwana semakin jelas karena dinyatakan sebagai si raksasa.

Sinekdoks

Sinekdoki merupakan bentuk kiasan yang mirip dengan metonimia, yaitu pengertian yang satu dipergunakan sebagai pengertian yang lain. Sinekdoki dibedakan menjadi dua jenis, yaitu totum pro parte dan pars pro toto. Disebut totum pro parte apabila keseluruhan dipergunakan untuk menyebut atau mewakili sebagian.

Sinekdoki nampak digunakan oleh Emha Ainun Nadjib pada puisi “2”: kami tak gentar pada apa pun di bawah tangan-Mu. Dalam baris tersebut tangan-Mu merupakan pars pro toto yang digunakan untuk menyebut keesaan yang dipegang Tuhan. Penggunaan sinekdoks ini membuat gambaran lebih konkret. Sinekdoks totum pro parte, misalnya tampak pada: seluruh hari, seluruh waktu hanya mengucap nama-Mu, merupakan sinekdoks yang mewakili bahwa sebagian besar (belum tentu seluruh) hari dan waktu digunakan untuk menyebut nama Allah.

Simile

Simile (perumpamaan) merupakan kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain yang menggunakan kata-kata pembanding seperti bagai, seperti, laksana, semisal, seumpama, sepantun, atau kata-kata pembanding lainnya.

Perhatikan puisi berikt untuk memahami penggunaan simile adalah:

Ode Asia Tenggara

Hidupku dibayangi oleh dua raksasa
:Rusia dan Amerika, KGB dan CIA
ya, ya, aku hidup di dunia ketiga
mereka sudah siap mencaplok apa saja

bagaikan siluman mereka pun bekerja
bagaikan air di bawah tanah kucinta
bagaikan air merembes ke dalam bumi
….

(Linus Suryadi A.G., Perkutut Manggung, 1986).

Dalam puisi tersebut Rusia dan Amerika, KGB dan CIA diumpamakan sebagai siluman, air di bawah tanah, dan air yang merembes ke dalam bumi. Dengan perumpamaan tersebut sifat keganasan kedua negara tersebut menjadi konkret.

Alegori

Alegori adalah cerita kiasan atau lukisan yang mengiaskan hal lain atau kejadian lain (Pradopo, 1987). Alegori pada dasarnya merupakan bentuk metafora yang diperpanjang.

Perhatikan contoh alegori berikut:

Akulah Si Telaga

Akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
Berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
_sesampai di seberang sana, _
tinggalkan begitu saja perahumu biar aku yang menjaganya

(Sapardi Djoko Damono, Perahu Kertas, 1983)

Puisi tersebut merupakan alegoris yang mengiaskan perjalanan hidup manusia seperti halnya berlayar di atas telaga, dan tubuh manusia dikiaskan sebagai perahu, yang akan ditinggalkan di dunia setelah manusia mati.

Unsur Citraan

Citraan (imagery) merupakan gambaran-gambaran angan dalam puisi yang ditimbulkan melalui kata-kata (Pradopo, 1987). Ada bermacam-macam jenis citraan, sesuai dengan indra yang menghasilkannya, yaitu

  1. citraan penglihatan (visual imagery),
  2. citraan pendengaran (auditory imagery),
  3. citraan rabaan (thermal imagery),
  4. citraan pencecapan (tactile imagery),
  5. citraan penciuman (olfactory imagery),
  6. citraan gerak (kinesthetic imagery).

Contoh citraan penglihatan adalah:

Nokturno

Kubiarkan cahaya bintang memilikimu
Kubiarkan angin, yang pucat dan tak habis-habisnya
Gelisah, tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu

(Sapardi Djoko Damono, Mata Pisau, 1982)

Pada puisi tampak citraan penglihatan karena dalam bayangan angan pembaca seolah-olah melihat cahaya bintang, juga angin yang pucat.

Citraan pendengaran dapat dirasakan pada kutipan berikut, terutama yang dicetak
miring.

Padang Hijau

Sejuk pun singgah Memeluk nisan demi nisan
Gerimis sore memetik kecapi

Diamku membuat air laut tersibak
“Penyair, lewatlah bertongkat sehelai benang!

Mencari sarang angin”

(D. Zawawi Imron, Bulan Tertusuk Ilalang, 1982.

Pada puisi tersebut, dalam bayangan angan pembaca, seperti mendengar bunyi gerimis sebagaimana bunyi kecapi dan suara laut mengatakan ““Penyair, lewatlah bertongkat sehelai benang! Mencari sarang angin.”

Contoh citraan rabaan adalah pada: Sejuk pun singgah, yang seolah-olah pembaca dapat merasakan kesejukan, seperti yang dirasakan nisan-nisan dalam pusi tersebut.
Citraan pencecapan dapat dirasakan pada: ingin kuhalau hidup yang terasa pahit tembakau, berganti manisnya madu…. Citraan penciuman dapat dirasakan pada: kini kuhirup bau senja, bau kandil-kandil dan pesta/ bau pembebasan,… bau yang sunyi… (“Pariksit” Goenawan Mohamad). Citraan gerak dapat dirasakan pada: Akulah si telaga: berlayarlah di atasnya/berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma.

Untuk memahami citraan secara lebih jauh coba Anda identifikasi puisi Chairil Anwar berikut ini berdasarkan wujud pengimajian. Wujud itu meliputi penglihatan, perabaan, pendengaran, penciuman, dan pengecapan.

Sajak Putih

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutera senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka,
Antara kita mati datang tidak membelah …

Selain pengimajian, juga terdapat istilah pengiasan, yakni pengimajian dengan menggunakan kata-kata khas sehingga menimbulkan makna yang lebih konkret dan cermat. Agar mampu mengapresiasi puisi dengan baik, pembaca tidak cukup mengahapal konsep-konsep di atas, tetapi juga harus trampil mengidentifikasi ragam kata dalam suatu puisi, terampil menentukan makna katanya, serta terampil menghubungkan makna kata yang satu dengan lainnya.

Unsur Sarana Retorika

Sarana retorika atau rhetorical devices merupakan muslihat intelektual, yang dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu hiperbola, ironi, ambiguitas, paradoks, litotes, dan elipisis (Altenbernd & Lewis, 1969).

Hiperbola adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu secara berlebih-lebihan.

Contoh: dengan seribu gunung langit tak runtuh dengan seribu perawan hati tak jatuh… Kata seribu dalam pernyataan tersebut merupakan bentuk hiperbola.

Ironi merupakan pernyataan yang mengandung makna yang bertentangan dengan apa yang dinyatakannya.

Contoh ironi adalah: sebenarnya aku benci rumah/ yang memberiku kerinduan untuk pulang/… (Emha Ainun Nadjib, “Sajak Petualang”). Di sini ada hal yang bertolak belakang, antara benci dan rindu terhadap rumah.

Ambiguitas adalah pernyataan yang mengandung makna ganda (ambigu).

Contoh ambiguitas antara lain: Tuan, Tuhan bukan? Tunggu sebentar/ saya sedang keluar (Sapardi Djoko Damono, “Tuan”). Dalam pernyataan tersebut terdapat ambiguitas karena dalam logika biasa, tidak akan terjadi si aku yang sedang ke luar, dapat menyapa Tuhan. Ambiguitas tersebut antara lain akan menyatakan seseorang yang tidak (belum) siap untuk menemui Tuhan, karena mungkin masih perlu membersihkan dirinya.

Paradoks merupakan pernyataan yang memiliki makna yang bertentangan dengan apa yang dinyatakan.

Contohnya antara lain: tidak setiap derita/ jadi luka/ tidak setiap sepi/ jadi duri… (“Jadi,” Sutardjo Calzoum Bachri). Pada pernyataan tersebut terdapat paradoks, karena menyangkal kenyataan yang umum terjadi (setiap derita pada umumnya melukai, setiap sepi pada umumnya menyakitkan).

Litotes adalah penyataan yang menganggap sesuatu lebih kecil dari realitas yang ada. Litotes merupakan kebalikan dari hiperbola.

Contohnya antara lain: inilah lagu yang sederhana/ untuk-Mu/ Denting-denting rawan/ jiwa yang melayang-layang… (”Lagu yang Sederhana” Acep Zamzam Noor). Pernyataan tersebut mengandung litotes karena merendahkkan (mengganggap kecil) lagu (pujian) yang disampakan kepada Tuhan.

Elipsis merupakan pernyataan yang tidak diselesaikan, tetapi ditandai dengan …. (titik-titik).

Contohnya: biarkan waktu berlalu, karena aaku hanyalah… Pernyataan tersebut tidak dilanjutkan. Elipsis banyak dipakai pada beberapa puisi lama. Wahai angin… sampaikan salamku padanya.

Unsur Larik

Larik merupakan unsur visual puisi setelah kata. Di dalam prosa, kedudukan larik identik dengan kalimat. Namun, seringkali satu kalimat di dalam puisi terdiri atas beberapa larik. Artinya, keidentikan ini bukan terletak di dalam kesamaan jumlah, yakni satu larik satu kalimat, melainkan – yang terutama di dalam substansinya, yakni mengandung satu satuan makna. Perbedaan visual tetap masih tampak menonjol. Misalnya, terjadi pelesapan, pemadatan, pemenggalan, penandabacaan yang bebas, dan sebagainya.

Di dalam puisi Wing Kardjo yang berjudul ”Salju” tampak bahwa satu larik tidak selamanya sama dengan satu kalimat. Contoh:

Ke manakah pergi
mencari matahari
ketika salju turun
pepohonan kehilangan daun

Baris kedua dan ketiga secara prosa masih tergolong ke dalam satu kalimat. Tanda linguistik yang dapat dijadikan dasar dalam penentuannya adalah penggunaan kata penghubung syarat ketika. Kata ini menandakan bahwa kedudukan kalimat sebagai kalimat majemuk bertingkat.

Berdasarkan ilustrasi tersebut tampak bahwa keidentikan baris dalam puisi dengan kalimat di dalam prosa bukan terletak di dalam jumlah, melainkan satuan makna. Satuan makna di dalam puisi dapat dilihat pada satu baris atau lebih. Bahkan, dapat juga ditemukan bahwa satu baris sekaligus satu kalimat yang hanya terdiri atas satu kata tetapi mengandung satuan makna.

Mengapa penyair membentuk baris yang sangat bervariasi?

Jawabannya adalah baris bukan merupakan unsur yang terpisah dari unsur yang lainnya.

  • Pertama, baris sebagai satuan makna yang lebih besar dari kata bisa jadi sudah utuh maknanya oleh baris tersebut, atau bisa juga baris itu masih harus diselesaikan oleh baris berikutnya.

  • Kedua, keutuhan itu baru sebatas satuan makna seperti halnya satuan makna kalimat di dalam prosa. Pada kenyataannya, keutuhan itu masih terkait dengan baris-baris yang lainnya.

Keterkaitan ini tampak sebagai pemenggalan suatu baris yang dilanjutkan oleh baris berikutnya. Pemenggalan dilakukan sebagai upaya untuk menata rima atau persajakan sehingga unsur musikalitas puisi muncul. Ketiga, baris merupakan tatanan makna yang terangkai melalui kata. Kata-kata yang dirangkai bisa utuh. Akan tetapi, sebagian besar penyair melesapkan beberapa bentuk kata agar lebih padat.

Unsur Bait

Bait identik dengan paragraf di dalam karangan jenis prosa. Keidentikan ini terutama melalui substansinya, yakni kesatuan makna dari setiap larik atau kalimat. Namun, secara visual berbeda. Bait di dalam puisi tidak terikat oleh aturan-aturan paragraf.

Menurut Aminudin (1987) makna bait di dalam puisi adalah pendukung suatu kesatuan makna dalam rangka mewujudkan pokok pikiran tertentu yang berbeda dengan satuan makna dalam kelompok larik lainnya. Di sisi lain, peranan bait adalah untuk menciptakan tipografi puisi dan penekanan gagasan serta loncatan gagasan.

Bait di dalam puisi-puisi Indonesia mutakhir semakin bervariasi. Bahkan, perkembangan puisi makin diarahkan kepada bentuk visual dengan anggapan jika keputikan dapat disampaikan tidak hanya melalui unsur verbal. Namun, secara umum bait puisi secara verbal memang sangat beragam. Puisi dalam bentuk pantun sudah berubah melalui bait puisi Amir Hamzah, Chairil Anwar, Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Afrizal Malna, dan sebagainya.

Unsur Tipografi

Tipografi karangan prosa secara konvensional terdiri atas tiga genre, yakni menjorok ke dalam, mengantung, atau bentuk lurus. Semuanya diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca. Hal ini berbeda dengan puisi. Secara tipografis, bentuk susunan puisi tidak terikat oleh model apapun. Penyair bebas memilih bentuk visual bait. Di dalam kenyataannya, terdapat beragam tipografi puisi.

Bait-bait yang disusun penyair merupakan ikatan dari baris dan kata yang ditata dengan rima tertentu. Penataan ini dengan sendirinya akan membentuk unsur tipografi tertentu.
Menurut Aminuddin (1987) tipografi di dalam puisi berfungsi sebagai penampilan yang artistik serta memberikan nuansa makna dan suasana tertentu. Di samping itu, tipografi juga untuk mempertegas adanya loncatan gagasan dan memperjelas satuan-satuan makna tertentu.

Dalam puisi Indonesia dikenal adanya bermacam-macam tipografi puisi, antara lain:

  1. Tipografi konvensional
  2. Tipografi seperti prosa
  3. Tipografi Zigzag

Sumber : Maman Suryaman, Wiyatmi, Puisi Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta, 2013