Apa saja tips bagi pemula saat mendaki Gunung Merbabu?

tips mendaki gunung merbabu
Jalur pendakian Gunung Merbabu mungkin tidak terlalu berat, namun Anda tetap harus menyiapkan segalanya dengan baik.

Perencanaan

Kapan kita kemana?
Sebelum mendaki pastinya bakal bikin rencana pendakian dong ya. Minimal bikin wacana dulu lah sama temen-temen. Meski kadang sering nggak jadinya, hehe pengalaman.
Okey, kalau sudah itu pasti milih gunung mana yang mau didaki. Jangan udah nyebar wacana kemana-mana tapi nggak tau gunung mana yang mau didaki, sekaligus juga memilih lewat jalur mana loh. Karena ada gunung yang punya jalur pendakian lebih dari satu. Misalnya Merbabu yang punya sekiranya ada 8 jalur pendakian. Beberapa waktu lalu saya sempat mencicipi indahnya jalur pendakian Merbabu via Suwanting yang punya sabana keren banget nget.

Setelah gunung dan rute sudah fix dipilih lalu yang selanjutnya ditentukan adalah kapan bakal mendakinya. Penentuan waktu ini juga penting. Kalau nggak mau kehujanan saat mendaki ya jangan mendaki di musim hujan. Bukan berarti kalau musim hujan nggak boleh mendaki loh ya. Boleh kok, tapi harus siap bawa barang ekstra yah, karena ditembah jas hujan dan pakaian ganti yang lebih banyak. Cuaca ini juga jadi pertimbangan view yang bakal didapat pas di gunung ntar. Kalau pas musim hujan biasanya pemandangannya bakal lebih berkabut dan mendung sendu.

Persiapan

Persiapan disini bisa dibagi jadi tiga macem, diantaranya:

    Peralatan Mendaki

Perlengkapan hendaknya disesuaikan dengan lokasi, rute, jangka waktu, jumlah pendaki, dan kondisi cuaca. Tapi ada beberapa peralatan yang emang udah kudu disiapin sebelum mendaki. Bisa beli sendiri atau kalau masih ragu buat beli bisa nyewa di tempat rental alat outdoor. Biasanya sih kalau yang bisa sewa itu kebanyakan alat-alat yang digunakan bersama satu kelompok misal tenda, kompor, dsb.
Beberapa peralatan yang musti disiapin, misalnya: tas carrier, sepatu trekking, jaket, jas hujan, matras, sleeping bag, baju ganti, alat penerangan seperti senter, korek api, tenda, kantong plastik, kompor dan peralatan masak, obat-obatan, serta peralatan lain yang sekiranya dibutuhkan dan tidak sia-sia kalau dibawa.
Gak sampai disitu doang, buat mempacking barang-barang bejibun itu untuk bisa masuk ke dalam tas carrier juga ada aturannya. Gak asal masuk aja. Simpelnya barang-barang itu dipilah-pilah dulu mana yang sering diperlukan dan mana yang cuma dikeluarkan kalau pas ditempat camp. Maksudnya barang yang jarang penggunaannya dan volume besar dan berat bisa ditaruh di bagian paling bawah disusul barang yang dibutuhkan agak sering sampai yang paling atas untuk barang yang sering banget dikeluarin atau yang kalau mau ngeluarin perlu waktu cepet misal jas hujan harus di taruh di tempat yang gampang dijangkau.
Kalau packing sudah bener, bisa dicheck dengan melihat apakah tas bisa berdiri tegak vertikal tanpa sandaran apapun. Kalau masih ambruk-ambruk kalau diletakkan berarti ada yang salah dengan pengepackan barang-barangnya, terutama bagian paling bawah.

    Fisik

Kita mendaki dengan modal fisik kan yak, bukan modal nekat doang. Itu artinya fisik perlu disiapin biar nggak kaget saat menghadapi tanjakan-tanjakan maut menuju puncak gunung. Apalagi buat yang baru pertama naik gunung.
Kemampuan ini bakal makin teruji seiring seringnya kita mendaki kok. Pendakian yang pertama bakal jadi sejarah. Kalau baru mau jadi pendaki gunung dan pengen mencetak sejarah buat diri sendiri, persiapkan pendakian secara matang terutama fisik. Bisa dimulai dengan rutin lari keliling lapangan karena kaki yang kuat bakal mempermudah pendakian. Setelah itu banyakin aja push up dan sit up yang bisa dilakuin di pagi atau sore. Latian yang lain bisa juga dilakukan kalau dirasa perlu. Kalau saya cukup itu saja udah oke kok, yang penting konsisten.

    Mental

Kenapa mental juga diperlukan dalam mendaki. Pastinya kita nggak tahu apa yang bakal terjadi saat kita mendaki. Bisa jadi tersesat, terpisah dengan rombongan. Amit-amit deh kalau ngalamin hal itu, lebih-lebih saya sering baca cerita pendaki yang hilang di gunung. Serem bro…
Nah, karena itu kesiapan mental juga harus dimatangkan. Bisa jadi mental sudah terbentuk sejak awal, bisa jadi juga dengan mendaki mental kita bakal terbentuk. Mendaki mengajarkan banyak hal mulai dari kerendahan hati, fokus, kerjasama, dan menyingkirkan segala kesombongan juga ego di dalam diri. Kita bakal merasa kecil banget waktu di gunung, apalagi kalau sudah di puncaknya.
Oiya, kita juga bisa tahu karakter asli seseorang dengan cara ngajak mereka ke gunung. Di gunung watak seseorang apakah dia care, egois, individualis, suka ngeluh, dan segala sifat yang dimiliki manusia bakal tersibak semua. Karena di alam bebas dengan keadaan fisik yang terforsir, bakal mendorong seseorang untuk bertindak tanpa menutup-nutupinya dan tanpa embel-embel apa pun.

Pemahaman (medan dan karakteristik gunung)

Pemahaman adalah hal yang sangat esensial. Dalam hal ini terkhusus mengenai medan dan karakteristik gunung yang mau didaki. Dalam satu kelompok, saran saya paling nggak ada satu atau kalau lebih malah makin bagus, anggota yang memahami medan dan karakteristik gunung.

Pengaturan (logistik)

Tips membawa makanan dalam mendaki gunung juga penting. Bawalah makanan yang ringan dan ringkas namun cukup mengandung kalori. Termasuk bahan makanan yang cepat dimasak meskipun kata orang yang instan itu kadang nggak baik, tapi sesekali nggak papa kok bawa mie instan ke gunung.
Jangan membawa dan mengonsumsi minuman beralkohol karena meskipun hangat, minuman tersebut dapat memicu pecahnya kapiler darah karena terlalu cepatnya kapiler darah memuai dalam tubuh.

Jaga Diri dan Sikap

Sebelum pendakian dilakukan, kita musti melapor dan memperoleh izin dari pihak-pihak terkait terutama di pos pendakian. Di pos pendakian ini, kita wajib mengisi buku tamu dengan mencantumkan lama pendakian, alamat lengkap dan nomor telepon keluarga atau teman yang dapat dihubungi bila terjadi musibah di gunung (amit2). Setelah turun dari puncak jangan lupa untuk melapor kembali ke Pos Pendakian. Banyak sekali kejadian pendaki yang mengalami hal buruk di gunung karena tidak ijin saat mau naik akibatnya pertolongan pun terlambat datang.