Apa saja teknik budidaya urban farming?

Urban farming

Pertanian Perkotaan (Urban farming) secara harfiah merupakan kegiatan bertani, mengolah dan mendistribusikan bahan pangan di dalam wilayah kota.

Apa saja teknik budidaya urban farming?

1 Like

Kegiatan urban farming yang masih bersifat konvensional dapat dilakukan dengan teknik budidaya, sebagai berikut.

  • Tanaman Botol
    Menanam tanaman dengan menggunakan botol bekas. Salah satu ide kreatif bertanam dalam botol dengan menggunakan terarium.

  • Bertanam di dinding
    Menanam tanaman dengan memanfaatkan areal dinding yang kosong. Seperti vertical garden/verticulture

Teknik budidaya lainnya yang dapat digunakan pada urban farming adalah hidroponik. Hidroponik merupakan teknik budidaya tanpa menggunakan tanah, melainkan menggunakan nutrisi berupa mineral yang terlarut dalam air untuk menumbuhkan tanaman. Hidroponik memiliki beberapa keuntungan, yaitu tidak ada pupuk yang terbuang percuma, rendah serangan hama dan penyakit, gulma tidak dapat tumbuh, tanaman tumbuh lebih cepat dengan hasil yang lebih besar, rendah penggunaan pestisida.

Referensi.

Annisa, Febri, dan Leni. 2016. Urban Farming Bertani Kreatif Sayur, Hias, & Buah. Jakarta: AgriFlo (Penebar Swadaya Grup)

1 Like

TEKNIK URBAN FARMING
Kehidupan perkotaan identik dengan lahan yang terbatas, juga polusi udara yang membabi buta. Sehingga memunculkan ide-ide kreatif dengan adanya urban farming sebagai salah satu solusi menanam dalam lahan yang terbatas dan juga mengurangi polusi udara.
Urban farming merupakan suatu gerakan yang dimulai di Amerika Serikat sebagai upaya terhadap buruknya situasi dan kondisi ekonomi beberapa negara pada saat perang dunia terutama tingginya harga sayuran pada kala itu. Sekitar 20 juta Victory garden dibuat selama perang dunia kedua. Victory garden berupa kegiatan membangun taman di sela-sela ruang yang tersisa. Hasil dari program tersebut membuat pemerintah Amerika Serikat mampu menyediakan 40% kebutuhan pangan warganya pada waktu itu. Di Indonesia, konsep urban farming mulai dikembangkan di sejumlah kota besar, seperti Kota Surabaya, bandung dan Makassar. Urban farming adalah praktek pertanian (meliputi kegiatan tanaman pangan, peternakan, perikanan, kehutanan) di dalam atau di pinggir kota. Urban farming juga dapat dikatakan sebagai aktivitas pertanian di dalam atau di sekitar kota yang melibatkan ketrampilan, keahlian, dan inovasi dalam budidaya pengolahan makanan bagi masyarakat melalui pemanfaatan pekarangan, lahan-lahan kosong guna menambah gizi, meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan keluarga serta memotivasi keluarga untuk membentuk suatu kelompok pertanian guna untuk membangun dirinya sendiri agar lebih mandiri dan maju (Santoso, 2014).
Sektor pertanian di kota-kota besar seperti Surabaya, Bandung, Makassar selama ini kurang memberikan kontribusi pada ekonomi wilayah secara keseluruhan. Sektor ini masih kalah oleh sektor lain yang dominan seperti sektor perdagangan, hotel dan restoran. Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi penurunan sektor pertanian. Penggunaan tanah adalah salah satu faktornya dimana tanah di daerah kota semakin terbatas. Tanah yang terbatas membuat lahan-lahan pertanian semakin sempit terhimpit oleh penggunaan lahan selain pertanian terutama untuk 6 pemukiman,perdagangan dan industri. Oleh karena itu, sangat penting untuk membuat usaha-usaha yang dapat meningkatkan produksi pertanian di perkotaan dengan berbagai keterbatasan (Widyawati, 2013)
Urban farming merupakan strategi pemanfaatan lahan sempit untuk menghasilkan bahan makanan segarsebagai upaya pemenuhan ketersediaan pangan perkotaan dan dapat meningkatkan akses ekonomi rumah tangga melalui pendapatan rumah tangga. Menurut FAO (2011), Urban farming atau urban agriculture, merupakan aksi bertani, mengolah, mendistribusikan bahan pangan di dalam wilayah batas kota. Aktivitas ini melibatkan masyarakat dalam memanfaatkan lahan terbengkalai di perkotaan untuk ditanami oleh tanaman-tanaman produktif (Lanarc, 2013). selain untuk mendukung ketahanan pangan di perkotaan, urban farming juga bertujuan untuk meningkatkan pendapatan pengelolanya. Tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan pertanian perkotaan di negara-negara berkembang juga bervariasi, mulai dari 10% di Indonesia sampai hampir 70% di Vietnam dan Nikaragua (Zezza and Tasciotti, 2010).
Bentuk-Bentuk Urban Farming
Adapun bentuk-bentuk urban farming yang dilakukan oleh masyarakat diperkotaan sebagai berikut:
a. Hidroponik
Hidroponik adalah budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada pemenuhan nutrisi bagi tanaman. Teknik hidroponik banyak dilakukan dalam skala kecil sebagai dikalangan masyarakat. Pemilihan jenis tanaman yang akan dibudidayakan untuk skala usaha harus diperhatikan, karena tidak semua hasil pertanian bernilai ekonomis. Jenis tanaman yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi untuk dibudidayakan di hidroponik yaitu paprika, tomat, melon dan selada.
b. Vertikultur
Vertikultur atau bertingkat, baik indoor maupun outdoor. Sistem budidaya pertanian secara vertikal atau bertingkat ini merupakan konsep penghijauan yang cocok untuk daerah perkotaan dan lahan terbatas. Struktur vertikal, memudahkan pengguna membuat dan memeliharanya. Pertanian vertikultur tidak hanya sebagai sumber pangan tetapi juga menciptakan suasana alami yang menyenangkan.
c. Aquaponik dan Vertiminaponik Akuaponik merupakan sistem produksi pangan, khususnya sayuran yang diintegrasikan dengan budidaya hewan air (ikan, udang dan siput) di dalam suatu lingkungan simbiosis. Salah satu model akuaponik yang diintroduksikan oleh BPTP Jakarta ‚Äúvertiminaponik‚ÄĚ., yang merupakan kombinasi antara sistem budidaya sayuran berbasis pot talang plastik secara vertikal dengan sistem akuaponik. Oleh karena itu sistem ini dinamakan ‚Äúvertiminaponik‚ÄĚ. Vertiminaponik diintroduksikan dengan bentuk persegi berukuran panjang 140 cm, lebar 100 cm dan tinggi 90 cm berupa tandon air berbahan fibreglass dengan volume 500 liter air. Sistem ini dilengkapi dengan talang plastik dengan panjang 1 meter sebanyak delapan buah yang disusun di rak besi yang diletakkan diatas tandon air/kolam. Media tanam yang digunakan adalah batu zeolit berukuran 20 mesh yang dicampur dengan bahan organik dan tanah mineral dengan perbandingan 3:1. Sistem penanaman dengan menggunakan vertiminaponik dilakukan secara padat tebar, yang artinya benih disebar dengan jarak tanam sangat padat. Selain itu, ikan yang dibudidayakan juga secara padat tebar, yaitu 300 ekor untuk ikan lele, sedangkan bawal, nila dan patin sekitar 150-200 ekor.

Karakteristik Lokasi Urban Farming
Urban farming umumnya dilakukan di lahan yang tak dimanfaatkan atau lahan kosong. Selain itu, dapat pula dijadikan sebagai alternatif optimasi pemanfaatan tanah kota yang semakin langka. Tanah-tanah yang dapat dijadikan lokasi pertanian antara lain tanah-tanah negara yang tidak dimanfaatkan, tanah-tanah marjinal di sepanjang tepi sungai, di bawah jembatan, pada lereng-lereng perbukitan, median jalan maupun tanah-tanah pekarangan milik pribadi (Setiawan dan Rahmi 2002). Menurut Maugeot (2000) urban farming dapat dilakukan di dalam kota, dan daerah pinggiran kota yang mana memiliki peletakan di dekat pemukiman, dalam area pengembangan.
Peranan Urban Farming
Kehadiran pertanian di wilayah perkotaan maupun daerah sekitar perkotaan memberikan nilai positif bukan hanya dalam pemenuhan kebutuhan pangan tetapi juga terdapat nilai-nilai praktis yang dapat berdampak bagi keberlanjutan di wilayah perkotaan. Apabila praktek pertanian perkotaan dilakukan dengan memperhatikan aspek-aspek lingkungan, mempunyai banyak keuntungan. Nilai kehadiran pertanian perkotaan dapat dilihat dari aspek ekonomi dan sosial (Kauman dan Jerry, 2000). Keberadaan pertanian dalam masyarakat perkotaan dapat dijadikan sarana untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan atau pekarangan rumah dan sumberdaya alam yang ada di kota. Selain itu, masyarakat kota yang umumnya sibuk karena bekerja, urban farming dapat menjadi media untuk memanfaatkan waktu luang. Mengoptimalkan penggunaan lahan serta memanfaatkan waktu luang untuk beraktivitas dalam pertanian perkotaan akan mendekatkan mereka terhadap akses pangan serta menjaga lingkungan dengan memanfaatkan pekarangan rumah. Haletky dan Taylor (2006) berpendapat bahwa pertanian kota adalah salah satu komponen kunci pembangunan sistem pangan masyarakat yang berkelanjutan dan jika dirancang secara tepat akan dapat mengentaskan permasalahan kerawanan pangan. Kegiatan pertanian perkotaan secara umum memiliki peranan yang sangat penting karena diperlukan dalam mendukung ketahanan pangan dengan ketersediaan pangan yang cukup, kemampuan untuk mengakses (termasuk membeli) pangan, dan tidak terjadinya ketergantungan pangan pada pihak manapun, maka kedudukan petani dalam kegiatan pertanian perkotaan memiliki posisi strategis untuk mendukung ketahanan pangan. Hal ini disebabkan karena petani adalah produsen pangan dan juga sekaligus kelompok konsumen terbesar. Pertanian perkotaan selain mempunyai manfaat ekonomi, juga mempunyai manfaat sosial dan manfaat lingkungan (Amaruddin, 2016).
Sumber:
http://ejurnal.its.ac.id/index.php/teknik/article/download/25008/4140
http://digilib.unhas.ac.id/uploaded_files/temporary/DigitalCollection/OTI1NDFjOWM5ZmZlNjE3YTcxZmY3ODg2NjliNDRjZmRlYmE2YzU4MA==.pdf

Urban farming merujuk pada kegiatan bercocok tanam atau beternak secara mandiri, di wilayah perkotaan dengan lahan terbatas. Salah satu kegiatannya adalah menanam sayuran dan buah-buahan. Kegiatan dengan memanfaatkan lahan sempit ini biasanya dilakukan dengan beberapa macam seperti:

  • Vertical garden ~ Vertical culture ~ vertikultur
  • Hanging Garden ~ taman gantung
  • Hydroponics ~ hidroponik
  • Aeroponics ~ aeroponik

Berdasarkan beberapa teknik budidaya diatas, urban farming dapat dilakukan dan diterapkan dengan cara vertical garden atau biasanya dilakukan dengan memanfaatkan dinding yang kosong untuk menempatkan tanaman. Urban farming juga bias dilakukan dengan menanam tanpa media tanah, hal tersebut dapat dilakukan dengan teknik budidaya tanaman dengan menggunakan hidroponik. Teknik budidaya hidroponik sendiri merupakan cara bertani/bercocok tanam dengan media bukan tanah dan menggunakan air sebagai hara dan sebagai media pembawa campuran hara lain untuk pertumbuhan tanaman secara optimal. Teknik budidaya tanaman dengan hidroponik, memiliki beberapa teknik lagi yang harus dipahami, yaitu:

  • Nutrient Film Technique (NFT) : suatu metode budidaya tanaman dengan akar tanaman tumbuh pada lapisan nutrisi yang dangkal dan tersirkulasi sehingga tanaman dapat memperoleh cukup air, nutrisi dan oksigen.
  • Static Aerated Technique : disebut juga sebagai sistem pasif, karena tidak menggunakan tenaga dari sumber energi luar untuk menyalurkan air ke daerah perakaran tanaman. Tanaman tumbuh diatas suatu kedalaman larutan nutrisi yang tidak bergerak (statis).
  • Ebb and Flow Technique : teknik ebb (airsurut) dan flow , tanaman dialiri larutan nutrisi dengan cara penggenangan secara berkala, kemudian genangan larutan nutrisi tersebut dialirkan kembali ke bak penampungan larutan nutrisi
  • Deep Flow Technique : larutan nutrisi yang memiliki kedalaman berkisar 4‚Äď6cm, disirkulasikan melewati daerah perakaran menggunakan pompa air maupun dengan memanfaatkan gaya gravitasi.
Referensi

Sharma, N., Acharya, S., Kumar, K., Singh, N., Dan Chaurasia, O. P. (2018). Hydroponics As An Advanced Technique For Vegetable Production: An Overview. Journal Of Soil And Water Conservation 17(4), DOI: 10.5958/2455-7145.2018.00056.5.

Urban Farming adalah usahatani dengan memanfaatkan lahan sempit atau intensifikasi lahan. Dimana, usahatani di perkotaan merupakan kegiatan yang berorientasi pada terwujudnya kemudahan pemenuhan kebutuhan pangan sehari-hari masyarakat perkotaan. Selain itu, menurut Hamzens et al. (2018) keberadaan kegiatan urban farming juga membantu pemenuhan dan peningkatan ruang terbuka hijau kota (City’s Green Open Space).

Sistem urban farming yang dapat diterapkan pada usahatani di perkotaan adalah sistem vertikultur. Vertikultur merupakan sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal, baik di dalam maupun di luar ruangan. Vertikultur dapat meningkatkan hasil pertanian hingga sepuluh kali lipat atau lebih. Sistem ini dapat mengoptimalkan pemanfaatan lahan, sehingga lahan yang tidak produktif dapat digunakan untuk produksi pertanian. Selain itu, sistem ini juga cocok diterapkan di lahan sempit. Adapun budidaya tanaman vertikultur di perkotaan dapat menciptakan keindahan, kelestarian sumber daya tanah dan sumber daya air, memperbaiki iklim mikro perkotaan, dapat memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga, serta dapat meminimalkan pengeluaran keluarga. Keuntungan budidaya vertikultur menurut Mariyam et al. (2014), meliputi efisiensi penggunaan lahan, penghematan air, penggunaan pupuk dan pestisida pendukung pertanian organik, umur tanaman relatif singkat, wadah media tanam dapat disesuaikan dengan kondisi setempat atau ketersediaan bahan yang ada, pemeliharaan tanaman relatif sederhana, dan dapat dilakukan oleh siapa saja.

Verticulture using Bottle

Jenis tanaman yang dapat ditanam secara vertikal biasanya adalah komoditas sayuran, tanaman hias atau komoditas tanaman obat yang dikenal dengan tanaman hortikultura. Tanaman yang termasuk komoditas sayuran adalah sawi, kucai, pak choy, kangkung, bayam, kemangi, caisim, seledri, selada, dan daun bawang. Model budidaya vertikultur dapat berupa model gantung, model tempel, model tegak dan model rak. Beberapa desain media tanam dengan teknik vertikultur menurut Lanarc (2013) adalah;

  1. Setiap wadah/media tanam umumnya disusun dalam posisi vertikal yaitu wadah disusun dalam posisi berdiri/tegak dan diberi lubang pada permukaan wadah (sebagai lubang tanam).

  2. Wadah media gantung yang biasanya disusun bersilangan kemudian digantung sehingga menyerupai pot gantung yang berisi berbagai jenis tanaman di dalamnya. Wadah media vertikultur dengan cara digantung biasanya digunakan oleh banyak botol plastik minuman bekas.

Referensi

Hamzens, W.P.S dan Moestopo, M.W. (2018). Pengembangan Potensi Pertanian Perkotaan Di Kawasan Sungai Palu. JPK. 6(1): 75-83.
Lanarc. (2013). Urban Farming Guide Book. Colombia: Real Estate Foundation.
Mariyam, Siti, T. Rahayu, dan Budiwati. (2014). Implementasi Eco-Education Di Sekolah Perkotaan Melalui Budidaya Vertikultur Tanaman Hortikultura Organik. Yogyakarta: FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta.

Seperti namanya, urban farming memindahkan pertanian konvensional ke pertanian perkotaan. Yang membedakannya dengan berkebun biasa adalah orang yang melakukan dan juga media tanamnya. Apabila orang di pedesaan melakukan kegiatan berkebun berorientasi pada hasil produksi, maka pelaku urban farming berorientasi pada gaya hidup. Apalagi saat ini masyarakat mulai mengetahui gaya hidup sehat, sehingga konsep urban farming semakin banyak diminati.

Lantaran kegiatan berkebun ini dilakukan di lahan yang sempit, maka ada berbagai cara yang bisa ditempuh untuk melakukan urban farming. Tak hanya mengandalkan lahan kosong, banyak media yang bisa dimanfaatkan untuk menanam. Misalnya tanaman dalam pot yang digantung di pagar atau dinding hingga membuat taman vertikal, menggunakan pipa paralon menjadi kebun hidroponik, atau memanfaatkan polybag.

Bukan hanya soal gaya hidup, berkebun dengan cara urban farming juga memberikan banyak manfaat untuk pelakunya sendiri, sekaligus untuk orang lain. Misalnya seperti mendapatkan ketersediaan sayuran di rumah sendiri, menghemat untuk belanja sayuran, menghijaukan lingkungan, hingga mengurangi dampak pemanasan global. Dengan begitu, orang-orang yang melakukan ini pun turut serta dalam meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan masyarakat lainnya, sekaligus kesehatan lingkungan. Secara nilai ekonomis juga, kegiatan urban farming bisa menunjang kondisi ekonomi masyarakat melalui penjualan dari hasil panen tanaman yang ditanam.

Referensi :