Apa Saja Sumber Hukum di Dalam Ajaran Agama Islam?

Sumber hukum Islam

Islam adalah agama yang memiliki sumber hukum yang menjadi pedoman bagi penganutnya. Apa saja sumber hukum Islam yang tertulis dan sumber hukum Islam yang tidak tertulis ?

Garis hukum adalah ketentuan yang jelas yang dirumuskan secara tersendiri dan mempunyai hubungan dengan penggolongan dari al ahkam al khamsah. Hubungan antara garis hukum dengan al ahkam al khamsah ada yang langsung ada juga yang tidak langsung. Banyak di antara garis hukum belum pasti dapat ditentukan hukumnya apakah wajib, haram, sunnah, makruh atau mubah dengan melihat pada garis hukum itu saja.

Ada pula sebagian garis hukum yang di dalamnya sekaligus telah ada penegasan hukumnya sehingga hukumnya langsung bertaut dan termuat dalam garis hukum yang bersangkutan. Untuk garis hukum yang belum pasti hukumnya penerapan dan penyesuaian kepada hukum dibantu dengan bahan-bahan dan keterangan-keterangan lainnya. Cara untuk membentuk garis hukum adalah dengan mempergunakan ayat-ayat Al Qur’an, hadits Rasul dan pendapat atau ijtihad ulil-amri, ijtihad yang sangat dikenal adalah atsar sahabat Rasul begitu juga dengan ijtihad mujtahid-mujtahid Islam lainnya.

Dapat diperhatikan dengan seksama jika terjadi pendapat yang berbeda tentang suatu hal, lebih baik dikembalikan kepada Allah dan Rasul, tidak dikembalikan ke ulil amri, seperti yang disebutkan dalam firman Allah (Surah An-Nisa: 59)

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ullil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang Demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Dasar pembentukan garis hukum itu berupa ayat Al Quran, hadits Rasul, dan ijtihad ulil amri, yang mana merupakan sumber dari hukum Islam, dalil hukum Islam, atau ’pokok’ hukum Islam, atau ’dasar’ hukum Islam. Berdasarkan hadits Mu’az bin Jabal, ketiga sumber hukum Islam tersebut merupakan rangkaian kesatuan, dengan urutan keutamaan, tidak boleh dibalik.

Urutannya adalah Al Qur’an dan As Sunnah yang terdapat dalam kitab-kitab Hadits yang biasa disebut Al Hadits merupakan sumber utama, sedangkan akal pikiran manusia yang memenuhi syarat untuk berijtihad menentukan norma benar-salahnya suatu perbuatan merupakan sumber tambahan atau sumber pengembangan.

Dari hadits Mu’az bin Jabal dapat dismpulkan hal lain di antaranya:

”(1) Al Qur’an bukanlah kitab hukum yang memuat kaidah-kaidah hukum secara lengkap dan terperinci. Pada umumnya hanya memuat kaidah-kaidah hukum fundamental yang harus dikaji dengan teliti dan dikembangkan oleh pikiran manusia yang memenuhi syarat untuk diterapkan dalam masyarakat, (2) Sunnah Nabi Muhammad dalam Al-Hadits pun sepanjang yang mengenai soal muamallah yaitu soal hubungan antara manusia dengan manusia lain dalam masyarakat, pada umumnya hanya mengandung kaidah-kaidah umum yang harus dirinci oleh orang yang memenuhi syarat untuk dapat diterapkan pada atau dalam kasus-kasus tertentu, (3) Hukum Islam yang terdapat dalam Al Qur’an dan As Sunnah atau Al Hadist itu perlu dikaji, dirinci lebih lanjut, (4) Hakim (atau penguasa) tidak boleh menolak untuk menyelesaikan suatu masalah atau sengketa dengan alasan bahwa hukumnya tidak ada. Ia wajib memecahkan masalah atau menyelesaikan sengketa yang disampaikan kepadanya dengan berijtihad, melalui berbagai jalan (metode), cara atau upaya.”

Dasar dari pembentukan garis hukum dalam islam ada tiga, yakni :

1. Al Qur’an

Al Quran adalah kalam (diktum) Allah SWT yang diturunkan olehNya dengan perantaan malaikat Jibril ke dalam hati Rasulullah. Juga sebagai undang-undang yang dijadikan pedoman umat manusia dan sebagai amal ibadah jika dibacanya, merupakan sumber hukum utama yang memuat kaidah-kaidah fundamental (asasi) yang perlu dikaji dengan teliti dan dikembangkan lebih lanjut. Al Qur’an adalah kitab suci yang memuat wahyu (firman) Allah, asli seperti yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad untuk menjadi pedoman atau petunjuk bagi umat manusia dalam hidup dan kehidupannya mencapai kesejahteraan di dunia dan di akhirat.

Al Qur’an adalah kalam (diktum) Allah SWT yang diturunkan oleh-Nya dengan perantaan Malaikat Jibril ke dalam hati Rasulullah. Al Qur’an merupakan intisari dari semua pengetahuan, yang bersifat prinsipal saja. Sesuatu yang mustahil jika manusia mencoba mencari penjelasan ilmiah yang terinci di dalam Al-Qur’an dilakukan oleh beberapa penafsir. Untuk menemukan maksud dari prinsip-prinsip yang terkandung dalam Al Qur’an manusia harus menghayati arti sebenarnya sehingga dapat diketemukan dasarnya, bukan rincian ilmu pengetahuan dalam Al Quran.

Menurut para ahli, garis-garis besarnya Al Qur’an memuat soal-soal yang berkenaan dengan

  1. Akidah

  2. Syari’ah baik ibadah maupun muamallah

  3. Akhlak

  4. Kisah-kisah umat manusia di masa lalu

  5. Berita-berita tentang zaman yang akan datang (kehidupan akhirat)

  6. Benih atau prinsip-prinsip ilmu pengetahuan, dasar-dasar hukum, yang berlaku bagi alam semesta termasuk manusia di dalamnya. Dengan sempurnanya turunnya Al Qur’an maka menjadi lengkapalah syari’at Islam.

Hukum Muamallah dapat dirinci sebagai berikut:

  1. Hukum badan pribadi, yang berhubungan dengan unit keluarga mengatur hubungan suami-isteri dan sanak kerabat, antara satu dengan yang lainnya.

  2. Hukum perdata, yang berhubungan dengan muamallah antara perorangan, masyarakat dan persekutuannya seperti jual beli, sewa- menyewa, gadai-menggadai, pertanggungan, syirkah, utang piutang dan memenuhi janji secara disiplin. Mengatur hubungan perorangan, masyarakat yang menyangkut harta kekayaan dan memelihara hak setiap orang bersangkutan yang mempunyai hak.

  3. Hukum pidana, yang berhubungan dengan tindak kriminal dan masalah pidananya bagi si pelaku kriminal.

  4. Hukum acara, yang berhubungan dengan pengadilan, kesaksian dan sumpah, merealisasikan keadilan di antara sesama ummat manusia.

  5. Hukum ketatanegaraan, yang berhubungan dengan peraturan pemerintahan dan dasar-dasarnya, membatasi hubungan antara penguasa dengan rakyatnya.

  6. Hukum internasional, yang berhubungan dengan masalah-masalah hubungan antar negara-negara Islam dengan bukan negara Islam dalam situasi damai maupun dalam keadaan perang.

  7. Hukum ekonomi dan keuangan, yang berhubungan dengan hak orang miskin yang meminta, dan orang miskin yang yang tidak mendapat bagian dari harta orang yang kaya dan mengatur irrigasi serta perbankan. Mengenai muammalah ini sifatnya terbuka untuk dikembangkan melalui ijtihad manusia yang memenuhi syarat untuk melakukan usaha itu karena berhubungan langsung dengan kehidupan sosial manusia.

Hal yang menarik adalah hukum Islam tidak membedakan dengan tajam antara hukum perdata dengan hukum publik karena menurut sistem hukum Islam pada Hukum perdata terdapat segi-segi publik begitu juga sebaliknya, pada hukum publik ada segi-segi perdatanya.

Al Qur’an yang terdiri dari 30 juz dan 114 surat dan 6666 ayat sebagian surat, dan ayatnya turun di Mekkah, sebanyak 86 surat dan sebagian surat dan ayat turun di Mekkah, sebagian surat dan ayat turun di Madinah sebanyak 28 surat. Dimulai dengan surah Al Fatihah dan ditutup dengan surah An Nas. Ayat-ayat Al Qur’an yang turun di Madinah, surahnya cenderung lebih panjang dibanding surah Makiyah karena lebih mengandung muamalah. Ayat-ayat Al Qur’an yang turun di Madinah mengandung hukum-hukum (syari’at) antara lain hukum pemerintahan, hukum hubungan antara orang-orang muslim dan non muslim mengenai perjanjian dan perdamaian.

Pada kenyataanya, saat ini kita temui bermacam-macam buku tafsir Al Quran, perbedaan keahlian orang yang menyusun tafsir memberi corak tersendiri kepada tafsir yang disusunnya hal itu disebakan oleh padatnya kata-kata dalam ayat Al Quran dan mengandung makna yang tidak mudah dipahami. Tafsir Al Quran pun berkembang terus dari massa ke massa. Namun perlu diingat baik-baik bahwa bagaimanapun baiknya penjelasan, tafsiran atau terjemahan Al Qur’an bukanlah Al Qur’an, karena tafsiran atau terjemahan Al Qur’an tidak sama dan tidak boleh disamakan dengan Al Qur’an.

Menafsiri sebuah surat atau ayat dengan lafazh Al Qur’an dengan lafazh Arab sebagai sinonim lafazh-lafazh Al Qur’an, yang bisa memberikan makna seperti lafazzh asalnya, tidaklah kemudian lafazh- lafazh sinonim itu termasuk Al Qur’an sekalipun penafsiran itu sudah sesuai dengan makna yang ditafsiri karena Al Qur’an terdiri dari lafazh- lafazh Arab yang khusus. Penafsiran/terjemahan tidak pula mendapat ketetapan hukum-hukum Al Qur’an. Penafsiran/terjemahan hanya boleh dianggap sebagai penjelas makna Al Qur’an.

2. Hadits dan Sunnah Rasul

Hadits merupakan sumber hukum Islam setelah Al Qur’an, karena melalui kitab-kitab hadits seorang Muslim mengenal Nabi dan isi Al Qur’an. Tanpa Hadits atau sering juga disebut As Sunnah, sebagian besar isi Al Qur’an akan tersembunyi dari mata manusia. Antara Al Qur’an dengan As Sunnah tidak boleh dicerai pisahkan.

Dalam perkatan sehari-hari, hadits dan Sunnah adalah sama, namun para ahli ada yang membedakannya. Hadits artinya kabar, berita atau baru. Jika dihubungkan dengan nabi artinya kabar, berita mengenai sesuatu dari nabi. Sunnah, menurut beberapa ahli hukum Islam adalah kebiasaan yang terdapat dalam masyarakat Arab, Sunnah dalam pengertian ini disebut Sunatut taqrir, sunnah dalam bentuk pendiaman nabi tanda menyetujui sesuatu perbuatan atau hal. Setelah Islam berkembang, kebiasaan orang Arab ini ada pula yang diubah Nabi dan kemudian oleh para sahabatnya. Hadits adalah keterangan resmi yang berasal dari Nabi yang disampaikan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sunnah Rasul ada yang berupa sunnah qauliyah (perkataan Rasul), sunnah fi’liyah (perbuatan Rasul) dan Sunnah taqririyah atau sunnah sukutiyah (sikap diam Rasulullah). Hadits-hadits terkumpul dalam kitab-kitab hadits, yang terkemuka adalah al-kutub al sittah (kitab-kitab hadits yang disusun oleh enam orang muhaddis) yaitu: Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tarmizi, Ibnu Majah, Nasa’i.

Hadits atau Sunnah Rasul yang terdapat dalam kitab-kitab hadits terdiri dari dua bagian, yaitu :

1. Isnad/sanad merupakan sandaran dari suatu hadits yaitu orang-orang yang menjadi mata rantai penghubung yang menyampaikan hadits itu sejak dari Rasul sampai kepada ahli hadits yang membukukannya.

2. Matan yaitu materi atau isi hadits atau sunnah. Dalam penilaian untuk penggunaan suatu hadits sebagai alasan menetapkan hukum, umumnya oleh ahli Hukum Islam di masa yang lalu
lebih ditekankan pada isnad/sanad, sedangkan Matn diletakkan pada tempat kedua. Menurut pendapat Sayuti Thalib, kedudukan Matan adalah juga sangat penting untuk penafsiran suatu hadits, untuk itu Matan harus mendapat penilaian sama sekuat penilaian atas Isnad/sanad suatu hadits.

Ucapan dan perbuatan Rasul yang dimaksudkan untuk membentuk hukum syariat Islam secara umum dan sebagai tuntutan bagi ummat Islam, haruslah diikuti. Namun ada beberapa yang bukan merupakan syariat, yaitu dalam keadaan tertentu Rasulullah SAW, di antaranya adalah:

  • Hal-hal yang keluar dari Rasulullah SAW yang bersifat kemanusiaan seperti berdiri, duduk, berjalan, tidur, makan, minum. Hal tersebut bukan syariat karena bukan bersumber kepada tugas risalah nya tetapi bersumber dari naluri kemanusiaan. Perlu diperhatikan, jika perbuatan kemanusiaan itu adalah tuntunan, maka perbuatan tersebut termasuk hukum syari’at Islam.

  • Hal-hal yang keluar dari Rasulullah yang bersifat pengetahuan kemanusiaan, kepandaian, dan beberapa eksperimen manusiawi bukan merupakan hukum syariat Islam.

  • Hal-hal yang keluar dari Rasulullah dan ada dalil syar’i yang menunjukkan atas kekhususan bagi Nabi dan bukan tuntunan, maka hal itu bukanlah hukum syariat Islam.

3. Ijtihad Ulil Amri

Ijtihad merupakan pembentukan garis hukum dilakukan oleh ulil-amri. Dalam Surat An-Nisa ayat 59 menurut Satria Effendi M. Zein dipahami dalam dua pengertian:

  1. Ulil amri dalam pengertian umara atau penguasa. Yang dimaksud penguasa adalah petugas-petugas kekuasaan negara Islam. Ketentuan hukum yang dibentuk oleh umara adalah ketentuan hukum ketatanegaraan disebut siyasah syar’iyah. Para umara di antaranya: Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin ’Affan, Ali bin Abi Thalib, Mua’adz bin Jabal, dan lain-lain.

  2. Ulil amri dalam pengertian ulama atau mujtahid atau sebagai pembina hukum (Islam). Walaupun ulama atau mujtahid tidak memegang fungsi dalam lingkungan penguasa, mereka tetap diakui sebagai pembina hukum dan diperintahkan mentaati dan mengikuti hasil-hasil ijtihad mereka dalam menafsirkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul dan mengembangkannya. Beberapa para ahli Hukum Islam yang terkenal di antaranya: Zaid bin Tsabit, Ibnu ’Abbas, Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hanbal, A. Hassan, Hazairin.

Cara mereka menetapkan hukumnya dengan meneliti Bahasa Arab, menafsirkan kata demi kata dan mengetahui dasar Ushul Fiqih. Di samping itu, mereka tidak terlepas daripada dapat membedakan antara hukum adat, hukum akal dan hukum syara’.

Para mujtahid perlu mempunyai syarat sebagai berikut:

  1. Benar-benar mengetahui nash-nash (ketentuan-ketentuan) Qur’an dan Hadits yang berhubungan dengan masalah yang diijtihadkannya.

  2. Benar-benar mengetahui/ mengerti Bahasa Arab yang hendak ditafsirkan serta mengerti susunan Al qur’an sehingga ia dapat mengambil hukum dengan teliti.

  3. Betul-betul tahu dengan ilmu hadits sehingga ia dapat membedakan antara hadits yang dapat menjadi dalil dengan hadits dila’if.

  4. Mengetahui tiang dan dasar utama untuk berijtihad yakni ilmu Ush Fiqh.