© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa saja Strategi pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru ?

srategi pembelajaran

Strategi merupakan suatu garis besar halauan dalam bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan.

Apa saja Strategi pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru ?

Strategi pembelajaran merupakan pola umum kegiatan guru-peserta didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.

Strategi pembelajaran, menurut Molyono, dalam bukunya yang berjudu Strategi Pembelajaran (2012), meliputi sembilan aktivitas dalam pembelajaran, yaitu :

1. Menarik Perhatian Peserta Didik

Menarik perhatian siswa adalah langkah paling utama yang dilakukan seorang guru, karena dengan menarik perhatian siswa guru telah berhasil menanamkan rasa ketertarikan dalam hati para peserta didik untuk mencintai materi pelajaran yang akan disampaikan, bila siswa sudah mencintai materi pelajarn ynag disampaikan maka suasana pembelajaran akan menjadi menyenagkan. Sebagaimana kita mengetahui bahwa dari suasana belajar yang menyenagkan proses dan prestasi belajar bisa lebih optimal.

2. Memberikan Informasi Tujuan Pembelajaran Pada Peserta Didik

Maksud utama memberikan informasi tentang tujuan pembelajaran pada peserta didik adalah untuk memberikan gambaran secara umum tentang manfaat mempelajari sebuah materi yang akan dibahas. Hal ini perlu karena dengan menyebutkan tujuan pembelajaran para murid bisa mengetahui arahan ke mana maksud pembelajaran dimaksudkan.

3. Mengulang Pembelajaran Yang Bersifat Prasyarat Untuk Memastikan Peserta Didik Menguasainya

Pengulangan ini diperlukan karena tidak semua siswa dapat langsung memahami sebuah penjelasan yang dipaparkan seorang guru dengan sekali penjelassan, hal ini berkaitan dengan daya tangkap masing- masing siswa terhadap materi pelajaran yang berbeda-beda. Sehingga untuk mengakomodasi kemungkinan-kemungkinan tidak meratanya daya tangkap seluruh siswa ada baiknya bila seorang guru memberikan pengulangan terhadap materi yang telah disampaikan.

4. Memberikan Stimulus

Stimulus berguna untuk memacu motivasi peserta didik untuk semakin maju dan berprestasi. Stimulus bisa bersifat materi maupun non materi. Stimulus yang bersifat materi bisa berupa pemberian hadiah kongkret pada siswa yang memiliki perestasi, seperti memberi sebuah buku atau alat tulis tertentu, hal ini secara tidak langsung memberi stimulus bagi kawan-kawan yang lain untuk lebih meningkatkan prestasi mereka. Demikian pula dengan stimulus yang bersifat non materi seperti memberikan pujian pada peserta didik yang berprestasi atau dengan memberikan kisah-kisah orang sukses yang bisa membangkitkan inspirasi.

5. Memberi Petunjuk Cara Mempelajari Materi yang Bersangkutan

Terkadang suatu materi yang akan dipelajari menyimpan kekaburan atau belum jelas maksud tujuanya bagi siswa, maka dari itu seorang guru juga harus memperhartikan tentang cara mempelajari materi yang diberikan olehnya, semisal hubungan sebab dengan akibat atau definisi degan contoh dan lain sebagainya.

6. Menunjukkan Kinerja Peserta Didik Terkait Dengan Apa Yang Sudah Disampaikan

Kinerja peserta didik terhadap apa yang telah disampaikan seorang guru adalah cerminan keberhasilan dari guru itu sendiri, artinya bila siswa berhasil merespon apa yang telah disampaikan guru dengan baik berupa pemahaman, penguasaan dan kecakapan khusus itu semua adalah indikator keberhasilan, sebaliknya respon negatif dari siswa adalah indikator kurang berhasilnya seorang guru dalam mengelola kelas atau membimbing sebuah pembelajaran.

7. Memberikan Umpan Balik Terkait Dengan Kinerja Atau Tingkat Pemahaman Peserta Didik

Memberi umpan balik dimaksudkan memberi respon terhadap sejauh mana seorang siswa berhasil menyerap materi, bila seorang siswa mampu menyerap materi dengan baik maka konsekuensinya adalah sang guru memberi reward atau pijian kepada siswa yang berhasil tersebut sebaliknya bila siswa mengalami kelambatan dalam menyelesaikan atau mengikuti pembelajaran maka guru berusaha untuk lebih intens dalam membina siswa tersebut.

8. Memberikan Penilaian,

Penilaian sifatnya penting untuk mengukur sejauh mana tingkat penangkapan dan penguasaan seorang siswa didik terhadap materi yang diajarkan, melalui serangkaian metode yang ada para guru bisa mengevaluasi keberhasilan siswa dalam mengikuti sebuah pembelajaran, disamping juga dengan penilaian seorang guru bisa memngevaluasi metode pembelajaran yang ia terpkan selama ini, sudah idealkah atau masih memerlukan perbaikan dan penyempurnaan.

9. Memberikan Kesimpulan.

Memberikan kesimpulan memegang peran yang penting karena lewat pemberian kesimpulan seorang siswa bisa mendapatkan gambaran secara garis besar akan apa yang mereka pelajari, hal ini juga bisa mempermudah seorang siswa mengingat dan menghubungkan satuan pelajaran dalam poin-poin yang sistematis.

Pengertian Strategi Pembelajaran


Strategi pembelajaran menurut Frelberg & Driscoll (1992) dapat digunakan untuk mencapai berbagai tujuan pemberian materi pelajaran pada berbagai tingkatan, untuk siswa yang berbeda, dalam konteks yang berbeda pula. Gerlach & Ely (1980) mengatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup, dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa. Dick & Carey (1996) berpendapat bahwa strategi pembelajaran tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pembelajaran. Strategi pembelajaran terdiri atas semua komponen materi pelajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran tertentu.

Strategi pembelajaran juga dapat diartikan sebagai pola kegiatan pembelajaran yang dipilih dan digunakan guru secara kontekstual, sesuai dengan karakteristik siswa, kondisi sekolah, lingkungan sekitar serta tujuan khusus pembelajaran yang dirumuskan. Gerlach & Ely (1980) juga mengatakan bahwa perlu adanya kaitan antara strategi pembelajaran dengan tujuan pembelajaran, agar diperoleh langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang efektif dan efisien. Strategi pembelajaran terdiri dari metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin bahwa siswa akan betul-betul mencapai tujuan pembelajaran. Kata metode dan teknik sering digunakan secara bergantian. Gerlach & Ely (1980) mengatakan bahwa teknik (yang kadang- kadang disebut metode) dapat diamati dalam setiap kegiatan pembelajaran. Teknik adalah jalan atau alat ( way or means ) yang digunakan oleh guru untuk mengarahkan kegiatan siswa ke arah tujuan yang akan dicapai. Guru yang efektif sewaktu-waktu siap menggunakan berbagai metode (teknik) dengan efektif dan efisien menuju tercapainya tujuan.

Metode, menurut Winarno Surakhmad (1986) adalah cara, yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Hal ini berlaku baik bagi guru (metode mengajar) maupun bagi siswa (metode belajar). Makin baik metode yang dipakai, makin efektif pula pencapaian tujuan. Namun, metode kadang-kadang dibedakan dengan teknik. Metode bersifat prosedural, sedangkan teknik lebih bersifat implementatif, maksudnya merupakan pelaksanaan apa yang sesungguhnya terjadi (dilakukan guru) untuk mencapai tujuan. Contohnya, guru A dan guru B sama-sama menggunakan metode ceramah, keduanya mengetahui bagaimana prosedur pelaksanaan metode ceramah yang efektif, tetapi hasil guru A berbeda dengan guru B karena teknik pelaksanaannya yang berbeda. Jadi, tiap guru mempunyai teknik yang berbeda dalam melaksanakan metode yang sama.

Marilah kita tinjau kembali pengertian strategi yang telah diuraikan tersebut di atas. bahwa strategi terdiri dari metode dan teknik atau prosedur yang menjamin siswa mencapai tujuan. Dari uraian tersebut jelaslah bahwa strategi pembelajaran lebih luas daripada metode dan teknik pembelajaran.

Metode dan teknik pembelajaran merupakan bagian dari strategi pembelajaran. Untuk lebih memperjelas perbedaan tersebut, ikutilah contoh berikut.
Dalam suatu Satuan Acara Perkuliahan (SAP) untuk mata kuliah “Metode-metode Mengajar bagi Mahasiswa Program Akta Mengajar”, terdapat suatu rumusan tujuan khusus pembelajaran sebagai berikut “Mahasiswa calon guru diharapkan dapat mengidentifikasi minimal empat bentuk diskusi sebagai metode mengajar”. Strategi yang dipilih untuk mencapai tujuan tersebut, misalnya:

  • Mahasiswa diminta mengemukakan empat bentuk diskusi yang pernah dilihatnya, secara kelompok.
  • Mahasiswa diminta membaca dua buah buku tentang bentuk-bentuk diskusi dari beberapa buku.
  • Mahasiswa diminta mendemonstrasikan cara-cara berdiskusi sesuai dengan bentuk yang dipelajari, sedangkan kelompok yang lain mengamati sambil mencatat kekurangan-kekurangannya untuk didiskusikan setelah demonstrasi selesai.
  • Mahasiswa diharapkan mencatat hasil diskusi kelas.

Dari contoh tersebut dapat dilihat bahwa kegiatan no. c dan d adalah teknik pembelajaran, dengan menggunakan metode demonstrasi dan diskusi. Seluruh kegiatan tersebut di atas merupakan strategi yang disusun guru untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam mengatur strategi, guru dapat memilih berbagai metode, seperti ceramah, tanya jawab, diskusi, dan demonstrasi. Berbagai media, seperti film, VCD, kaset audio, dan gambar, dapat digunakan sebagai bagian dari teknik-teknik yang dipilih oleh guru.

Teori Strategi Pembelajaran


Crowl, Kaminsky & Podell (1997) mengemukakan tiga pendekatan yang mendasari pengembangan strategi pembelajaran. Pertama, Advance Organizers dari Ausubel, yang merupakan pernyataan pengantar yang membantu siswa mempersiapkan kegiatan belajar baru dan menunjukkan hubungan antara apa yang akan dipelajari dengan konsep atau ide yang lebih luas. Kedua, Discovery learning dari Bruner, yang menyarankan pembelajaran dimulai dari penyajian masalah dari guru untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelidiki dan menentukan pemecahannya. Ketiga, peristiwa-peristiwa belajar dari Gagne.

1.Belajar Bermakna dari Ausubel

Ausubel (1977) menyarankan penggunaan interaksi aktif antara guru dengan siswa yang disebut belajar verbal yang bermakna ( meaningful verbal learning ) atau disingkat belajar bermakna pembelajaran ini menekankan pada ekspositori dengan cara, guru menyajikan materi secara eksplisit dan terorganisasi. Dalam pembelajaran ini, siswa menerima serangkaian ide yang disajikan guru dengan cara yang efisien.

Model Ausubel ini mengedepankan penalaran deduktif , yang mengharuskan siswa pertama-tama mempelajari prinsip-prinsip, kemudian belajar mengenal hal-hal khusus dari prinsip-prinsip tersebut. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa seseorang belajar dengan baik apabila memahami konsep-konsep umum, maju secara deduktif dari aturan-aturan atau prinsip- prinsip sampai pada contoh-contoh.

Pembelajaran bermakna dari Ausubel menitikberatkan interaksi verbal yang dinamis antara guru dengan siswa. Guru memulai dengan suatu advance organizer (pemandu awal), kemudian ke bagian-bagian pembelajaran, selanjutnya mengembangkan serangkaian langkah yang digunakan guru untuk mengajar dengan ekspositori.

2. Advance Organizer

Guru menggunakan advance organizer untuk mengaktifkan skemata siswa (eksistensi pemahaman siswa), untuk mengetahui apa yang telah dikenal siswa, dan untuk membantunya mengenal relevansi pengetahuan yang telah dimiliki. Advance organizer memperkenalkan pengetahuan baru secara umum yang dapat digunakan siswa sebagai kerangka untuk memahami isi informasi baru secara rinci Anda dapat menggunakan advance organizer untuk mengajar bidang studi apa pun.

3. Discovery Learning dari Bruner

Teori belajar penemuan ( discovery ) dari Bruner mengasumsikan bahwa belajar paling baik apabila siswa menemukan sendiri informasi dan konsep- konsep. Dalam belajar penemuan, siswa menggunakan penalaran induktif untuk mendapatkan prinsip-prinsip, contoh-contoh. Misalnya, guru menjelaskan kepada siswa tentang penemuan sinar lampu pijar, kamera, dan CD, serta perbandingan antara invention dengan discovery (misalnya, listrik, nuklir, dan gravitasi). Siswa, kemudian menjabarkan sendiri apakah yang dimaksud dengan invention dan bagaimana perbedaannya dengan discovery .

Dalam belajar penemuan, siswa “menemukan” konsep dasar atau prinsip-prinsip dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang men- demonstrasikan konsep tersebut. Bruner yakin bahwa siswa “memiliki” pengetahuan apabila menemukan sendiri dan bertanggung jawab atas kegiatan belajarnya sendiri, yang memotivasinya untuk belajar.

4. Peristiwa-peristiwa Belajar menurut Gagne

Gagne (dalam Gagne & Driscoll, 1988) mengembangkan suatu model berdasarkan teori pemrosesan informasi yang memandang pembelajaran dari segi 9 urutan peristiwa sebagai berikut.

  • Menarik perhatian siswa.
  • Mengemukakan tujuan pembelajaran.
  • Memunculkan pengetahuan awal.
  • Menyajikan bahan stimulasi.
  • Membimbing belajar.
  • Menerima respons siswa.
  • Memberikan balikan.
  • Menilai unjuk kerja.
  • Meningkatkan retensi dan transfer.