Apa saja risiko yang akan dihadapi oleh seorang investor saham di suatu perusahaan?

Seperti yang kita ketahui, investasi saham bukan lagi hal baru dalam dunia investasi. Saham merupakan suatu surat/ bukti yang menunjukkan suatu bagian dari kepemilikan suatu perusahaan. Investasi saham berarti kita menanamkan modal pada perusahaan tersebut.

Memang benar, banyak keuntungan yang bisa diperoleh dari investasi tersebut. Namun banyak pula risiko yang akan dihadapi.Lalu bagaimana risiko yang akan dihadapi oleh para investor saham tersebut?

Selain banyak keuntungan, investasi saham juga memiliki risiko yang tidak bisa diremehkan. Beberapa risiko yang mungkin dihadapi oleh investor saham, antara lain:

  1. Risiko Ekonomi
    Salah satu risiko investasi yang paling jelas adalah bahwa ekonomi bisa jadi memburuk. Setelah bangkrutnya pasar pada tahun 2000 dan serangan teroris pada tahun 2001, ekonomi bertahan dalam masa krisis.

    Bagi investor muda, jika kita dapat meningkatkan posisi kita di perusahaan yang baik, hal ini mungkin merupakan saat yang tepat untuk melakukannya.
    Saham asing bisa menjadi suatu titik terang saat pasar domestik berada di titik rendah. Berkat globalisasi, beberapa perusahaan Amerika Serikat memperoleh sebagian besar keuntungan mereka di luar negeri.

  2. Inflasi dan Kenaikan Suku Bunga
    Inflasi adalah pajak atas semua orang. Inflasi merugikan investor seringkali terhadap pendapatan tetap karena mengikis nilai arus pendapatan mereka. Saham merupakan perlindungan terbaik terhadap inflasi karena perusahaan dapat menyesuaikan harga dengan tingkat inflasi.

    Resesi global mungkin berarti saham akan berjuang untuk jangka waktu yang lama sebelum ekonomi cukup kuat untuk menghasilkan harga yang lebih tinggi. Ini bukan solusi yang tepat, tapi karena itulah investor pensiunan pun harus mempertahankan beberapa aset mereka di saham. Kenaikan suku bunga dan inflasi yang dikombinasikan dengan konsumen yang lemah dapat menyebabkan ekonomi melemah, dan dalam beberapa kasus, terjadi stagflasi. Stagflasi adalah kondisi dimana pertumbuhan ekonomi sekitar 0% per tahun dan harga-harga barang mengalami kenaikan secara signifikan dalam waktu yang lama.

  3. Risiko Nilai Pasar
    Risiko nilai pasar mengacu pada apa yang terjadi saat pasar berbalik atau mengabaikan investasi kita.Ini terjadi ketika pasar memburu “the next hot thing” dan meninggalkan banyak perusahaan yang bagus namun tidak menarik. Beberapa investor menganggap ini hal yang baik dan melihatnya sebagai peluang untuk mengisi saham besar pada saat pasar tidak menawar harga. Di sisi lain, tidak memajukan tujuan kita untuk mengawasi/ menjaga investasi rata-rata tiap bulan sementara bagian lain dari pasar naik.

    Oleh karena itu, jangan melakukan semua investasi hanya di satu sektor ekonomi. Dengan menyebarkan investasi ke beberapa sektor, investor memiliki kesempatan yang lebih baik untuk berpartisipasi dalam pertumbuhan sebagian saham pada satu waktu.

  4. Terlalu Konservatif
    Tidak ada yang salah dengan menjadi investor konservatif atau menjadi investor hati-hati. Namun, jika investor tidak pernah mengambil risiko, mungkin sulit mencapai tujuan keuangan mereka. Menyimpan semuanya dalam tabungan mungkin tidak akan menyelesaikan masalah (pekerjaan).

  5. Risiko Harga Komoditas
    Perusahaan yang menjual komoditas mendapatkan keuntungan saat harga naik, namun menderita saat mereka turun. Perusahaan yang menggunakan komoditas sebagai input melihat efek sebaliknya. Namun, bahkan perusahaan yang tidak ada hubungannya dengan komoditas, menghadapi risiko komoditas.

  6. Risiko Utama
    Risiko utama adalah risiko bahwa berita di media mungkin akan merugikan bisnis perusahaan. Dengan penyebaran berita tanpa henti dari dunia ini, tidak ada perusahaan yang aman dari risiko utama. Sedikit kabar buruk dapat menyebabkan reaksi balik pasar terhadap perusahaan tertentu atau keseluruhan sektor, bahkan seringkali keduanya. Berita buruk skala yang lebih besar - seperti krisis hutang di beberapa negara zona euro pada 2010 dan 2011 - dapat memberikan pelajaran untuk seluruh ekonomi, apalagi saham, dan memiliki efek nyata pada ekonomi global.

Sumber:

Pasar saham sebenarnya menawarkan peluang yang baik bagi anda dalam berinvestasi dan memperoleh keuntungan. Namun, tidak sedikit juga yang masih ragu untuk berinvestasi pada sektor ini. Sifatnya yang cenderung fluktuatif dan cenderung tak menentu adalah salah satu alasannya.

Market-risks

Namun jika anda merasa diri anda cukup potensial dan berani mengambil langkah maju pada bidang ini, anda tidak perlu takut dan terbelenggu dengan ketakutan yang ada. Rahasianya adalah cukup mempelajari market dan resiko yang ada. Setidaknya, ada tiga resiko utama yang dapat di evaluasi :

  • Market Risk
    Merupakan risiko yang timbul akibat kondisi perekonomian negara yang berubah-ubah yang dipengaruhi oleh resesi dan kondisi perekonomian lain. Ketika security market index meningkat secara terus-menerus selama jangka waktu tertentu, trend yang menaik ini disebut bull market. Sebaliknya, ketika security market index menurun secara terus-menerus selama jangka waktu tertentu, trend yang menurun ini disebut bear market. Dengan kekuatan bull market dan bear market ini cenderung mempengaruhi semua saham secara sistematis, sehingga imbalan pasar menjadi berfluktuasi.

  • Inflation Risk / Purchasing power risk
    Merupakan risiko yang timbul akibat pengaruh perubahan tingkat inflasi, di mana perubahan ini akan menyebabkan berkurangnya daya beli uang yang diinvestasikan maupun bunga yang diperoleh dari investasi. Sehingga menyebabkan nilai riil pendapatan akan lebih kecil.

  • Liquidity Risk
    Risiko ini berkaitan dengan kemampuan saham yang bersangkutan untuk dapat segera diperjualbelikan tanpa mengalami kerugian yang berarti.

**sumber: **
https://marketrealist.com/2014/09/must-know-three-key-risks-stock-market-investing

Dalam berinvestasi, para investor akan menghadapi berbagai macam risiko yang harus dipertimbangkan. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Risiko Kerugian Modal

    Ketika sebuah perusahaan berkinerja buruk atau ketika persepsi pasar perusahaan negatif, harga saham mungkin turun di bawah harga yang investor bayar untuk saham tersebut atau bahkan sampai nol. Jika sebuah perusahaan kehabisan bisnis, sahamnya akan menjadi tidak dapat dihemat dan kemungkinan akan dilumpuhkan. Bila likuidator ditunjuk, pemegang saham terakhir masuk dalam daftar kreditur lain (misalnya Bank, pemasok, dll) untuk menerima dana yang mungkin direalisasikan.

  2. Risiko Volatilitas

    Harga saham bisa sangat fluktuatif dan investor harus sadar bahwa saham mereka mungkin berfluktuasi secara signifikan dalam harga dalam waktu singkat. Ini bisa berlaku untuk saham, sektor atau pasar tersendiri.

  3. Risiko pasar

    Ini adalah kesempatan bahwa seluruh pasar akan menurun, sehingga mempengaruhi harga dan nilai sekuritas. Risiko pasar, pada gilirannya, dipengaruhi oleh faktor luar seperti perubahan suku bunga.

  4. Risiko Khusus Sektor

    Ini adalah risiko yang terjadi saat sektor tertentu mengalami malaise, misalnya industri penerbangan mengenai berita serangan teroris. Namun, periode kelemahan semacam itu bisa memberi kesempatan membeli. Investor yang ada harus memutuskan apakah mereka siap menghadapi masalah tersebut atau apakah mereka harus menjual saham mereka untuk mengantisipasi penurunan lebih lanjut.

  5. Risiko Khusus Saham

    Serupa dengan risiko sektor tertentu, inilah risiko yang terjadi ketika investasi tertentu akan mengalami penurunan harga saham karena arus berita negatif atau sentimen buruk terhadap perusahaan. Ini biasanya mengikuti pernyataan perdagangan yang lemah atau mungkin perubahan dalam manajemen yang tidak begitu dirasakan oleh pasar.

  6. Risiko Waktu

    Inilah risiko investor membeli atau menjual saham pada waktu yang salah. Tidak semua sektor pasar mengikuti siklus harga yang sama. Memahami siklus bisnis dan bagaimana kinerja perusahaan yang berbeda selama fase siklus bisnis yang berbeda dapat membantu mengelola dampak risiko waktu.

  7. Risiko Nilai Tukar

    Ini adalah risiko bahwa investasi dalam mata uang asing akan kehilangan nilainya saat dikonversi ke mata uang lokal investor, karena pergerakan nilai tukar antara kedua mata uang tersebut.

  8. Risiko global

    Pasar saham sangat terbuka dan oleh karena itu dipengaruhi oleh isu-isu ekonomi di semua pasar utama. Oleh karena itu, Anda terpapar pada peristiwa ekonomi di seluruh dunia dan perlu faktor ini ke dalam penilaian risiko investor.

  9. Kelalaian perusahaan

    Perusahaan yang investor berikan investasi mungkin memiliki pengelolaan yang tidak benar atau melakukan transaksi yang mereka anggap merugikan kepentingan mereka sebagai pemegang saham. Contohnya perusahaan membeli aset bernilai lebih. Regulator biasanya tidak melakukan intervensi dalam keputusan komersial perusahaan yang terdaftar asalkan tidak ada pelanggaran peraturan.

  10. Risiko kebijakan

    Perubahan dalam kebijakan dan peraturan pemerintah, dapat berdampak besar pada saham di sektor atau industri terkait.

Meskipun investor tidak dapat benar-benar menghindari risiko, mereka dapat mengambil langkah untuk mengelolanya. Mereka harus tahu apa yang mereka beli dan apakah harganya terjangkau. Penting untuk dipertimbangkan apakah perusahaan yang terdaftar dapat mencapai keuntungan yang berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan harga saham dalam jangka panjang.

Selain itu investor sebaiknya tidak melakukan hal diluar kemampuan mereka. Mereka harus mengelola eksposur risiko mereka berdasarkan tujuan investasi, tingkat toleransi risiko dan posisi keuangan mereka.

SUMBER:


http://www.davyselect.ie/investment-choices/risks/risks-of-investing-in-shares.html

Sikap investor yang mengharapkan return tertentu haruslah mempertimbangkan berapa besar risiko yang harus ditanggung dari invetasi tersebut. Umumnya makin besar return harapan maka semakin besar risiko yang harus ditanggung.

Berikut adalah risiko yang dihadapi investor berdasarkan sumber dari terjadinya risiko

Menurut Tandelin (2010), ada beberapa sumber risiko yang mempengaruhi besarnya risiko suatu investasi, sumber-sumber tersebut adalah :

  1. Interest Risk adalah Risiko yang berasal dari variabilitas return akibat perubahan tingkat suku bunga. Perubahan tingkat suku bunga ini berpengaruh negative terhadap harga sekuritas.

  2. Market Risk adalah Risiko yang berasal dari variabilitas return karena fluktuasi
    dalam keseluruhan pasar sehingga berpengaruh pada semua sekuritas.

  3. Inflation Risk adalah Suatu faktor yang mempengaruhi semua sekuritas adalah purchasing power

  4. Bussiness Risk adalah Risiko yang ada karena melakukan bisinis pada industry
    tertentu.

  5. Financial Risk adalah Risiko yang timbul karena penggunaan laverage fnancial
    oleh perusahaan.

  6. Liquidity Risk adalah Risiko yang berhubungan dengan pasar sekunder tertentu dimana sekuritas diperdagangkan. Suatu investasi jika dapat dibeli dan dijual dengan cepat tanpa perubahan harga yang signifkan, maka investasi tersebut dikatakan likuid, demikian sebaliknya.

  7. Exchange Risk adalah Risiko yang berasal dari variabilitas return sekuritas karena fluktuasi kurs currency.

  8. Country Risk adalah Risiko ini menyangkut politik suatu Negara sehingga mengarah pada political risk

SUMBER :
120-73-355-1-10-20170731.pdf (200,3 KB)

Ada beberapa risiko yang akan dihadapi oleh investor ketika membeli saham suatu perusahaan, diantaranya :

1. Biaya Transaksi yang Lebih Tinggi

Salah satu penghalang terbesar untuk berinvestasi di pasar internasional adalah biaya transaksi yang tinggi. Meskipun kita hidup di dunia yang relatif global dan terkoneksi, biaya transaksi masih dapat sangat bervariasi tergantung pada pasar luat negeri yang Anda investasikan. Selain itu, di atas komisi broker yang lebih tinggi, seringkali ada biaya tambahan yang ditumpuk di atas hal yang spesifik untuk pasar lokal, yang dapat mencakup bea materai, retribusi, pajak, biaya kliring dan biaya pertukaran.

Sebagai contoh, yaitu rincian umum dari pembelian saham tunggal di Hong Kong oleh investor A.S :
1

2. Volatilitas Mata Uang

Area selanjutnya yang harus menjadi perhatian investor yaitu volatilitas mata uang. Saat berinvestasi langsung di pasar luar negeri, Anda harus menukar mata uang domestik menjadi mata uang asing dengan nilai tukar saat itu untuk membeli saham asing. Jika Anda memegang saham asing itu selama setahun dan menjualnya, Anda harus mengkonversikan mata uang asing kembali ke mata uang domestik Anda pada kurs yang berlaku setahun kemudian.Ini merupakan ketidakpastian dari nilai tukar mata uang yang akan membuat banyak investor takut.

Solusi untuk mengurangi risiko mata uang ini dengan hanya melakukan perlindungan nilai terhadap eksposur mata uang Anda. Namun, tidak banyak investor ritel yang tahu bagaimana cara melindungi nilai risiko mata uang dan produk mana yang akan digunakan.

3. Risiko Likuiditas

Risiko lain yang melekat di pasar luar negeri, terutama di negara berkembang adalah risiko likuiditas. Risiko likuiditas adalah risiko tidak bisa menjual saham Anda dengan cukup cepat begitu order sell masul. Oleh karena itu, investor harus memberikan perhatian khusus pada investasi asing yang tidak likuid pada saat mereka ingin menutup posisi mereka.

Salah satu cara untuk mengevaluasi likuiditas aset sebelum membeli yaitu dengan hanya mengamati spread permintaan bid-ask dari waktu ke waktu. Aset likuid akan memiliki spread bid-ask yang lebih luas dibandingkan dengan aset lainnya. Spread yang sempit dan volume tinggi biasanya menunjukkan likuiditas yang lebih tinggi.

SUMBER :

Resiko bagi pemegang saham yang paling dominan adalah penurunan dari harga saham itu sendiri. selain itu, resiko bila sewaktu-waktu perusahaan bangkrut juga bisa saja terjadi.

Di antara resiko yang mungkin dialami oleh seorang investor saham dari penurunan harga saham adalah:

1. Kinerja perusahaan yang tidak dapat dipertahankan

Sering kali seorang investor yang membeli saham kemudian tidak diawasi secara berkala, sekalipun sebelumnya fundamental perusahaan tampak bagus, maka jika sewaktu-waktu laba dari perusahaan tersebut anjlok maka cepat atau lambat harga sahamnya pun akan turun.

Cara mengatasinya adalah dengan mengecek secara berkala saham yang telah dibeli, bisa sebulan sekali atau minimal setelah perusahaan merilis laporan keungan terbarunya.

2. Sentimen negatif

Ada banyak faktor dari sentimen negatif ini, di antaranya karena kondisi ekonomi global maupun makro yang bermasalah maka bisa saja berdampak pada saham tertentu yang terkait dengan sentimen tersebut. Sebagai contoh, ada isu bahwa batu bara tidak akan lagi digunakan di negara Cina, nah jika informasi tersebut disebar di berbagai media maka besar tidaknya akan berdampak juga pada saham yang terkait dengan sektor tersebut.

3. Sektor yang lagi lesu

Terkadang juga ada saham yang lagi hot sektornya kemudian kita beli bisa saja di periode selanjutnya harganya akan jatuh kalau sektornya juga lagi lesu. Contoh paling sering adalah pada saham tambang seperti batu bara, terkadang walau kinerja perusahaan masih bagus tapi karena sektornya lagi tidak baik, mislanya harga batu bara lagi turun, maka biasanya harga sahamnya juga akan ikut turun.

4. IHSG yang lagi anjlok

Terkadang banyak saham, khususnya saham bluechip, sekalipun fundamentalnya bagus, kalau IHSG terkoreksi maka saham tersebut juga akan ikut urun dan ini harus diantisipasi dengan cut loss atau pun average down jika memang fundamentalnya tidak bermasalah.

Sumber:
https://analis.co.id/resiko-investasi-cara-mengatasi-kerugian-saham.html

Dua unsur yang melekat pada setiap modal atau dana yang diinvestasikan adalah hasil ( return ) dan resiko ( risk ). Ada timbal balik setimbang antara hasil dan resiko, umumnya apabila hasil suatu jenis investasi tinggi maka resikonya pun tinggi. Begitu juga dengan investasi saham yang pada umumnya memiliki resiko dan hasil yang tinggi. Dalam inverstasi saham, terdapat beberapa resiko sebagai berikut :

  • Capital Loss
    Kerugian dari hasil jual beli saham, berupa selisih antara harga jual yang lebih rendah dari harga beli.

  • Tidak mendapat deviden
    Perusahaan akan membagikan deviden jika operasi perusahaan menghasilkan keuntungan. Dengan demikian, perusahaan tidak dapat membagikan deviden jika perusahaan tersebut mengalami kerugian. Dengan demikian potensi keuntungan pemodal untuk mendapatkan deviden ditentukan oleh kinerja perusahaan tersebut.

  • Saham di keluarkan dari bursa (delisting)
    Delisting berarti saham perusahaan di delist dari bursa umumnya karena kinerja perusahaan yang buruk, misalnya dalam kurun waktu tertentu tidak pernah diperdagangkan, mengalami kerugian beberapa tahun, tidak membagikan deviden secara berturut-turut selama beberapa tahun dan berbagai kondisi lainnya sesuai dengan peraturan pencatatan di bursa.

  • Saham suspend
    Suatu saham diberhentikan ( suspend ) perdagangannya oleh otoritas bursa efek. Dengan demikian pemodal tidak dapat menjual sahamnya hingga saham yang di-suspend tersebut dicabut dari status suspend . Suspend biasanya berlangsung dalam waktu singkat misalnya dalam 1 sesi perdagangan, 1 hari perdagangan namun dapat pula berlangsung dalam kurun waktu beberapa hari perdagangan.

    Hal yang menyebabkan saham di-suspend yaitu suatu saham mengalami lonjakan harga yang luar biasa, suatu perusahaan dipailitkan oleh kreditornya, atau berbagai kondisi lainnya yang mengharuskan otoritas bursa menghentikan sementara perdagangan saham tersebut untuk kemudian diminta konfirmasi lainnya. Jika telah didapatkan suatu informasi yang jelas, maka status suspend atas saham tersebut dapat dicabut oleh bursa dan saham dapat diperdagangkan lagi seperti semula.

  • Resiko Likuidasi
    Resiko likuidasi terjadi apabila perusahaan yang sahamnya dimiliki, dinyatakan bangkut oleh pengadilan atau perusahaan tersebut dibubarkan. Dalam hal ini hak klaim dari pemegang saham mendapatkan prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat dilunasi (dari hasil penjualan kekayaan perusahaan). Jika masih terdapat sisa dari hasil penjualan kekayaan perusahaan tersebut, maka sisa tersebut dibagi secara proporsional kepada seluruh pemengang saham. Namun jika tidak terdapat sisa kekayaan perusahaan, maka pemegang saham tidak akan memperoleh apa-apa. Ini merupakan resiko terberat dari seorang pemegang saham. Untuk itu seorang pemegang saham dituntut untuk secara terus menerus mengikuti perkembangan dari saham perusahaan yang diperdagangkan di pasar modal.

Risiko merupakan kemungkinan perbedaan return aktual dengan retrun yang di harapkan oleh investor. Dengan adanya risiko di harapkan seorang investor bisa mengambil keputusan dengan baik, sehingga bisa meminimalkan risiko investasi sekecil mungkin. Sumber-sumber risiko dalam invetasi saham adalah sebagai berikut:

  1. Risiko pasar, yaitu risiko yang dihadapi oleh investor karena adanya fluktuaktif harga saham, yang bisa berakibatnya turunnya nilai investasi yang ditanamkan. Risiko pasar bisa disebabkan oleh perubahan ekonomi, kerusuhan atau perubahan politik dalam negeri dan lain-lain. b. Risiko inflasi, yaitu risiko yang daya beli, jika inflasi meningkat terlalu drastis pada umumnya investor semakin banyak menahan dana untuk tidak digunakan investasi, karena inflasi yang tinggi bisa menunjukan keleusan ekonomi.

  2. Risiko bisnis, yaitu risiko yang di pengaruhi oleh fundamental perusahaan itu sendiri. Apabila kinerja perusahaan terganggu hal ini juga turut berpengaruh terhadap harga saham perusahaan.

  3. Risiko finansial, yaitu risiko yang berkaitan dengan keputusan perusahaan untuk menggunakan utang dalam struktur modal. Semakin besar proporsi utang, semankin besar risiko finansial perusahaan.

  4. Risiko likuiditas, yaitu berkaitan dengan likuid tidaknya suatu efek. Semakin cepat suatu efek di perdagangkan, semakin likuid efek tersebut dan sebaliknya. Semakin tidak likuid suatu efek, semakin besar pula risiko likuiditas yang dihadapi pemodal.

  5. Risiko nilai tukar mata uang, yaitu risiko yang berkaitan dengan fluktuasi mata uang domestik dengan mata uang negara lainya.

  6. Risiko negara atau risiko politik, yaitu risiko yang berkaitan dengan kondisi politik suatu negara. Bagi perusahaan yang beroperasi di luar negeri, stabilitas politik dan ekonomi negara bersangkutan sangat penting di perhatikan untuk menghindari risiko negara yang terlalu tinggi.

Risiko tidak sistematis adalah risiko yang terkait dengan fluktuasi (yang bisa berubah) dan siklus bisnis dari indrustri tertentu. Setiap indrustri memiliki karakteristik risiko khusus yang dipengaruhi oleh variabel-variabel ekonomi secara spesifik, sehingga perusahaan-perusahaan yang jenis usaha yang sama akan mendapatkan risiko yang tidak sistematis yang sama. Risiko ini juga bisa disebut dengan risiko bisnis. Risiko bisnis dapat di kurangi dengan diversifikasi. Sedangkan risiko sistematis merupakan ekternal dari sebuah bisnis, meliputi inflasi, keadaan ekonomi global dan sebagainya. Risiko-risiko di atas menurut Adri dapat di klasifikasikan menjadi empat hal:

  1. Tidak mendapatkan keuntungan.
  2. Kerugian saat penjualan saham (capital loss).
  3. Risiko likuiditas, likuiditas perusahaan yang minim, sehingga saat dividen harus di bagikan, investor tidak mendapatkan dividen karena likuiditas perusahaan yang sangat minim.
  4. Delisting atau penghapusan saham-saham yang dinilai tidak produktif. Hal ini disebabkan karena tidak lakunya harga saham saat di jual belikan di bursa.

Risiko itu sendiri dapat didefinisikan sebagai kemungkinan penyimpangan dari nilai yang diharapkan. Risiko sering dihubungkan dengan penyimpangan atau deviasi dari outcome yang diterima dengan yang diekspektasi. Risiko merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari return . Risiko dan return memiliki hubungan yang sifatnya positif, dimana semakin besar risiko yang harus ditanggung maka akan semakin besar return yang harus dikompensasikan. Risiko saham dapat di bagi menjadi dua, yaitu :

1 . Risiko sistematik (systematic risk)

Risiko sistematik adalah risiko yang terkait dengan kondisi pasar, sehingga disebut juga risiko pasar. Risiko sistematik merupakan risiko yang tidak dapat dikurangi sekalipun dengan proses diversifkasi. Oleh karena itu risiko sistematik dikatakan juga sebagai undiversified . Risiko sistematik diukur dengan menggunakan beta, yang merupakan pengukur risiko pasar yang relevan untuk menentukan tingkat keuntungan yang diharapkan. Sehingga risiko yang dihadapi dari investasi saham adalah fluktuasi return.

2 . Risiko tidak sistematik (unsystematic risk)

Risiko tidak sistematik yang biasa disebut sebagai risiko unik merupakan risiko yang terkait dengan fluktuasi dan siklus bisnis dari industri tertentu. Setiap industri memiliki karakteristik-karakteristik tersendiri yang dipengaruhi oleh variabel-variabel ekonomi secara spesifik. Oleh karena itu, perusahaan-perusahaan dalam industri yang sama akan menghadapi risiko unik yang sama. Risiko unik ini biasa disebut risiko bisnis, dan dapat diminimalisir dengan melakukan portofolio atau diversifikasi investasi. Karena risiko unik ini dapat direduksi dengan diversikasi, maka risiko unik atau risiko tidak sistematik ini sering disebut sebagai diversified risk .