© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa saja penyebab Gangguan Perilaku Menyimpang Anak atau Conduct Disorder ?

Gangguan Perilaku Menyimpang Anak

Gangguan Perilaku Menyimpang Anak atau Conduct disorder adalah sebuah gangguan perilaku yang menyimpang dan melanggar norma-norma yang telah diajarkan oleh orang tua maupun sekolah. Beberapa contohnya seperti mencuri, berbohong, merusak, dan tindakan kekerasan pada hewan. Conduct disorder biasa terjadi pada anak-anak usia 6-8 tahun, biasanya sering terjadi pada anak perempuan dibandingkan dengan anak laki-laki.

Apa saja penyebab Gangguan Perilaku Menyimpang Anak atau Conduct Disorder ?

Berikut ini adalah penyebab conduct disorder menurut para ahli, diantaranya adalah:

1. Mental (kejiwaan)

Dikarenakan usia anak yang masih belia dan kemampuan mentalnya yang mudah terpengaruh akan hal-hal lainnya menjadikan seorang anak mudah untuk mengalami conduct disorder. Bahkan tak jarang seorang anak mengikuti tindakan tidak baik yang dicontohkan orang lain hanya karena mereka menganggapnya menarik.

2. Emosi

Kurang atau bahkan tak pernah mendapatkan curahan kasih sayang. Keadaan ini membuat kehidupan sang anak gelap-gulita sehingga tak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Hal tersebut akan mengakibatkan anak mengalami kesehatan emosi tidak stabil yang pada akhirnya akan berujung pada conduct disorder. Selain kondisi diatas, ada beberapa kondisi lain yang mempengaruhi emosi anak, diantaranya adalah :

  • Berlebihan dalam memperoleh curahan kasih sayang.
  • Kedengkian, faktor ini kebanyakan muncul dalam diri seorang anak yang memiliki adik baru yang masih bayi.
  • labil sehingga cenderung melakukan hal-hal yang tidak wajar
  • Keinginan memusuhi siapapun yang tidak disukai dan disenanginya.
  • Perasaan bingung dan gelisah.
  • Cenderung melakukan sadisme.
  • Kematian ayah atau ibu
  • Diskriminasi atau merasa dibeda-bedakan serta merasa tidak diperlakukan adil.

3. Pendidikan

Pendidikan adalah suatu proses mengetahui sesuatu yang baru, hal ini memanglah sangat baik untuk dilakukan pada anak Anda. Tetapi ada kalanya kecenderungan menggangu atau menyakiti bersumber dari proses pendidikan. Disini anak belajar dan meniru perbuatan orang lain yang diyakininya dapat dijadikan sarana yang mempermudahnya dalam meraih tujuannya. Yang terpenting adalah kita sebagai orang tua harus mampu memilah mana yang baik bagi anak.

4. Sosial

Anak yang hidup dan dibesarkan di tengah-tengah lingkungan yang dipenuhi tindak kekejaman dan kekerasan akan menyebabkan dirinya mengalami suatu perubahan yang akhirnya berakibat pada conduct disorder. Selain itu ada juga hubungan serta pergaulan yang dijalin bersifat amoral dan asusila. Seorang anak yang masa kanak-kanaknya pernah dizalimi, disakiti, atau dilecehkan secara seksual, pada umumnya akan cenderung menyakiti siapapun yang dianggapnya lemah.

Tidak ada faktor tunggal yang bertanggung jawab terhadap timbulnya prilaku antisosial dan gangguan tingkah laku. Namun, banyak faktor biopsikososial yang turut berperan didalam timbulnya gangguan ini.

Faktor-faktor penyebab yang menyebabkan conduct disorder dapat dibedakan menjadi faktor biologis, faktor individual dan faktor keluarga.

Faktor Biologis

Tempramen merupakan penyebab biologis bagi terbentuknya conduct disorder. Sebagai contoh Moffit dan Lyman mengatakan bahwa hal yang mempengaruhi berkembangnya prilaku yaitu adanya disfungsi neoropsikologi yang berhubungan dengan tempramen sulit yang memicu impulsivitas, perasaan mudah tersinggung dan aktifitas berlebihan pada anak.

Tempramen merupakan gaya karakteristik seseorang dalam melakukan pendekatan dan bereaksi terhadap orang dan situasi dilingkungan. Tempramen dapat diartikan sebagai cara (bagaimana) seseorang melakukan suatu hal.

Bayi berusia 8 minggu sudah menunjukan tanda-tanda perbedaan tempramen yang membentuk bagian penting dalam kepribadiannya. A. Thomas, Chess dan Birch mengidentifikasi 9 komponen yang muncul pada bayi setelah lahir yaitu :

  1. Level aktifitas : bagaimana dan sebanyak mana individu bergerak

  2. Ritme dan keteraturan : sejauh mana suatu siklus biologis dipresiksi, seperti waktu lapar, waktu tidur dan buang air.

  3. Respon mendekat (approach) atau menjauh : bagaimana suatu individu berespon awalnya berespon terhadap stimulasi baru, seperti mainan atau orang baru.

  4. Adaptasi : seberapa mudah suatu respon awal dimodifikasi dengan situasi yang baru atau situasi yang berubah

  5. Ambang responsivitas : berapa banyak stimulus untuk menghasilkan suatu respon.

  6. Intensitas reaksi : seberapa energy individi dalam merespon

  7. Kualitas suasana hati (mood) : apakah individu memperlihatkan

  8. Mayoritas prilaku yang menyenangkan, gembira atau bersahabat atau sebaliknya.

  9. Distrabilitas : sejauh mana stimulasi yang relefan dapat mengubah dan menganggu prilaku individu.

  10. Rentang perhatian dan presistensi : berapa lama suatu individu melakukan aktofitas dan tetap melanjutkan walupun ada hambatan

Berdasarkan 9 komponen tempramen tersebut, para peneliti menetapkan tiga pola temprement yaitu :

  • Tempramen mudah (easy)
  • Tempramen sulit (difficult)
  • Temptramen lambat (slow-to-warm-up)

Penjelasan dari setiap pola tempramen tersebut dalam tabel berikut ini,

Tabel Pola tempramen
Pola tempramen

Menurut A. Thomas dan Chess; Braungart, Plomin, DeFries dan Fulker dkk, bahwa temperament mayoritas di temukan oleh factor hereditas. Menurut A. Thomas dan Chess dalam Diane E. Papalia dan Sally Wendoks Olds, perbedaan individu dengan temperament dasarnya tampaknya tidak ditentukan oleh sikap orang tua atau gender, urutan kelahiran atau kelas sosial. Namun menurut Person-Blennow dan Mc. Neil temperament dapat berubah seiring berjalannya waktu. Hal itu ditunjukan oleh penelitian yang dilakukan oleh New York longitudinal study (NYLS) pada tahun 1984 yang menemukan bahwa individu menunjukan adanya perubahan temperament walaupun 9 aspek dasar temperament yang mereka miliki tetap stabil. Tampaknya terkadang hal itu disebabkan oleh adanya kejadian/pristiwa yang dialami oleh individu atau adanya perbedaan prilaku orang tua dalam mengenali anaknya.

Karakter temperament saja bukanlah faktor tunggal yang menentukan tempranent akhir individu. Hal itu dipengaruhi oleh adanya kesesuaian antara temperament dasar anak dan lingkungan sehinga menentukan apakah perkembangan anak menjadi sehat atau pathologis Anak akan mengalami stress apabila dituntut untuk beprilaku yang berkebalikan dengan temperament dasarnya. Misalnya anak yang sangat aktif dan tinggal di rumah yang kecil diharapkan duduk diam unuk waktu yang lama. Anak yang slow-to-warm-up dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan banyak orang dan situasi baru

Selain itu juga yang berperan dalam pembentukan masalah prilaku pada anak walaupun peran lingkungan tidak dapat di kesampingkan. Selain itu, Charles wenar dan patricia Kering memaparkan faktor biologis lainnya yang juga dapat berperan dalam pembentukan gangguan tinggkah laku pada anak yaitu adanya keracunan pada janin dan masalah psikologis berupa rendahnya denyut jantung dan respon galvanic pada kulit sehingga anak-anak mencari stimulus melalui prilaku tidak terkontrol, adanya faktor biokimia atau hormon.

Faktor Individual

Faktor individual yang berperan dalam pembentukan conduct disorder pada anak yaitu regulasi diri (self regulation) yang kurang terbentuk sejak dini, regulasi emosi yang buruk sehingga anak tidak dapat mengembangkan strategi coping (strategi dalam mengatasi masalah) yang baik untuk mengatasi emosi negatifnya dan mengatur emosinya, kurang berkembangnya pemahaman moral dan empati, kognisi sosial anak yang berkembang dengan buruk, dan penggunaan obat-obatan terlarang. berikutnya yang akan di jelaskan megenai masing-masing faktor tersebut

  1. Regulasi Diri

    Regulasi diri merupakan hal yang penting agar seseorang dapat berfungsi Secara normative dilingkungannya. Harapan lingkungan terdapat kemampuan anak dalam mengontrol dorongan/ impuls dalam dirinya semakin tinggi sesuai dengan bertambahnya usia anak. Oleh karna itu, penanaman control diri sejak usia dini merupakan hal yang penting karena anak usia balita dan prasekola memiliki dorongan yang tinggi untuk semakin memuaskan agresif, seksual dan rasa ingin tahunya. Penelitian Hinswam dan lee menunjukan bahwa anak-anak dengan conduct disorder memiliki kemampuan terbatas dalam menunda dorongan/impuls dan mentoleransi rasa frustasi.

    Anak-anak yang melaksanakan aturan/perintah ibu dengan rela dan sepenuh hati bukan sekedar mematuhi semata, merupakan anak-anak memiliki hubungan emosional timbal-balik yang positif dengan orang tuanya. Pola asuh untuk menanamkan control diri pada anak perlu disesuaikan dengan temperament masing-masing anak. Anak bertemprament sulit merupakan anak yang beresiko memiliki conduct disorder. Untuk meningkatkan regulasi diri pada anak yang bertemprament sulit, dibutuhkan adanya peran orang tua yang besar untuk melibatkan diri dan memberikan dukungan emosional kepada anaknya.

  2. Regulasi Emosi

    Regulasi emosi merupakan bagian dari kontrol diri yang berperan bagi terbentuknya conduct disorder. Anak-anak dengan conduct disorder dalam kondisi keluarga yang bermasalah, mendapat pola asuh yang buruk, dan mengalami konflik tingkat tinggi sehingga mereka memiliki emosi yang kuat namun kurang mendapatkan dukungan untuk mengatasinya dari orang tua juga yang mengalami stres dan tidak terlatih. Oleh karnanya mereka gagal mengembangkan strategi yang tepat untuk mengatur emosi negatif dan mengatur ekspresi mereka. Penelitian lainnya menunjukan bahwa anak dengan conduct disorder mengalami kesulitan dalam mengatur emosinya, terutama kemarahan. Selain itu, anak dengan regulasi emosi yang buruk juga cenderung berespon secara agresif terhadap masalah intrerpersonal yang dihadapinya.

    Selain kontrol emosi yang minimal dapat mengarah kepada terbentuknya conduct disorder, kontrol emosi yang berlebihan dapat berdampak sama. Penelitian terhadap anak perempuan menunjukan bahwa control berlebihan terhadap emosi negatif yang membuat anak menahan amarahnya sekuat mungkin dapat menyebabkan emosi negatif tersebut terlampiaskan pada usia selanjutnya.

  3. Perkembangan Prososial

    Pada saat anak memasuki usia sekolah dasar, anak mulai beranjak dari keadaan cognitive egocentrism (anak dapat memandang dunia dengan sudut pandang orang lain dengan mempertimbangkan hak dan perasasaan orang lain). Prespective-taking yaitu kemampuan untuk melihat berbagai hal dari sudut pandang orang lain, merupakan faktor penting bagi bagi perkembangan dan penalaran moral dan empati. Penalaran moral dan empati dapat mencegah kecenderungan prilaku antisosial dan agresif.

  4. Kognisi Sosial

    Perilaku agresif tidak semua ditentukan oleh faktor pencertus di lingkungan namun kecenderungan agresif ada didalam karakter individu. Agresif berakar pada cognitive schemata yaitu kecenderungan untuk menginterpretasikan dan berespon dari pengalaman masa lalu dan digunakan untuk membimbing prilaku dimasa yang akan datang.

    Anak-anak dengan conduct disorder memiliki definisi dalam mengembangkan strategi untuk mengatasi masalah interpersonal. Selain itu anak-anak dengan conduct disorder juga memiliki cara berbeda untuk merespon informasi sosial. Mereka seringkali salah dalam menginterpretasikan niat/intensi orang lain dilingkungannya sehingga cenderung berespon secara impuls ataupun berlebihan. Mereka juga hanya memiliki sedikit alternative dalam mengatasi masalah interpersonal dan mengharapkan hasil positif dari tindakan agresifnya.

  5. Penggunaan Obat Terlarang

    Penggunaan obat terlarang juga menyumbang terjadinya prilaku kriminal yang serius. hubungan antara conduct disorder cenderung kompleks transaksional. Disatu sisi remaja yang tidak mampu mengatur prilaku dan emosinya dapat merasa tertarik pada tantangan dan sensasi penggunaan obat terlarang. Apabila ia telah menyandu obat terlarang maka ia akan semakin sering terlibat dalam aktifitas illegal untuk mendapatkan obat terlarang dan menjadi bagian dari lingkungan antisosial. Selain itu, bahan yang terkandung dalam alkohol dan obat terlarang dapat memicu seseorang untuk terlibat dalam tindakan beresiko dan illegal.

Faktor Keluarga

Salah satu faktor yang paling berpengaruh gangguan tingkah laku adalah pengaruh lingkungan keluarga. Perilaku anti sosial anak berhubungan dengan :

  • Prilaku antisosial orangtua mereka

  • Strategi disiplin orang tua yang tidak efektif dan tidak konsisten serta lemahnya pengawasan orang tua (kurang tehnik dan keterampilan)

  • Kurang komunikasi dan kasih sayang orang tua atau keluarga dan tigginya konflik keluarga.

Faktor keluarga yang mempengaruhi terbentuknya conduct disorder adalah kelekatan orang tua dan anaknya, masalah dalam rumah tangga, psikopatologi yang dialami orang tua, pola asuh kasar dan penurunan prilaku agresif antara generasi, adanya teori coercion, dan proses transaksional dalam keluarga. Berikut penjelasan mengenai masing-masing faktor :

  1. Attachment

    Kelekatan yang bersifat insecure antara orang tua dan anak ketika bayi mengarah bagi terbentuknya masalah prilaku pada saat anak berusia prasekolah, seperti prilaku kasar dan melawan. Namun menurut Greenberg, dan Spritz dan Deklyen dalam Charles wenar patricia kering, penelitian terakhir belum menemukan adanya dampak langsung dari attachment terhadap prilaku antisosial. walaupun hubungan yang buruk antara orang tua dan anak membaw resiko bagi perkembangan psikopatologi secara umum.

  2. Masalah Dalam Rumah Tangga

    Menurut Shaw dkk dalam Charles Weanar dan Patricia kering, masalah yang terjadi dalam keluarga merupakan subur bagi terbentuknya priklku antisosial untuk mencari perhatian lingkungan, terutama pada anak laki-laki. Anak-anak yang melihat atau mengalami kekerasan dalam rumah tangga akan berpotensi untuk mengembangkan masalah prilaku. Anak juga sering menjadi target kekerasan orang tuanya, misalnya anak yang mengalami ganggua prilaku biasanya merupakan anak yang pernah mendapatkan perlakuan salah dari orang tuanya.

    Gangguan tingkah laku juga berhubungan dengan konflik antara orang tua dan perceraian orang tua walaupun tidak disertai kekerasan. Namun menurut McCord, bukan keadaan broken home sendiri yang menyebabkan masalah prilaku pada anak melaikan kualitas emosional yang ditampilkan antara angfota keluarga. Misalnya anak laki-laki jarang menjadi nakal walaupun hanya diasuh oleh ibu sebagai orang tua tunggal, selama ibu memiliki pola asuh yang baik dan berhubungan yang seportif dengan anak.

    Hal senada juga terungkap dari sebuah studi tentang para ibu bercerai yang depresif dan yang tidak depresif. Forgatch dan Patterson dalam Linda De Forgatch menemukan bahwa para ibu yang depresif secara signifikan lebih mudah marah sehingga tidak efektif dalam menerapkan disiplin dibandingkan dengan ibu yang tidak depretif. Kemudian anak ibu yang depretif lebih agresif dengan anak ibu yang tidak agretif. Study ini memberikan dukungan bagi hubungan antara depretifnya ibu dan sikap mudah marahnya ibu dengan pemberian disiplin yang tidak efektif dan tingkahlaku yang antisosial anak. Keluarga dengan singe; parent juga beresiko terhadap prilaku conduct disorder pada anak. Figur seorang ayah juga sangat dibutuhkan oleh seorang anak. Seorang anak laki-laki tanpa adanya figure seorang ayah akan beresiko terhadap perilaku conduct disorder.

    Kebanyakan dari anak yang agresif dari keluarga yang paling tidak salah satu dari orang tuanya kejam terhadap orang tuanya yang lain, kejam terhadap anak, terhadap saudara-saudaranya ataupu terhadap orang-orang lain diluar keluarga. Kebanyakan anak-anak yang agresif ini mendapat penyiksaan baik secara fisikmaupun emosional.

  3. Psikopatologi Orang Tua

    Orang tua penguna obat-obatan terlarang, terutama ayah kemungkinan besar memicu conduct disorder pada anak. Depresi dialami oleh ibu juga berkaitan dengan masalah gangguan pada anak. Orang tua yang mengalami gangguan kepribadian antisosial juga meningkatkan kemungkinan muncul dan bertahannya gangguan tingkah laku pada anak.

  4. Pola Asuh Yang Keras Dan Penurunan Prilaku Agresif Antar Generasi

    Penelitian menunjukan bahwa prilaku agresif tidak hanya diturunkan antat generasi sebelumnya juga dan prilaku agresif tersebut diturunkan melalui proses modelling (meniru). Misalnya meniru kekerasan yang dilakukan antar orang tua terhadap anak melalui hukuman yang kasar.

    Sering kali orangtua merupakan model dalam sikap-sikap mereka menggunakan hukuman fisik dan emosional diterapkan dengan keras. Anak biasanya mengamati dan meniru prilaku agresif orang tuanya. Prilaku agresif anak juga disebabkan karena prilaku criminal orang tua dan minuman alcohol. Di samping itu juga disebabkan karena adanya gangguan mental pada salah satu atau kedua orang tua. Depresi pada orangtua sangat erat kaitannya dengan masalah gangguan tingkah laku.

Sumber : Yuna Sartika dan Paulina Kibi, Conduct Disorder & Antisocial Personality Disorder, Program studi Psikologi, Universitas Mercu Buana.