© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa Saja Macam-Macam Karakteristik Usia Dewasa Madya?

usia dewasa madya

Hurlock (2007) menjelaskan bahwa usia madya merupakan periode yang panjang dalam rentang kehidupan manusia, biasanya usia tersebut dibagibagi ke dalam dua subbagian, yaitu: usia madya dini (40-50 tahun) dan usia madya lanjut (50-60 tahun). Lalu, apa saja macam-macam karakteristik usia dewasa madya?

Hurlock (2007: 320) mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah karakteristik usia dewasa madya, antara lain:

  • Periode yang sangat ditakuti
    Semakin mendekati usia tua, periode usia dewasa madya semakin terasa lebih menakutkan dilihat dari seluruh kehidupan manusia.
  • Masa transisi
    Seperti halnya masa puber, yang merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa remaja dan kemudian dewasa, demikian pula usia madya merupakan masa dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan perilaku masa dewasanya dan memasuki suatu periode dalam kehidupan yang akan diliputi oleh ciri-ciri jasmani dan perilaku baru.
  • Masa stress
    Penyesuaian secara radikal terhadap peran dan pola hidup yang berubah, khususnya bila disertai dengan berbagai perubahan fisik, selalu cenderung merusak homeotatis fisik dan psikologi seseorang dan membawa ke masa stres.
  • Usia yang berbahaya
    Usia madya dapat menjadi dan merupakan berbahaya dalam beberapa hal lain juga, yaitu suatu masa dimana seseorang mengalami kesusahan fisik sebagai akibat dari terlalu banyak bekerja, rasa cemas yang berlebihan, ataupun kurang memperhatikan hidup.
  • Usia canggung (awkward age)
    Pria dan wanita berusia madya merasa bahwa keberadaan mereka dalam masyarakat tidak dianggap, orang-orang yang berusia madya sedapat mungkin berusaha untuk tidak dikenal oleh orang lain.
  • Masa berprestasi
    Menurut Erikson (dalam Hurlock, 2007), selama usia madya, orang akan menjadi lebih sukses atau sebaliknya mereka berhenti dan tidak mengerjakan sesuatu apapun lagi.
  • Masa evaluasi
    Usia madya pada umumnya merupakan saat pria dan wanita mencapai puncak prestasinya, maka logislah apabila masa ini juga merupakan saat mengevaluasi prestasi tersebut berdasarkan aspirasi semula dan harapan-harapan orang lain, khususnya anggota keluarga dan teman.
  • Dievaluasi dengan standar ganda
    Walaupun perkembangan dewasa madya cenderung mengarah ke persamaan peran antara pria dan wanita baik di rumah, perusahaan, perindustrrian, profesi maupun dalam kehidupan sosial, namun masih terdapat standar ganda terhadap usia.
  • Masa sepi (empty nest)
    Masa ini merupakan masa ketika anak-anak tidak lama lagi tinggal bersama orang tua, kecuali dalam beberapa kasus dimana pria dan wanita menikah lebih lambat dibandingkan dengan usia rata-rata, atau menunda kelahiran anak hingga mereka lebih mapan dalam karier, atau mempunyai keluarga besar sepanjang masa, usia madya merupakan masa sepi dalam kehidupan perkawinan.
  • Masa jenuh
    Usia madya merupakan masa yang penuh dengan kejenuhan. Para pria menjadi jenuh dengan kegiatan rutin sehari-hari dan kehidupan bersama keluarga yang hanya memberikan sedikit hiburan dan wanita, yang hanya menghabiskan waktunya untuk memelihara rumah dan membesarkan anak-anaknya.

Karakteristik Wanita Dewasa Madya


Masa dewasa madya memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan pada masa dewasa awal, berikut ini karakteristik dewasa madya (Hurlock, 2007):

1. Masa yang Ditakuti

Menurut Papalia dkk (2008) pada masa dewasa madya terjadi penurunan fisik ditandai dengan menipisnya lapisan lemak dalam kulit, rambut tampak semakin tipis, beruban akibat menurunya produksi pigmen, resiko terkena osteoporosis pada wanita lebih cepat dibandingkan dengan pria, tidur tidak nyenyak, penurunan kinerja organ dan penurunan seksualitas.

Menurut Hurlock (2007) banyak orang memasuki masa dewasa madya dengan perasaan segan, susah dan ketakutan karena memandang masa ini sebagai masa yang tidak menyenangkan akibat kepercayaan tradisional tentang kerusakan mental, fisik dan masa berhenti organ reproduksi. Jadi banyak orang yang belum siap menerima perubahan pada masa dewasa madya sehingga selalu ingin kembali pada kehidupan dewasa muda. Menurut Santrock (2010) masa dewasa madya adalah masa penurunan daya ingat jika kesehatan memburuk dan cenderung berperilaku negatif.

2. Masa Transisi

Masa dewasa madya menurut Santrock (2010) adalah masa menopause ditandai keluhan seperti mual, letih, panas dan denyut jantung yang berdetak lebih cepat. Masa transisi yaitu penyesuaian diri terhadap minat, nilai dan pola perilaku yang baru. Wanita masa dewasa madya harus merubah penyesuaian diri terhadap perubahan jasmani serta penyesuaian terhadap perubahan peranan masa, dimana wanita akan mengalami penurunan kesuburan (Hurlock, 2007).

Menurut Papalia dkk (2008) wanita menganggap menopause sebagai pertanda perubahan peran, seorang wanita yang tidak mempunyai anak akan memandang menopause sebagai tertutupnya kesempatan untuk menjadi ibu sedangkan bagi wanita yang telah mempunyai anak akan melihat masa ini sebagai masa kebebasan untuk bergerak dan masa menyenangkan.

3. Masa Stres

Pada wanita mengalami gangguan homeotasis pada usia 40-an secara normal memasuki menopause memaksa melakukan penyesuaian kembali (Hurlock, 2007). Menurut Papalia dkk (2008) wanita yang memasuki masa menopause mudah sekali mengalami depresi, cemas, marah, insomnia, dorongan seksual rendah bersumber dari sakit, kekhawatiran pekerjaan, anak meninggalkan rumah, kematian orang tua dan sikap negatif terhadap usia. Menurut Santrock (2010) masa ini identik dengan perasaan tertekan yang menyebabkan kanker pada wanita.

4. Masa Berbahaya

Masa dewasa madya bagi wanita merupakan masa berbahaya karena merupakan masa rawan terkena penyakit tertentu dan membutuhkan waktu cukup lama untuk kembali sembuh. Penyakit yang rawan diderita oleh wanita pada usia dewasa pertengahan adalah penyakit jantung, diatabetes, kanker dan hipertensi (Papalia dkk, 2008). Selain itu usia madya merupakan masa berbahaya akibat terlalu giat bekerja, rasa cemas yang berlebihan dapat memicu keinginan untuk bunuh diri. Masa madya merupakan masa berbahaya bagi hubungan pasangan suami istri akibat disfungsi seksual sehingga dapat mendorong perceraian (Hurlock, 2007).

5. Masa Canggung

Menurut Papalia dkk (2008) mengungkapkan wanita pada masa dewasa madya sangat mendambakan hidup awet muda salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menerima suntikan botox, membeli produk kosmetik hingga melakukan operasi plastik untuk meningkatkan harga diri supaya diterima masyrakat khususnya pada dunia kerja. Wanita pada masa dewasa madya berusaha nampak lebih muda ditunjukkan dengan cara berpakaian, gaya hidup dan materi karena khawatir tersisih dari relasi sosial (Hurlock, 2007). Menurut hasil penelitian Nowak (1977 dalam Santrock, 2010) wanita tengah baya menganggap tanda-tanda penuaan mempunyai pengaruh negatif terhadap daya tarik fisik sehingga kebanyakan wanita paruh baya ingin membuat dirinya lebih muda dengan berolahraga, minum vitamin, menyemir rambut dan beberapa individu rajin melakukan pemeriksaan ke dokter untuk mengetahui penurunan fisik atau kesehatan.

6. Masa Berprestasi

Menurut Hurlock (2007) masa dewasa madya akan menjadi masa kesuksesan jika mereka memiliki kekuatan untuk berhasil sehingga meraih puncak dan mengunduh hasil dari masa-masa kerja. Masa ini merupakan masa keberhasilan dari segi keuangan dan sosial termasuk kekuasaan dan prestise. Menurut Santrock (2010) menyatakan bahwa masa dewasa madya adalah masa kemapanan karier yang telah dirintis sejak periode sebelumnya (dewasa awal) masa ini juga dikenal sebagai “ generasi pemimpin”. Kondisi ini didukung oleh Papalia dkk (2008) mengungkapkan masa dewasa madya adalah masa untuk mencapai keamanan finansial sebelum pensiun.

7. Masa Evaluasi

Wanita dewasa madya menurut Hurlock (2007) mengatakan bahwa wanita masa ini merupakan masa evaluasi diri apa dan bagaimana dirinya menuntut perasaan nyata dibanding pada masa sebelumnya berkaitan dengan perubahan fisik serta cara pandang. Menurut Santrock (2010) wanita masa ini akan lebih rilex atau santai apabila telah mencapai tujuan hidup dan apabila gagal mencapai yang diinginkan akan lebih mudah menerima kenyataan. Menurut Papalia dkk (2008) masa ini wanita lebih realistis menerima kekurangan diri dan kenyataan kehidupan.

8. Masa Sepi

Menurut Papalia dkk (2008) masa ini merupakan masa anak meninggalkan orang tua untuk hidup mandiri. Menurut Santrock (2010) masa ini adalah masa penurunan pernikahan karena orang tua memperoleh kepuasan dari anak. Sehingga saat anak mulai tumbuh dewasa dan meninggalkan rumah kehidupan keluarga menjadi kurang bermakna. Namun sebagian pasangan suami istri justru merasa lebih bahagia pada masa paruh baya karena merasa bebas mencapai karier dan lebih banyak menghabiskan waktu luang bersama pasangan dibandingkan masa dewasa muda. Masa ini sering disebut masa empty nest adalah masa saat anak-anak tidak tinggal bersama orang tua merupakan masa sepi dalam kehidupan perkawinan kehidupan berubah menjadi berpusat pada pasangan suami-istri (Hurlock, 2007).

9. Masa Jenuh

Wanita berusia empat puluhan merasa jenuh dengan kegiatan sehari-hari dan kehidupan keluarga yang hanya mempunyai sedikit hiburan. Sedangkan wanita yang tidak menikah akan sibuk mengabdikan hidup bekerja sehingga menjadi cepat bosan. Sebagian wanita membutuhkan kekuasaan baru dan sasaran baru dalam hidup. Tidak heran jika masa ini disebut masa yang tidak membahagiakan (Hurlock, 2007). Menurut Papalia dkk (2008) bahwa pada masa ini adalah masa jenuh dengan rutinitas sehari-hari akibat pekerjaan yang menumpuk sehingga kurang tidur, marah, dan membuat banyak kesalahan mendorong untuk beralih pekerjaan.

Menurut Levinson (1978 dalam Santrock, 2010) masa ini merupakan masa pemberontakan akibat kebosanan hidup dibatasi oleh atasan, pasangan dan anak. Kondisi ini menimbulkan efek negatif yaitu; hubungan cinta diluar nikah, perceraian, kecanduan alkohol, bunuh diri dan kemerosotan karier. Sebaliknya wanita yang memaknai masa jenuh dengan positif akan memanfaatkan waktu luang dengan bekerja kembali untuk membantu keuangan suami, mengikuti kursus dan mengikuti kegiatan sosial sehingga lebih sehat secara psikologis.
Berdasarkan karakteristik dewasa madya di atas, dapat disimpulkan bahwa masa ini adalah masa rawan penyakit baik secara fisik maupun psikologis, apabila tidak mampu mengatasi perubahan siklus kehidupan akan menimbulkan ketidakbahagiaan yang mendorong keinginan bunuh diri akibat tidak puas menjalani kehidupan.