© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa saja kriteria kepribadian yang matang?

image
perkembangan kepribadian seseorang sangatlah dipengaruhi oleh faktor-faktor biologis, faktor sosial, dan faktor kebudayaan. Sehingga dalam ketiga faktor ini yang akan mempengaruhi dan menjadikan suatu kepribadian sesuai dengan pola atau arah perkembangannya ke depan. Akan hal ini memunculkan kepribadian yang matang.

Lalu Apa saja kriteria kepribadian yang matang ?

Individu yang mengalami perkembangan dikatakan matang saat mencapai sesuatu pertumbuhan dan perkembangan sebagai seorang pribadi yang dewasa, matang, dan sehat. Allport (dalam Duane Schultz) memberikan tujuh kriteria kematangan pribadi sebagai berikut (Schultz, 1991):

  1. Perluasan perasaan diri

    Ketika diri berkembang, maka diri itu meluas menjangkau banyak orang atau benda. Mula-mula diri hanya berpusat pada individu, kemudian ketika lingkaran pengalaman tumbuh berkembang maka diri bertambah luas meliputi nilai-nilai dan cita-cita yang abstrak. Dengan kata lain bahwa, ketika orang menjadi matang, dia mengembangkan perhatian- perhatian di luar diri. Orang harus menjadi partisipan langsung dan penuh, ini dinamakan partisipasi otentik yang dilakukan oleh orang dalam beberapa suasana yang penting dari usaha manusia. Suatu aktivitas harus relevan dan penting atau berarti maka individu harus meluaskan diri ke dalam aktivitas. Semakin individu terlibat sepenuhnya dengan berbagai aktifitas atau ide, maka semakin juga dia akan sehat secara psikologis. Dan perasaan otentik ini berlaku bagi pekerjaan, hubungan dengan keluarga dan teman-teman, kegemaran dan keanggotaan dalam berbagai aktivitas.

  2. Hubungan diri yang hangat dengan orang lain

    Ada dua macam kehangatan dalam hubungan dengan orang lain yaitu kapasitas untuk keintiman (cinta) dan kapasitas untuk perasaan terharu. Orang sehat secara psikologis mampu memperlihatkan keintiman (cinta) terhadap orang tua, anak, teman, dan lain-lain. Kapasitas untuk keintiman menghasilkan suatu perasaan perluasan diri yang berkembang dengan baik. Cinta orang-orang yang sehat adalah tanpa syarat, tidak melumpuhkan atau mengikat. Orang yang sehat juga memiliki kapasitas untuk memahami kesakitan, penderitaan, ketakutan, dan kegagalan yang merupakan ciri-ciri kehidupan manusia. Perasaan terharu menghasilkan kepribadian yang matang, sabar terhadap tingkah laku orang lain dan juga dapat menerima kelemahan-kelemahan manusia dan mengetahui kelemahan-kelemahan yang sama.

  3. Keamanan emosional

    Kepribadian yang sehat adalah mampu menerima semua segi dari diri mereka, termasuk kelemahan-kelemahan tanpa menyerah secara pasif pada kelemahan tersebut. Kepribadian yang sehat dapat mengontrol emosi-emosi diri sendiri, tidak berusaha sembunyi dari emosi sehingga emosi tidak mengganggu aktivitas antar pribadi. Kualitas lain adalah sabar dari kekecewaan. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang itu bereaksi terhadap tekanan dan hambatan dari kemauan-kemauan. Orang- orang yang sehat bebas dari perasaan-perasaan tidak aman dan ketakutan- ketakutan. Orang yang sehat tidak menyerahkan diri pada kekecewaan tetapi mampu memikirkan cara-cara untuk mencapai tujuan substitusi. Mereka telah belajar menghadapi ketakutan hidup dan ancaman terhadap ego dengan perasaan seimbang dan dapat menanggulangi perasaan tersebut dengan lebih baik.

  4. Persepsi realistis

    Orang-orang yang sehat memandang dunia mereka secara objektif, mereka tidak terlalu percaya bahwa orang lain atau situasi-situasi semuanya jahat atau semuanya baik menurut prasangka pribadi terhadap realitas. Mereka menerima realitas sebagaimana adanya. Mereka tidak perlu mengubah realitas agar sesuai dengan keinginan-keinginan, kebutuhan-kebutuhan, dan khayalan-khayalan ataupun ketakutan- ketakutan mereka sendiri.

  5. Keterampilan-keterampilan dan tugas-tugas

    Orang yang berkepribadian sehat menunjukkan keberhasilan dalam pekerjaan, perkembangan keterampilan-keterampilan dan bakat-bakat tertentu sesuai tingkat kemampuannya. Mereka menggunakan keterampilan-keterampilannya secara antusias, melibatkan dan menempatkan diri sepenuhnya dalam pekerjaan atau tugas. Dan mereka memiliki komitmen yang kuat sehingga mereka sanggup menenggelamkan semua pertahanan ego ketika terbenam dalam suatu pekerjaan atau tugas. Dedikasi pada pekerjaan dihubungkan dengan gagasan tentang tanggung jawab dan dengan kelangsungan hidup yang positif. Pekerjaan dan tanggung jawab dilakukan dengan dedikasi, komitmen, dan ketrampilan-ketrampilan sehingga memberikan perasaan kontinuitas untuk hidup.

  6. Pemahaman diri

    Kepribadian yang sehat mencapai suatu tingkat pemahaman yang lebih tinggi. Pengenalan diri yang memadai menuntut pemahaman tentang hubungan atau perbedaan antara gambaran tentang diri yaitu memiliki gambaran yang akurat tentang kekuatan-kekuatan dan kelemahan- kelemahan dirinya yang dimiliki seseorang dengan dirinya menurut keadaan sesungguhnya. Semakin dekat hubungan antara keduanya, maka individu juga semakin matang. Hubungan yang penting adalah hubungan antara yang dipikirkan seseorang tentang dirinya dan yang dipikirkan orang lain tentang dirinya. Orang yang sehat terbuka dengan pendapat

    orang lain dalam merumuskan gambaran diri yang objektif. Orang yang memiliki suatu tingkat pemahaman diri yang tinggi akan sikap bijaksana kepada orang lain dan akan di terima dengan lebih baik oleh orang lain. Orang ini memiliki wawasan yang lebih cerdas dan perasaan humor yang menyangkut persepsi tentang halhal yang aneh dan mustahil serta kemampuan menertawakan diri sendiri.

  7. Filsafat hidup yang mempersatukan

    Orang yang sehat melihat ke depan, di dorong oleh tujuan-tujuan dan rencana-rencana jangka panjang. Orang-orang ini mempunyai suatu perasaan akan tujuan, suatu tugas untuk bekerja sampai selesai, sebagai batu sendi kehidupan mereka, dan ini memberi kontinuitas bagi kepribadian mereka. Dorongan ini sebagai arah yang membimbing semua segi kehidupan seseorang menuju suatu tujuan serta memberikan orang itu suatu alasan untuk hidup. Nilai-nilai (bersama dengan tujuan-tujuan) sangat penting bagi perkembangan suatu filsafat hidup yang mempersatukan. Dan nilai-nilai itu akan kuat apabila suara hati berperan pada perasaan kewajiban dan tanggung jawab kepada diri sendiri dan kepada orang lain dan mungkin berakar dalam nilai-nilai agama atau nilai-nilai etis dalam suatu filsafat hidup yang mempersatukan.

Allport (dalam Suryabrata) mendefinisikan bahwa kematangan kepribadian merupakan hasil akhir keselarasan antara fungsi-fungsi fisik dan psikis sebagai hasil pertumbuhan dan perkembangan (Suryabrata, 2005:339). Sedangkan Maslow (dalam Globe) mengungkapkan bahwa kematangan kepribadian merupakan kemampuan individu untuk mengaktualisasikan dirinya, yaitu kemampuan untuk menggunakan dan memanfaatkan secara penuh bakat, kapasitas-kapasitas dan potensi yang ada pada dirinya (Globe, 1987:48). Sedangkan menurut Kartono, bahwa kematangan kepribadian pada dasarnya ditandai oleh adanya keberanian untuk hidup, sifat yang mandiri dari individu, serius, tekun, rasa tanggung jawab, serta dapat menerima kenyataan hidup (Kartono, 1990:126).

Dari definisi yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa kematangan kepribadian adalah hasil akhir keselarasan antar fungsi-fungsi fisik dan psikis sebagai hasil pertumbuhan dan perkembangan, di mana individu dapat mengaktualisasikan dirinya dengan memanfaatkan secara penuh bakat, kapasitas-kapasitas, dan potensi yang ada pada dirinya.

Kriteria Kematangan Diri

Jenjang pada orang dewasa adalah jenjang kematangan kepribadian pada individu, meskipun tidak semua orang yang dewasa mengalami kematangan pribadi sebagaimana yang seharusnya. Biasanya individu yang normal memahami dan mengerti apa yang dilakukan dan mengapa dikerjakannya. Untuk memahami manusia dewasa tidak dapat diketahui tanpa mengerti tujuan-tujuan serta aspirasi-aspirasinya.

Menurut Allport (1951) dalam kutipan Sumadi Suryabrata bahwa pribadi yang telah dewasa itu pada pokoknya harus memiliki komponen- komponen seperti di bawah ini (Suryabrata, 1998:204).

  • Extension of Self yaitu bahwa hidupnya tidak harus terikat pada kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan dan kewajiban langsung. Yang paling penting dari extension of self adalah proyeksi ke masa depan yaitu merencanakan dan mengharapkan (planning hoping) .

  • Self Objectification , adapun komponen pokoknya adalah :

    • Insight (Kecakapan individu untuk mengerti dirinya.)

    • Humor. (Kecakapan untuk mendapatkan kesenangan dan mentertawakan dan juga mempertahankan hubungan positif dengan dirinya sendiri dan objek yang disenangi).

    • Filsafat hidup ,( latar belakang yang mendasari segala sesuatu yang dikerjakan yang memberinya arti dan tujuan).

Untuk penjelasan lebih lengkap, Allport secara eksplisit mengklasifikasikan kepribadian yang matang menjadi enam bagian, yaitu (Mahpur, 2003:17-21):

  • Perluasan perasaan diri. Seseorang memiliki perasaan untuk memperhatikan sesuatu di luar dirinya. Keadaan lingkungan menjadi sangat penting. Kesejahteraan hidup bersama dengan orang lain diperhatikan, bukan hanya diri sendiri, pribadi yang matang memiliki pertimbangan dan jiwa sosial yang kuat. Seseorang kemudian menjadikan dirinya memiliki pandangan diri yang luas terhadap suatu kenyataan hingga bisa dengan mudah menyelesaikan berbagai persoalan yang menghimpit dirinya. Pribadi ini tidak menjadi seorang yang suka mengunci diri, lari dari tanggung jawab sosial.

    Seseorang dengan kualifikasi ini akan mencari beragam kemungkinan agar keberadaan dirinya menjadi eksis, hal ini karena diarahkan pada partisipasi langsung. Aktifitas ini yang kemudian oleh Allport disebut partisipasi otentik yang dilakukan dalam beberapa suasana penting. Semakin dirinya terlibat dalam kegiatan dan penggunaan ide, maka dirinya akan menjadi semakin sehat dan matang secara psikologis.

  • Hubungan diri yang hangat dengan orang lain. Orang yang mampu menjalin hubungan dengan orang lain secara hangat antara lain bersifat keintiman ( intimacy) dan keharuan (compassion) . Seseorang pribadi matang tentu memiliki empati, peduli dan bisa merasakan penderitaan orang lain. Dalam arti kata, pribadi yang hangat akan menjalin keseimbangan hidup bersama, tidak hanya mencakup kebutuhan diri sendiri dan menjadikan orang lain aman bersama dirinya, yakni menjaga keharmonisan, kedamaian dan persaudaraan yang bermuara pada tumbuhnya solidaritas maupun toleransi antar manusia.

    Seorang pribadi matang akan mudah membangun rasa cinta untuk menciptakan harmoni dan keselarasan antara dirinya dan sesuatu yang ada diluar dirinya. Apa yang dihasilkan dari kapasitas cinta (keintiman) ini adalah suatu perasaan perkembangan diri yang baik. Kesejahteraan itu diperoleh dengan mengungkapkan partisipasi otentik dengan orang yang dicintai dan memperhatikan kesejahteraannya.

  • Penerimaan diri. Kepribadian yang sehat mampu menerima semua segi yang terdapat pada sesuatu yang ada di luar dirinya, termasuk segala kelemahan dan kekurangan tanpa menyerah secara pasif denga disertai toleransi. Orang yang sehat mampu hidup dengan segi lain dalam kodratnya, dengan memiliki sedikit konflik, baik dengan diri sendiri terlebih dengan masyarakat.

    Kepribadian yang sehat juga mampu menerima emosi- emosi manusia, bukan akibat dari rasa emosinya, melainkan diarahkan pada emosi yang lebih positif. Juga mampu mengontrol emosi, sehingga tidak mengganggu aktivitas antar pribadi. Kualitas lain dari keamanan emosional adalah “sabar terhadap kekecewaan”. Orang yang sehat akan sabar dalam menghadapi kemunduran, tidak menyerah pada kekecewaan, melainkan mampu memikirkan jalan keluar untuk mencapai tujuan.

  • Persepsi realistis mengenai kenyataan. Orang yang sehat memandang dunia mereka secara objektif. Dimana dirinya tidak mempercayai bahwa orang di luar dirinya dan lingkungan besikap kurang bersahabat atau semuanya baik menurut prasangka pribadi terhadap realitas. Memiliki keterampilan menyelesaikan masalah (problem centeredness) .

    Hal ini menjadi pengertian untuk memahami dunia luar dan menjadi pendorong munculnya kemauan untuk melakukan terobosan yang lebih produktif dari pada larut dalam kenyataan yang tidak menguntungkan bagi dirinya.

  • Obyektifikasi diri. Usaha untuk memahami diri secara obyektif mulai awal kehidupan dan tidak akan pernah berhenti, tetapi ada kemungkinan mencapai suatu tingkat pemahaman diri yang lebih tinggi daripada orang-orang yang neurosis.

    Orang yang memiliki tingkat pemahaman diri yang tinggi atau wawasan diri tidak mungkin memproyeksikan kualitas- kualitas pribadinya yang negative kepada orang lain. Biasanya orang seperti ini akan diterima dengan lebih baik oleh orang lain. Allport mengatakan bahwa orang yang memiliki wawasan diri yang kurang.

    Keberhasilan dalam pekerjaan menunjukkan keterampilan dan bakat tertentu. Menurut Allport orang yang sehat tidak akan tidak mengarahkan keterampilan pada pekerjaan. Komitmen pada orang sehat begitu kuat sehingga mengantarkan mereka pada kesanggupan menenggelamkan semua pertahanan yang berhubungan dengan ego dan dorongan ketika terbenam dalam pekerjaan.

    Pekerjaan dan tanggung jawab memberikan arti dan perasaan kontinuitas hidup. Kematangan dan kesehatan psikologis tidak akan tercapai tanpa melakukan aktivitas yang penting dan melakukannya denga penuh dedikasi, komitmen, dan keterampilan- keterampilan.

  • Filsafat Hidup yang mempersatukan. Orang yang sehat tentunya akan melihat ke depan, yang didorong oleh tujuan-tujuan dan rencana-rencana jangka panjang. Menurut Allport, dorongan yang mempersatukan adalah arah (directness) , dan lebih terlihat pada kepribadian yang sehat daripada orang yang neurotis. Arah akan membimbing semua segi kehidupan seseorang menuju suatu tujuan serta memberikan seseorang alas an untuk hidup.

    Kerangka untuk tujuan khusus itu adalah ide tentang nilai- nilai. Menurut Allport nilai-nilai sangat penting bagi perkembangan suatu fisafah hidup yang mempersatukan. Suara hati juga ikut berperan dalam suatu filsafah hidup yang mempersatukan. Allport berpendapat bahwa, terdapat perbedaan antara suara hati yang matang dan suara hati yang tidak matang atau neurotis. Suara hati yang matang adalah suatu perasaan kewajiban dan tanggung jawab terhadap diri sendiri dan kepda orang lain, dan mungkin berakar dalam nilai-nilai agama atau etis, sedangkan suara hati yang tidak matang sama seperti suara hati kanak-kanak yang pstuh dan membudak, penuh dengan pembatasan dan larangan yang dibawa dari masa kanak-kanak kedalam masa dewasa.