Apa saja kewajiban istri terhadap suaminya ?

Suami istri

Apa saja kewajiban istri terhadap suaminya ?

Di antara beberapa kewajiban seorang istri terhadap suami adalah sebagai berikut:

1. Hormat dan patuh kepada suami dalam batas-batas yang ditentukan oleh norma agama dan susila.

Sebagaimana Firman Allah di dalam surat An-Nisa [4] ayat 34:

Artinya : “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki- laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS An-Nisa: 34).

Kewajiban istri terhadap suami yaitu bersikap taat dan patuh terhadap suami dalam segala sesuatunya selama tidak merupakan hal yang dilarang Allah, memelihara kepentingan suami berkaitan dengan kehormatan dirinya, menghindari dari segala sesuatu yang akan menyakiti hati suami seperti bersikap angkuh, menampakkan wajah cemberut atau penampilan buruk lainnya. Tetapi kewajiban yang paling penting (hakiki) yang harus dijalankan dengan baik oleh seorang istri adalah melayani dan mematuhi suaminya dalam hal yang berhubungan dengan sebuah “kedekatan keluarga antara suami dan istri, sehingga suami benar-benar terhibur dan hatinya selalu bahagia memiliki istri yang dapat dipertanggung jawabkan.”

Adapun kewajiban istri terhadap suami dalam persoalan nafkah batin yaitu jika suami memperintahkan istri untuk segera mendatangi suaminya jika suaminya sedang membutuhkannya. Dari Thalq bin Ali bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk berhubungan badan, lalu si istri menolak sehingga malam itu suaminya jengkel terhadapnya, maka si istri dilaknat oleh para malaikat hingga menjelang pagi.’" (HR. Muslim)

2. Mengatur dan mengurus rumah tangga, menjaga keselamatan dan mewujudkan kesejahteraan keluarga.

Sebagaimana Firman Allah dalam surat Adz-Dzāriyāt ayat 29:

Artinya : “Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.” (QS. Adz- Dzāriyāt: 29).

Islam telah menyadari bahwa membina rumah tangga merupakan kesepakatan dua belah pihak antara suami dan istri, oleh karena itu segala sesuatunya harus dimusyawarahkan bersama. Termasuk pula dalam hal ini adalah tata cara pembagian kerja rumah tangga. Pembagian kerja yang bagaimana yang harus dilakukan agar suami dan istri bisa mencapai ketentraman dalam rumah tangga harus dimusyawarhkan bersama. Kesepakatan harus dibuat agar tidak ada satu pihak yang dirugikan. Dengan menyadari bahwa perkawinan bertujuan untuk mencapau ketentraman kedua belah pihak yang menjalaninya, maka tidaklah mungkin ini dicapai apabila pembagian kerja dalam rumah tangga tidak adil.

3. Memelihara dan mendidik anak sebagai amanah Allah

Sebagaimana Firman Allah dalam surat Al-Kahfi ayat 46:

Artinya : “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan.” (QS. Al-Kahfi: 46).

Dari ayat di atas menjelaskan bahwa wanita mempunyai peranan yang penting dalam melahirkan umat terbaik, wanita harus menjadi istri yang baik, ibu yang baik dan sekolah yang baik. Betapa banyak wanita baik di umat ini yang telah dilahirkan ke dunia ini oleh keberadaan para ibu yang kompeten, yaitu para ibu yang mendidik dan mengajari anak-anaknya. Tidak diragukan lagi, andaikan umat ini ingin bangkit, sebagaimana kebangkitan sebelumnya, dan ingin kembali menempati kedudukannya yang dengan itu akan dimuliakan Allah, maka yang pertama-tama adalah hendaknya memperbaiki didikan pertama, menerapkan adab-adab Islam dan mengajarkan ilmu-ilmunya, sehingga dengan begitu, seorang ibu betul-betul menjadi sekolah, sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Ibrahim rahimahullah:

“Ibu adalah sekolah, jika engkau mempersiapkannya maka ia akan mempersiapkan generasi yang bermoral baik.”

Pengaruh perempuan dalam keluarga tidak terbatasi hanya untuk mendidik anaknya, tetapi termasuk juga pengaruh yangia miliki atas kehidupan laki-laki. Pengaruh ini sungguh nyata, dan merefleksikan perhatian perempuan yang memfasilitasi langkah suami mereka untuk meraih kesuksesan dalam kerja, atau telah mendampingi suami mereka saat istirahat dan bersantai dari tuntutan kerja.

4. Memelihara dan menjaga kehormatan serta melindungi harta benda keluarga

Sebagimana Firman Allah dalam surat Al-Ahzāb [33] ayat 35:

Artinya : “…Laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzāb: 35).

5. Menerima dan menghormati pemberian suami serta mencukupkan nafkah yang diberikannya dengan baik, hemat dan bijaksana.

Sebagaimana Firman Allah dalam surat Al-Furqān [25] ayat 67:

Artinya : “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta) mereka berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, tapi adalah (pembelanjaan itu) tengah tengah antara yang demikian. (QS. Al-Furqān: 67).

6. Pandai mengambil hati suami melalui makanan dan minuman;

7. Mengatur rumah dengan baik;

8. Menghormati keluarga suami;

9. Bersikap sopan, penuh senyum kepada suami;

10. Tidak mempersulit suami, dan selalu mendorong suami untuk maju;

11. Rida dan syukur terhadap apa yang diberikan suami;

12. Selalu berhemat dan suka menabung;

13. Selalu berhias, bersolek untuk atau dihadapan suami;

14. Jangan selalu cemburu buta.

Referensi :

  • Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia,
    (Jakarta: Prenada Media, 2004).
  • Istiadah,“Membangun Bahtera Keluarga yang Kokoh, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)
  • Tihami dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat; Kajian Fikih Nikah Lengkap , cet.III., (Jakarta: Rajawali Press, 2013)