© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa saja kesulitan-kesulitan dalam membaca Al-Qur'an?

Al-Qur'an

Kemampuan peserta didik dalam membaca Al-Qur’an adalah dasar untuk memahami apa yang terkandung dalam Al-Qur’an. Kemampuan membaca Al-Qur’an pada peserta didik hendaknya dibentuk dan dilatih pada masa balita. Jika pelatihan membaca Al-Qur’an ini dimulai ketika anak sudah beranjak dewasa atau remaja maka proses pembelajaran yang akan dilakukan cendrung lebih sulit dari pada dilakukan pada masa anak-anak. Namun seringkali ditemukan kesulitan-kesulitan dalam membaca kitab suci ini. Apa saja kesulitan-kesulitan dalam membaca Al-Qur’an?

Kesulitan Membaca Al-Qur’an


Membaca hakekatnya adalah proses komunikasi antara pembaca dengan penulis melalui teks yang ditulisnya, maka secara langsung di dalamnya ada hubungan kognitif antara bahasa lisan dengan bahasa tulis. Kegiatan membaca melibatkan tiga unsur, yaitu makna sebagai unsur isi bacaan, kata sebagai unsur yang membawa makna, dan simbol tertulis sebagai unsur visual. Dalam makna yang lebih luas, membaca tidak hanya terpaku kepada kegiatan melafalkan dan memahami makna bacaan dengan baik, yang hanya melibatkan unsur kognitif dan psikomotorik, namun lebih dari itu menyangkut penjiwaan atas isi bacaan.

Membaca merupakan aktifitas kompleks yang mencakup fisik dan mental. Aktifitas fisik yang terkait dengan membaca adalah gerak mata dan ketajaman penglihatan. Aktifitas mental mencakup ingatan dan pemahaman. Orang dapat membaca dengan baik jika mampu melihat huruf-huruf dengan jelas, mampu menggerakkan mata secara lincah, menginggat simbol-simbol bahasa dengan tepat, dan memiliki penalaran yang cukup untuk memahami bacaan. Meskipun tujuan akhir membaca adalah untuk memahami isi bacaan, tujuan semacam itu ternyata belum dapat sepenuhnya dicapai oleh anak-anak, terutama pada saat awal pelajaran membaca.

Banyak anak yang dapat membaca secara lancar tetapi tidak memahami isi apa yang mereka baca. Ini menunjukkan bahwa kemampuan membaca bukan hanya terkait erat dengan kemampuan gerak motoric mata tetapi juga tahap perkembangan kognitif. Mempersiapkan anak untuk belajar membaca merupakan suatu proses yang sangat panjang. Itu mengapa dalam Islam anak harus mulai dididik mulai mereka masih dalam kandungan. Seorang anak akan sulit untuk membaca Al-Qur’an jika telingga mereka tidak biasa untuk mendengar ayat-ayat suci Al-Qur’an. Islam selalu menganjurkan bagi ibu yang sedang mengandung agar mereka memperbanyak ibadah. Salah satu bentuk ibadah dan pendidikan prenatal yang dilakukan seorang ibu pada janin yang mereka kandung adalah memperbanyak bacaan Al-Qur’an.

Jika masih dalam kandungan janin sudah biasa didengarkan bacaan Al-Qur’an, maka begitu pada usia anak-anak mereka dilatih untuk mengenal huruf hijaiyah mereka akan lebih mudah untuk menangkap apa yang telah diajarkan pada mereka. Ini adalah sebuah langkah awal yang baik bagi seorang anak dalam belajar membaca Al-Qur’an. Hal ini terjadi karena, janin yang ada pada ibu dapat merespon apa yang terjadi pada sekeliling mereka.

Terdapat lima tahapan dalam perkembangan membaca, yaitu kesiapan membaca, membaca permulaan, keterampilan membaca cepat, membaca luas, dan membaca yang sesunguhnya.
Anak berkesulitan membaca sering memperlihatkan kebiasaan membaca yang tidak wajar. Mereka sering memperlihatkan adannya gerakan-gerakan yang penuh dengan ketegangan seperti mengeryitkan kening, gelisah, irama suara meninggi, atau menggigit bibir. Mereka juga sering memperlihatkan adannya perasaan tidak aman yang ditandai dengan perilaku menolak untuk membaca, menangis, atau mencoba melawan guru.

Anak berkesulitan membaca sering mengalami kekeliruan dalam mengenal kata. Kekeliruan jenis ini mencakup penghilangan, penyisipan, penggantian, pembalikan, salah ucap, pengubahan tempat, tidak mengenal kata, dan tersentak-sentak. Penghilangan huruf atau kata sering dilakukan oleh anak berkesulitan belajar membaca karena adannya kekurangan dalam mengenal huruf, bunyi bahasa (fonik), dan bentuk kalimat.

Faktor yang menyebabkan kesulitan membaca Al-Qur’an


Setiap anak adalah unik. Dikatakan unik karena mereka tidaklah sama. Ada anak yang cepat menangkap respon dari luar, tetapi tidak sedikit juga yang lambat. Mereka memiliki alur perkembangan yang berbeda satu sama lain. Inilah yang dinamakan proses keseimbangan kehidupan.

Pada dasarnya pertumbuhan dan perkembangan siswa tergantung pada dua unsur yang saling mempengaruhi, yakni bakat yang telah dimiliki oleh peserta didik sejak lahir akan tumbuh dan berkembang berkat pengaruh lingkungan, dan sebaliknya lingkungan akan lebih bermakna apabila terarah pada bakat yang telah ada, kendatipun tidak dapat ditolak tentang adannya kemungkinan di mana pertumbuhan dan perkembangan itu semata-mata hanya disebabkan oleh faktor bakat saja atau oleh lingkungan saja.

Kesulitan membaca Al-Qur’an pada peserta didik biasannya akan tambak jelas. Dengan munsulnya perilaku yang tidak biasa. Tapi penting untuk diingat bahwa faktor yang utama mempengaruhi kesulitan yang dialami oleh peserta didik adalah berasal dari diri individu peserta didik itu sendiri. Berikut ini kami jelaskan faktor-faktor yang membuat peserta didik sulit dalam belajar membaca Al-Qur’an

  1. Faktor internal

    • Daya ingat rendah. Daya ingat rendah sangat memengaruhi hasil belajar seseorang. Anak yang sudah belajar dengan keras namun daya ingat di bawah rata-rata hasilnya akan kalah dengan anak yang mempunyai daya ingat tinggi.

    • Terganggunnya alat-alat indra. Kita semua pasti tahu, kesehatan merupakan salah satu hal penting yang menentukan aktivitas sehari-hari. Begitu juga dalam belajar. Seseorang yang mengalami cacat mat tentu akan merasa kesulitan saat mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan dunia penglihatan. Ataupun yang menderita tunarunggu, tentu ia akan kesulitan saat mempelajari pelajaran seni musik dan sebagainnya.

    • Usia anak. Usia juga merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan gangguan belajar pada anak. Usia yang terlalu muda ataupun usia yang sudah terlalu tua dapat menyebabkan individu kesulitan untuk menerima materi belajar.

    • Jenis kelamin. Jenis kelamin juga mempengaruhi hasil belajar anak. Anak perempuan biasannya lebih mudah belajar yang berhubungan dengan ilmu sosial dibanding ilmu pasti. Sedangkan, anak laki-laki lebih menyukai pelajaran yang langsung berhubungan dengan praktik.

    • Kebiasaan belajar atau rutinitas. Seorang anak yang terbiasa belajar dengan kata lain ada jadwal tertentu setiap harinya juga akan mengalami perbedaan prestasi dengan anak yang belajar tidak tertentu setiap harinya.

    • Tingkat kecerdasan (Intelegensi). Meskipun bukan satu-satunya sebagai yang menentukan kecerdasan seseorang, intelegensi juga memberi pengaruh pada kesulitan belajar membaca seseorang.

    • Minat. Minat timbul dalam diri seseorang untuk memerhatikan, menerima, dan melakukan sesuatu tanpa ada yang menyuruh dan sesuatu itu dinilai penting dan berguna bagi dirinya. Minat belajar yang tinggi dapat menuntun anak untuk belajar lebih baik lagi.

    • Emosi (perasaan). Emosi juga mempengaruhi hasil belajar seseorang. Emosi diartikan sebagai tergugahnya perasaan yang disertai dengan perubahan-perubahan dalam tubuh. Emosi itulah yang akan membantu mempercepat proses pembelajaran.

    • Motivasi atau cita-cita. Motivasi memegang peranan penting dalam pencapaian keberhasilan sesuatu hal. Motivasi erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai. Motivasi yang tinggi tercermin dari ketekunan yang tidak mudah patah untuk mencapai kesuksesan walaupun berbagai kesulitan menghadang.

    • Sikap dan perilaku. Dalam kondisi dan perilaku yang terganggu tentunya anak tidak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

    • Konsentrasi. Anak dengan konsentrasi tinggi untuk belajar akan tetap belajar meskipun banyak faktor memengaruhinya.

    • Rasa percaya diri. Seseorang yang merasa dirinya mampu mempelajari sesuatu maka keyakinanya itu yang akan menuntunnya menuju keberhasilan.

    • Kematangan atau kesiapan. Dalam belajar, kematangan atau kesiapan itu sangat menetukan. Oleh karena itu, setiap usaha belajar akan lebih berhasil bila dilakukan bersamaan dengan tingkat kematangan seseorang.

    • Kelelahan. Kelelahan yang dialami anak-anak dapat menyebabkan anak tidak bisa belajar secara optimal. Dalam hal ini, meskipun anak sebenarnya memiliki semangat tinggi untuk belajar, namun karena fisiknya yang loyo maka anak tidak dapat belajar sebagaimana mestinnya.

  2. Faktor eksternal

    • Faktor keluarga. Keluarga merupakan pusat pendidikan yang utama dan pertama. Tetapi dapat juga sebagai faktor penyebab kesulitan belajar.

    • Suasana rumah. Suasana keluarga yang sangat ramai atau gaduh, tidak mungkin anak dapat belajar dengan baik. Hendaknya suasana di rumah selalu dibuat menyenangkan, tentram, dan damai. Keadaan ini akan menguntungkan bagi kemajuan belajar anak.

    • Keadaan ekonomi. Ekonomi keluarga yang kurang mampu terkadang membuat anak lebih rajin dalam bekerja membantu orang tua mereka dari pada belajar. Dan untuk anak yang terlahir dalam keluarga ekonomi yang belebihan akan membuat mereka malas untuk belajar dan lebih memiih untuk bersenang- senang.

    • Faktor sekolah. Yang dimaksud sekolah adalah semua komponen yang ada dalam sekolah maupun yang terjadi saat proses pembelajaran di kelas maupun du luar kelas. Semisal metode mengajr guru yang tidak sesuai dengan peserta didik ataupun sarana dan prasarana yang ada di sekolah.

    • Lingkungan sosial. Lingkungan sosial di sini adalah lingkungan tempat tinggal, aktivitas dalam masyarakat, dan juga teman sepergaulan. Diantara ketiga lingkungan sosial ini yang paling berpengaruh pada diri peserta didik adalah lingkungan teman sepergaulan. Karena teman bergaul mempunyai kesempatan yang lebih besar dan cepat masuk untuk memengaruhi temannya.

Cara mengatasi kesulitan membaca Al-Qur’an


Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak maupun peserta didik dan mendorong mereka untuk menghafalkannya merupakan sebuah tugas mulia dalam kehidupan. Seorang guru harus memiliki wawasan ilmiah yang luas perihal metode pengajaran yang akan membantunya dalam menunaikan tugas sehingga mampu merealisasikan hasil yang terbaik. Untuk itu, pendidik harus membekali dirinnya dengan berbagai keterampilan yang mempermudahnya dalam mencapai tujuan tanpa menimbulkan kerugian atau dampak negatif dalam kondisi kejiwaan peserta didik maupun masyarakat secara umum.48 Berikut adalah beberapa cara untuk seorang guru maupun orang tua untuk membuat anak atau peserta didik lebih mudah dalam membaca Al-Qur’an, yaitu:

  1. Binalah rumah teladan.

    Rumah merupakan tempat pertama bagi anak tumbuh. Di sana ia akan mendapatkan gizi yang cukup hingga beranjak dewasa. Rumah yang baik diharapkan bisa menghasilkan bibit unggul dan buah segar. Bila anda ingin meniginginkan anak anda mencintai Al- Qur’an, jadikanlah rumah anda sebagai rumah teladan yang menjadi contoh terbaik bagi orang yang berinteraksi dengan Al-Qur’an.

  2. Jadilah pendidik teladan

    Ada beragam media dan metode dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Namun, eksperimen dan pengalaman menunjukkan bahwa media terbaik untuk mengantarkan sebuah teori ilmiah agar menjadi realitas di kemudian hari adalah dengan memberikan contoh nyata. Karena itu seorang guru harus bisa menjadi teladan utama bagi peserta didiknya. Guru harus berperilaku baik agar bisa menjadi teladan nyata, bukan hanya dengan perkataan sehingga bisa dicintai anak-anak . Jika guru mencintai Al-Qur’an, peserta didikpun akan mencintai Al-Qur’an.

  3. Raihlah cinta anak

    Orang tua perlu menyadari bahwa cinta mereka kepada anak-anak adalah berdaarkan fitrah (naluri), namun bukan berarti mereka akan dicintai oleh anak-anak berdasarkan fitrah pula. Pada umumnya, perasaan tersebut merupakan reaksi anak terhadap sikap orang tua dalam berinteraksi. Oleh karena itu, hasilnya sangat tergantung pada kesan pertama anak terhadap kedua orang tuannya.

  4. Pahami karakteristik anak

    Setiap pendidik perlu mengetahui berbagai karakteristik anak dan perbedaan yang paling menonjol antaranak berdasarkan tahapan perkembangan yang berbeda. Berinteraksilah dengan anak dengan cara yang tepat dan sesuai.

  5. Ciptakan suasana pembelajaran yang inovatif

    Menanamkan rasa cinta Al-Qur’an di hati anak termasuk tugas yang sulit. Salah satu sarana penunjang yang dapat mempermudah pendidik dalam menunaikan tugas ini adalah dengan menggunakan berbagai media pembelajaran yang bervariasi dan berusaha untuk terus memperbarui metode pengajaran yang sesuai dengan kepribadian peserta didik.

  6. Kembangkan daya hafal anak

    Menghafalkan Al-Qur’an sangat erat kaitannya dengan kekuatan hafalan dan sangat bergantung pada kemampuan otak. Kecepatan memori menghafal sangat tergantung pada kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi.

  7. Pilih saat yang tepat

    Memilih waktu yang tepat untuk memotivasi anak merupakan salah satu faktor penting yang dapat membantu anak untuk mencaintai Al- Qur’an. Setiap pendidik hendaknya membuang jauh anggapan bahwa peserta didiknya ibarat mesin yang bisa diatur kapan saja, tanpa menghiraukan segala kebutuhan dan keinginan pribadinya, dengan alasan tidak ada yang lebih mulia dari Al-Qur’an . Atas dasar asumsi miring ini, sebagian orang memiliki persepsi bahwa kewajiban anak-anak terhadap Al-Qur’an adalah mempelajarinya kapan saja dan dalam suasana apa pun tanpa pertanyaan dan sanggahan. Asumsi ini adalah asumsi yang keliru. Hal ini hanya akan menimbulkan kebencian dalam jiwa anak karena semakin menambah beban penderitaannya.

  8. Lejitkan potensi anak

    Kecerdasan merupakan karunia yang diberikan Allah kepada siapa saja yang dikehendakin-Nya karena suatu hikmah yang hanya diketahui Allah. Kecerdasan dalam menghafal termasuk salah satu anugerah yang tidak dimiliki oleh setiap manusia. Agar anak-anak mencintai Al-Qur’an, kita harus memerhatikann kecerdasan setiap anak dan menjadikan anak yang cerdas dari sisi hafalan sebagai modal dalam mengembangkan potensi dirinya. Sebab, kemampuannya sulit dikembangkan melalui bidang-bidang lain.

Ringkasan
  • Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab , (Bandung: 2011)
  • Mulyono Abdurrahman, Anak Berkesulitan Belajar , (Jakarta: 2012)
  • Nini Subini, Mengatasi Kesulitan Belajar Pada Anak , (Jogyakarta: 2011)
  • Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar , (Jakarta: 2011)
  • Saad Riyadh, Ingin Anak Anda Cinta Al-Qur’an?, (Solo: 2009)
2 Likes

Berikut ini merupakan kesulitan belajar Membaca Al-Qur’an yang sering dialami oleh siswa :

  1. Kesulitan membedakan huruf hijaiyah disebabkan persamaan ciri dan bentuk

    Berdasarkan hasil wawancara terhadap siswa, kesulitan yang dialami saat belajar membaca Al-Qur’an yakni dalam hal menghafal huruf hijaiyah disebabkan beberapa huruf hijaiyah memiliki persamaan ciri dan bentuk. Hal tersebut membuat siswa salah mengucapkan bunyi huruf ketika membacanya sehingga menjadi kesulitan untuk menghafalnya.

  2. Kesulitan memahami perubahan bentuk huruf hijaiyah yang bersambung dengan huruf hijaiyah yang lain

    Berdasarkan hasil wawancara penulis degan guru pengampu, ada beberapa siswa yang belum memahami perubahan bentuk yang terjadi pada huruf hijaiyah ketika besambung dengan huruf hijaiyah yang lain. Hal itu membuat siswa terbata-bata ketika membaca Al-Qur’an karena
    harus mengingat-ingat perubahan bentuk huruf hijaiyah.

  3. Belum hafal harakat

    Berdasarkan hasil wawancara dan observasi penulis, ada beberapa siswa yang belum hafal harakat pada huruf hijaiyah. Hal itu menghambat mereka dalam belajar membaca Al-Qur’an karena harus mengingat-ingat harakat dan salah menyebut bunyi huruf yang berharakat.

  4. Kesulitan membedakan harakat panjang dan pendek

    Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, beberapa siswa mengaku kesulitan belajar membaca Al-Qur’an dikarenakan tidak hafal tanda panjang, baik berupa ا ,يْ , atau ي .ْSehingga ketika membaca AlQur’an terkadang bacaan panjang dibaca pendek, sedangkan bacaan pendek dibaca panjang.

  5. Kesulitan pengucapan makhraj yang benar

    Rata-rata siswa merasa kesulitan ketika harus mengucapkan makhraj huruf secara benar. Bagi siswa dengan intelegensi rendah yang belum terbiasa mengucapkan kalimat dalam bahasa Arab, huruf-huruf tertentu sulit diucapkan dengan benar sesuai makhrajnya karena lidah mereka belum terbiasa mengucapkannya, sehingga hal tersebut menghambat siswa dalam proses belajar membaca Al-Qur’an.

  6. Kesulitan dalam penerapan hukum tajwid

    Beberapa siswa merasa kesulitan dalam penerapan hukum tajwid ketika membaca Al-Qur’an. Kurangnya penguasaan terhadap ilmu tajwid menyebabkan mereka terbata-bata ketika membaca Al-Qur’an.

Ringkasan

http://eprints.ums.ac.id/53981/12/NASKAH%20PUBLIKASI-83.pdf