Apa saja jenis-jenis cecak atau cicak yang ada ?

fauna

(Bima Satria) #1

Cecak atau cicak

Cecak atau cicak adalah hewan reptil yang biasa merayap di dinding atau pohon. Cecak berwarna abu-abu, tetapi ada pula yang berwarna coklat kehitam-hitaman. Cecak biasanya berukuran sekitar 10 centimeter. Cecak bersama dengan tokek dan sebangsanya tergolong ke dalam suku Gekkonidae.

Apa saja jenis-jenis cicak yang ada ?


(Bhanu Wayan Mehrunisa) #2

Para ilmuan sains telah membagi jenis-jenis cicak dan cirinya dalam beberapa pembagian yang termasuk pada suku Gekkonidae, diantaranya:

Cyrtodactylus marmoratus (Gray,1831)


Jenis ini merupakan individu dewasa dengan memiliki ciri: panjang 5-8 cm, kepala besar, pipih, adapun lubang telinganya berbentuk oval. Pada bagian kepala sisiknya berbentuk granular (butiran-butiran kecil), tenggorokan dengan sisik granular yang sangat kecil. Dagu dengan dua hingga tiga pasang sisik. Bagian dorsal (punggung) tertutup dengan sisik granular kecil, bercampur dengan sedang, bulat, berlunas lemah.

Jenis Cyrtodactylus Marmoratus ini memiliki ekor panjang yang meruncing kebagian ujung. Ekor dengan corak coklat tua, sedangkan pada ekor baru akan hilang dan kadang digantikan oleh garis hitam, adapun warna tubuhnya coklat muda dibagian dorsal, dengan bintik coklat gelap sepanjang tubuh, kadang-kadang membentuk corak silang. Pada jari kakinya tidak memiliki lamela (lapisan tipis) namun berupa jari lansing yang berbentuk seperti busur panah dengan cakar disetiap ujung jari.

image
Gambar. Jenis Cyrtodactylus marmoratus

Gehyra Mutilata (Wiegman, 1834)


Jenis cicak ini ditemukan dan diklasifikasikan oleh seorang pakar sains yaitu Wiegman pada tahun 1834, adapun ciri-ciri pada jantan dewasa gebya mutilata memiliki ciri dengan panjang 4,2 cm. Kepalanya lebih panjang dari pada lebar tubuhnya, lubang telinga sedang atau lebar, bagian punggung dan tenggorokan tertutup oleh sisik bulatan kecil, lebih lebar dan pipih di bagian punggung.

Sisik pada perut luas dan tumpang tindih. Pada punggungnya berwarna keabu-abuan, coklat muda hingga coklat tua atau bervariasi dengan coklat lebih tua. Adapun pada ibu jarinya meruduksi tanpa cakar.

image
Gambar. Jenis Gehyra Mutilata

Cosymbotus Platyurus (Cicak Tembok)


Panjang jenis cicak ini berkisar antara 4-6,3 cm. Kepalanya dengan moncong lebih panjang dari jarak mata ke lubang telinganya. Lubang telinganya kecil berbentuk oval (lonjong). Jenis cicak ini memiliki tubuh yang pipih dengan sisik kecil pada bagian punggung dan melebar di bagian kepala.

Cosymbotus Platyurus memiliki pelebaran kulit dari aksila hingga pangkal tungkai belakang. Pada bagian perutnya memiliki sisik yang tumpang tindih. Ekornya pipih dengan sisi yang tajam tertutup oleh sisik kecil seragam. Warna tubuh jenis cicak ini pada umumnya coklat abu-abu dengan corak marmer yang bervariasi dari terang hingga gelap dibagian dorsal (punggung). Jenis ini juga memiliki corak hitam memanjang dari mata hingga ke pangkal tungkai depan.

Kehidupan jenis cicak ini pada umumnya dijumpai di hutan primer maupun sekunder, makanannya berupa serangga. Hewan ini aktif pada malam hari (nokturnal) dan umumnya hidup di atas pohon (arboreal).

image
Gambar. Jenis Cosymbotus Platyurus

Hemidactylus Frenatus (Dumeril & Bibron 1836)

Cicak ini memiliki panjang antara 4,2-5,7 cm. Kepalanya lebih panjang dari pada jarak mata hingga lubang telinganya. Lubang telinganya berbentuk kecil dan membulat. Pada bagian kepala hewan ini tertutup oleh sisik granuler (bulatan kecil) yang melebar di bagian moncong. Pada ekor frenatus berbentuk silindris memanjang dengan ujungnya yang runcing. Bagian jari dari jenis cicak ini memipih dengan pelebaran bagian ujung yang terdiri atas beberapa lamela (lapisan tipis). Adapun warna tubuh dari jenis ini yang pertama, bagian punggung berwarna coklat kemerahan (pink), kadang dengan beberapa corak gelap. Pada bagian kepala terdapat corak coklat gelap memanjang. Bagian ventral lebih pucat dengan titik coklat di bagian sisiknya.

Jenis cicak ini pada umumnya dapat dijumpai di bangunan-bangunan pemukiman. Hewan ini aktif pada malam hari (nokturnal) dan sering terlihat berada dekat lampu sambil menunggu mangsa berupa serangga yang mendekati lampu.

image
Gambar. Jenis Hemidactylus Frenatus

Gekko Gecko (Linnaeus, 1758)


Gekko Gecko merupakan nama latin dari jenis ini yang memiliki panjang 11,3 – 16, 2 cm. Memiliki lebar sebanding dengan dua kali jarak moncong hingga ke mata dan mata ke lubang telinga. Moncong triangular, tumpul, lebih panjang dari pada diameter mata. Lubang telinganya berbentuk kecil, oblique, diameter vertikal setengah dari diameter mata. Kepala tertutup sisik poligonal.

Pada bagian sisik labial atas berjumlah 12-15 dan labial bawah 10-13. Bagian mental terdapat sisik yang lebih kecil dari pada sisik labial, seragam dan berjumlah 4 hingga 5 pasang. Bagian dorsal dengan sisik kasar yang pipih dan biasanya terdapat 12 sisik granuler besar di sepanjang bagian dorsal. Sisik ventral pipih melebar dan tumpang tindih. Jantan dengan 13 praeanal pores dalam susunan pendek. Bagian ekornya berbentuk silindris, meruncing dengan pola cincin tertutup sisik granuler halus. Tiap cincin terdapat 5-6 baris sisik di bagian dorsal dan 3 di ventral. Sedangkan bagian dorsal terdapat sisik yang lebih kasar sebanyak 6 buah secara longitudinal. Tungkai dengan lamela yang menyatu (tanpa pemisah) di tiap jarinya.

Jenis ini memiliki warna dasar abu-abu dengan corak terang dari oranye sampai merah. Ekor dengan pola cincin. Ekor baru dengan warna abu-abu polos tanpa corak cincin. Bagian ventral lebih terang, biasanya abu-abu muda.

image
Gambar. Jenis Gekko Gecko

Ptychozoon kuhli (Stejneger, 1902)


Jenis cicak ini disebut dengan tokek purba atau nama latinnya Ptychozoon kuhli , memiliki kepala pipih berbentuk bulat telur dengan moncong lebih panjang daripada jarak antara mata dengan lubang telinga, lubang telinga lebar dan membulat.

Memilki panjang antara 8-9 cm, adapun bagian sisik berukuran cukup besar membentuk kulit yang melebar terdapat diantara lubang telinga hingga bagian leher. Sisik kepala kecil, rostral sangat besar, kuadranguler. Terdapat dua pasang sisik supranasal dengan bagian yang dekat dengan rostral berukuran lebih besar. Sisik labial atas 10-15 buah dan labial bawah 10-12 buah.

Tubuhnya sangat pipih dengan sisil granuler kecil dan beberapa tuberkel yang melebar. Jantan dengan 20- 22 praenal pores tersusun melengkung. Ekor panjang dan pipih dengan lembaran kulit. Tungkai kuat dengan pelebaran selaput jari. Warna tubuh abu-abu hingga coklat kemerahan dengan corak hitam di bagian dorsal. Warna coklat gelap terdapat di sepanjang mata hingga corak hitam pertama (bagian belakang tungkai depan).

Bagian ventral lebih terang dengan warna kekuningan. Seperti jenis lainnya, cicak purba ini juga aktif padamalam hari (nokturnal), penyebaran jenis cicak ini di Indonesia belumlah terlalu banyak hanya terdapat di pulau Sumatera, Jawa, Mentawai, dan Kalimantan.

Kemungkinan jenis cicak ini adalah cicak yang dijelaskan pada hadis Nabi atau pada masa Nabi, jenis ini dinamakan tokek purba, dan klasifikasinya sedikit ditemukan di Indonesia.

image
Gambar. Jenis Ptychozoon kuhli

Hemiphyllodactylus (Bleeker, 1860)


Ciri-ciri jenis cicak ini memiliki jari dengan bagian ujung terpisah menjadi dua buah lamela yang menyatu, dipisahkan oleh alur median. Bagian ibu jari mereduksi. Tubuh lansing memanjang dengan sisik kecil. Pupil vertikal. Adapun kepalanya lebih panjang daripada lebar tubuhnya, berbentuk bulat telur. Moncong dengan panjang sama dengan jarak mata hingga lubang telinga. Lubang telinga sangat kecil, oval, oblique. Tungkai lansing dan panjang.

Warna tubuh bagian dorsal coklat dengan corak marmer, terdapat corak hitam dari moncong hingga ke tungkai depan. Bagian ekor berwarna coklat muda dengan bintik putih memanjang. Bagian ventral tubuh lebih terang dengan bintik bintik coklat memanjang.

image
Gambar. Jenis Hemiphyllodactylus

Referensi :

  • Mohammad Irhan, dkk., “Fauna Indonesia”, Masyarakat Zoologi Indonesia.
  • Anton Ario , Mengenal Lengkap Satwa Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, (Jakarta: Conservation International Indonesia, 2010).