Apa saja hambatan-hambatan pembentukan hubungan dalam proses Konseling?

Konseling itu sendiri bertujuan untuk membantu seseorang dalam mengatasi masalah-masalah yang dapat mengganjal seseorang mencapai performansi prima.

Apa saja hambatan-hambatan pembentukan hubungan dalam proses Konseling ?

Dalam proses konseling terdapat tiga kondisi yang dapat membantu atau menghambat proses konseling tergantung bagaimana hal itu dapat dinyatakan dan ditangani.

Menurut Brammer dan Shostrom (1982) ketiga kondisi tersebut adalah pemindahan (transference), pemindahan balik (countertransference), dan penolakan atau resistensi (resistance).

1. Pemindahan (transference)

Secara umum menunjukkan dimana klien mengalihkan atau mengaitkan perasaan atau sikap kepada konselor menurut cara yang pernah klien arahkan kepada orang berarti (significant others), misalnya orang tua atau orang yang pernah menguasai dan mendominasinya pada masa lalu (Mappiare, 2006).

Istilah pemindahan (transference) dalam pengertian yang luas menurut Brammer dan Shostromm (1982) menunjukkan penyataan perasaan-perasaan klien terhadap konselor, apakah berupa reaksi rasional kepada kepribadian konselor atau proyeksi yang tidak sadar dari sikap-sikap dan stereotipe sebelumnya. Dalam proses konseling klien memproyeksikan sikap-sikapnya secara tidak sadar terhadap konselor.

Pemindahan dapat bersifat positif yaitu bila klien memproyeksikan perasaannya afeksinya (misalnya: cinta, hormat, menghargai) atau ketergantungannya kepada konselor. Bersifat negatif yaitu bila klien memproyeksikan perasaan kebencian dan agresinya kepada konselor. Fungsi terapeutik pemindahan dalam konseling adalah

  1. dapat membangun hubungan yang baik,
  2. meningkatkan kepercayaan,
    3)memungkinkan klien memperoleh gambaran perasaan melalui penafsiran perasaannya.

Dalam psikoterapi perkembangan dan proses pemindahan dipandang sebagai bagian perubahan kepribadian dalam jangka panjang. Penyelesaian pemindahan perasaan dapat dicapai bila konselor menjaga sikap menerima dan memahami, dan juga menerapkan bebrapa keterampilan dasar konseling misalnya teknik refleksi perasaan, refleksi isi, bertanya, klarifikasi dan interpretasi.

2. Pemindahan balik (countertransference)

Secara umum pemindahan balik mengacu pada suatu kejadian dalam konseling dimana konselor memproyeksikan, menanggapi setara, perasaan-perasaan atau sikap klien berdasarkan pada pengalaman masa lalu atau hubungan konselor dengan orang lain (Mappiare, 2006).

Definisi yang lain dikemukakan oleh Brammer dan Shostrom (1982) bahwa pemindahan balik merupakan reaksi emosional dan proyeksi konselor terhadap klien, baik yang disadari maupun tidak disadari. Pemindahan balik ini dapat timbul karena bersumber dari kecemasan.

Pola kecemasan konselor dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu

  1. masalah pribadi yang tak terpecahkan,
  2. tekanan situasional, dan
  3. komunikasi perasaan klien pada konselor .

Konselor dapat mengatasi perasaan pemindahan balik ini dengan cara

  1. membatasi sumber perasaan pemindahan balik,
  2. meminta bantuan kepada ahli lain.
  3. mendiskusikan dengan klien,
  4. menyadari diri sendiri
  5. rujukan kepada konseling atau terapi kelompok.

3. Penolakan (resistance)

Resistensi merupakan suatu sistem pertahanan klien yang berlawanan dengan tujuan konseling atau terapi (Brammer dan Shostrom, 1982). Pada umumnya konselor melihat resistensi sebagi suatu hal yang berlawanan dengan kemajuan dalam pemecahan masalah dan oleh karena itu konselor harus berusaha menguranginya sebanyak mungkin. Namun, konselor melihat resistensi sebagai suatu gejala yang penting untuk dianalisa secara intensif. Dengan demikian pada dasarnya resistensi merupakan gejala normal dalam proses konseling.

Sumber munculnya resistensi dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu resistensi internal dan resistensi yang bersifat eksternal. Resistensi internal datang dari kepribadian klien sendiri, dan resistensi eksternal timbul sebagai hasil konseling misalnya pengaruh teknik yang digunakan oleh konselor atau sikap kontratransparasi konselor.

Fungsi positif dari resistensi dalam proses konseling adalah:

  • Memberikan indikasi kemajuan wawancara pada umumnya dan dasar untuk rumusan diagnostik dan prognostik
  • Memberikan informasi kepada konselor, bahwa ada struktur pertahanan dari klien, sehingga konselor harus mempertimbangkan proses selanjutnya.
  • Sebagai mekanisme protektif (perlindungan dari ancaman) bagi diri klien melalui sistem pertahanannya.

Menurut Bugental (1952) dalam Brammer dan Shostrom (1982) mengemukakan lima tingkatan intensitas gejala resistensi mulai dari yang paling rendah sampai ke paling tinggi intensitasnya yaitu:

  1. Bersikap lamban (lagging)
    Klien menghindari tanggung jawab, responya tidak bersemangat, distractible, dan lebih ke arah intelektualisasi daripada konten emosi

  2. Kaku (inertia)
    Menjawab dengan kata-kata pendek, tidak memperhatikan pengarahan konselor dan tampak lelah.

  3. Tentatif resistensi
    Termasuk indikasi bahwa klien tidak mau melanjutkan ketegangan fisik, menahan rasa marah, perasaan berdosa, cemas.

  4. Resistensi sebenarnya
    Menunjukkan intensifikasi tentatf seperti diam, menanyakan kompetensi konselor, atau mempergunakan kata-kata kasar.

  5. Penolakan.
    Tindakan klien sangat ekstrim misalnya dengan mengakhiri konseling, melawan konselor.

Ada beberapa langkah untuk mengatasi sikap resistensi dari klien yaitu

  1. Menghiraukan gejala-gejala resistensi klien tetapi tetap waspada peningkatan resistensi. Dengan kata lain bila terjadi resistensi itu adalah hal normal, namun konselor berusaha memahami karakteristik atau gaya pertahanan diri klien

  2. Menggunakan teknik adaptasi minor, yaitu melakukan tindakan mengurangi resistensi dengan cara mengurangi pengaruh emosional, mengubah langkah (mengurangi bertanya, mengeser postur lebih rileks), menggunakan humor, dan memberikan dorongan dan penerimaan.

  3. Mengarahkan kembali isi wawancara pada hal-hal yang dapat mengurangi resistensi

  4. Teknik penanganan langsung dengan cara: interpretasi resistensi, refleksi perasaan resistensi, teknik referal, dan ancaman.

Sumber :
Mulawarman, Eem Munawaroh, Psikologi Konseling: Sebuah Pengantar bagi Konselor Pendidikan, Universitas Negeri Semarang