© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa saja gangguan pendengaran akibat kebisingan atau bising?

deaf

Pendengaran merupakan salah satu indra pada tubuh manusia yang sangat penting. Lalu apa saja gangguan fungsi pendengaran?

Gangguan Fungsi Pendengaran


Umumnya terdapat tiga bentuk gangguan atau kelainan fungsi pendengaran yaitu:

  1. Tuli Konduktif
    Terjadi akibat gangguan pada telinga luar atau telinga tengah. Gangguan telinga luar yang menyebabkan tuli konduktif adalah sumbatan oleh serumen, otitis eksterna dan osteoma liang telinga.

  2. Tuli Sensorineural ( Saraf)
    Tuli ini terbagi atas dua jenis yaitu cochlea dan retrocochlea . Tuli saraf cochlea disebabkan intoksikasi obat ototoksik, alkohol, trauma kapitis, trauma akustik dan pajanan bising. Tuli saraf retrocochlea disebabkan oleh neuroma akustik, tumor, cedera otak,pendarahan otak dan kelainan otak lainnya.

  3. Tuli Gabungan
    Tuli ini disebabkan oleh kombinasi antara tuli konduktif dan tuli saraf. Tuli ini dapat berupa suatu penyakit, misalnya radang telinga tengah dengan komplikasi ke telinga dalam.

Menurut Suma’mur (1992), gangguan yang ditimbulkan oleh kebisingan pada fungsi pendengaran dapat dibedakan menjadi 3 golongan, yaitu:

  1. Trauma Akustik,
    Disebabkan oleh pemaparan tunggal ( single exposure ) terhadap intensitas kebisingan yang sangat tinggi dan terjadi secara tiba-tiba, misalnya ketulian karena suara ledakan bom. Kerusakan organ telinga berupa robekan pada membrane tympani , dislokasi atau kerusakan tulang pendengaran dan sel-sel sensoris dan organon corti sehingga gambaran audiogram pada trauma akustik sering menunjukkan “ flat response ” (kombinasi tuli konduktif dan perseptif/tuli saraf).

  2. Temporary Threshold Shift (TTS) atau Kehilangan Pendengaran Sementara
    Ketika seseorang terpajan kebisingan, secara perlahan gangguan mulai tidak dirasakan karena adanya efek adaptasi. Ketika orang tersebut keluar dari daerah bising, daya dengarnya secara perlahan akan kembali pulih. Waktu pemulihan kembali berkisar beberapa menit sampai beberapa hari (3–7 hari) dan paling lama tidak lebih dari 10 hari. Faktor-faktor yang memengaruhi besarnya TTS adalah tingkat intensitas suara, lamanya pemaparan, karakteristik dari spektrum kebisingan (frekuensi kebisingan), dan kondisi/usia personel.

  3. Permanent Threshold Shift (PTS) atau Kehilangan Pendengaran Menetap
    TTS yang pemulihannya belum sempurna dan kemudian terpapar bising kembali akan mengakibatkan akumulasi ketulian TTS. Bila hal itu berlangsung secara berulang dan menahun, sifat ketulian akan berubah menjadi menetap (permanen). PTS sering pula disebut NIHL ( Noise Induced Hearing Loss ) dan ini umumnya terjadi setelah pemaparan 10 tahun atau lebih, karena PTS ini terjadi secara perlahan- lahan dan biasanya penderita tidak menyadari bahwa dirinya telah menderita ketulian.

Menurut Arifiani (2004), Efek bising terhadap pendengaran dapat dibagi menjadi tiga kelompok,yaitu:

  1. Trauma Akustik
    Pada trauma akustik terjadi kerusakan organik telinga akibat adanya energi suara yang sangat besar. Efek ini terjadi akibat dilampauinya kemampuan fisiologis telinga dalam sehingga terjadi gangguan kemampuan meneruskan getaran ke organ Corti. Kerusakan dapat berupa pecahnya gendang telinga, kerusakan tulang-tulang pendengaran, atau kerusakan langsung organ Corti. Penderita biasanya tidak sulit untuk menentukan saat terjadinya trauma yang menyebabkan kehilangan pendengaran.

  2. Noise-Induced Temporary Threshold Shift
    Pada keadaan ini terjadi kenaikan nilai ambang pendengaran secara sementara setelah adanya pajanan terhadap suara dan bersifat reversibel. Untuk menghindari kelelahan auditorik, maka ambang pendengaran diukur kembali 2 menit setelah pajanan suara. Faktor- faktor yang mempengaruhi terjadinya pergeseran nilai ambang pendengaran ini adalah level suara, durasi pajanan, frekuensi yang diuji, spektrum suara, dan pola pajanan temporal, serta faktor-faktor lain seperti usia, jenis kelamin, status kesehatan, obat-obatan (beberapa obat dapat bersifat ototoksik sehingga menimbulkan kerusakan permanen), dan keadaan pendengaran sebelum pajanan.

  3. Noise-Induced Permanent Threshold Shift
    Data yang mendukung adanya pergeseran nilai ambang pendengaran permanen didapatkan dari laporan-laporan dari pekerja di industri karena tidak mungkin melakukan eksperimen pada manusia. Dari data observasi di lingkungan industri, faktor-faktor yang mempengaruhi respon pendengaran terhadap bising di lingkungan kerja adalah tekanan suara di udara, durasi total pajanan, spektrum bising, alat transmisi ke telinga, serta kerentanan individu terhadap kehilangan pendengaran akibat bising

2 Likes