Apa saja gangguan jiwa yang dapat dialami oleh manusia ?

kejiwaan

(Lia Permata Sari) #1

Gangguan jiwa

Gangguan jiwa, menurut pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa (PPDGJ) III, adalah sindrom pola perilaku seseorang yang secara khas berkaitan dengan suatu gejala penderitaan (distress) atau hendaya (impairment) di dalam satu atau lebih fungsi yang penting dari manusia, yaitu fungsi psikologik, perilaku, biologik, dan gangguan itu tidak hanya terletak di dalam hubungan antara orang itu tetapi juga dengan masyarakat.

Apa saja gangguan jiwa yang dapat dialami oleh manusia ?


(Adira Raveena Taleetha) #2

Kesehatan jiwa adalah kemampuan individu dalam penyesuaian terhadap diri sendiri dan terhadap lingkungan sosialnya, berarti terhindarnya seseorang dari segala gejala, keluhan, dan gangguan mental, baik berupa neurosis maupun psikosis.

Gangguan jiwa dapat dikategorikan kedalam beberapa kelompok berikut ini.

Gangguan Kognisi


Kognisi adalah suatu proses mental yang dengannnya seseorang individu menyadari dan memepertahankan hubungan dengan lingkungannya baik lingkungan dalam maupun lingkungan luarnya (fungsi mengenal).

Bagian-bagian dari proses kognisi bukan merupakan kekuatan terpisah-pisah, tetapi sebenarnya ia merupakan cara dari seorang individu untuk berfungsi dalam hubungannnya dengan lingkungannya.

Gangguan kognitif merupakan gangguan dan kondisi yang mempengaruhi kemampuan berfikir seseorang. Individu dengan masalah seperti itu akan memiliki kesulitan dengan ingatan, persepsi, dan belajar.

Menurut Diagnostik dan Statistik Manual of Mental Disorders (DSM-V), masalah kognitif bisa masuk ke dalam kategori berikut:

  • Demensia adalah istilah yang luas yang mencakup kondisi yang mempengaruhi memori. Salah satu tanda utama dari masalah ini adalah kehilangan memori, yang sering berlangsung secara progresif. Salah satu jenis yang paling umum dari kondisi ini adalah penyakit Alzheimer.

  • Gangguan Pengembangan adalah kondisi yang ditandai dengan perkembangan belajar yang buruk atau tertunda. Gangguan autisme masuk ke dalam klasifikasi ini.

  • Delirium adalah perubahan cepat dalam persepsi atau kesadaran. Hal ini terjadi sangat tiba-tiba dan berlangsung hanya untuk waktu yang singkat, tetapi secara drastis dapat mempengaruhi suasana hati dan perilaku.

  • Amnesia merupakan hilangnya memori termasuk pengalaman dan fakta. Namun, tidak seperti apa yang digambarkan di film-film, seseorang tidak kehilangan identitas dirinya.

Gangguan Sensasi


Sensasi atau penginderaan adalah pengetahuan atau kesadaran atau suatu rangsang. Terdapat 6 macam sensasi yaitu: rasa kecap, rasa raba, rasa cium, penglihatan, pendengaran, dan kesehatan. Untuk setiap sensasi harus ada rangsang yang dapat diartikan sebagai setiap perubahan energi luar yang dapat menimbulkan suatu jawaban.

  • Hiperestesia adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan
    abnormal dari kepekaan dalam proses penginderaan, baik terasa panas, dingin, nyeri atau raba.

  • Anestesia adalah suatu keadaan dimana tidak didapatkan sama sekali perasaan pada penginderaan. Sifatnya dapat menyeluruh, setempat, atau sebagian saja. Dibedakan pada anestesia fungsional daerah anestesia yang terkena tidak sesuai
    persyaratan yang biasanya menimbulkan anestesi.

  • Parestesia adalah keadaan dimana terjadi perubahan pada perasaan yang normal (biasanya rasa raba), misalnya kesemutan. Parestesia bisa berupa:acropraestesia adalah keadaan dimana terjadi perasaan menebal pada ujung-ujung ekstermitas (baal).

  • Aestereognosis adalah keadaan dimana terjadi kegagalan atau benda dengan rasa raba.

  • Sinestesia adalah suatu keadaan dimana rangsangan yang sesuai dengan alat indra tertentu, di tanggapi oleh indra yang lain.

  • Hiperosmia adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan kepekaan berlebihan indra penciuman (fungsi membau).

  • Hiperkinestesia adalah keadaan dimana terjadi peningkatan kepekaan yang berlebihan terhadap perasaan gerak tubuh

  • Hipokinestesia adalah keadaan dimana terjadi penurunan kepekaan terhadap perasaan gerak tubuh.

Gangguan Persepsi


Persepsi atau pencerapan, adalah kesadaran akan suatu rangsang yang dimengerti. Jadi persepsi adalah sensasi ditambah dengan pengertian yang di dapat dari proses interaksi dan asosiasi macam-macam rangsang yang masuk atau dengan perkataan lain dapat disebutkan sebagai pengalaman tentang benda-benda dan kejadian yang ada pada saat itu.( Maramis, 2004).

  • Ilusi adalah suatu persepsi yang salah/palsu, dimana ada atau pernah ada rangsangan dari luar. Ilusi sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat mengekspresikan emosi atau motivasi yang sangat kuat dengan melakukan interpretasi yang salah terhadap gambaran penginderaan. Keadaan tersebut biasanya secara sadar di represi dan nantinya secra dinamis akan
    diinterpretasikan sebagai ilusi.

  • Halusinasi adalah suatu persepsi yang salah tanpa dijumpai adanya rangsang dari luar. Walaupun tampak sebagai sesuatu yang “khayal” halusinasi sebenarnya merupakan bagian dari kehidupan mental penderita yang “terepsesi” halusinasi dapat terjadi karena dasar-dasar organik fungsional, psikotik, maupun histerik.

    Jenis-jenis halusinasi

    • Halusinasi pendengaran (auditif, akustik)
      Paling sering di jumpai dapat berupa bunyi mendenging atau suara bising yang tidak mempunyai arti, tetapi lebih sering terdengar sebagai sebuah kata atau kalimat yang bermakna. Biasanya suara tersebut ditunjukan pada penderita sehingga tidak jarang penderita dertengkar ataupun berdebat dengan suara-suara tersebut. Suara tersebuat dapat dirasakan berasal dari jauh atau dekat, bahkan mungkin datang dari tiap bagian tubuhnya sendiri. Suara bisa menyenangkan, menyuruh berbuat baik, tetapi dapat pula berupa ancaman, mengejek, memaki atau bahkan yang menakutkan dan kadang kadang mendesak/memerintah untuk berbuat sesuatu seperti membunuh dan merusak (Yosep, 2007).

    • Halusinasi penglihatan (visual, optik)
      Lebih sering terjadi pada keadaan delirium (penyakit organik). Biasanya sering muncul bersamaan dengan penurunan kesadaran. Menimbulkan rasa takut akibat gambaran gambaran yang mengerikan.

    • Halusinasi penciuman (olfaktorik)
      Halusinasi ini biasanya berupa mencium sesuatu bau tertentu dan dirasakan tidak enak, melambangkan rasa bersalah pada penderita sebagi suatu kombinasi moral.

    • Halusinasi pengecapan (gustatorik)
      Walaupun jarang terjadi, biasanya bersamaan dengan halusinasi penciuman, penderita merasa mengecap sesuatu. Halusinasi gastrik lebih jarang daripada gustatorik.

    • Halusinasi raba (taktil)
      Merasa diraba, disentuh, ditiup, atau seperti ada ulat, yang bergerak dibawah kulit. Terutama pada keadaan delirium toksis dan skizofrenia.

    • Halusinasi seksual,
      Termasuk halusinasi raba dimana penderita merasa diraba dan diperkosa, sering pada skizofrenian dengan waham kebesaran terutama mengenai organ-organ.

    • Halusinasi kinestetik
      Penderita merasa badannya bergerak-gerak dalam suatu ruangan atau angota badannya yang bergerak-gerak, misalnya “phantom phenomenon” atau tungkai yang diamputasi selalu bergerak-gerak (phantom limb). Sering pada skizofrenia dalam keadaan toksik tertentu.

    • Halusinasi viseral
      Timbulnya perasaan tertentu di dalam tubuhnya. Depersonalisasi adalah perasaan aneh pada dirinya bahwa pribadinya sudah tidak seperti biasanya lagi serta tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.sering pada skizofrenia dan sindrom lobus parietalis. Misalnya merasa dirinya terpecah menjadi dua.

  • Derealisasi adalah suatu perasaan aneh tentang lingkungannnya yang tidak sesuai dengan kenyataan, misalnya perasaan bahwa segala sesuatu yang di alaminya seperti di dalam mimpi.

Gangguan perhatian


Perhatian adalah pemusatan dan konsentrasi energi menilai dalam suatu proses kognitif yang timbul dari luar akibat suatu rangsang. Agar suatu perhatian dapat memeperoleh hasil, harus ada 3 syarat yang dipenuhi yaitu: inhibisi, disini semua rangsangan yang tidak termasuk objek perhatian harus disingkirkan; apersepsi, yang dikemukakan hanya hal yang berhubungan erat dengan objek perhatian; adaptasi alat-alat yang digunakan harus berfungsi baik karena diperlukan untuk penyesuaian terhadap objek pekerjaan.(Maramis, 2004).

Beberapa gangguan perhatian antara lain :

  • Distraktibiliti adalah perhatian yang mudah dialihkan oleh rangsangan yang tidak berarti, misalnya: suaranyamuk, suara kapal, orang lewat, dan sebagainya.

  • Aproseksia adalah suatu keadaan dimana terdapat ketidak sanggupan untuk memperhatikan secara tekun terhadap situasi/keadaan tanpa memandang pentingnya masalah tersebut.

  • Hiperproseksia adalah suatau keadaan dimana terjadinya pemusatan/konsentrasi perhatian yang berlebihan, sehingga sangat mempersempit persepsi yang ada.

Gangguan ingatan


Ingatan (kenangan, memori) adalah kesanggupan untuk mencatat, menyimpan, memproduksi isi dan tanda-tanda kesadaran. Jadi proses ingatan terdiri dari 3 unsur yaitu: pencatatan (mencamkan, reception and registration), penyimpanan (menahan, retention, preservation), pemanggilan kembali (recalling). Gangguan ingatan terjadi bila terdapat gangguan pada satu atau lebih dari tiga unsur tersebut, faktor yang mempengaruhi adalah keadaan jasmaniah (kelelahan, sakit, kegelisahan), dan umur. Sesudah usia 50tahun fungsi ingatan akan berkurang secara bertahap.(Yosep, 2007).

Berikut beberapa gangguan ingatan:

  • Amnesia
    Ketidakmampuan mengingat kembali pengalaman yang ada, dapat bersifat sebagian atau total retrograd/antegrad dan dapat timbul oleh faktor organik/psikogen. Sebab organik, kerusakan pada unsur pencatatan dan penyimpanan, sedangkan sebab psikogen karena proses pemanggilan kembali terhalang oleh faktor psikologis. Pada amnesia psikogen: tidak ada gangguan kesadaran, tidak ada kerusakan fungsi intelek tual yang bersifat selektif terhadap kejadian yang tidak menyenangkan, dapat terjadi penyembuhan secara tiba-tiba dan sempurna.

  • Hipernemsia
    Suatu keadaan pemanggilan kembali yang berlebihan sehingga seseorang dapat menggambarkan kejadian-kejadian yang lalu dengan sangat teliti sampai kepada hal-hal sekecil-kecilnya. Sering keadaan mania, paranoia, dan katatonik.

  • Paramnemsia (pemalsuan/pemulihan ingatan)
    Adalah gangguan dimana terjadi penyimpangan/pemiuhan terhadap ingatan-ingatan lama yang dikenal dengan baik. Hal ini terjadi akibat distorsi proses pemanggilan paramnesia berguna sebagai pelindung terhadap rasa takut.

  • Konfabulasi
    Yaitu keadaan dimana secara sadar seorang mengisi lubang- lubang dalam ingatannya dengan cerita yang tidak sesuai dengan kenyataan, akan tetapi yang bersangkutan percaya akan kebenarannya.

  • Pemalsuan retrospektif
    Disebut sebagai ilusi ingtan yang berbentuk sebagai jawaban terhadap kebutuhan afektif. Penderita akan memberikan kesimpulan yangsalah terhadap suatu kejadian dengan menambahkan hal-hal yang keil dibuatnya sendiri atau menghubungkan dengan pengalaman yang tidak berdasarkan kenyataan sama sekali.

  • Deja vu (ilusi ingatan)
    Suatu perasaan seakan-akan pernah melihat sesuatu yang sebenarnya belum pernah dilihatnya. Keadaan ini timbul apabila saat itu mempunyai ingatan asosiasi dengan pengalaman masalalu yang sengaja dilupakan, biasanya pengalaman tersebut pusat konflik yang direpresi secara konsekuen.

  • De jamais vu
    Suatu perasaan palsu terhadap suatu kejadian yang sebenarnya pernah dialaminya tetapi saat ini dirasakan belum atau tidak pernah dialaminya/dilihatnya. Gejala ini sering terjadi pada skizofrenia, psikoneurosis, lesi pada lobus temporalis, misalnya epilepsi, kelelahan dan toksis.

Gangguan asosiasi


Asosiasi adalah proses mental yang dengannya suatu perasaan, kesan atau gambaran ingatan cenderung untuk menimbulkan kesan atau gambaran ingatan respon/konsep lain, yang memang sebelumnyaberkaitan dengannya (Maramis, 2004)

Dalam kehidupan mental normal, proses asosiasi terjadi secara terus menerus dengan pola-pola tertentu. Faktor-faktor yang menentukan pola-pola dalam proses asosiasia antara lain:

  1. Keadaan lingkungan pada saat itu

  2. Kejadian-kejadian yang baru terjadi

  3. Pelajaran dan pengalaman sebelumya

  4. Harapan-harapan dan kebiasaan seseorang

  5. Kebutuhan dan riwayat emosionalnya Beberapa bentuk gangguan asosiasi:

    1. Retradasi (perlambatan); adalah proses asosiasi yang berlangsung lebih lambat dari biasanya.

    2. Kemiskinan ide; suatu keadaan dimana terdapat kekurangan asosiasi syang dapat dipergunakan.

    3. Perseversi; suatu keadaan dimana suatu asosiasi diulang-ulang kembali secara terus menerus yang seakan-akan mengambarkan seseorang tidak sanggupa lag untuk melepaskan ide yang telah diucapkan.

    4. Fligth of ideas (lari cita, pikiran melompat-lompat); suatu keadaan dimana aliran asosiasi berlangsung sangat cepat yang tampak dari perubahan isi pembicaraan dan pikiran. Di sini tampak ide belum selesai disusul dengan ide yang lain.

    5. Inkoherensi; suatu keadaan dimana aliran asosiasi tak berhubungan satu dengan yang lain.dapat berbentuk sebagai “gado-gado kata” (word salad) atau suatu neologisme (pembentukan kata-kata baru yang tidak berarti). Inkoherensi dapat dikatakan suatu “asosiasi longgar”.

    6. Blocking (hambatan. benturan); suatu keadaan dimana terjadi kegagalan membentuk asosiasi, mulai dari situasi sementara akibt reaksi emosional yang kuat sampai pada blocking yang lama seperti terdapat pada penyakit jiwa yang berat disini penderita tidak dapat menerangkan mengapa dia berhenti.

    7. Aphasia; suatu keadaan dimana terjadi kegagalan sebagian atau seluruhnya untuk menggunakan atau memahami bahasa. Dalam beberapa buku, gangguan asosiasi dimasukan dalam gangguan arus pikiran.

Gangguan pertimbangan


Pertimbangan (penilaian) adalah suatu proses mental untuk membandingkan/menilai beberapa pilihan dalam suatu kerangka kerja dengan memberikan nilai-nilai untuk memutuskan maksud dan tujuan dari suatu aktivitas. Membandingkan disini meliputi istilah tentang ”besarnya kepentingan”, ”kebenarannya”, “kebaikannya”, ”kecantikannnya dan sebagainya. Tiga hal yang akan mendukung berfungsinya pertimbangan yaitu:

  • Aparat sensoris yang mampu mempunyai persepsi diskriminasi yang teliti.

  • Ingatan yang penuh dengan data-data sebagai dasar untuk membandingkan.

  • Aparat motoris yang mempunyai keterampilan atau kemampuan untuk memutuskan serta adanya mekanisme inhibisi untuk aktivitas yang berlebihan.

Dalam beberapa buku masalah pertimbangan ini dibahas dalam gangguan proses berpikir (isi pikiran) beberapa bentuk waham.

Gangguan pikiran


Pikiran umum adalah meletakan hubungan antara berbagai bagian dari pengetahuan seseorang. Berpikir merupakan suatu proses dalam mempersatukan atau menghubungkan ide-ide dengan membayangkan, membentuk pengertian untuk menarik kesimpulan, serta proses-proses yang lain untuk membentuk ide-ide baru. Jadi dalam prses berpikir meliputi proses pertimbangan, pemahaman, ingatan serta penalaran (Yosep, 2007).

Proses berpikir yang normal mengandung ide, simbol, dan asosiasi yang terarah pada tujuan dan yang dibangkitkan oleh suatu masalah atau tugas yang dapat menghantar pada suatu penyelesaian yang berorientasi pada kenyataan. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses berpikir yaitu:

  1. Faktor somatik (gangguan otak dan kelelahan)
  2. Faktor psikologik (gangguan emosi dan psikosa)
  3. Faktor sosial (kegaduhan dan keadaan sosial tertentu)

Beberapa bentuk gangguan proses berpikir antara lain :

  • Gangguan bentuk pikiran (produksi; termasuk semua penyimpangan dari pemikiran rasional, logik dan terarah pada suatu tujuan:

  • Pikiran deristik adalah bentuk pikiran dimana tidak ada hubungan antara proses mental dengan pengalamannya yang sedang berjalan. Di sini proses mental tidak sesuai atau tidak mengikuti kenyataan, logika atau pengalaman.

  • Pikiran autistik. Gangguan dalam proses berpikir dimana terjadi kegagalan dalam membedakan batas antara kenyataan dan fantasi. Dengan berpikir autistik seorang dapat memuaskan keinginannnya secara khayalan (imaginatif) dengan mengabaikan usaha-usaha untuk memuaskan secara realistik.

  • Pikiran yang non-realistik. Bentuk pikiran yang sama sekali tidak berdasarkan kenyataan. Merupakan gejala yang menonjol pada skizofrenia hebefrenik disamping tingkah laku yang kekanak-kanakan. Ketiga bentuk pikiran tersebut bisa dibedakan, kadang-kadang dijadikan satu dengan memakai salah satu istilah saja.

  • Pikiran obsesif. Gangguan pikiran dimana satu ide selalu datang berulang-ulang, irasional dan secara sadar tak diinginkan, tapi tidak dapat dihilangkan.

  • Konfabulasi. Gangguan pikiran dimana seorang mempersatukan hal-hal atau kejadian yang tidak berkaitan, dalam suatu usaha untuk mengisi kekosongan pikiran yang timbul karena kehilangan ingatan.Gangguan arus atau jalan pikiran meliputi cara dan laju proses asosiasi dalam pemikiran:

  • Flight of idea (lari, cita pikiran melompat-lompat melayang) adalah keadaan dimana terjadi perubahan yang mendadak, cepat dalam pembicaraan, sehingga suatu ide belum selesai sudah disusul oleh ide yang lain. Dikatakan yang berasal dari dalam maupun luar. Suatu kata yang sama bunyinya, tetapi berlainan artinya akan meimbulkan suatu pikiran baru “clang associaton”.

  • Retardasi (perlambatan) yaitu keadaan dimana terjadi perlambatan dalam jalan pikiran seseorang, sering dijumpai pada penderita skizofrenia dan psikosa efektif fase depresi.

  • Presevarasi, yaitu suatu keadaan dimana seseorang secara berulang memberitahukan suatu ide, pikiran atau thema secara berlebihan.

  • Circumstantiality (pikiran berbelit-belit, pikiran berputar-putar) yaitu suatu keadaan dimana untuk menuju secara tidak langsung kepada ide pokok dengan menambahkan banyak hal yang remeh-remeh yang menjemukan dan tidak relevan. Sering didapat pada anak/orang terbelakang (MR), epilepsi dan gangguan jiwa senil yang tidak berat.

  • Inkoherensi, yaitu suatu keadaan dimana terdapat gangguan dalam bentuk bicara, pembicaraannnya sukar atau tidak dapat ditangkap maksudnya. Inkoherensi ini dapat dikatakan sebagai suatu asosiasi yang ekstrim. Pada inkoherensi ada gado-gado kata “(word salad).

  • Blocking (hambatan, halangan, benturan) yaitu suatu keadaan dimana jalan pikiran secara tiba-tiba berhenti, hal ini tidak dapat diterangkan oleh penderita. Kemungkinan disebabkan oleh aktivitas yang kompleks dan dominan akibat efek yang tidak enak atau disetujui.

  • Logorea, yaitu banyak bicara dimana kata-kata baru yang tidak dipahami secara umum.

  • Neologisme, yaitu membentuk kata-kata baru yang tidak di pahami secara umum.

  • Irelevansi, yaitu suatu keadaan dimana isi pikiran atau ucapan tidak ada hubungannnya dengan pernyataan atau dengan hal yang sedang dibicarakan.

  • Aphasia, yaitu suatu keadaan dimana seseorang tidak atau sukar mengerti pembicaraan orang lain (sensorik) dan atau tidak dapat atau sukar bicara (motorik). Sering terjadi pada kerusakan otak.

Gangguan isi pikiran


Gangguan isi pikiran meliputi isi pikiran non verbal atau isi pikiran yang diceritakan. Beberapa gangguan isi pikrian antara lain :

  • Waham
    Suatu kepercayaan yang terpaku dan tidak dapat dikoreksi atas dasar fak ta dan kenyataan. Tetapi harus dipertahankan, bersifat patologis dan tidak terkait dengan kebudayaan setempat. Adanya waham menunjukan suatu gangguan jiwa yang berat, isi waham dapat menerangkan pemhaman terhadap faktor-faktor dinamis penyebab gangguan jiwa. Terbentuknya kepercayaan yang bersifat waham adalah sebagai perlindungan diri terhadap rasa takut dan untuk pemuasan kebutuhan. Waham ada yang sistematis dan tidak sistematis, diklasifikasi menurut isinya dan isi waham biasanya mempunyai kecenderungan untuk menguasai/menonjol (Maramis, 2004)

  • Waham kebesaran (waham ekspansif).
    Suatu kepercayaan palsu dimana seseorang memperluas atau memperbesar kepentingan dirinya, baik mengenai kualitas tindakan/kejadian /orang disekelililng, dalam bentuk tidak realistik. Waham ini timbul akibat perasaan yang tidak wajar, tidak aman, dan rasa dan rasa rendah diri yang secara sadar dihalangi oleh komponen ideal dan efektif dari waham itu sendiri. Isi dari waham kebesaran sering menunjukan kekecewaan, kegagalan, dan perasaan tidak aman (Yosep, 2007).

  • Waham depresif (menyalahkan diri sendiri);
    Kepercayaan yang tidak berdasar. Menyalahkan diri sendiri akibat perbuatan-perbuatannya yang melanggar kesusilaan atau kejahatan lain. Waham depresif sering dirasakan sebagai; waham bersalah (perasaan bersalah, kehilangan harga diri), waham sakit (gangguan perasaan tubuh yang berasal dari viseral yang dipengaruhi oleh keadaan emosi ), waham miskin (kehidupan perasaan nilai sosial).

  • Waham somatis (waham hipokondria);
    Kecenderungan yang menyimpang dan bersifat dungu (bizarre) mengenai fungsi dan keadaan tubuhnya, misalnya penderita merasa tubuhnya membusuk atau mengeluarkan bau busuk.

  • Waham nihilistik;
    Suatu kenyataan bahwa dirinya atau orang lain sudah meninggal atau dunia ini sudah hancur.

  • Waham kejar;
    Penderita yakin bahwa ada orang yang sedang mengganggunya, menipunya, memata-matai atau menjelekan dirinya.

  • Waham hubungan;
    Keyakinan bahwa ada hubungan langsung antara interpretasi yang salah dari pembicaraan, gerakan atu digunjingkan.

  • Waham pengaruh;
    Keyakinan yang palsu bahwa dia adalah merupakan subyek pengaruh dari orang lain atau tenaga gaib yang tidak terlibat.

  • Ideas reference (pikiran hubungan)
    Suatu keadaan yang mana pembicaraan orang, benda atau kejadian dihubungkan dengan dirinya sendiri. Penderita mungkin menyadari pikirannya tidak masuk akal, misalnya bunyi burung dikira suatu berita bagi dirinya.

  • Pre-okupasi
    Adanya suatu pikiran yang terpaku hanya pada sebuah ide saja, yang biasanya berhubungan dengan keadaan emosional yang kuat.

  • Thougth insertion (sisip pikiran).
    Adalah suatu perasaan bahwa ada pikiran dari luar yang disispkan yang dimasukan kedalam otaknya.

  • Thougth board cast (siar pikir)
    Adalah suatu perasaan bahwa pikirannya telah disiarkan melalui radio, televisi, kawat listrik dan lampu.

Fobia


Fobia adalah rasa takut yang irasional terhadap suatu benda atau keadaan yang tidak dapat dihilangkan atau ditekan oleh penderita walau disadari bahwa hal tersebut irasional. Fobia dapat mengakibatkan suatu kompulsi, bentuk fobia bervariasi dan banyak yang mengenai benda serta keadaan.

Gangguan kesadaran


Kesadaran adalah kemampuan seseorang untuk mengadakan hubungan dengan lingkungan serta dirinya sendiri melalui pancaindera dan mengadakan pembatasan terhadap lingkungan serta dirinya sendiri. Bila kesadaran itu baik, maka terjadi orientasi (waktu tempat dan orang) dan pengertian yang baik pula serta informasi akan digunakan secara afektif (melalui ingatan dan pertimbangan). Bentuk- bentuk gangguan kesadaran (Maramis, 2004)

  1. Kesadaran kuantitatif

    • Kesadaran yang menurun; suatu kesadaran dengan kemampuan persepsi, perhatian dan pemikiran yang berkurang secara keseluruhan.

    • Apatis; kesadaran seperti orang yang mengantuk.

    • Somnolen; kesadaran seperti orang yang mengantuk berat, memberi jawaban bila dirangsang.

    • Sopor; hanya bereaksi dengan rangsangan yang kuat, ingatan, orientasi dan pertimbangan sudah hilang.

    • Subkoma dan koma; tidak didapat bereaksi terhadap rangsangan apapun.

    • Kesadaran yang meninggi; keadaan reaksi yang meningkat terhadap suatu rangsangan, disebabkan oleh zat toksik yang merangsang otak atau oleh faktor psikologik.

  2. Kesadaran kualitatif

    • Stupor, karena faktor psikogen didapatkan pada keadaan katatonia, depresi, epilepsi, ketakutan, dan reaksi disosiasi.

    • Twiligth state (keadaan dini, senja, senjakala); kehilangan ingatan atas dasar psikologik yang mana kesadaran terganggu dan dalam beberapa keadaan sangat mengaburkan, sehingga penderita tidak mengenali lingkungannya. Dapat disertai halusinasi dengar, sehingga dapat melakukan tindakan tertentu. Biasanya penderita lupa tentang tindakan selama senja dan seolah-olah dalam mimpi, brlangsung beberapa menit sampai beberapa hari.

  • Fuge; suatu periode penurunan kesadaran dengan pelarian menimbulkan banyak stres, tetapi dapat mempertahankan kebiasaan dan ketrampilannya.

  • Confusion (bingung) ; gangguan keadaan karan rusaknya aparat sensoris dimana didapatkan kesulitan pengertian, mengacau, disorientasi disertai gangguan fungsi asosiasi.

  • Tranco (trans); keadaan kesadaran tanpa reaksi yang jelas terhadap lingkungan yang biasanya mulai secara mendadak roman mukatampak seperti bengong, kehilangan akal atau melamun. Dapat ditimbulkan oleh hipnosa atau upacara kepercayaan.

Gangguan orientasi


Orientasi adalah kemampuan seseorang untuk mengenal lingkungannya serta hubungannya dengan waktu, ruang, dan terhadap dirinya serta orang lain. Disorientasi atau gangguan orientasi dapat timbul sebagai gangguan dan kesadaran, mngenai waktu, mengenai tempat dan mengenai orang. Disorientasi dapat terjadi pada setiap gangguan jiwa yang mana ada kerusakan yang hebat dari ingatan, pesepsi, dan perhatian.

Gangguan Kemauan


Kemauan adalah suatu proses dimana keinginan- keinginan dipertimbangkan untuk kemudian diputuskan dilaksanakan sampai mencapai tujuan (Maramis, 2004).

Proses kemauan sebagai berikut:

  1. Saat terlihat (terdiri dari tanggapan dan tegangan yang cukup kuat).

  2. Saat objektif (sudah ada yang diingini, walau hanya dalam niat saja, tetapi benda yang menjadi tujuannya sudah ada).

  3. Saat aktual (timbul kesadaran akan keingina dan menghendaki, tindakan sudah dikhayalkan dan dialami).

  4. Saat subyektif (berupa tindakan kemauan itu sendiri, dengan kesdaran penuhdan menggunakan segala daya dan tenaga). Kemauan dapat dirusak oleh gangguan emosional, gangguan- gangguan kognisi, kerusakan otak organik, dalam keadaan tidak terlatih atau bahkan terlalu banyak latihan.

Bentuk-bentuk gangguan kemauan antara lain :

  1. Abulia (kemauan yang lemah); suatu keadaan inaktivitas sebagai akibat ketidak sanggupan membuat keputusan atau memulai suatu tingkah laku.

  2. Negativisme; ketidaksanggupan dalam bertindak atas sugesti dan tidak jarang terkadi melakukan sesuatu yang bertentangan dengan yang disugestikan.

  3. Kekakuan (rigiditas); ketidak mampuan memiliki keleluasaan dalam memutuskan untuk merubah suatu tingkah laku, misal stereotipe yang merupakan sikap atau gerakan mekanis yang dilakukan berulang-ulang.

  4. Kompulsi; suatu keadaan dimana seseorang merasa didorong untuk melakukan suatu tindakan, yang disadari sebagai suatu irasional atau tidak ada gunanya.

  5. Kleptomania (mencuri konpulsif), yaitu sering mencuri barang yang mempunyai arti simbolis dan biasanya tidak bernilai.

  6. Pyromania (membakar konpulsif), dipandang sebagi suatu bentuk simbolis pemuasan seksual.

  7. Mencuci tangan berulang-ulang dengan tidak dapat dicegah atau dikuasai.

Gangguan Emosi dan Afek


Emosi adalah suatu pengalaman yang sadar dan memberikan pengaruh pada aktivitas tubuh dan menghasilkan sensasi organis dan kinetis. Afek adalah kehidupan perasaan emosional seseorang , menyenangkan atau tidak, yang menyertai suatu pikiran, biasa berlangsung lama dan jarang disertai omponen fisiologik.

Dikaitkan dengan pengertian afek, maka emosi merupakan manifestasi afek keluar disertai oleh banyak komponen fisiologik, biasanya berlangsung relatif singkat. Kdang-kadang istilah emosi dan afek tidak dibedakan dan dipakai bersama-sama (Yosep, 2007).

Bentuk-bentuk gangguan emosi dan afek:

  1. Euforia; emosi yang menyenangkan, masa riang, senang gembira, bahagia yang berlebihan dan tidak sesuai keadaan, hal ini menunjukan adanya gangguan.

  2. Elasi; eforia yang berlebihan disertai motorik sering merupakan emosi yang labil dan sering berubah menjadi mudah tersinggung.

  3. Eksaltasi; elasi yang berlebihan dan biasanya disertai dengan sikap kebesaran (waham kebesaran).

  4. Eklasi (kegairahan); gairah yang berlebihan disertai rasa aman, damai, dan tenang biasanya berhubungan dengan perasaan keagamaan yang kuat.

  5. Inapropiate afek (afek yang tidak sesuai);, adalah suatu gejala gangguan emosi dimana dijumpai perbedaan yang jelas antara emosi yang tampak dengan situasi yang menyebabkannya, misalnya tertawa ketika suatu musibah.

  6. Afek yang kaku (rigid), suatu keadaan dimana rasa hati tetap dipertahankan, walau terdapat rangsangan yang biasanya menyebabkan reaksi emosional yang berlebihan.

  7. Emosi labil adalah suatu gejala dimana terdapat ketidak stabilan yang berlebihan dan bermacam emosional, cepat berubah dari emosi satu pada emosi yang lain.

  8. Cemas dan depresi merupakan gejala yang terlihat dari ekspresi muka atau tingkah laku.

  9. Ambivalensi adalah emosi dan afek berlawanan yang timbul bersama-sama pada seseorang, suatu objek atau keadaan, benci tapi rindu.

  10. Apatis, kurang atau tidak ada sama sekali reaksi emosional dalam keadaan-keadaan yang seharusnya menimbulkan emosi.

  11. Emosi yang tumpul dan datar, penguragan atau tidak ada sama sekali tanda tanda ekspresi afektif.

Gangguan psikomotor


Psikomotor adalah gerakan badan yang dipengaruhi oleh keadaan jiwa, sehingga merupakan afek bersama yang menegenai badan dan jiwa. Juga meliputi kondisi, perilaku motorik dari suatu perilaku (Yosep, 2009).

Bentuk-bentuk gangguan psikomotor antara lain :

  1. Aktivitas yang meningkat.

    • Hiperaktivitas, hiperkinesia, aktivitas dan pergerakan yang berlebihan dengan intensititas respon yang meningkat.

    • Hipertonisitas, peningkatan gangguan otot tubuh

    • Gaduh gelisah katatonik, aktivitas motorik yang tampak tidak bertujuan, berkali-kali dan seakan-akan tak dipengaruhi oleh rangssangan dari luar.

  2. Aktivitas yang menurun

    • Hipoaktivitas, hipokinesia, aktivitas dan pergerakan berkurang dengan intensitas respon yang menurun.

    • Kelambanan motoris, aktivitas berkurang menyeluruh, misal pada orang suprakatatonik.

    • Atonisitas, keadaan tonus dan kontraksi otot yang abnormal dapat menyeluruh atau sebagian saja.

    • Paralisa, kehilangan fungsi otot baik secara keseluruhan atau sebagian saja.

  3. Aktivitas yang terganggu atau tidak sesuai.

    • Ataksia, tidak terdapat koordinasi pada gerakan tungkai atau dalam sikap berdiri.

    • Apraksia, tidak sanggup memanipulasi benda dengan cara yang terarah.

    • Atetosi, gerakan terus memerus, difus, seperti tungkai dan dirasakanya nyeri.

    • Gerakan khoreiform, gerakan tidak teratur secara terus menerus yang tidak dikuasai oleh kemauan.

    • Spasme, kontraksi otot-otot sebagian atau seluruh yang tidak dikuasai oleh kemauan.

    • Tremor, kontraksi serat-serat otot yang ringan dan ritmis, yang tidak dikuasai, dapat lambat atau cepat, kasar atau halus teratur atau tidak teratur.

    • Konvulsi, kejang terus-menerus pada daerah tubuh yang luas dan biasanya dengan kehilangan kesadaran.

    • Aktivitas yang berulang-ulang.

    • Katalepsi, mampertahankan secara kaku posisi badan tertentu.

    • Fleksibilitas serea, salah satu bentuk katalepsi, yang mana posisi badan yang dibuat orang lain dipertahankan terus.

    • Stereotipi, gerakan salah satu badn beruang-ulang dan tidak bertujuan.

    • Manerisma, gerakan stereotipi dan teaterikal, berbentuk ritual dan selalu diulang-ulang.

    • Otomatisme perintah dia menurut sebuah perintah secara otomatis tanpa disadari.

    • Otomatisme, berbuat sesuatu secara otomatis sebagai ekspresi simbolik aktivitas tak sadar.

    • Ehopraksia, langsung meniru gerakan orang lain pada saat dia melihat.

    • Ekholalia, langsung mengulangi atau meniru apa yang dikatakan orang lain.

    • Negativisme; suatu pertahanan psikologik yang diperhatikan dengan melawan atau menentang terhadap apa yang disuruh. Ada 2 macam, yaitu; aktif, (melaksanakan sebaliknya dari apa yang diperintahkan); pasif (tidak melaksanakan apa yang diperintahkan, contoh; mutisme)

    • Aversi, suatu reaksi yang agresif dan tegas yang diperlihatkan dengan melawan, mendengki, membenci, nonkooperatif, menolak, dan kadang-kadang menunjukan reaksi stupor.