© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa saja fungsi hutan bakau atau hutan mangrove?

Hutan Bakau

Hutan Mangrove merupakan vegetasi khas daerah tropis dan sub-tropis yang dijumpai di tepi sungai, muara sungai dan tepi pantai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Dengan kata lain bahwa mangrove termasuk vegetasi halofita ( halophytic vegetation ) yaitu vegetasi yang hanya terdapat pada tempat-tempat yang tanahnya berkadar garam tinggi.

Berikut ini adalah beberapa fungsi hutan bakau :

  1. Sebagai sumber konsumsi
    Beberapa buah, biji dan juga daun dari jenis – jenis tanaman yang hidup di dalam hutan bakau dapat dimanfaatkan untuk konsumsi sehari – hari. Jenis dedaunan seringkali diolah sebagai sayur ataupun lalapan, seperti jenis pakis laut. Biji – bijian dan juga buah dari tanaman yang terdapat di hutan bakau juga seringkali dimakan begitu saja, dan tentu saja juga memiliki nilai gizi yang tinggi.

  2. Apotek hidup
    Pemanfaatan dari hutan bakau sebagai apotek hidup kini sudah mulai dilakukan. Bagaimana tidak, hampir semua jenis tanaman yang tumbuh dan juga hidup di dalam hutan bakau dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat alias apotek hidup. Dengan fungsi ini, maka secara tidak langsung hutan bakau bisa berperan sebagai apotek hidup yang dapat membantu mengatasi permasalahan kesehatan yang dialami oleh mereka yang tinggal di sekitar hutan bakau.

  3. Menjaga kestabilan garis pantai
    Fungsi penting lainnya dari hutan bakau adalah untuk membantu menjaga kestabilan dari garis pantai. Kestabilan garis pantai sangat penting untuk dijaga, karena apabila tidak terjaga, maka lama kelamaan garis pantai akan terkikis. Kondisi ini kemudian dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada lokasi daratan dan juga pantai, dimana akan terjadi abrasi yang disebabkan oleh air laut. Hal ini akan menyebabkan daratan menjadi lebih sempit dan juga terkikis, sehingga tentunya akan merusak kehidupan di sekitar pantai.

  4. Mencegah tsunami
    Aceh dan Jepang merupakan lokasi terjadinya tsunami yang dahsyat. Tsunami sendiri ternyata bisa dicegah, atau setidaknya direduksi dampak kekacauan yang ditimbulkannya dengan melestarikan dan mengembalikan fungsi dari hutan bakau. Dengan demikian, maka bencana tsunami pun dapat dicegah.

  5. Mereduksi gelombang pasang air laut
    Alasan utama mengapa hutan bakau dapat mencegah terjadinya bencana alam seperti tsunami adalah karena pohon – pohon danjuga tanaman yang terdapat did alam hutan bakau memiliki kemampuan yang sangat baik untuk mereduksi gelombang pasang air laut. Jadi, ketika air laut mengaami gelombang pasang, hutan bakau mampu untuk mereduksi akibat yang ditimbulkan. Setidaknya, 60% dari gelombang air laut bisa direduksi oleh keberadaan hutan bakau, sehingga wajar saja apabila keberadaan dari hutan bakau ini dapat membantu mencegah dan mengurangi dampak buruk dari terjadinya tsunami dan gelombang pasang tinggi.

  6. Mencegah abrasi
    Abrasi merupakan proses pengikisan daratan atau tanah, yang banyak terjadi karena faktor gelombang air laut. Ketika daratan terlalu sering mengalami gesekan dengan air laut, maka hal ini akan menyebabkan terjadinya abrasi, dimana daratan akan menjadi semakin terkikis dan menyempit. Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya luas daratan, dan dapat menyebabkan air laut mudah naik ke permukaan. Hutan bakau lah yang menjaga agar hal ini tidak terjadi. Dengan adanya hutan bakau sebagai tameng dari suatu daratan dari air laut, maka kemungkinan terjadinya abrasi dapat diperkecil.

  7. Pencegah intrusi air laut serta menahan lumpur
    Seperti sudah disebutkan sebelumnya, hutan bakau memiliki fungsi untuk mencegah intrusi air laut, atau masuk dan naiknya gelombang pasang air laut ke permukaan atau daratan. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya banjir rob, ataupun sedimentasi dari lumpur yang ikut terbawa. Untuk mencegah hal ini terjadi, maka hutan bakau harus diptomalkan fungsinya untuk menjaga daratan dari intrusi air laut tersebut.

  8. Sebagai lokasi hidup bagi ikan laut
    Daerah hutan bakau juga merupakan daerah yang masih berisi air laut dalam jumlah banyak. Hal ini membuat lokasi hutan bakau menjadi tempat tinggal dari beberapa hewan laut, seperti ikan, ubur – ubur dan kepiting. Beberapa hewan laut jug amemanfaatkan lokasi yang berada di area hutan bakau untuk mendukung proses pemijahan dan juga menjadikan hutan bakau sebagai nursery ground untuk membantu membesarkan anak – anak mereka.

  9. Penghasil kayu untuk bahan bangunan dan kayu bakar
    Pohon – pohon yang ada di dalam hutan bakau juga bisa dimanfaatkan persis seperti pohon yang terdapat pada hutan – hutan darat pada umumnya. Ya, kayunya bisa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, seperti pembuatan papan – papan dan juga meubel dan furniture. Selain itu, kayu dari tanaman yang berada di dalam hutan bakau juga dapat dimanfaatkan untuk dijadikan sebagai kayu bakar, yang dapat menghemat penggunaan bahan bakar fosil.

  10. Sebagai pulp atau bahan baku kertas
    Sama seperti kayu lainya, kayu yang berasal dari tanaman di hutan bakau bisa juga dimanfaatkan sebagai bahan baku dari kertas atau pulp. Kertas yagn terbuat dari bahan dasar kayu yang ada di dalam hutan bakau memiliki kualitas yang sangat baik, tidak kalah dengan kualitas dari kertas yang dibuat dengan batang kayu dan juga kulit kayu seperti pada umumnya.

  11. bahan baku tekstil
    Kulit kayu pepohonan yang terdapat pada hutan bakau juga memilki fungsi lainnya, yaitu sebagai bahan baku dari pembuatan tekstil atau kain.

1. Habitat satwa langka

Hutan mangrove sering menjadi habitat jenis-jenis satwa liar. Lebih dari 100 jenis burung hidup di ekosistem hutan mangrove ini, dan daratan lumpur yang luas berbatasan dengan hutan mangrove merupakan tempat mendaratnya ribuan burung pantai, termasuk jenis burung langka Blekok Asia (Limnodrumus semupalmatus). Selain itu banyak juga satwa lain yang biasanya terdapat di hutan mangrove seperti kera ekor panjang, kera muka putih, dan satwa-satwa air laut seperti udang, kepiting, moluska, termasuk reptil seperti jenis buaya Caiman crocodilus (Largarto cuajipal).

Terdapat pula hewan-hewan menyusui lainnya termasuk Harimau Royal Bengal (Panthera tigris), macan tutul (Panthera pardus) dan kijing bintik (Axis axis), babi–babi liar (Sus scrofa) dan Kancil (Tragulus sp.), berang-berang (Aonyx cinera dan Lutra sp.) umum terdapat di hutan mangrove namun jarang terlihat. Sedangkan Lumba-lumba seperti lumba-lumba Gangetic (Platanista gangetica) dan lumba-lumba biasa (Delphinus delphis) juga umum ditemukan di sungai-sungai hutan mangrove, yaitu seperti Manatees (Trichechus senegalensis dan Trichechus manatus latirostris) dan Dugong (Dugong dugon), meskipun spesies-spesies ini pertumbuhannya jarang dan pada beberapa tempat terancam mengalami kepunahan.

2. Perlindungan terhadap bencana alam

Hutan mangrove dapat mencegah bencana alam, karena salah satu fungsi utama hutan mangrove adalah untuk melindungi garis pantai dari abrasi dan meredam gelombang besar termasuk bencana alam gelombang besar seperti tsunami. Selain itu vegetasi pada hutan mangrove dapat melindungi tanaman pertanian lahan basah dan lahan kering atau vegetasi alami lain dari kerusakan akibat badai atau angin yang bermuatan garam melalui proses filtrasi.

3. Pengendapan lumpur dan penambah unsur hara

Sifat fisik tanaman yang terdapat pada hutan mangrove membantu proses pengendapan lumpur dimana hal ini berhubungan erat dengan penghilangan racun dan unsur hara air yang seringkali terikat pada partikel lumpur itu sendiri. Dengan hutan mangrove, kualitas air laut terjaga dari endapan lumpur akibat erosi tanah dan abrasi pantai.

4. Penambah unsur hara

Sifat fisik hutan mangrove salah satunya adalah cenderung memperlambat aliran jenis-jenis air karena kerapatan setiap pohon dan akarnya, sehingga membut banyak lumpur mengendap. Pengendapan lumpur ini tentu saja sangat bermanfaat bagi hutan mangrove karena banyak lumpur yang terbawa dari areal persawahan sehingga banyak yang lumpur mengandung unsur hara yang dapat dimanfaatkan oleh semua spesies tanaman di hutan mangrove.

5. Penambat racun

Banyak racun yang memasuki ekosistem perairan dalam keadaan terikat pada permukaan lumpur atau terdapat di antara kisi-kisi molekul-molekul partikel air. Racun-racun ini mungkin terangkut dari wilayah daratan melalui perairan seperti dari limbah dan sampah dan akan berakhir di lautan lepas. Beberapa spesies tanaman di dalam Hutan Mangrove dapat membantu proses penambatan racun yang dibawa dari wilayah daratan ini secara aktif.

6. Sumber plasma nutfah

Plasma nutfah yang merupakan salah satu kekayaan alam berharga dari kehidupan sangat besar manfaatnya baik bagi perbaikan jenis-jenis satwa komersial maupun untuk memelihara populasi kehidupan liar itu sendiri di masa depan sebagai pendukung kemajuan teknologi ilmu pengetahuan dan untuk mendukung pembangunan suatu daerah.

7. Rekreasi dan Pariwisata

Hutan mangrove memiliki nilai estetika, baik faktor alamnya maupun kehidupan yang ada di dalamnya. Hutan mangrove memberikan objek wisata yang berbeda dengan objek wisata lainnya. Karakteristik hutan yang berada di peralihan antara darat dan laut dianggap para penikmat wisata sebagai hal yang unik sehingga menjadi salah satu keunggulan hutan mangrove.

Kegiatan wisata di area hutan mangrove disamping mampu menumbuhkan perekonomian masyarakat sekitar dengan menyediakan lapangan pekerjaan dan kesempatan usaha di sekitar area ekosistem hutan dan ekosistem pantai, juga mampu menjaga keseimbangan lingkungan dan ekosistem hutan, khususnya hutan mangrove.

8. Sarana pendidikan dan penelitian

Hutan mangrove dimanfaatkan dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai negara dengan area hutan mangrove paling besar di dunia, Indonesia tentu membutuhkan laboratorium lapang yang baik untuk kegiatan penelitian dan pendidikan, maka dari itu hutan mangrove digunakan sebagai salah satu sarana agar kegiatan pendidikan yang berhubungan dengan ekologi.

9. Penyerap Karbon

Menurut penelitian, satu hektar hutan mangrove dapat menyerap 110kg karbon dan sepertiganya dilepaskan berupa endapan organik di lumpur. Proses fotosintesis yang mengubah karbon anorganik dalam bentuk dioksida menjadi bentuk karbon organik dalam bentuk bahan vegetasi.

10. Memelihara iklim mikro

Evapotranspirasi hutan mangrove mampu menjaga kelembaban dan curah hujan kawasan tersebut, sehingga iklim di sekitar daerah dengan hutan mangrove akan terjaga iklim mikro yang mana bergantung terhadap beberapa faktor seperti suhu, kelembaban, angin, dan cahaya matahari. Iklim mikro sendiri merupakan faktor kondisi fisik iklim yang mempengaruhi suatu daerah relatif kecil, hanya beberapa puluh meter atau bahkan hanya beberapa meter. Kondisi ini terdapat di perut bumi, atau di bawah kanopi pepohonan. Iklim mikro para hutan mangrove juga dipengaruhi oleh angin, topografi bahkan vegetasi yang ada pada hutan mangrove tersebut.

11. Menumbuhkan pulau dan menstabilkan pantai

Salah satu peran dan sekaligus manfaat ekosistem hutan mangrove adalah adanya sistem perakaran mangrove yang sangat kompleks dan rapat, selain itu lebatnya akar tumbuhan di hutan mangrove dapat memerangkap sisa-sisa bahan organik dan endapat yang terbawa air laut dari bagian daratan. Proses ini menyebabkan air laut terjaga kebersihannya dan dengan demikian memelihara kehidupan rumput laut maupun terumbu karang. Karena proses inilah maka mangrove seringkali menumbuhkan perkembangan garis pantai dari waktu ke waktu.

Sumber : https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/hutan/manfaat-hutan-mangrove

1. Melindungi Abrasi Laut

Hutan bakau yang berada di kawasan rawa atau tanah endapan lumpur di sekitar garis pantai akan melindungi tanah agar tidak tergerus oleh air laut. Proses alami air laut biasanya akan terjadi saat air laut mengalami pasang dan surut. Dengan proses ini maka tanah di sekitar garis pantai bisa terbawa oleh air laut dan menyebabkan daratan menjadi semakin mengecil. Jika hal ini terus terjadi maka garis pantai akan mengalami erosi dan menyebabkan bencana alam untuk manusia.

2. Mempertahankan Kondisi Tanah

Tanah di sekitar garis pantai memang sangat rawan karena terkena oleh air laut sepanjang waktu. Namun tanaman bakau akan mengikat tanah di sekitarnya. Cara ini akan membuat hutan bakau mengikat tanah yang terbawa dari air laut. Endapan tanah akan terus mengalampi perubahan. Endapan lama akan bercampur dengan endapan baru sehingga membentuk daratan khusus yang semakin luas.

3. Menjaga Kualitas Air

Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan bakau akan memanfaatkan hutan bakau sebagai cara untuk membersihkan air. Air laut mengandung kadar garam yang cukup tinggi sehingga tidak bisa digunakan untuk mendukung kehidupan manusia. Tanaman bakau akan membentuk perairan payau di sekitar garis pantai. Dengan cara ini maka masyarakat bisa mendapatkan air yang lebih bersih dan tanaman bakau menjadi penyaring alami dari air laut menjadi air tawar.

4. Mengatasi Pencemaran Air Laut

Laut menjadi salah satu tempat bagi beberapa jenis industri salah satunya industri kilang minyak. Selain itu kapal-kapal yang berlayar di laut juga membuang zat sisa polutan dari hasil pembaran mesin. Hal ini membuat air laut penuh dengan berbagai jenis logam dan zat berbahaya bagi manusia.Hutan bakau akan membuat air di sekitar garis pantai menjadi lebih bersih. Tanaman ini akan menyerap zat logam dan sampah yang berasal dari laut. Dengan cara ini maka pantai menjadi tempat yang aman untuk manusia.

5. Hutan Bakau Merubah Lingkungan Secara Kimia

Tanaman bakau memiliki karakter yang sangat tegas dan tahan terhadap berbagai jenis zat berbahaya dari laut. Hutan bakau menyediakan manfaat dalam proses kimiawi termasuk seperti melakukan penyerapan terhadap gas buangan yang berasal dari udara dan air laut. Tanaman bakau akan merubah gas buangan menjadi gas yang lebih bersih dan bisa dihirup oleh mahluk hidup untuk bernafas.

6. Menjadi Habitat Berbagai Mahluk Hidup

Hutan bakau menjadi salah satu tempat yang paling baik untuk berbagai jenis mahluk hidup. Salah satunya adalah berbagai jenis burung langka yang hanya bisa tinggal di kawasan hutan bakau. Mahluk hidup seperti satwa dan burung membutuhkan lingkungan yang nyaman dari ancaman kerusakan seperti hutan bakau.

7. Menjadi Tempat Perkembangbiakan Mahluk Laut

Hutan bakau juga menjadi tempat nyaman atau habitat bagi beberapa jenis mahluk hidup yang tinggal di laut. Mereka menggunakan hutan bakau sebagai rumah karena mereka mencari sumber makan yang paling dekat seperti laut. Media hutan bakau juga akan menambah berbagai jenis keanekaragaman satwa.

8. Tempat Pengembangan Udang

Ada berbagai jenis udang yang bisa tumbuh di kawasan hutan bakau. Udang akan menggunakan hutan bakau sebagai habitat yang paling aman dari incaran mahluk hidup di laut yang lebih besar. Bahkan hutan bakau menjadi salah satu tempat alami untuk berkembangbiak bagi udang. Hutan bakau juga menyediakan berbagai jenis sumber makanan kecil bagi berbagai jenis mahluk hidup di laut yang memiliki bentuk lebih besar. Hutan bakau menyedikan tempat atau media hidup bagi berbagai biota laut.

9. Mendukung Pendapatan Ekonomi Masyarakat

Hutan bakau tidak hanya penting untuk menjaga proses alam. Hutan bakau melindungi manusia dari berbagai jenis bencana alam. Bahkan hutan bakau juga menjadi salah satu tempat atau sumber penghasilan utama bagi nelayan disekitar garis pantai. Manusia bisa memanfaatkan kayu untuk diolah menjadi kerajinan atau bahan bakar. Manusia juga bisa mengambil ikan, udang , burung dan berbagai jenis mahluk hidup yang ada di hutan bakau. Berbagai jenis kayu yang dihasilkan bisa diolah menjadi kerajinan atau bahan untuk kontruksi rumah. Dengan cara ini maka hutan bakau mendukung ekonomi masyarakat.

10. Pengembangan Tempat Wisata

Hutan bakau menjadi salah satu media yang sangat penting untuk manusia. Salah satunya adalah menyediakan tempat hiburan seperti tempat wisata yang membuat manusia semakin sadar pentingnya hutan bakau. Bahkan hutan bakau bisa dijadikan tempat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan penelitian dalam berbagai bidang.

11. Melindungi Bencana Alam

Hutan bakau menjadi salah satu tempat yang penting untuk kehidupan manusia. Hutan bakau akan melindungi kawasan pesisir dari kerusakan karena gelombang ombak. Hutan bakau akan mencegah daratan agar tidak terkena hempasan badai dan gelombang tsunami. Pengalaman berbagai jenis bencana alam besar di Indonesia akan mendukung perkembangan pengelolaan terhadap pencegahan bencana alam seperti tsunami dan badai.

Secara fisik hutan mangrove menjaga garis pantai agar tetap stabil, melindungi pantai dan tebing sungai, mencegah terjadinya erosi laut serta sebagai perangkap zat-zat pencemar dan limbah, mempercepat perluasan lahan, melindungi daerah di belakang mangrove dari hempasan dan gelombang dan angin kencang, mencegah intrusi garam (salt intrution) ke arah darat, mengolah limbah organik, dan sebagainya (Kusmana, 2008).

Istiyanto, Utomo dan Suranto (2003) menyimpulkan bahwa rumpun bakau (Rhizophora spp.) memantulkan, meneruskan, dan menyerap energi gelombang tsunami yang diwujudkan dalam perubahan tinggi gelombang tsunami ketika menjalar melalui rumpun tersebut. Hasil pengujian tersebut dapat digunakan dalam pertimbangan awal bagi perencanaan penanaman hutan mangrove bagi perendaman penjalaran gelombang tsunami di pantai.

Vegetasi mangrove juga dapat menyerap dan mengurangi pencemaran (polutan). Jaringan anatomi tumbuhan mangrove mampu menyerap bahan polutan , misalnya seperti jenis Rhizophora mucronata dapat menyerap 300 ppm Mn, 20 ppm Zn, 15 ppm Cu , dan pada daun Avicennia marina terdapat akumulasi Pb³ 15 ppm, Cd³ 0,5 ppm, Ni³ 2,4 ppm (Mukhtasor, 2007)

Oleh karena itu, fungsi dan manfaat hutan mangrove secara fisik, yang utama, adalah :

  • Penahan abrasi pantai.

  • Penahan intrusi (peresapan) air laut ke daratan.

  • Penahan badai dan angin yang bermuatan garam.

  • Menurunkan kandungan karbondioksida (CO2) di udara (pencemaran udara).

  • Penambat bahan-bahan pencemar (racun) diperairan pantai.

Hutan mangrove merupakan tipe hutan tropika khas yang tumbuh di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. (Dahuri 2001). Mangrove banyak dijumpai di wilayah pesisir yang terlindung dari gempuran ombak dan daerah yang landai di daerah tropis dan sub tropis (FAO 2007). Sedangkan menurut Gunarto (2004) mangrove tumbuh subur di daerah muara sungai atau estuari yang merupakan daerah tujuan akhir dari partikel– partikel organik ataupun endapan lumpur yang terbawa dari daerah hulu akibat adanya erosi. Kesuburan daerah ini juga ditentukan oleh adanya pasang surut yang mentransportasi nutrient.

Karakteristik habitat hutan mangrove menurut Bengen (2002) sebagai berikut :

  1. Umumnya tumbuh pada daerah intertidal yang jenis tanahnya berlumpur, berlempung atau berpasir.

  2. Daerah tergenangnya air laut secara berkala, baik setiap hari maupun yang hanya tergenang pada saat pasang purnama. Frekuensi genangan menentukan komposisi vegetasi hutan mangrove.

  3. Menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat.

  4. Terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat. Air bersalinitas payau (2-22 permil) hingga asin (mencapai 38 permil)

Lebih lanjut menurut Lembaga Pengkajian dan Pembangunan (LPP) Mangrove Indonesia (2008) fungsi dan manfaat hutan mangrove dapat dikategorikan menjadi 3 macam manfaat, yaitu:

  1. Secara Fisik :

    • Penahan abrasi pantai.
    • Penahan intrusi (peresapan) air laut.
    • Penahan angin.
    • Menurunkan kandungan gas karbon dioksida (CO2) di udara, dan bahan- bahan pencemar di perairan rawa pantai.
  2. Secara Biologi :

    • Tempat hidup (berlindung, mencari makan, pemijahan, dan asuhan) satwa laut seperti ikan dan udang.

    • Sumber bahan organik sebagai sumber pakan konsumen pertama (pakan cacing, kepiting dan golongan kerang/keong), yang selanjutnya menjadi sumber makanan bagi konsumen diatasnya dalam suatu ekosistem.

    • Tempat hidup berbagai satwa liar, seperti monyet, buaya muara, biawak, dan burung.

  3. Secara sosial ekonomi :

  • Tempat kegiatan wisata alam (rekreasi, pendidikan, dan penelitian).

  • Penghasil kayu untuk kayu bangunan, kayu bakar, arang dan bahan baku kertas, serta daun nipah untuk pembuatan atap rumah.

  • Penghasil tannin untuk pembuat tinta, plastik, lem, pengawet net dan penyamakan kulit.

  • Penghasil bahan pangan (ikan, udang, kepiting, dan gula nira nipah), dan obat-obatan (daun Bruguiera sexangula untuk obat penghambat tumor, Ceriops tagal dan Xylocarpus mollucensis untuk obat sakit gigi, dan lain- lain).

  • Tempat sumber mata pencaharian masyarakat nelayan tangkap dan petambak, dan pengrajin atap dan gula nipah.