Apa saja fungsi dan tujuan dalam menggali sejarah sastra?

Sejarah sastra adalah ilmu yang memperlihatkan perkembangan karya sastra dari waktu ke waktu, para penulis karya yang menonjol , karya-karya puncak dalam suatu kurun waktu, ciri-ciri dari setiap kurun waktu perkembangannya, peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar masalah sastra. Mempelajari sejarah sastra berarti kita memperoleh gambaran tentang perjalanan sastra sebagai bagian dari budaya suatu bangsa.

Ruang cakupan sejarah sastra cukup luas antara lain, ada sejarah sastra suatu bangsa, ada sejarah sastra suatu daerah, ada sejarah sastra suatu kesatuan kebudayaan, ada pula sejarah sastra jenis karya sastra. Sejarah sastra suatu bangsa misalnya, sejarah sarta Indonesia, Amerika,Cina. Sejarah sastra suatu daerah misalnya, sejarah sastra Minangkabau, jawa, Bali, Aceh, Bugis, Sasak. Sejarah sastra suatu kebudayaan ,isalnya, sejarah sastra klasik, romantic, renaissance, Melayu, dan lain-lain. Sedangkan sejarah sastra jenis karya sastra, misalnya sejarah perkembangan puisi, novel drama dan lain-lain (Atmaki,1990).

Menurut A.Teuw, sejarah sastra hendaklah bertolak dari beberapa cara, yaitu: cara yang dapat membantu peneliti sejarah sastra dalam meneliti sejarah sastra Indonesia sehingga sehingga diperoleh gambaran yang terarah tentang perkembangan sastra Indonesia. Cara tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Pengaruh Timbal Balik antarjenis Sastra
    Ditemui banyak syair dipindahkan menjadi bentuk cerita. Misalnya, Syair Ken Tambunan dipindahkan menjadi hikayat yang ditulis dalam bentuk prosa.

  2. Intertekstualitas Karya Individual.
    Adanya pengaruh suatu karya sastra lain memperlihatkan perkembangan karya sastra suatu masa. Secara intertekstual, novel Belenggu merupakan transformasi ide tentang keinginan wanita yang telah tercetus di dalam novel Layar Terkembang pada masa sebelumnya.

  3. Sejarah Sastra dan Sejarah Umum
    Pembicaraan sejarah tidak terlepas dari pembicaraan karya sastra dan perkembangan sosio budaya politik dalam masyarakat yang menghasilkan satra tersebut.

  4. Resepsi Sastra oleh Pembaca
    Penerimaan pembaca terhadap karya sastra baik sezamannya, merupakan pembicaraan sejarah sastra yang patut pula dikaji walau hal ini bersifat subjektif dan sulit diraba.

  5. Peranan Sastra Lisan dan Sejarah Sastra
    Penelitian tentang sastra lisan, sukar ditulis sejarahnya, karena berbentuk lisan. Kecuali kalau masalah ini sempat dipublikasikan atau diselamatkan.

  6. Sastra Indonesia dan sastra Nusantara
    Khusus bagi sejarah sastra Indonesia tidak dapat dilepaskan pembicaraan antara Sejarah Sastra Indonesia dan sejarah sastra dalam bahasa-bahasa di Nusantara.


Bagaimana dengan fungsu dan tujuan dari sejarah sastra itu sendiri ?

Secara garis besar, terdapat tiga fungsi utama dalam menggali sejarah sastra, baik bersifat global maupun lokal, yaitu :

  • Sejarah Sastra sebagai Rekonstruksi Masa Lalu
  • Sejarah Sastra sebagai Catatan Pengaruh Karya Sastra pada Pembaca
  • Sejarah Sastra sebagai Ilmu Bantu bagi Pemaknaan Sastra

####Sejarah Sastra sebagai Rekonstruksi Masa Lalu
Sejarah sastra di satu sisi berfungsi menempatkan kembali (rekonstruksi) suatu karya sastra pada eksistensinya yang didasarkan pada latar belakang yang melingkupi proses terciptanya karya sastra yang bersangkutan.

Dalam hal ini karya sastra ditempatkan dalam rangka deretan peristiwa yang menyangkut penciptaan karya sastra dan dalam hubungannya dengan karya sastra yang bersangkutan.

Pandangan mengenai rekonstruksi sastra di atas, pada kenyataannya telah memberikan sumbangan yang signifikan terhadap pengetahuan masa silam atau selera masa silam, yakni dengan merekonstruksikan sikap hidup, konsepsi, prasangka, dan asumsi- asumsi yang mendasari berbagai macam kebudayaan.

Sebagai contoh, melalui sejarah sastra dapat diketahui sikap orang Yunani terhadap dewa-dewa, wanita, budak, serta uraian tentang kosmogoni abad Pertengahan secara terperinci.

Pandangan rekonstruksi yang menekankan nilai karya sastra dengan standar kriteria masa lalu, (yakni alam pikiran dan sikap orang-orang di jaman kehidupan karya sastra yang bersangkutan) dikenal dengan nama historisisme, dan pernah dikembangkan secara konsisten di Jerman pada abad ke-19. Pandangan ini akhirnya memusatkan perhatiannya pada maksud pengarang yang ditelusuri melalui sejarah kritik dan selera. Namun demikian menurut Wellek dan Warren (1993: 40-42), gagasan bahwa maksud pengarang adalah bahan utama studi sejarah sastra adalah keliru, karena makna seni tidak sama atau tidak berhenti pada maksud pengarang saja.

Dalam hubungannya dengan latar belakang penciptaan sastra sesungguhnya ada dua aspek yang berhubungan dengan erat, yakni aspek pencipta (pengarang) dan aspek dunia nyata yang menjadi referensi yang melingkupi hidup dan kehidupan pengarang. Pada aspek referensi ini menyangkut dua hal. Pertama, aspek mimetik terhadap lingkungan alam dan lingkungan sosial pengarang. Kedua, aspek reseptif yang mengacu pada karya sastra lain yang telah ada sebelumnya.

Oleh karena itu sejarah sastra dalam fungsi ini dapat ditelusuri dengan pendekatan mimetik dan reseptif itu.

####Sejarah Sastra sebagai Catatan Pengaruh Karya Sastra pada Pembaca
Sejarah sastra juga berfungsi untuk menempatkan suatu karya sastra pada eksistensinya sebagai karya yang berpengaruh pada berbagai segi kehidupan manusia. Karya sastra, dalam sejarahnya dapat memberikan andil yang signifikan dalam perkembangan manusia dan kemanusiaannya.

Penempatan sejarah sastra dalam hal ini berhubungan dengan peranan pembaca sebagai pemberi makna sastra.

Secara pragmatik karya sastra memiliki nilai-nilai yang dapat diterapkan oleh manusia dalam kehidupan sehari-harinya. Manusia dalam hal ini bisa dalam arti perorangan, namun juga dapat dalam skala masyarakat tertentu. Dengan demikian karya sastra dapat berpengaruh pada berbagai kehidupan masyarakat tertentu.

Dalam hubungannya dengan hal ini Jausz berpendirian bahwa sastra tidak hanya merupakan pencerminan dunia nyata, tetapi juga membuktikan (dengan banyak contoh sejarah sastra Eropa lama dan baru) bahwa sastra sering kali mempelopori perkembangan kemasyarakatan, membayangkan kenyataan sosial sebagai alternatif rekaan yang dalam kenyataan belum terwujud. Oleh karena itu, dalam rangka sejarah sastra Jausz menekankan perlunya penelitian karya sastra dalam ketegangannya antara penafsiran historis dan penafsiran aktual (Teeuw, 1983: 63- 64).

Pengaruh sastra pada pembaca dapat terjadi pada pembaca masa lalu dan pada pembaca masa kini. Dalam bahasa yang senada dengan Jausz di atas, Wellek dan Warren menuliskan (1993: 43) bahwa sejarawan sastra tidak akan puas menilai karya sastra dengan sudut pandang masa kini saja. Ia akan mengevaluasi masa lalu sesuai dengan kebutuhan gaya dan gerakan sastra masa kini. Mungkin sebaiknya sejarawan sastra bisa menyoroti karya sastra dengan sudut pandang zaman ketiga (yang bukan zaman kritikus dan bukan pula zaman pengarangnya), atau melihat keseluruhan sejarah interpretasi dan kritik pada karya sastra untuk memperoleh makna yang lebih menyeluruh.

####Sejarah Sastra sebagai Ilmu Bantu bagi Pemaknaan Sastra
Pada gilirannya, pembaca karya sastra harus tahu bentuk dan isi, serta periode jenis-jenis sastra tertentu, sehingga akan lebih mudah menemukan makna karya sastra secara tepat.

Misalnya, pembaca harus dapat menyikapi dengan pola pikir yang berbeda ketika berhadapan dengan sastra suluk dan ketika berhadapan dengan novel Jawa modern, dsb. Hal ini antara lain dikarenakan eksistensi sastra suluk yang menekankan mistik, terutama mistik Islam-kejawen.

Di sisi lain novel Jawa modern cenderung menekankan cerita tentang realitas kehidupan yang terjadi pada era modern. Itulah yang menjadikan pembaca harus banyak menggeluti latar budaya Islam-kejawen agar dapat memahami sastra suluk pada umumnya. Dalam hal ini sejarah sastra menawarkan berbagai catatan mendasar yang berhubungan dengan periode-periode dan jenis-jenis sastra tertentu termasuk jenis sastra suluk.

Jelaslah bahwa sejarah sastra juga menjadi ilmu bantu bagi kritik sastra.

Sejarah sastra sangat penting untuk kritik sastra bila kritik hendak bergerak lebih jauh dari sekedar mencapai pernyataan suka dan tidak suka. Kritikus yang tidak mempedulikan sejarah sastra akan meleset penilaiannya, tidak akan tahu karya asli atau tiruan, dan salah dalam pemahamannya pada karya sastra yang bersangkutan (Wellek dan Warren, 1993: 46).