Apa Saja Faktor yang Mempengaruhi Spiritualitas Seseorang?

Spiritualitas

Spiritualitas adalah prinsip hidup seseorang untuk menemukan makna dan tujuan hidup serta hubungan dan rasa keterikatan dengan sesuatu yang misteri, maha tinggi, Tuhan, atau sesuatu yang universal.

Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi Spiritualitas seseorang ?

1 Like

Menurut Taylor, Lillis & Le Mone dan Craven & Hirnle, faktor penting yang dapat mempengaruhi spiritualitas seseorang adalah sebagai berikut :

  1. Pertimbangan Tahap perkembangan

    Berdasarkan hasil penelitian terhadap anak-anak dengan empat agama yang berbeda ditemukan bahwa mereka mempunyai persepsi tentang Tuhan dan bentuk sembahyang dan berbeda menurut usia, seks, agama, dan kepribadian anak.

    Tema utama yang diuraikan oleh semua anak tentang Tuhan mencakup :

    • Gambarann tentang Tuhan yang bekerja melalui kedekatan dengan manusia dan saling keterkaitan dengan kehidupan.
    • Mempercayai bahwa Tuhan terlibat dalam perubahan dan pertumbuhan diri serta transformasi yang membuat dunia tetap segar, penuh kehidupan dan berarti.
    • Meyakini Tuhan mempunyai kekuatan dan selanjutnya merasa takut menghadapi kekuasaan Tuhan.
    • Gambaran cahaya/sinar.
  2. Keluarga

    Peran orang tua sangat menentukan dalam perkembangan spiritualitas anak. Yang penting bukan apa yang diajarkan oleh orang tua kepada anaknya tentang Tuhan, tetapi apa yang anak pelajari mengenai Tuhan, kehidupan dan diri sendiri dari perilaku orang tua mereka. Oleh karena keluarga merupakan lingkungan terdekat dan pengalaman pertama anak dalam mempersepsikan kehidupan di dunia, maka pandangan anak pada umumnya diwarnai oleh pengalaman mereka dalam berhubungan dengan orangtua dan saudaranya.

  3. Latar belakang etnik dan budaya

    Sikap, keyakinan, dan nilai dipengaruhi oleh latar belakang etnik dan sosial budaya. Pada umumnya seseorang akan mengikuti tradisi agama dan spiritual keluarga. Anak belajar pentingnya menjalanka agama. Termasuk nilai oral dari hubungan keluarga dan peran serta dalam berbagai bentuk kegiatan keagamaan. Perlu diperhatikan apapun tradisi agama atau sistem kepercayaan yang dianut individu, tetap saja pengalaman spiritual unik bagi tiap individu.

  4. Pengalaman hidup sebelumnya

    Pengalaman hidup baik yang positif maupun pengalaman negatif dapat mempengaruhi spiritualitas seseorang. Sebaliknya juga dipengaruhi oleh bagaimana seseorang mengartikan secara spiritual kejadian atau pengalaman tersebut. Sebagai contoh, jika dua orang wanita yang percaya bahwa Tuhan mencintai umatnya, kehilangan anak mereka karena kecelakaan, salah satu dari mereka akan bereaksi dengan mempertanyakan keberadaan Tuhan dan tidak mau sembahyang lagi. Sedangkan wanita yang lain bahkan sebaliknya terus berdoa dan meminta Tuhan membantunya untuk mengerti dan menerima kehilangan anaknya.

    Begitu pula pengalaman hidup yang menyenangkan sekalipun, seperti pernikahan, pelantikan kelulusan, kenaikan pangkat atau jabatan dapat menimbulkan perasan yang bersyukur kepada Tuhan, namun ada juga yang merasa tidak perlu mensyukurinya. Peristiwa dalam kehidupan sering dianggap seagai suatu cobaan yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk menguji kekuatan imannya. Pada saat ini, kebutuhan spiritual akan meningkat yang memerlukan kedalaman spiritual dan kemampuan coping untuk memenuhinya.

  5. Krisis dan perubahan

    Krisis dan perubahan dapat menguatkan kedalaman spiritual seseorang (Troth, Craven, dan Hirnle). Krisis sering dialami ketika seseorang menghadapi penyakit, penderitaan, proses penuaan, kehilangan dan bahkan kematian, khusunya pada klien dengan penyakit terminal atau dengan prognosis yang buruk. Perubahan dalam kehidupan dan krisis yang dihadapi tersebut merupakan pengalaman spiritual selain juga pengalaman yang bersifat fisikal dan emosional.

    Krisis bisa berhubungan dengan perubahan patofisiologis, tritmen/terapi pengobatan yang diperlukan, atau situasi yang mempengaruhi seseorang. Diagnosis penyakit atau penyakit terminal pada umumnya akan menimbulkan pertanyaan tentang sistem kepercayaan seseorang. Apabila klien dihadapkan pada kematian, maka keyakinan spiritual dan keinginan untuk sembahyang/berdoa lebih tinggi dibandingkan pada pasien yang berpenyakit tidak terminal.

  6. Terpisah dari ikatan spiritual

    Menderita sakit terutama yang bersifat akut, seringkali membuat individu merasa terisolasi dan kehilangan kebebasan pribadi dan sistem dukungan sosial (social support system). Klien yang dirawat merasa terisolasi dalam ruangan yang asing baginya dan merasa tidak aman. Kebiasaan hidup sehari-hari juga berubah, antara lain tidak dapat menghadiri acara resmi, mengikuti kegiatan keagamaan atau tidak dapat berkumpul dengan keluarga atau teman dekat yang biasa memberikan dukungan setiap saat diinginkan. Terpisahnya seseorang dari ikatan spiritual berisiko terjadinya perubahan fungsi spiritualnya.

Spiritualitas adalah komponen prediksi penting dalam jenis hasil psikososial positif. Kecenderungan-kecenderungan kesejahteraan emosi, kematangan psikologis, gaya interpersonal, dan altruistik semuanya berhubungan signifikan pada satu orientasi spiritual. Penemuan tersebut secara konsisten dengan literatur besar mengumpulkan pengaruh spiritualitas yang mudah pada kesehatan mental. Spiritualitas membuat kontribusi langka pada pemahaman kita terhadap akibat atau hasil. (Piedmont, 2007:103)

Dyson dalam Young (2007) menjelaskan tiga faktor yang berhubungan dengan spiritualitas, yaitu:

  • Diri sendiri

    Jiwa seseorang dan daya jiwa merupakan hal yang fundamental dalam eksplorasi atau penyelidikan spiritualitas.

  • Sesama

    Hubungan seseorang dengan sesama sama pentingnya dengan diri sendiri. Kebutuhan untuk menjadi anggota masyarakat dan saling keterhubungan telah lama diakui sebagai bagian pokok pengalaman manusiawai.

  • Tuhan

    Pemahaman tentang tuhan dan hubungan manusia dengan Tuhan secara tradisional dipahami dalam kerangka hidup keagamaan. Akan tetapi, dewasa ini telah dikembangkan secara lebih luas dan tidak terbatas. Tuhan dipahami sebagai daya yang menyatukan, prinsip hidup atau hakikat hidup. Kodrat Tuhan mungkin mengambil berbagai macam bentuk dan mempunyai makna yang berbeda bagi satu orang dengan oranglain. Manusia mengalami Tuhan dalam banyak cara seperti dalam suatu hubungan, alam, seni, dan hewan peliharaan.

Howard (2002) menambahkan satu faktor yang berhubungan dengan spiritualitas, yaitu lingkungan. Young (2007) mengartikan bahwa lingkungan adalah segala sesuatu yang berada di sekitar seseorang.

Faktor yang Memengaruhi Spiritualitas


  1. Inner value (nilai-nilai spiritual dari dalam) yang berasal dari dalam diri, (suara hati) transparency, responsibilities, accountabilities, fairness dan social wareness.

  2. Drive yaitu dorongan dan usaha untuk mencapai kebenaran dan kebahagiaan.

Ada tiga sebab yang membuat seseorang dapat terhambat secara spiritual, (Tasmara, 2001) yaitu :

  1. Tidak mengembangkan beberapa bagian dari dirinya sendiri sama sekali.

  2. Telah mengembangkan beberapa bagian, namun tidak proporsional.

  3. Bertentangannya atau buruknya hubungan antara bagian-bagian.

Kecerdasan ruhaniah sangat erat kaitannya dengan cara dirinya mempertahankan prinsip lalu bertangung jawab untuk melaksankan prinsipprinsipnya itu dengan tetap menjaga keseimbangan dan melahirkan nilai manfaat yang berkesesuaian. Prinsip merupakan fitrah paling mendasar bagi harga diri manusia. Nilai takwa atau tanggung jawab merupakan ciri seorang profesional. Mereka melangar prinsip dan menodai hati nurani merupakan dosa kemanusiaan yang paling ironis.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh (Gandhi, Tasmara, 2001), yang membuat daftar tujuh dosa orang-orang yang menodai prinsip atau nuraninya sebagai berikut:

  • Kekayaan tanpa kerja (wealth without work).
  • Kenikmatan tanpa suara hati (pleasure without conscience).
  • Pengetahuan tanpa karakter (knowledge without caracter).
  • Perdagangan tanpa etika (moral) (commerce without morality).
  • Ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan (science without humanity).
  • Agama tanpa pengorbanan (religion without sacrifice).
  • Politik tanpa prinsip (politic without principle).

(Tasmara, 2001), mengatakan kecerdasan spritual dari sudut pandang keagamaan ialah suatu kecerdasan yang berbentuk dari upaya menyerap kemahatahuan Tuhan dengan memanfaatkan diri sehingga diri yang ada adalah Dia Yang Maha Tahu dan Maha Besar. Spiritual merupakan pusat lahirnya gagasan, penemuan, motivasi, dan kreativitas yang paling fantastik.

Mujib mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai,

“Kecerdasan qalbu yang berhubungan dengan kualitas batin seseorang. Kecerdasan ini mengarahkan seseorang untuk berbuat lebih manusiawi, sehingga dapat menjangkau nilai-nilai luhur yang mungkin belum tersentuh oleh akal fikiran manusia”.

Zohar dan Marshall (2007) mengungkapkan ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan spiritual yaitu :

1. Sel Saraf Otak

Otak menjadi jembatan antara kehidupan bathin dan lahiriah kita. Ia mampu menjalankan semua ini karena bersifat kompleks, luwes, adaptif dan mampu mengorganisasikan diri. Menurut penelitian yang dilakukan pada era 1990-an dengan menggunakan WEG (Magneto – Encephalo–Graphy) membuktikan bahwa osilasi sel saraf otak pada rentang 40 Hz merupakan basis bagi kecerdasan spiritual.

2. Titik Tuhan (God spot)

Dalam peneltian Rama Chandra menemukan adanya bagian dalam otak, yaitu lobus temporal yang meningkat ketika pengalaman religius atau spiritual berlangsung. Dia menyebutnya sebagai titik Tuhan atau God Spot. Titik Tuhan memainkan peran biologis yang menentukan dalam pengalaman spiritual. Namun demikian, titik Tuhan bukan merupakan syarat mutlak dalam kecerdasan spiritual.

Perlu adanya integrasi antara seluruh bagian otak, seluruh aspek dari dan seluruh segi kehidupan.

Kepercayaan merupakan puncak utamanya, maka dari itu kenapa ada rukun iman sebagai penggandeng rukun Islam yang merupakan ibadah ritual yang bisa kita lakukan dengan ikhlas jika kita percaya rukun iman

Sepakat menurut saya juga faktor yang mempengaruhi spiritualitas seseorang adalah dari dalam dan luar. Dari dalam adalah diri sendiri dan dari luar cukup banyak bisa salah satunya adalah lingkungan sekitar. Tapi menurut saya dari kedua faktor tersebut yang paling kuat adalah faktor dari dalam. Karena sekuat apapun faktor dari luar yang mempengaruhi kalau faktor dari dalam lemah tidak akan bisa mempengaruhi spiritualitas seseorang. Sehingga perlu diperhatikan pergaulan yang dipilih, karena hal tersebut menjadi salah satu yang dapat mempengaruhi spiritualitas.

Kedua faktor tersebut akan mempengaruhi dan berdampak pada hidup seseorang, semakin positif faktor yang mempengaruhi akan sebaik pula kehidpannya dan sebaliknya. Jadi sebisa mungkin hindari hal negatif, hal yang kurang baik agar kehidupan lebih baik lagi.

Dari faktor-fator yang sudah di sebutkan di atas, menururt saya hal yang sangat penting di sini adalah ketika manusia memiliki prinsip hidupnya dengan menggunakan akalnya sendiri ntuk menemukan jawabannya… Sayangnya kita tidak menyadari bahwa ketika meyakini sebuah agama, kita tidak meyakini karena hasil pemikiran kita… Dan akhirnya hanya mengikuti arus yang ada.

Padahal sipirtualitas yang mengenai prinsip dan tujuan hidup harus dipenuhi terlebih dahuu sebelum melakukan sesuatu yang lain , karena hal ini merupakan fondasi utama untukk menjawab mengapa kita hidup dan untuk apa kita hidup. Maka apabila kalian masih belum menemukan jawabannya, silahkan temukan dengan “berfikir” sebagaimana Tuhan sudah memberikan karunia akal kepada manusia

1 Like

Percaya atau tidak percaya, salah satu hal yang bisa mempengaruhi tingkat spiritualitas seseorang adalah GEN.

Di buku Gen Tuhan (God Genes) karya Dean Hamer disebutkan ada banyak penemuan yang menyatakan bahwa anak-anak kembar biasanya memiliki tingkat religiositas yang sama. Perlu diketahui, penelitan terhadap anak kembar banyak dilakukan untuk melihat apa saja yang dipengaruhi oleh genetik dan yang tidak karena anak kembar adalah gambaran dari dua manusia yang berbagi 100% informasi genetik yang serupa.

Anak-anak kembar yang memiliki tingkat religiositas yang sama ini terlepas dari keadaan tinggal dan tumbuh bersama orangtua mereka atau salah satu atau keduanya diasuh oleh orang lain (adopsi). Meski terpisah jauh dan diadopsi dengan keluarga yang punya latar belakang agama dan budaya yang berbeda, mereka memiliki tingkat religiositas yang sama.

Jika salah seorang tidak begitu disiplin dalam beribadah, kembarannya juga memiliki kebiasaan yang sama. Jika salah satunya sangat taat beragama, kembarannya dapat dipastikan juga taat dalam beragama walaupun diasuh oleh keluarga yang agamanya berbeda.

Menarik bukan hasil penelitiannya?

Sumber
  • Machdy, R. (2019). Loving the Wounded Soul. Jakarta: Penerbit Gramedia