© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa saja faktor yang mempengaruhi konsumsi Kalsium pada Remaja?

Kalsium merupakan gizi yang esensial terutama bagi pertumbuhan tulang dan gigi. Para remaja memerlukan Kalsium yang lebih tinggi dari orang Dewasa sebab pada masa Remaja terjadi pertumbuhan yang pesat dan merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju Dewasa. Lalu apa saja yang mempengaruhi konsumsi Kalsium pada Remaja?

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Kalsium pada Remaja


Berikut ini faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi Kalsium pada Remaja :

Jenis Kelamin

Pada masa remaja zat gizi yang diperlukan untuk perkembangan tubuh diperlukan lebih banyak daripada usia lainnya. Jenis kelamin menentukan besar kecilnya kebutuhan gizi bagi seseorang, remaja laki-laki lebih banyak makan daripada remaja puteri (Apriadji, 1986). Kebutuhan akan kecukupan zat gizi seperti protein, vitamin dan mineral akan berubah seiring dengan pertumbuhan seorang anak menjadi remaja, perubahan secara psikologis juga mempengaruhi kebutuhan zat gizi, seperti kebutuhan zat besi ketika sedang atau sehabis menstruasi. Perubahan gaya hidup, terutama aktifitas fisik, berpengaruh pada meningkatnya kebutuhan energi yang diperlukan (Krummel, 1996)

Perbedaan jenis kelamin antara remaja laki-laki dan remaja puteri mengakibatkan adanya perbedaan kebutuhan zat gizi, perbedaan ini dikarenakan seorang perempuan lebih dulu mengalami masa pubertas dan lebih dulu mengalami masa puncak pertumbuhan. Hal ini akan terus berpengaruh seumur hidup terhadap kecukupan gizinya termasuk kalsium (Krummel, 1996). Absorpsi kalsium pada remaja perempuan selama pubertas, dan formasi tulang secara keseluruhan tercapai pada masa ini, dan massa puncak tulang maksimal dapat tercapai jika asupan kalsium antara 1200 – 1500 mg/hari (American Academy of Pediatrics, 1999).

Pengetahuan Gizi

Pengetahuan gizi bertujuan untuk merubah perilaku masyarakat ke arah konsumsi pangan yang sehat dan bergizi. Jika pengetahuan gizi tinggi, maka ada kecenderungan untuk memilih makanan yang lebih murah dengan nilai gizi yang lebih tinggi ( Husaini, 1983 dalam Ikhsan, 2004)

Pengetahuan remaja tentang kandungan zat gizi dalam makanan dan fungsi umum zat gizi dalam tubuh sangat terbatas. Jika prinsip dasar dari pengetahuan gizi seseorang terbatas maka ia tidak dapat memperhatikan zat gizi yang terkandung dalam variasi makanannya dan akan sulit memilih makanan yang memenuhi kebutuhan tubuhnya, sehingga kondisi kekurangan gizi meningkat.

Banyak remaja mempunyai persepsi yang salah tentang gizi, sebagai contoh, seorang atlet sekolah menganggap membutuhkan protein yang tinggi sehingga mengkonsumsi protein yang sangat tinggi dalam dietnya dan mengabaikan buah dan sayuran yang mengandung vitamin dan mineral yang sebetulnya sangat dibutuhkan dan tidak tersedia dalam daging. Persepsi makanan yang salah juga menyebabkan mereka menghamburkan uang untuk membeli makanan yang tidak berguna untuk memenuhi kebutuhan gizinya (William, 1986 dalam Ikhsan, 2004)

Pengetahuan tentang kalsium terutama yang berasal dari makanan dan sumber-sumbernya merupakan langkah awal untuk meningkatkan asupan kalsium, karena remaja yang asupan kalsiumnya kurang masih memerlukan informasi spesifik mengenai sumber-sumber kalsium (Puspasari, 2004).

Status Sosial Ekonomi

Faktor yang berperan dalam menentukan status kesehatan seseorang adalah status sosial ekonomi, dalam hal ini adalah daya beli keluarga. Kemampuan keluarga untuk membeli bahan makanan antara lain bergantung pada besar kecilnya pendapatan keluarga, harga bahan makanan itu sendiri serta tingkat pengelolaan sumber daya lahan dan pekarangan. Keluarga dengan pendapatan terbatas kemungkinan besar akan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya terutama untuk memenuhi kebutuhan gizi dalam tubuhnya (Apriadji. WH, 1986 dalam Puspasari, 2004)

Tingkat pendapatan dapat mempengaruhi pola makan. Orang dengan tingkat ekonomi rendah biasanya akan membelanjakan sebagian besar pendapatan untuk makanan, sedangkan orang dengan tingkat ekonomi tinggi akan berkurang belanja untuk makanan. Berg (1986), mengatakan bahwa pendapatan merupakan faktor yang paling menentukan kualitas dan kuantitas hidangan. Makin banyak mempunyai uang berarti makin baik makanan yang diperoleh, dengan kata lain semakin tinggi penghasilan, semakin besar pula persentase dari penghasilan tersebut untuk membeli buah, sayuran dan beberapa jenis bahan makanan lainnya.

Pendidikan Orang Tua

Di daerah perkotaan umumnya pendidikan ayah berhubungan erat dengan pekerjaan dan pendapatan keluarga. Pendidikan ayah juga sangat mempengaruhi kondisi ekonomi keluarga serta mempengaruhi sikap dan kecenderungan dalam memilih barang-barang konsumsi termasuk makanan, sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi intake zat gizi keluarga (Koentjaraningrat, 1985 dalam Ikhsan, 2004). Suhardjo (1989) dalam Ikhsan (2004) menyebutkan jika pendapatan dalam keluarga yang tinggi dan ditunjang dengan pengetahuan tentang gizi yang bagus, terutama tentang kalsium, maka diharapkan konsumsi bahan makanan yang banyak mengandung kalsium akan meningkat. Dan begitu pula dengan kebutuhan kalsium dalam tubuhnya akan terpenuhi.

Pendidikan ibu mempengaruhi kelangsungan hidup anak secara langsung dengan meningkatkan keterampilannya dalam aneka ragam upaya perawatan kesehatan yang berkaitan dengan peningkatan gizi, peningkatan kesehatan dan pencegahan serta pengobatan penyakit (Koentjaraningrat, 1985 dalam Ikhsan, 2004).

Wirakusumah (1990) dalam Ikhsan (2004), menemukan makin tinggi tingkat pendidikan formal ayah, makin tinggi tingkat pendidikan anaknya. Tingkat pendidikan ibu yang rendah lebih menentukan rendahnya pengetahuan anak termasuk pengetahuan gizi, karena ibu lebih berperan dalam kegiatan memilih dan menentukan makanan yang dikonsumsi keluarga. Selain itu anak-anak dari ibu yang mempunyai latar belakang pendidikan lebih tinggi akan mendapat kesmpatan hidup serta tumbuh lebih baik. Hal ini disebabkan keterbukaan mereka untuk menerima perubahan atau hal-hal baru untuk pemeliharaan kesehatan anaknya ( Suroto dalam Ikhsan, 2004)

Tingkat pendidikan ibu sangat berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi keluarga karena ibu memegang peranan penting dalam pengelolaan rumah tangga. Ibu yang berpendidikan tinggi mempunyai sikap yang positif terhadap gizi sehingga pada akhirnya akan semakin baik kuantitas dan kualitas gizi yang dikonsumsi keluarga (Nizar, 2002 dalam Ikhsan, 2004).

Pekerjaan Orang Tua

Pekerjaan orang tua mempunyai peranan yang sangat besar dalam ketersediaan makanan. Penelitian di Filipina menunjukkan perbedaan risiko kurang gizi pada anak-anak karena perbedaan pekerjaan orang tua mereka, anak nelayan tradisional mempunyai risiko kurang gizi tiga kali lebih besar dibanding pada anak peternak, petani pemilik lahan ataupun tenaga kerja terlatih. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pengelompokkan pekerjaan yang terlalu umum misalnya nelayan saja bisa mengaburkan peranan faktor pekerjaan orangtua terhadap risiko anak mereka untuk menderita kurang gizi. Risiko kurang gizi pada anak nelayan tradisional tiga kali lebih besar dibanding dengan anak nelayan yang punya perahu motor (Asih, 2001 dalam Ikhsan, 2004)

Tingkat pekerjaan seseorang akan berkaitan dengan tingkat pendapatan yang diperolehnya. Dengan meningkatnya pendapatan seseorang akan terjadi perubahan – perubahan dalam susunan makanannya, diharapkan konsumsi makanannya akan lebih beragam dan didukung dengan pengetahuan gizi yang baik terutama mengenai pentingnya kalsium, maka diharapkan konsumsi kalsium dalam tubuhnya akan terpenuhi dengan baik (Ikhsan, 2004).

Kebiasaan Jajan

Kebiasaan jajan pada remaja merupakan salah satu masalah kebiasaan makan terkait dengan kesehatan. Makanan remaja yang kurang zat-zat gizi cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya proporsi makanan di luar rumah. Bila uang untuk makan siang ini digunakan untuk membeli makanan jajanan yang cenderung rendah nilai gizinya dan lebih memilih makanan yang mencerminkan perilaku seragam antar teman sebaya (Gutrie & Piciano, 1995). Pilihan remaja terhadap makanan pada umumnya tinggi gula, sodium dan lemak serta rendah vitamin dan mineral (Brown, 2005). Remaja yang kurang kalsium banyak ditemukan pada remaja yang sering jajan (Mc. Williams, 1993).

Pengaruh Peer Group

Pengaruh peer group adalah yang terpenting selama masa remaja di sekolah dan pada situasi tertentu pengaruh peer group ini lebih besar daripada

pengaruh keluarga (Gifft, et al., 1972 dan Hurlock, 1980 dalam Syafiq, 1991). Dalam hal ini terdapat pola umum yaitu bahwa remaja di daerah perkotaan lebih banyak dipengaruhi oleh peer group sedangkan remaja di pedesaan lebih banyak dipengaruhi oleh keluarga (Hurlock, 1980 dalam Syafiq, 1991)

Menurut Nimpoeno (1979) dalam Syafiq (1991), terdapat rasa “kekamian” yang menyebabkan anggota-anggota peer group bertindak sama satu dengan yang lain. Selanjutnya Hurlock (1980) dalam Syafiq (1991) mengemukakan bahwa pengaruh peer group semakin kuat pada remaja untuk dapat diterima sebagai anggota peer group , untuk itu ia akan menyesuaikan tingkah lakunya dengan aturan-aturan peer group tersebut.

Semakin sedikit anggota dari suatu peer group , akan semakin besar pengaruh kelompok tersebut terhadap anggotanya, apalagi bila dibandingkan dengan suatu peer group yang jumlah anggotanya besar dan tidak tetap (Gunarsa, 1984 dalam Syafiq, 1991)

Pengaruh peer group terhadap konsumsi terjadi terutama karena kepatuhan anggota untuk melakukan tindakan yang sama dengan anggota lainnya serta upaya yang kuat untuk tidak melanggar aturan dalam peer group tersebut. Di samping itu peer group juga dapat berpengaruh terhadap konsumsi jajanan melalui variabel pengetahuan dan terutama sikap terhadap gizi.

Food Frequency Questionnaire (FFQ)

Food Frequency Questionnaire (FFQ) biasa digunakan untuk melihat frekuensi makanan tertentu selama periode waktu tertentu. FFQ dibuat untuk memberikan gambaran informasi secara kualitatif tentang pola konsumsi makanan (Gibson, 2005). FFQ kualitatif terdiri dari 2 komponen, yaitu daftar nama makanan dan frekuensi makan untuk setiap nama makanan. Daftar nama makanan yang tercantum dalam FFQ harus memiliki tiga karakteristik, yaitu :

  • Makanan tersebut merupakan makanan yang sering dikonsumsi oleh individu,

  • Makanan tersebut memiliki nilai gizi sesuai dengan kebutuhan penelitian,

  • Makanan tersebut dapat mendiskriminasi asupan setiap orang, misalnya wortel tidak dapat membedakan individu berdasarkan asupan karoten jika semua orang mengkonsumsi wortel setiap harinya. Dengan demikian tidak perlu memasukkan wortel ke dalam daftar nama makanan FFQ. Sebaliknya bayam, sering dihindari atau disukai dan sering dimakan, akan memberikan informasi yang berarti meskipun rendah kandungan karotennya dan rata-rata jarang dikonsumsi.

Untuk mengumpulkan nama-nama makanan apa saja yang akan dimasukkan ke dalam daftar, maka dilakukan beberapa pendekatan. Pendekatan paling sederhana yaitu dengan melihat daftar komposisi bahan makanan dan mengidentifikasi makanan atau bahan makanan apa yang memiliki kandungan zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan penelitian. Pendekatan lain adalah dengan daftar semua nama bahan makanan yang mungkin memiliki kandungan zat gizi penting kemudian secara sistematis mengurangi daftar nama makanan. Daftar nama makanan dapat diambil dari daftar komposisi bahan makanan atau dengan bantuan Ahli Gizi. Untuk mengurangi daftar nama makanan dapat dilakukan pilot test kuesioner. Pendekatan berikutnya adalah dengan menggunakan data terbuka (Willent, 1998).

Penggunaan frekuensi makan pada FFQ disesuaikan dengan tujuan penelitian, dapat berupa perhari, perminggu, per bulan atau per tahun (Gibson, 2005). Selain komponen daftar nama makanan dan frekuensi makan, juga terdapat komponen lain, yaitu ukuran porsi. Ukuran porsi ini digunakan pada FFQ semikuantitatif. Ukuran porsi ini dapat memberikan informasi tentang jumlah asupan makanan tertentu. Namun metode ini memerlukan adanya persamaan persepsi dalam menggunakan ukuran porsi pada FFQ semikuantitatif antara peneliti dan responden (Willet, 1998)

1 Like