© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa Saja Faktor yang Memengaruhi Perilaku Kenakalan Remaja?

image

Kenakalan remaja disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi. Apa saja faktor yang mempengaruhi perilaku kenakalan remaja?

Faktor-faktor kenakalan remaja menurut Santrock, (2003) secara rinci dijelaskan sebagai berikut:

  1. Identitas
    Remaja yang memiliki masa balita, masa kanak-kanak, atau masa remaja yang membatasi mereka dari berbagai peranan sosial atau yang membuat mereka merasa tidak mampu memenuhi tuntutan yang dibebankan pada mereka, mungkin akan memiliki perkembangan identitas yang negatif.

  2. Kontrol diri
    Kenakalan remaja juga dapat digambarkan sebagai kegagalan untuk mengembangkan kontrol diri yang cukup dalam hal tingkah laku.

  3. Usia
    Munculnya tingkah laku antisosial pada usia dini berhubungan dengan penyerangan serius nantinya pada masa remaja, walaupun demikian tidak semua anak yang bertingkah laku seperti ini nantinya akan menjadi perilaku kenakalan.

  4. Jenis kelamin
    Remaja laki-laki lebih banyak melakukan tingkah laku antisosial dari pada perempuan.

  5. Harapan terhadap pendidikan dan nilai-nilai di sekolah Remaja yang menjadi pelaku kenakalan seringkali memiliki harapan yang rendah terhadap pendidikan di sekolah mereka merasa bahwa sekolah tidak begitu bermanfaat untuk kehidupannya sehingga biasanya nilai-nilai mereka terhadap sekolah cendrung rendah.

  6. Proses keluarga
    Kurangnya dukungan keluarga, seperti: kurangnya perhatian orangtua terhadap aktivitas anak, kurangnya penerapan disiplin yang efektif, kurangnya kasih sayang orangtua, dapat menadi pemicu timbulnya kenakalan remaja.

  7. Pengaruh teman sebaya
    Memiliki teman-teman sebaya yang melakukan kenakalan, meningkatkan resiko remaja untuk menjadi nakal.

  8. Kelas sosial ekonomi
    Ada kecendrungan bahwa pelaku kenakalan lebih banyak berasal dari kelas sosial ekonomi yang lebih rendah.

  9. Kualitas lingkungan sekitar tempat tinggal
    Masyarakat dengan tingkat kriminalitas tinggi memungkinkan remaja mengamati berbagai model yang melakukan aktivitas kriminal dan memperoleh hasil atau penghargaan atas aktivitas kriminal mereka. Berdasarkan uraian diatas faktor-faktor penyebabnya terjadinya kenakalan remaja terdapat dua faktor yaitu faktor internal (identitas, kontrol diri, usia, jenis kelamin) dan faktor eksternal (harapan terhadap pendidikan dan nilai-nilai di sekolah, proses keluarga, pengaruh teman sebaya, kelas sosial ekonomi, dan kualitas lingkungan sekitar tempat tinggal).

Faktor yang mempengaruhi remaja melakukan penyimpangan menurut (Sarwono, 2011) adalah:

  • Pilhan yang rasional (Rational choice)
    Teori ini mengutamakan faktor individu dari pada faktor lingkungan. Kenakalan yang dilakukannya adalah atas pilihan, interes, motivasi atau kemauannya sendiri. Di Indonesia banyak yang percaya pada teori ini, misalnya kenakalan remaja dianggap sebagai kurang iman sehingga anak dikirim ke pesantren kilat atau dimasukkan ke sekolah agama, yang lain menganggap remaja yang nakal kurang disiplin sehingga diberi latihan kemiliteran (Sarwono, 2011).

  • Ketidakteraturan sosial (Social disorganization)
    Permasalahan yang menyebabkan kenakalan remaja adalah berkurangnya atau menghilangnya pranata-pranata masyarakat yang selama ini menjaga keseimbangan atau harmoni dalam masyarakat. Ketidakteraturan sosial ini terjadi dalam bentuk perubahan-perubahan norma seiring dengan berkembangnya pengetahuan dan teknologi yang menuntut remaja dapat mengikuti perkembangan tersebut. Peran orang tua yang diwujudkan dalam pemilihan pola pengasuhan akan dapat menempatkan remaja untuk kembali kepada norma yang berlaku. Faktor psikologis dari keanakalan remaja meliputi hubungan remaja dengan orang tua dan faktor kepribadian dari remaja itu sendiri. Suasana dalam keluarga, hubungan antara remaja dan orang tuanya memegang peranan penting atas terjadinya kenakalan remaja (Gunarsa, 2009). Penelitian Shanty (2012) menemukan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya kenakalan remaja adalah ketidakberfungsian keluarga, dimana peran orang tua dalam mencegah kenakalan anak remajanya berjalan kurang efektif. Orang tua yang bekerja di luar rumah tidak mampu memberikan pengawasan dan perhatian dengan baik sehingga remaja mencoba untuk mencari jati dirinya di luar rumah.

  • Tekanan (Strain)
    Teori ini dikemukakan oleh Merton yang intinya adalah bahwa tekanan yang besar dalam masyarakat, misalnya kemiskinan, menyebabkan sebagian dari anggota masyarakat yang memilih jalan rebellion melakukan kejahatan atau kenakalan remaja. Faktor eksternal dalam lingkungan sosial juga menunjang terjadinya kenakalan remaja, sehingga dapat dikatakan adanya suatu lingkungan yang delinquen yang mempengaruhi remaja tersebut (Gunarsa, 2009) Tekanan ini terjadi juga akibat dari salah pergaulan (Differential association). Menurut teori ini, kenakalan remaja adalah akibat salah pergaulan. Anak-anak nakal karena bergaulnya dengan anak-anak yang nakal juga. Paham ini banyak dianut orang tua di Indonesia, yang sering kali melarang anak-anaknya untuk bergaul dengan teman-teman yang dianggap nakal, dan menyuruh anak-anaknya untuk berkawan dengan teman-teman yang pandai dan rajin belajar (Sarwono, 2011).

  • Labelling
    Ada pendapat yang menyatakan bahwa anak nakal selalu dianggap atau dicap (diberi label) nakal di Indonesia, banyak orang tua (khususnya ibu-ibu) yang ingin berbasabasi dengan tamunya, sehingga ketika anaknya muncul di ruang tamu, kemudian mengatakan pada tamunya, “Ini loh, mbakyu, anak sulung saya. Badannya saja yang tinggi, tetapi nakaaalnya bukan main”. Hal ini kalau terlalu sering dilakukan, maka anak akan jadi betul-betul nakal. Identitas diri melalui julukan atau pelabelan akan membentuk perilaku karena merupakan hasil penilaian terhadap dirinya, yang selanjutnya hasil penilaian akan mewarnai perilaku yang ditampilkan (Soetjiningsih, 2002).

  • Male phenomenon
    Teori ini percaya bahwa anak laki-laki lebih nakal daripada perempuan. Alasannya karena kenakalan memang adalah sifat laki-laki atau karena budaya maskulinitas menyatakan bahwa wajar kalau laki-laki nakal (Sarwono, 2011).