Apa saja faktor risiko dan penyebab Penyakit Jantung?

Penyakit Jantung merupakan salah satu penyakit yang paling ditakuti masyarakat.

Apa saja Faktor Risiko Penyakit Jantung ?

Penyakit jantung

Menurut buku pedoman Depkes RI (2007), penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan suatu kelainan yang terjadi pada organ jantung dengan akibat terjadinya gangguan fungsional, anatomis serta sistem hemodinamis.

Jenis penyakit yang dapat digolongkan kedalam penyakit Jantung dan Pembuluh Darah menurut Depkes RI (2007), adalah:

  1. Penyakit jantung koroner (PJK, penyakit jantung iskemik, serangan jantung, infark miokard, angina pektoris).
  2. Penyakit pembuluh darah otak (stroke, TIA (transient ischemic attack).
  3. Penyakit jantung hipertensi.
  4. Penyakit pembuluh darah perifer.
  5. Penyakit gagal jantung.
  6. Penyakit jantung rematik.
  7. Penyakit jantung bawaan.
  8. Penyakit kardiomiopathy
  9. Penyakit jantung katub

Faktor Risiko Penyakit Kardiovaskular

Faktor risiko suatu penyakit adalah faktor-faktor yang diyakini meningkatkan risiko timbulnya penyakit yang bersangkutan. Namun hal itu bukan bersifat absolut. Artinya bila seseorang memiliki satu faktor saja atau kombinasi dari beberapa jenis faktor risiko, tidak berarti bahwa secara otomatis ia akan mengalami penyakit yang bersangkutan. Tetapi ia akan lebih memiliki kemungkinan terkena penyakit tersebut dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki faktor risiko (Depkes, 2007).

1. Kolesterol


Kolesterol merupakan senyawa lemak kompleks yang dihasilkan oleh tubuh untuk bermacam-macam fungsi, antara lain kolesterol yang terdapat di bagian luar dari sel-sel saraf dan berfungsi untuk membantu menghantarkan konduksi dan transmisi tanda-tanda elektrik (electric signals).

Tanpa adanya kolesterol, sel-sel saraf tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik sehingga koordinasi gerak tubuh seseorang maupun kemampuannya untuk berbicara terganggu. Beberapa fungsi kolesterol yang tak kalah pentingnya antara lain memproduksi empedu, hormon steroid, dan vitamin D. Karena fungsi kolesterol demikian penting, tubuh membuatnya sendiri di dalam hati (liver) (Tejayadi, 1991).

Lemak dan kolesterol tidak larut dalam cairan darah. Untuk dikirimkan ke seluruh tubuh maka lemak dan kolesterol perlu dikemas bersama protein menjadi lipoprotein. Lemak terdiri dari:

  1. LDL (Low Density Lipoprotein), yang mengangkut paling banyak kolesterol di dalam darah. LDL dinamakan kolesteroljahat karena kadar LDL yang tinggi menyebabkan mengendapnya kolesterol dalam arteri.

  2. HDL (High Density Lipoprotein), yang mengangkut kolesterol baik karena dapat membawa kelebihan kolesterol jahat di pembuluh arteri untuk diproses dan dibuang.

  3. VLDL (Very Low Density Lipoprotein), yang membawa sebagian besar trigliserida dalam darah. Pada proses selanjutnya VLDL akan berubah menjadi LDL.

  4. Trigliserida, yaitu jenis lemak dalam darah yang dapat mempengaruhi kadar kolesterol.

Kadar kolesterol darah dipengaruhi oleh diet. Kolesterol berasal dari dua sumber, yaitu dari makanan yang kita makan dan diproduksi sendiri oleh tubuh kita di dalam tubuh (hati). Kolesterol yang berasal dari makanan yang kita makan bukan merupakan sumber utama. Jadi, bila seseorang tidak pernah lagi mengkonsumsi kolesterol, proses-proses di dalam tubuhnya akan tetap berlangsung.

Hati membuat sekitar 2000 mg kolesterol perharinya. Ini jauh lebih banyak dari kolesterol yang dikonsumsi yang jumlahnya 500 sampai 750 mg. Atau dapat juga dikatakan, 80% kolesterol dalam tubuh dan hanya 20% yang diperoleh dari makanan. Untuk menjaga keseimbangan jumlah kolesterol di dalam tubuh, ada mekanisme yarig mengatur agar jumlah kolesterol yang diproduksi seimbang dengan jumlah kolesterol yang di produksi di dalam hati (Tejayadi, 1991; Jurnalnet, 2008).

Faktor-faktor lainnya yang dapat mempengaruhi kadar kolesterol darah di samping diet adalah keturunan, umur, jenis kelamin stress, alkohol dan exercise.

Kolesterol dalam zat makanan yang kita makan meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Sejauh pemasukan seimbang dengan kebutuhan, tubuh kita tetap sehat. Tetapi, kebanyakan orang mengkonsumsi kolesterol dalam jumlah berlebihan. Kelebihan tersebut bereaksi dengan zat-zat lain dan mengendap di dalam pembuluh darah arteri, sehingga menyebabkan penyempitan dan pengerasan yang dikenal sebagai atherosclerosis (Soeharto, 2002).

Menurut T.B. Anwar (2004), ada beberapa parameter yang dapat dipakai untuk mengetahui adanya risiko PJK dan hubungannya dengan kadar kolesterol darah :

  1. Kolesterol total

    Kadar kolesterol total darah yang sebaiknya adalah kurang dari 200mg/dl, bila lebih dari 200 mg/dl berarti risiko untuk terjadinya PJK meningkat.

    Tabel Parameter Kadar Kolesterol Total
    Penyakit jantung

    Bila kadar kolesterol darah berkisar antara 200-239 mg/dl, tetapi tidak ada faktor risiko PJK lainnya, maka biasanya tidak perlu penanggulangan yang serius. Akan tetapi bila dengan kadar tersebut didapatkan PJK atau 2 faktor risiko PJK lainnya, maka perlu pengobatan yang intensif seperti halnya penderita dengan kadar kolesterol yang tinggi atau >240 mg/dl.

  2. LDL kolesterol

    LDL (Low Density Lipoprotein) kolesterol merupakan jenis kolesterol yang bersifat buruk atau merugikan (bad cholesterol); karena kadar LDL kolesterol yang meninggi akan menyebabkan penebalan dinding pembuluh darah. Kadar LDL kolesterol lebih tepat sebagai petunjuk untuk mengetahui risiko PJK daripada kadar kolesterol total saja.

    Tabel Parameter Kadar Kolesterol LDL
    Penyakit jantung

Kadar LDL kolesterol > 130 mg/dl akan meningkatkan risiko terjadinya PJK. Kadar LDL kolesterol yang tinggi ini dapat diturunkan dengan diet.

  1. HDL kolesterol

    HDL (High Density Lipoprotein) kolesterol merupakan jenis kolesterol yang bersifat baik atau menguntungkan (good cholesterol); karena mengangkut kolesterol dari pembuluh darah kembali ke hati untuk dibuang sehingga mencegah penebalan dinding pembuluh darah atau mencegah terjadinya proses aterosklerosis.

    Tabel Parameter Kadar Kolesterol HDL
    Penyakit jantung

    Jadi makin rendah kadar HDL kolesterol, makin besar kemungkinan terjadinya PJK. Kadar HDL kolesterol dapat dinaikkan dengan mengurangi berat badan, menambah aktifitas fisik dan berhenti merokok.

  2. Rasio kolesterol total: HDL kolesterol

    Rasio kolesterol total: HDL kolesterol sebaiknya <4,6 pada laki-laki dan <4,0 pada perempuan. Makin tinggi rasio kolesterol total: HDL kolesterol, makin meningkat risiko PJK. Pada beberapa orang dengan kadar kolesterol total yang normal, dapat menderita PJK juga; ternyata didapatkan rasio kolesterol total: HDL kolesterol yg meninggi. Sebagai contoh penderita dengan kolesterol total 140-185 mg/dl, HDL kolesterol 20-22 mg/dl, maka rasio kolesterol total: HDL kolesterol > 7. Jadi tidak hanya kadar kolesterol total yang meninggi saja yang berbahaya, akan tetapi rasio kolesterol total: HDL kolesterol yang meninggi juga merupakan faktor risiko PJK.

  3. Kadar Trigliserida

    Trigliserid merupakan lemak di dalam tubuh yang terdiri dari 3 jenis lemak yaitu lemak jenuh, lemak tidak jenuh tunggal dan lemak tidak jenuh ganda. Kadar trigliserid yang tinggi merupakan faktor risiko untuk terjadinya PJK.

    Tabel Parameter Kadar Trigliserida
    Penyakit jantung

    Kadar trigliserid perlu diperiksa pada keadaan sebagai berikut yaitu bila kadar kolesterol total > 200 mg/dl, ada PJK, ada keluarga yang menderita PJK < 55 tahun, ada riwayat keluarga dengan kadar trigliserid yang tinggi, ada penyakit DM & pankreas.

    Pengukuran kadar trigliserid kadang-kadang diperlukan untuk menghitung kadar LDL kolesterol, karena pemeriksaan laboratorium biasanya langsung dapat mengukur kolesterol total, HDL kolesterol dan trigliserid; sedangkan untuk mendapatkan kadar LDL kolesterol dipakai rumus sebagai berikut :

    LDL = Kolesterol total - HDL - Trigliserid / 5
    Misalnya bila kolesterol total 200 mg/dl, HDL kolesterol 50 mg/dl dan trigliserid 100 mg/dl, maka LDL = 200 - 50 - 100/5 = 130 md/dl.

    Untuk mengukur kadar trigliserid harus puasa 12 jam sebelum pemeriksaan darah karena kadarnya akan meningkat segera setelah makan. Tidak seperti pemeriksaan ka dar kolesterol, untuk mengukurnya tidak perlu puasa karena kadarnya tidak begitu terpengaruh setelah makan

Kolesterol, lemak dan substansi lainnya dapat menyebabkan penebalan dinding pembuluh darah arteri, sehingga lumen dari pembuluh derah tersebut menyempit dan proses ini disebut aterosklerosis. Bila sel-sel otot arteri tertimbun lemak maka elastisitasnya akan menghilang dan kurang dapat mengatur tekanan darah.

Aterosklerotis tidak timbul secara spontan tetapi melalui degeneratif berlangsung terus dan setelah 20-40 tahun plek yang makin besar dapat saluran arteri dan menghambat suplai darah. Selain itu, darah dapat masuk ke dalam dinding arteri yang mengalami penimbunan lemak sehingga bekuan darah dapat terbentuk pada permukaan plek. Kerusakan yang ditimbulkan bergantung pada banyaknya jaringan yang terkena oleh arteri yang terblokir tersebut (Hull, 1996).

Bila penyempitan dan pengerasan ini cukup berat menyebabkan suplai darah ke otot jantung tidak cukup jumlahnya, timbul sakit atau nyeri dada yang disebut angina, bahkan dapat menjurus ke serangan jantung (Soeharto, 2002).

Berikut ini adalah skema tahapan perkembangan terjadinya aterosklerosis.

Penyakit jantung
Gambar Perkembangan Terjadinya Aterosklerosis

2. Hipertensi


Bila seseorang melakukan aktivitas atau sedang stres, tekanan darahnya akan meningkat. Segera setelah beraktivitas berhenti/berkurang dan rileks, tekanan darah kembali menjadi normal, tetapi bila tekanan darah naik dan bertahan pada tekanan tersebut meskipun sudah rileks, maka yang bersangkutan dikatakan memiliki hipertensi.

Hipertensi adalah desakan darah yang berlebihan dan hampir konstan pada arteri. Tekanan dihasilkan oleh kekuatan jantung ketika memompa darah.

Hipertensi merupakan faktor risiko primer untuk timbulnya penyakit jantung dan stroke. Hipertensi disebut sebagai the silent killer karena tidak ditemukan tanda- tanda fisik dari tekanan darah tinggi (Hull, 1996).

Tekanan sistolik berkaitan dengan tingginya tekanan pada arteri bila jantung berkontraksi (denyut jantung). Ini adalah tekanan maksimum dalam arteri pada suatu saat dan tercermin pada hasil pembacaan tekanan darah sebagai tekanan atas yang nilainya lebih besar. Sedangkan tekanan darah diastolik berkaitan dengan tekanan dalam arteri bila jantung berada dalam keadaan relaksasi di antara dua denyutan. Ini adalah tekanan minimum dalam arteri pada suatu saat dan ini tercermin dari hasil pemeriksaan tekanan darah sebagai tekanan bawah yang nilainya lebih kecil (Hull, 1996).

Berikut ini merupakan klasifikasi Hipertensi menurut Consensus InaSH dan JNC VII.

Tabel Klasifikasi Hipertensi Menurut Consensus InaSH dan JNC VII
klasifikasi Hipertensi

Perubahan hipertensi khususnya pada jantung menurut T. Bahri Anwar (2004) disebabkan oleh:

  1. Meningkatnya tekanan darah.
    Peningkatan tekanan darah merupakan beban yang berat untuk jantung, sehingga menyebabkan hipertrofi ventrikel kiri (faktor miokard). Keadaan ini tergantung dari berat dan lamanya hipertensi.

  2. Mempercepat timbulnya aterosklerosis.
    Jika individu memiliki tekanan darah tetap diatas 160/95 mmHg memiliki risiko 2-3 kali lebih besar untuk timbulnya penyakit jantung dan tiga kali lebih besar untuk terkena stroke daripada individu dengan tekanan darah normal. Bila seseorang menderita tekanan darah tinggi, lapisan dari dinding pembuluh- pembuluh darah menebal sebagai usaha untuk melakukan kompensasi terhadap tekanan darah tinggi. Hal ini menyebabkan penyempitan lumen untuk aliran darah yang mengalir di dalam arteri dengan tekanan darah meningkat. Akibatnya adalah kerusakan lanjut pada arteri dan tekanan darah makin meningkat. Jika hal tersebut dibiarkan tanpa perawatan yang tepat, maka dapat menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Penderita sering tidak menyadari selama bertahun- tahun sampai terjadi komplikasi besar seperti stroke, serangan jantung, atau kegagalan ginjal (Hull, 1996).

3. Merokok


Kandungan sekitar 4.000 senyawa dalam bentuk partikel dan gas nikotin, tar, dan karbon monoksida termasuk di dalamnya menjadi faktor penyebab terjadinya penyakit kardiovaskular. Keadaan jantung dan paru-paru mereka yang merokok tidak akan bekerja efisien. Asap rokok mengandung nikotin yang memacu pengeluaran zat-zat seperti andrenalin. Zat ini merangsang denyutan jantung dan tekanan darah meningkat ( Sigarlaki, 1996).

Selain itu, asap rokok juga mangandung karbon monoksida (CO) yang memiliki kemampuan jauh lebih kuat daripada sel darah merah (hemoglobin) untuk menarik atau menyerap oksigen, sehingga menurunkan kapasitas darah merah tersebut untuk membawa oksigen ke jaringan-jaringan termasuk jantung.

Merokok juga dapat ’’menyembunyikan” angina, yaitu sakit di dada yang dapat memberi sinyal adanya sakit jantung. Tanpa adanya sinyal tersebut penderita tidak sadar bahwa ada penyakit yang berbahaya yang sedang menyerangnya, sehingga ia tidak menganbil tindakan yang diperlukan (Hull, 1996).

Efek rokok adalah menyebabkan beban miokard bertambah karena rangsangan oleh katekolamin dan menurunnya konsumsi O2 akibat inhalasi CO atau dengan perkataan lain dapat menyebabkan tahikardi, vasokonstruksi pembuluh darah, merubah permeabilitas dinding pembuluh darah dan merubah 5-10% Hb menjadi carboksi-Hb.

Di samping itu rokok dapat menurunkan kadar HDL kolesterol tetapi mekanismenya belum jelas. Makin banyak jumlah rokok yang diisap, kadar HDL kolesterol makin menurun.

Merokok juga dapat meningkatkan pembentukan platelet yang abnormal pada diabetes disertai obesitas dan hipertensi, sehingga orang yang perokok cenderung lebih mudah terjadi proses aterosklerosis daripada yang bukan perokok (Anwar, 2004).

Afinitas karbon monoksida dengan hemoglobin yang sangat besar (lebih dari 240 kali dibanding oksigen), terjadi pengurangan pengiriman oksigen oleh hemoglobin ke berbagai jaringan. Selain itu, kuatnya ikatan karbon monoksida dengan hemoglobin mengakibatkan oksigen lebih sulit dilepaskan ke miokard dan jaringan-jaringan lainnya pada penderita PJK (Litbang Depkes RI, 2007).

Perokok memiliki risiko dua atau tiga kali lebih mungkin terkena stroke dibandingkan dengan mereka yang tidak merokok. Makin banyak jumlah rokok yang diisap, makin besar penurunan HDL. Terlepas dari berapa banyak rokok yang diisap perhari, merokok terus-menerus dalam jangka panjang berpeluang besar untuk menimbulkan penyumbatan arteri di leher.

Apabila berhenti merokok penurunan risiko PJK akan berkurang 50% pada akhir tahun pertama setelah berhenti merokok dan kembali seperti yang tidak merokok setelah berhenti merokok 10 tahun. Dall dan Peto 1976 mendapatkan risiko infark akan turun 50% dalam waktu 5 tahun setelah berhenti merokok (Anwar, 2004).

Di dunia, tembakau merupakan penyebab kelima penyakit kardiavaskuler. Di USA lebih dari 62.000 orang meninggal karena penyakit jantung yang disebabkan karena mereka adalah perokok pasif. Merokok dapat meningkatkan;

  1. Risiko 2x lipat terkena risiko stroke, PJK, dan impoten.

  2. Risiko 3x lipat meninggal karena PJK yang tidak terdiagnosis.

  3. Lebih dari 3x lipat meningkatkan risiko terkena penyakit pembuluh darah perifer (PDP).

  4. 4x lipat meningkatkan risiko terkena aortic aneurysm. (Depkes, 2007)

Sumber lain juga menyebutkan bahwa asap rokok merusak dinding pembuluh darah. Nikotin asap rokok akan merangsang hormon adrenalin. Akibatnya, metabolisme lemak akan berubah dan menyebabkan HDL atau kolesterol baik menurun. Adrenalin juga akan menyebabkan perangsangan kerja jantung dan penyempitan pembuluh darah (spasme).

Disamping itu, adrenalin menyebabkan terjadinya pengelompokan trombosit, sehingga proses penyempitan akan terjadi, entah di pembuluh darah arteri otak atau jantung yang akan menyebabkan terjadinya penyakit jantung koroner. Intinya, orang yang merokok lebih dari 20 batang per hari memiliki risiko enam kali lipat terkena infrak miokard dibandingkan dengan perokok pasif (Kusmana, 2002).

4. Diabetes Mellitus


Diabetes Mellitus

Dalam keadaan normal, kadar gula darah 2 jam sesudah makan < 200mg/dl. Tetapi pada individu dengan diabetes melitus, kadarnya melebihi atau sama dengan 200 mg/dl. Kadar hiperglikemia postprandial berbanding lurus dengan risiko mortalitas penyakit jantung pada penderita diabetes mellitus. Terutama bila berlangsung cukup lama, gula darah (glukose) tersebut dapat mendorong terjadinya pengendapan atherosclerosis pada arteri koroner. Penderita Diabetes cenderung mangalami gangguan jantung pada usia muda.

Diabetes adalah faktor risiko yang dapat meningkatkan mortalitas penyakit kardiovaskular 1,5-4,5 kali lipat.

Selain itu, data terbaru menunjukkan individu non-diabetes dengan tingkat intoleransi glukosa tertentu juga meningkatkan risiko kardiovaskular. Hubungan yang erat antara diabetes dan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular sangat jelas diketahui, yaitu kebanyakan pasien prediabetes dan diabetes tipe 2 meninggal karena penyakit kardiovaskular (Newsdkimegazine, 2007; Gunawan, 2005).

5. Obesitas


Kegemukan diakibatkan karena terjadinya ketidakseimbangan kalori di dalam tubuh, yakni kalori yang masuk melebihi kalori yang keluar dalam bentuk lemak. Ada anggapan yang sedikit keliru mengenai kelebihan berat badan dengan kegemukan. Seseorang kegemukan jelas menderita kelebihan berat badan, tetapi seseorang denga kelebihan berat badan tidak dapat dipastikan ia kegemukan. Untuk menilai kegemukan dilakukan pengukuran kandungan lemak tubuh. Cara yang paling sering dilakukan adalah IMT atau mengukur lingkar pinggang pinggul (Harjadi, 1986).

Kegemukan (obesitas) adalah presentase abnormalitas lemak yang dinyatakan dalam Indeks Masa Tubuh (Body Mass Index) yaitu perbandingan antara berat badan dengan tinggi badan kuadarat dalam meter (Kaplan dan Stampler, 1991). Kaitan erat antara kelebihan berat badan dan kenaikan tekanan darah telah dilaporkan oleh beberapa studi. Berat badan dan IMT berkorelasi langsung dengan tekanan darah, terutama tekanan darah sistolik. Obesitas bukanlah penyebab hipertensi. Akan tetapi prevalensi hipertensi pada obesitas jauh lebih besar (Hartono, 2008).

Pengukuran IMT, menurut klasifikasi World Health Organization (WHO), jika seseorang memiliki nilai IMT > 30 maka orang tersebut dikategorikan dalam kondisi kegemukan (obesitas), dan jika nilai IMT > 25-29,9 maka orang tersebut dikategorikan dalam kondisi overweight. Selain pengukuran dengan IMT, tingkat kegemukan juga dapat diukur dengan pengukuran lingkar pingagang dan pinggul (Hartono, 2008).

Selain IMT, Pengukuran lingkar pinggang pinggul juga dapat memprediksi risiko terkena kardiovaskular. Menurut studi baru-baru ini, menghitung rasio lingkar pinggang dan lingkar pinggul merupakan cara yang lebih akurat dalam mengukur tingkat risiko penyakit jantung pada seseorang.

Studi yang mempelajari perbandingan lingkar pinggang dan pinggul telah dilakukan di daerah Eropa dan Amerika dan masih jarang ditemukan bukti yang dihasilkan studi tersebut dalam populasi lain. Dr. Salim Yusuf, direktur The Population Health Research Institute di McMaster University dan Hamilton Health Sciences melakukan studi bersama rekan- rekannya ke 52 negara yang melibatkan lebih dari 27.000 partisipan. Mereka dibagi menjadi kelompok yang pernah mengalami serangan jantung dan kelompok yang belum (Ethical Digest, 2006).

Tim dokter menemukan bahwa BMI pada kelompok yang pernah mengalami serangan jantung hanya sedikit lebih tinggi dari kelompok yang lain (tanpa perbedaan hasil di antara populasi Timur Tengah dan Asia Selatan). Sementara dalam perhitungan lingkar pinggang-lingkar pinggul, perbedaan rasio pada kelompok pertama dan kelompok kedua terpaut begitu jauh (dengan menghiraukan faktor risiko kardiovaskular lainnya).

Observasi ini konsisten pada pria dan wanita, untuk segala umur, dan diseluruh bagian dunia. Hasil menunjukkan perbandingan ukuran lingkar pinggang dan lingkar pinggul tiga kali lebih akurat daripada perhitungan IMT dalam memprediksi resiko penyakit jantung. Ini dibuktikan dengan ukuran pinggang yang lebih besar menunjukkan jumlah lemak abdominal yang berbahaya, sementara ukuran pinggul yang lebih besar justru menunjukkan otot tubuh bagian bawah yang sifatnya melindungi (Ethical Digest, 2006).

Standar untuk pengukuran, hasil rasio yang aman dari risiko penyakit jantung adalah kurang dari 0,80 untuk wanita dan kurang dari 0,90 untuk pria. Rasio yang lebih besar menandakan resiko lebih tinggi untuk mengidap penyakit jantung (Hartono, 2008).

6. Aktivitas Fisik

Kurang aktivitas terkait erat dengan kegemukan dalam arti sedikitnya tenaga yang dikeluarkan dibandingkan dengan masukan sehingga zat makanan yang dimakan akan tersimpan dan tertumpuk dalam tubuh sebagai lemak. Lebih dari itu, kegemukan mendorong timbulnya faktor risiko yang lain seperti Diabetes Mellitus, Hipertensi, yang pada taraf selanjutnya meningkatkan risiko PJK (Soeharto, 2002).

Aktivitas fisik dapat meningkatkan kadar HDL kolesterol dan memperbaiki kolateral koroner sehingga risiko PJK dapat dikurangi. Aktivitas fisik bermanfaat karena:

  1. Memperbaiki fungsi paru dan pemberian O2 ke miokard

  2. Menurunkan BB sehingga lemak tubuh yang berlebihan berkurang bersama-sama dengan menurunnya LDL kolesterol

  3. Menurunkan kolesterol, trigliserid dan kadar gula darah pada penderita DM

  4. Menurunkan tekanan darah

  5. Meningkatkan kesegaran jasmani (Anwar, 2004)

Sejumlah penelitian yang telah dilakukan yang tercantum dalam Pedoman Pengendalian Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah (2007) kaitan dengan aktivitas fisik dengan hasil sebagai berikut:

  1. Aktivitas fisik berhubungan dengan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular yaitu hipertensi.

  2. Aktivitas fisik berhubungan dengan penurunan berat badan pada orang dewasa, merupakan studi epidemiologi selama 12 tahun di Connecticut, dengan jumlah sampel 2.812.

  3. Aktivitas fisik berkaitan dengan obesitas dan insidens diabetes melitus tipe 2, studi longitudinal pada pria dan wanita di Amerika, China dan Finlandia.

  4. Total aktivitas fisik ternyata dapat menurunkan risiko Ca prostat, studi kasus- kontrol (population based study) di Kanada.

  5. Aktivitas fisik juga dapat menurunkan risiko kanker paru (lung cancer) di Canada, studi kasus-kontrol dengan jumlah kasus 2.128 dan 3.206 kontrol.

  6. Inaktivitas fisik juga merupakan salah satu faktor yang diidentifikasi merupakan faktor risiko yang paling konsisten untuk terjadinya kanker Colorectal, hubungan antara aktivitas fisik dan kanker kolon didapatkan pada studi kasus-kontrol yang dipadankan (matched) di Utah dan Nothern California.

7. Usia


Kelainan awal di pembuluh darah dan plak aterosklerotik yang ada pada usia lebih dari 20 tahun sebenarnya sudah bermula sejak kanak-kanak dan remaja yang disebabkan oleh pola hidup seperti: merokok, pola makan, perilaku olahraga(Depkes RI, 2006). Selain itu, pendapat lain,

Young (1992) juga mengemukakan bahwa jantung mengalami perubahan yang hampir tidak kentara walaupun tanpa kehadiran penyakit. Perubahan fisiologis pada jantung yang terjadi seiring dengan peningkatan umur antara lain:

  1. Ventrikel jantung menjadi kaku dan bekerja kurang efisien, terutama jika terdapat penyakit jantung.

  2. Kurang responsif terhadap adrenalin dan tidak meningkatkan kekuatan atau kecepatan kontriksi sepanjang berolahraga.

  3. Dinding jantung menebal.

  4. Perubahan pada pembuluh darah adalah dinding pembuluh darah menjadi kurang elastis walaupun tanpa aterosklerosis.

Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 200 orang yang diotopsi oleh bagian kardiologi FKUI, faktor umur berpengaruh 42% terhadap terjadinya aterosklerosis arteri koronaria. Hasil yang didapatkan dari penelitian tersebut, umur rata-rata timbulnya aterosklerosis untuk orang Indonesia adalah 28 tahun (Utama, 2007).

Peningkatan morbiditas dan mortalitas kardiovaskular mulai terjadi pada kelompok usia 30-44 tahun semakin bertambah umur maka semakin berisiko. Kematian pada usia dini yaitu <64 tahun atau 25-64 tahun. Walaupun kematian karena kardiovaskular lebih banyak terjadi pada usia >65 tahun, namun penyebab kematian pada kelompok usia tua atau >65 tahun lebih sulit diinterpretasikan karena adanya berbagai faktor penyebab penyakit.

Sebagian besar kasus kematian terjadi pada laki-laki umur 35-44 tahun dan meningkat dengan bertambahnya umur. Juga didapatkan hubungan antara umur dan kadar kolesterol yaitu kadar kolesterol total akan meningkat dengan bertambahnya umur.

Di Amerika Serikat kadar kolesterol pada laki-laki maupun perempuan mulai meningkat pada umur 20 tahun. Pada laki- laki kadar kolesterol akan meningkat sampai umur 50 tahun dan akhirnya akan turun sedikit setelah umur 50 tahun. Kadar kolesterol perempuan sebelum menopause (45-60 tahun) lebih rendah daripada laki-laki dengan umur yang sama. Setelah menopause kadar kolesterol perempuan biasanya akan meningkat menjadi lebih tinggi daripada laki-laki (Anwar, 2004).

Karena risiko PJK terutama meninggi pada akhir dekade kehidupan, maka menurunkan kadar kolesterol pada usia tua sangat bermanfaat. Beberapa penelitian membuktikan bahwa penderita dengan kadar kolesterol yang tinggi bila dapat menurunkan kadar kolesterol total 1%, maka terjadi penurunan 2% serangan jantung. Jadi bila kadar kolesterol dapat diturunkan 15% maka risiko PJK akan berkurang 30% (Anwar, 2004).

8. Jenis kelamin


Laki-laki mempunyai risiko lebih tinggi untuk menderita kardiovaskular lebih awal. Di Amerika Serikat gejala PJK sebelum umur 60 tahun didapatkan pada 1 dari 5 adalah laki laki dan 1 dari 17 adalah perempuan. Ini berarti bahwa laki-laki mempunyai risiko PJK 2 sampai 3 kali lebih besar daripada perempuan. Laki-laki juga mempunyai risiko lebih besar terhadap morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler.

Sedangkan di atas umur 50 tahun hipertensi lebih banyak terjadi pada wanita. Ini disebabkan karena disebabkan faktor hormonal pada wanita setelah masa menopause. Pada perempuan yang sudah menopause, kadar esterogen dalam tubuhnya menurun. Hal inilah yang kemudian menyebabkan perempuan yang sudah menopause memiliki risiko lebih tinggi daripada mereka yang belum menopause. Risiko ini sebanding pada pria, yang kadar esterogen dalam tubuhnya hanya sedikit, sehingga perlindungan terhadap pembuluh darah menjadi lebih sedikit. Hormon esterogen ternyata dapat melindungi perempuan dari risiko terkena penyakit jantung koroner dan stroke.

Dokter Amiliana Mardiani Soesanto SpJP, mengatakan hormon esterogen dapat melebarkan pembuluh darah, sehingga menurunkan risiko terkena penyakit jantung koroner dan stroke (Wika, 2008).

Mortalitas karena PJK (kasus fatal) lebih sering terjadi pada pria., namun PJK mengenai wanita sama banyaknya dengan pria terutama pada usia lanjut. Wanita merupakan kasus spesial untuk PJK (WHO, 2004), ini disebabkan karena:

  1. Risiko pada wanita lebih tinggi dibanding pria (merokok, tingginya kadar trigliserida).
  2. Prevalensi faktor risiko tertentu lebih tinggi pada wanita dibanding pria (Diabetes Mellitus, depresi).

9. Genetik


Riwayat keluarga dekat yang menderita hipertensi (faktor keturunan) juga mempertinggi risiko terkena hipertensi, terutama pada hipertensi primer (esensial). Tentunya faktor genetik ini juga dipengaruhi faktor-faktor lingkungan lain, yang kemudian menyebabkan seorang menderita hipertensi.

Faktor genetik juga berkaitan dengan metabolisme pengaturan garam dan renin membran sel. Menurut Davidson bila kedua orang tuanya menderita hipertensi maka sekitar 45% akan turun ke anak- anaknya dan bila salah satu orang tuanya yang menderita hipertensi maka sekitar 30% akan turun ke anak-anaknya.

Dalam seminar ”Waspadai Hipertensi dan Penyakit Penyertanya sebagai Ancaman Kematian Terbesar di Dunia” yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Hipertensi Indonesia (InaSH) tahun 2008, adanya faktor genetik pada keluarga tertentu yang menyebabakan keluarga itu mempunyai resiko menderita hipertensi berhubungan dengan peningkatan kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara potassium terhadap sodium. Seseorang dengan orang tua penderita hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi dari pada orang yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi .

1. Lipid Darah (Kolesterol)

Kolesterol merupakan senyawa lemak kompleks yang dihasilkan oleh tubuh untuk bermacam fungsi, terdapat di bagian luar sel-sel saraf. Salah satu fungsi kolesterol untuk membantu menghantarkan konduksi dan transmisi tanda- tanda elektrik, sehingga tanpa adanya kolesterol sel-sel saraf tidak menjalankan fungsinya dengan baik yang dapat menyebabkan koordinasi gerak tubuh maupun kemampuan berbicara seseorang terganggu (Tejayadi, 1991).

Kelainan metabolisme lemak ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, trigliserida, kolesterol LDL dan atau penurunan kadar kolesterol HDL dalam darah. Kolesterol yang meningkat dalam darah mengakibatkan perubahan struktur dan fungsi pembuluh darah yang dapat menyebabkan plak arterosklerotik. (Depkes, 2007)

Hiperkolesterolmia merupakan masalah yang cukup penting karena termasuk faktor resiko utama penyakit jantung terutama PJK, di samping hipertensi dan merokok. Kadar Kolesterol darah dipengaruhi oleh susunan makanan sehari-hari yang masuk dalam tubuh (diet). Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi kadar kolesterol darah disamping diet adalah keturunan, umur, jenis kelamin, obesitas, stress, alkohol, dan aktivitas fisik (Anwar, 2004). Beberapa parameter yang dipakai untuk mengetahui adanya resiko PJK dan hubungannya dengan kadar kolesterol darah, yaitu:

Tabel Batasan dan Klasifikasi Lipid Darah

Komponen Lipid Batasan (mg/dl) Klasifikasi
Kolesterol total <200 Yang diinginkan
200-239 Batas tingi
>240 Tinggi
Kolesterol LDL <100 Optimal
100-129 Mendekati optimal
130-159 Batas tinggi
160-189 Tinggi
>190 Sangat tinggi
Kolesterol HDL <40 Rendah
>60 Tinggi
Trigliserida <150 Normal
150-199 Batas tinggi
200-499 Tinggi
>500 Sangat tinggi

Sumber: Pedoman Tata Laksana Penyakit Kardiovaskular di Indonesia (2003) dalam Depkes RI, 2007

Selain parameter diatas, salah satu prediktor yang digunakan adalah rasio kolesterol total dengan HDL kolesterol yang sebaiknya lebih rendah dari 3,5 karena semakin tinggi rasio kolesterol total dengan HDL kolesterol makin meningkat resiko penyakit kardiovaskular (Brownson, Remington, & Davis, 1993). Berdasarkan studi Framingham, populasi dengan harapan hidup yang baik dan rendah risiko mengalami penyakit kardiovaskular mempunyai nilai kolesterol total antara 160-180 mg/dl yang menunjukan nilai yang diharapkan (Kaplan dan Stamler, 1983).

2. Tekanan Darah

Tekanan darah adalah desakan darah terhadap dinding-dinding arteri ketika darah dipompa dari jantung ke jaringan. Tekanan darah dapat berubah sepanjang hari sesuai dengan situasi. Tekanan darah akan meningkat dalam keadaan gembira, cemas, dan sewaktu melakukan aktivitas fisik, dan setelah situasi ini berlalu tekanan darah akan normal kembali. Apabila tekanan darah tetap tinggi maka disebut sebagai hipertensi atau tekanan darah tinggi (Hull, 1993).

Hipertensi adalah desakan darah yang berlebihan dan hampir konstan pada arteri. Tekanan dihasilkan oleh kekuatan jantung ketika memompa darah. Hipertensi berkaitan dengan dua hal yaitu tekanan sistolik dan diatolik.

  • Tekanan sistolik yaitu tekanan maksimal atau gerakan jantung, berkaitan dengan tingginya tekanan pada arteri bila jantung berkontraksi.

  • Tekanan diastolik yaitu tekanan terendah atau gerakan jantung sewaktu relaksasi diantara dua denyutan (Hull, 1993).

Tekanan darah tinggi secara terus-menerus menambah beban pembuluh arteri perlahan-lahan, sehingga arteri mengalami proses pengerasan, menjadi tebal dan kaku sehingga mengurangi elastisitasnya. Selain itu, tekanan darah yang terus menerus tinggi dapat menyebabkan dinding arteri rusak atau luka dan mendorong proses terbentuknya pengendapan plak arteri koroner (aterosklerosis). Semakin berat kondisi hipertensi semakin besar risiko yang ditimbulkan untuk penyakit kardiovaskular (Depkes, 2007).

Tabel Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC-VII 2003

Kategori Sistolik (mmHg) Diastolik
Normal <120 <80
Prehipertensi 120-139 80-90
Hipertensi Derajat 1 140-150 90-99
Hipertensi Derajat 2 >160 >100

Sumber: Depkes RI, 2007

Hipertensi merupakan faktor risiko primer untuk timbulnya penyakit jantung dan stroke. Individu dengan tekanan darah diatas 160/95 memiliki risiko 2-3 kali lebih besar untuk timbulnya penyakit jantung dan 3 kali lebih besar untuk terkena penyakit stroke daripada individu dengan tekanan darah normal (Hull, 1993).

Hal ini juga diperkuat dari studi Framingham yang mendapatkan hipertensi sistolik pada usia 45-75 tahun merupakan faktor pencetus terjadinya angina pektoris dan miokard infark, dan penderita hipertensi yang mengalami miokard infark mortalitasnya 3x lebih besar daripada penderita yang normotensi dengan miokard infark. Hasil penelitian Framingham juga mendapatkan hubungan penyakit jantung koroner dan tekanan darah diastolik. Kejadian miokard infark 2x 1ebih besar pada kelompok tekanan darah diastolik 90-10 mmHg dibandingkan tekanan darah diastolik 85 mmHg, dan 4x lebih besar pada tekanan darah diastolik 105 mmHg (Kaplan dan Stamler, 1983).

Hipertensi sering terjadi bersama dengan faktor penyakit kardiovaskular lainnya seperti obesitas, kadar kolesterol, trigliserida dan diabetes mellitus (Black, 1992). Hipertensi secara langsung dapat memberikan kontribusi yang independen terhadap kejadian kardiovaskular, meliputi PJK, stroke, gagal jantung, penyakit
pembuluh darah perifer dan kejadian kardiovaskular lainnya (Depkes, 2007).

3. Diabetes Mellitus

Diabetes merupakan salah satu penyakit kronik karena tubuh tidak dapat menghasilkan insulin atau hanya sedikit menghasilkan insulin. Defisiensi insulin menyebabkan kadar gula dalam darah meningkat yang berpengaruh pada intoleransi terhadap glukosa dan diketahui sebagai predisposisi penyakit pembuluh darah. Diabetes mellitus terdiri atas 2 kategori, yaitu diabetes tipe 1 atau dikenal IDDM dan tipe 2 yang dikenal NIDDM.

  • Diabetes tipe 1 terjadi pada masa anak-anak dan dibawah usia 30 tahun dan merupakan penyakit autoimmun. Penderita tipe diabetes ini biasanya kurus dan tidak menghasilkan hormon insulin sehingga sangat bergantung pada suntikan insulin.

  • Diabetes tipe 2 atau NIDDM merupakan tipe penyakit diabetes yang banyak diderita orang terutama diatas usia 40 tahun. Penderitanya biasanya mengalami hiperglikemia, obesitas, dan hiperurinemia merupakan karakteristik prediabetes (Brownson, Remington, & Davis, 1993).

Dalam keadaan normal, kadar gula darah 2 jam sesudah makan pada sesorang yaitu < 200 mg/dl, tetapi pada individu dengan Diabetes Mellitus kadarnya melebihi atau sama dengan 200 mg/dl. Peningkatan kadar gula darah ini berbanding lurus dengan risiko mortalitas penyakit jantung. Peningkatan yang berlangsung cukup lama, menyebabkan glukosa mendorong terjadinya aterosklerosi s pada arteri koroner. Selain itu penyakit DM dapat menyebabkan gangguan vaskular berupa mikroangiopati (Gunawan, 2005).

Penelitian menunjukkan laki-laki yang menderita DM mempunyai risiko PJK 50 % lebih tinggi daripada orang normal, sedangkan pada perempuaan resikonya menjadi 2x lipat (Anwar, 2004). Hubungan sangat independen terutama terlihat pada gagal jantung yang diduga kuat karena proses diabetik sehingga merusak miokardium yang menyebabkan kardiomiopati. Faktor risiko lainnya seperti obesitas, hipertensi, resistensi insulin, hipertrigliserida dan rendahnya kolesterol HDL cenderung saling mendukung dan secara bersama-sama mempercepat proses aterosklerosis (Depkes, 2007).

4. Merokok

Merokok merupakan penyebab mayor penyakit kardiovaskular baik pada perempuan maupun laki-laki. Merokok mempunyai risiko 2 kali menyebabkan penyakit jantung dibanding yang tidak merokok. Selain itu perokok mempunyai angka kematian 70% lebih tinggi dari yang bukan perokok, perokok berat (lebih dari 2 bungkus per hari) mempunyai risiko 2-3 kali menyebabkan kematian karena penyakit jantung (Smith & Pratt dalam Brownson, Remington, & Davis, 1993).

Di dunia, pemakaian tembakau merupakan penyebab ke lima penyakit kardiovaskular. Di USA lebih dari 62.000 orang meninggal karena penyakit jantung yang disebabkan karena mereka perokok pasif. Berdasarkan penelitian- penelitian epidemiologi, menyatakan bahwa merokok dapat meningkatkan risiko 2 kali lipat terkena risiko penyakit stroke, PJK , dan impoten, serta meningkatkan risiko 3 kali lipat meninggal karena PJK yang tidak terdiagnosis, meningkatkan 3 kali lipat risiko terkena penyakit pembuluh darah perifer, dan meningkatkan risiko sebesar 4 kali lipat terkena aortic aneurysm (Soeharto, 2004).

Penelitian Framingham mendapatkan kematian mendadak akibat PJK pada laki-laki perokok 10X lebih besar dari pada bukan perokok dan pada perempuan perokok 4.5X lebih dari pada bukan perokok (Kaplan dan Stamler, 1983).

Berdasarkan penelitian yang dikerjakan oleh Lipid Research Program Prevalence Studi menunjukkan bahwa seseorang yang merokok dua puluh batang atau lebih per hari mengalami penurunan HDL sekitar 11% untuk laki-laki dan 14% untuk perempuan dibandingkan dengan yang tidak merokok (Soeharto, 2004).

Efek rokok adalah menyebabkan beban miokard bertambah karena rangsangan oleh katekolamin dan menurunnya komsumsi 02 akibat inhalasi CO atau dengan perkataan lain dapat menyebabkan tachykardia , vasokonstriksi pembuluh darah, merubah permeabilitas dinding pembuluh darah dan merubah 5- 10 % Hb menjadi carboksi-Hb dan dapat menurunkan HDL kolesterol. Makin banyak jumlah rokok yang dihisap, kadar HDL kolesterol makin menurun. Risiko ini lebih besar pada perempuan, perempuan yang merokok penurunan kadar HDL kolesterolnya lebih besar dibandingkan laki-laki perokok. Merokok juga dapat meningkatkan tipe IV abnormal pada diabetes disertai obesitas dan hipertensi, sehingga orang yang merokok cenderung lebih mudah terjadi proses aterosklerosis dari pada yang bukan perokok (Anwar, 2004).

Sumber lainnya menyebutkan bahwa asap rokok merusak dinding pembuluh darah. Nikotin yang terkandung dalam asap rokok akan merangsang hormon adrenalin. Akibatnya metabolisme lemak akan berubah dan menyebabkan HDL menurun. Hormon adrenalin akan menyebabkan perangsangan kerja jantung dan penyempitan pembuluh darah (spasme) (Soeharto, 2004).

Berhenti merokok dapat membuat penurunan resiko PJK hingga 50 pada akhir tahun pertama setelah berhenti merokok dan kembali seperti yang tidak merokok setelah berhenti merokok 10 tahun. Hasil penelitian Framingham juga menyatakan risiko kematian kardiovaskular menurun sekitar 24 hanya dengan mengehentikan kebiasaan merokok.

Sedangkan menurut AHA menyatakan bahwa pada penderita penyakit jantung yang yang berhenti merokok setelah mendapat serangan infark pertama, maka dapat menurunkan terjadinya risiko reinfark, kematian mendadak, dan total kematian akibat PJK hingga 50% ( Adiatmaja, 2004).

5. Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik atau olahraga merupakan bentuk pemberian rangsangan berulang pada tubuh. Tubuh akan beradaptasi jika diberi rangsangan secara teratur dengan takaran dan waktu yang tepat (Depkes, 2007). Acuan takaran latihan yang dianjurkan oleh American College of Sport Medicine / ASCM (1995) yaitu frekuensi latihan 3-5 kali seminggu dengan Intesitas latihan antara 60-85% denyut nadi maksimal, atau denyut nadi maksimal-umur.

Lamanya latihan berlangsung antara 20-30 menit latihan daya tahan atau aerobik tanpa henti dan lama durasi tergantung dari intesitas latihan. Sedangkan menurut AHA (2007) dan Strong, et al (2005) acuan aktivitas fisik pada orang dewasa (18-65 tahun) adalah 30 menit aktivitas fisik sedang selama 5 hari atau 20 menit aktivitas fisik berat selama 3 hari seminggu, atau kombinasi yang seimbang dari aktivitas fisik berat dan aktivitas fisik sedang dan 8-10 menit latihan penguatan otot (8-12 kali pengulangan) minimal 2 hari per minggu (Sudikno, 2010).

Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa aktivitas fisik mendorong kebugaran tubuh dan mengurangi terjadinya kardiovaskular. Mekanisme aktivitas fisik terhadap penyakit kardiovaskular yaitu dengan melakukan aktivitas fisik akan menjaga dan meningkatkan ketersediaan oksigen pada miokardial, menurunkan kerja miokardial dan permintaan oksigen, meningkatkan fungsi miokardial, dan meningkatkan stabilitas elektrik dari miokardium(Labarthe, 2011).

Di sisi lain, berdasarkan penelitian oleh kusmana (2002) menunjukkan peningkatan aliran darah sekitar 4mL/menit pada pembuluh arteri mampu memperbaiki fungsi endotel. Olahraga dengan kerja fisik 2 sampai 3 kali per minggu dalam waktu 20 menit akan meningkatkan denyut jantung dan aliran darah lebih dari 4mL/menit. Hal ini dapat melindungi pembuluh darah dari proses aterosklerosis dan meningkatkan ketahanan hidup.

Sejumlah penelitian yang telah dilakukan dikaitkan dengan aktivitas fisik didapatkan bahwa Aktivitas fisik berhubungan dengan faktor risiko penyakit kardiovaskular yaitu hipertensi, obesitas, diabetes dan merokok. Beban fisik yang berat mempunyai korelasi yang baik terhadap makin rendahnya hipertensi, hiperlipidemia dan kebiasan merokok (Kusmana, 2002). Berdasarkan studi di Amerika, China, dan Finlandia didapatkan aktivitas fisik berkaitan dengan obesitas dan insiden Diabetes Mellitus tipe 2 (Depkes, 2007).

6. Obesitas

Obesitas adalah persentase abnormalitas lemak yang dinyatakan dalam indeks massa tubuh yaitu perbandingan antara berat badan dengan tinggi badan kuadrat. Penelitian epidemiologi oleh Calle, et al menunjukkan setiap peningkatan kategori indeks massa tubuh mempunyai risiko relatif yang lebih besar untuk mengalami kematian akibat penyakit kardiovaskular (Kokkinos, 2010).

Obesitas bukan faktor risiko yang berdiri sendiri, karena pada umumnya diikuti oleh faktor risiko lainnya. Obesitas meningkatkan risiko penyakit jantung dan bahaya aterosklerosis jika diikuti dengan kombinasi 2-3 faktor lainnya, selain itu obesitas juga dapat meningkatkan kadar kolesterol total dalam darah dan menurunkan kolesterol HDL (Labarthe, 2011).

Beberapa penelitian menunjukkan peningkatan berat badan lebih berisiko untuk mengalami hipertensi. Namun, obesitas bukan penyebab utama hipertensi meskipun prevalensi hipertensi pada obesitas jauh lebih besar. Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang gemuk 5 kali lebih besar dibandingkan dengan berat badan normal. Penderita hipertensi ditemukan 20-33% memiliki berat badan lebih (Depkes, 2007).

Kegemukan juga erat kaitanya dengan aktivitas fisik dalam arti sedikit tenaga yang dikeluarkan dibandingkan dengan masukan sehingga zat makanan yang dimakan akan tersimpan dan tertumpuk dalam tubuh sebagai lemak (Soeharto, 2004).

Penentuan obesitas pada orang dewasa dapat dilakukan dengan pengukuran berat badan ideal, pengukuran persentase lemak tubuh dan IMT. Pengukuran berdasarkan IMT dianjurkan oleh FAO/WHO/UNU tahun 1985.

IMT = BB (kg) / TB 2 (m 2)

Tabel Klasifikasi IMT Orang Dewasa menurut WHO

Indeks Massa Tubuh Kategori
<16 Kurus tingkat berat
16-16,99 Kurus tingkat ringan
17-18,49 Kurus ringan
18,5-24,99 Normal
25-29,99 Kelebihan berat badan tingkat 1

7. Pengaruh Psikososial

Bentuk pengaruh psikososial berdasarkan Kaplan dan Stamler (1983) salah satunya adalah stress. Stress dapat menyebabkan tekanan darah tinggi yang biasanya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan fisik dan sosial seseorang. Penelitian Supargo dkk (1981-1985) di FK UI menunjukkan orang yang stress 1,5 kali lebih besar mendapatkan risiko penyakit jantung.

Stress di samping dapat menaikkan tekanan darah juga dapat meningkatkan kadar kolesterol darah (Anwar, 2004).

Tingkat stress seseorang erat kaitanya dengan tipe kepribadian. Seorang dengan tipe kepribadian A mempunyai kecendrungan mudah terkena penyakit jantung, karena kepribadian tipe A cenderung dominan mudah marah dan sikap bermusuhan. Sikap ini jika berlangsung terus-menerus akan membuat orang dalam keadaan stress (Soeharto, 2004).

Hal ini dibuktikan oleh dua studi yaitu penelitian Framingham dan penelitian Friedman dan Rosenman yang menyatakan kepribadian tipe A berhubungan dengan kejadian penyakit jantung koroner (Kaplan & Stamler, 1983).

8. Perilaku Makan

Kadar kolesterol darah mempunyai hubungan dengan jumlah lemak didalam susunan makanan sehari-hari (diet). Kadar kolesterol darah dapat dipengaruhi oleh perilaku makan. Konsumsi lemak jenuh, daging merah berlemak, lemak jenuh yang sudah digunakan (digoreng, diasap, diawetkan atau disimpan) yang mengandung jumlah oksi-kolestero tinggi jika dalam jumlah berlebihan akan meningkatkan kolesterol darah. Jumlah kolesterol yang lebih banyak dibandingkan mekanisme tubuh, akan menempel di dinding pembuluh darah sehingga dapat meyebabkan plak yang merupakan determinan utama penyakit kardiovaskular (Braverman, 2006).

Penelitian epidemiologi oleh Shekelle, et al menunjukkan hubungan kolesterol, lemak jenuh dalam diet dan serum kolesterol meningkatkan kematian PJK pada laki-laki (Kaplan dan Stamler, 1983). Berdasarkan penelitian oleh Sudikno (2010) mendapatkan proporsi obesitas lebih tinggi pada individu > 7 kali/minggu mengkonsumsi makanan berlemak dengan persentase 14,33% dibandingkan individu yang mengkonsumsi < 7 kali/minggu dengan persentase 12,1%.

Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Nurparida (2004) menunjukkan 43,1% responden yang sering mengkonsumsi makanan berlemak mengalami hipertensi, lebih tinggi dibandingkan responden yang jarang mengkonsumsi makanan berlemak (38,3%).

Perilaku makan juga berpengaruh pada faktor risiko kardiovaskular lainnya, salah satunya adalah hipertensi, obesitas, dan DM. Individu yang kelebihan berat badan di atas 30%, kebanyakan mengkonsumsi banyak garam dapur, dan tidak melakukan aktivitas sehingga mudah terkena hipertensi. Selain itu minuman yang mengandung kafein juga berkontribusi menyebabkan penyakit jantung karena dapat mengganggu perubahan hemodinamik pada tubuh.

Demikian halnya konsumsi alkohol dapat berkontribusi menyebabkan kanker, hipertensi, hipertrigliserida, dan masalah psikososoial. Jika dikonsumsi secara berlebihan dapat merusak miokardium. Namun beberapa studi menyatakan jika mengkonsumsi alkohol dalam jumlah cukup dapat bersifat proteksi terhadap PJK karena alkohol dapat meningkatkan HDL kolesterol (Kaplan dan Stamler, 1983).

Salah satu penelitian di USA yang dilakukan oleh Southgate (1991) menunjukkan adanya hubungan terbalik antara kematian akibat penyakit kardiovaskular dengan mengkonsumsi polyunsaturated fat. Baik pada populasi studi dan intervensi yang melakukan pengurangan konsumsi makanan lemak jenuh dan meningkatkan konsumsi ikan. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa vegetarian mempunyai insiden yang rendah untuk terkena penyakit kardiovaskular (Ball, 1997).

Konsumsi banyak serat yang terdapat pada sereal, buah-buahan dan sayuran dapat menurunkan risiko terkena penyakit jantung. Sayur dan buah merupakan sumber serat yang baik. Serat mempunyai peranan penting dalam kesehatan terutama pencegahan penyakit degeneratif seperti kolesterol tinggi, stroke, penyakit jantung koroner, kegemukan, DM tipe 2, serta gangguan pencernaan (Siagian, 2006).

Berdasarkan penelitian oleh Sudikno (2010) didapatkan persentase obesitas cenderung lebih tinggi pada responden yang cukup mengkonsumsi sayur dan buah dibandingkan pada responden yang kurang mengkonsumsi sayur dan buah. Begitu halnya pada penelitian oleh Pramintari (2008) didapatkan bahwa konsumsi serat berhubungan dengana lamanya individu untuk menderita DM, dari hasil penelitianya didapatkan individu dengan konsumsi serat baik 35,6% < 1 tahun dan 25,8% lebih dari 2-4 tahun.

Konsumsi serat yang tinggi dapat menekan kenaikan kadar glukosa darah sesudah makan, juga dapat menekan kenaikan kadar kolesterol darah karena serat dapat mengikat kolesterol yang dieksresikan kedalam usus dari empedu untuk seterusnya dikeluarkan bersama tinja (Tjokroprawiro, 2003). Sayur dan buah juga merupakan sumber vitamin yang merupakan antioksidan sehingga mampu mengurangi penyakit kardiovaskular (Krumel, 2000 dalam Nurfarida, 2004).

Konsumsi tinggi glukosa dan sukrosa tetapi rendah serat dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, obesitas dan hiperlipidemia (Kaplan dan Stamler, 1983).

Penelitian yang dilakukan oleh ATBC study, mendapatkan kelompok yang mengkonsumsi makanan tinggi serat, rendah lemak dan kolesterol yang disertai dengan aktiviitas fisik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan penyakit jantung koroner. Berdasarkan Health Profesional Follow-up Study, mengestimasikan rata-rata terjadi pengurangan risiko penyakit jantung koroner dengan peningkatan konsumsi serat per 10 g /hari hingga 19% (Labarthe, 2011).

9. Lingkungan Sosial Ekonomi

Menurut Smith dan Pratt, faktor sosial ekonomi pada dasarnya bukan merupakan faktor mayor penyebab penyakit jantung dan pembuluh darah. Peningkatan Penyakit jantung koroner berhubungan dengan sosio-ekonomi bersamaan dengan faktor risiko lainnya. Faktor risiko tersebut antara lain merokok, obesitas, tekanan darah tinggi dan tingkat pendapatan (Brownson, Remington, & Davis, 1993).

WHO menyatakan bahwa kematian akibat penyakit kardiovaskular 80% terdapat pada negara miskin. Hal ini dikarenakan masyarakat yang cenderung pada sosio-ekonomi rendah, kurang mendapatkan akses pelayanan kesehatan. Perilaku untuk upaya pencegahan penyakit juga rendah hal ini mungkin terkait dengan tingkat pendidikan, sehingga banyak orang-orang di negara miskin yang meninggal pada usia muda/produktif akibat penyakit kardiovaskular (WHO, 2009).

Beberapa faktor yang dapat mengindikasikan status ekonomi seseorang
yaitu:

  • Pendidikan
    Kelas sosial memberikan pengaruh terhadap kejadian penyakit. Tingkat pendikan merupakan salah satu tanda tingkat sosial seseorang. Tingkat pendidikan merupakan sebuah indikator kelas sosial. (Jacobsen dan Thelle, 1988) Pendidikan sering dihubungkan dengan kemudahan seseorang untuk menerima ide dan gagasan baru. Pendidikan dan pengetahuan mengenai suatu penyakit merupakan dasar tindakan untuk melakukan pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit tersebut. Dengan pendidikan dan pengetahuan yang meningkat, maka masyarakat semakin mengerti mengenai tindakan pencegahan sehingga tingkat kejadian suatu penyakit dapat diminimalisasi. Pendidikan akan menghasilkan suatu pengetahuan. Pengetahuan akan menimbulkan kesadaran seseorang dan menyebabkan perubahan perilaku orang tersebut sesuai dengan pengetahuan yang didapatkannya (Notoadmojo, 2003).

    Semakin tinggi tingkat pendidikan semakin rendah risiko untuk mendapatkan penyakit jantung koroner. Berdasarkan penelitian oleh Jacobsen dan Thele (1988) didapatkan pendidikan rendah mempunyai proporsi IMT yang lebih besar dengan 24,7% sedangkan pada pendidikan tinggi hanya 23,8%. Perilaku merokok baik pada perempuan ataupun laki-laki dengan pendidikan rendah <8 tahun menujukkan proporsi 2 kali lebih tinggi dibandingkan dengan pendidikan tinggi >16 tahun, begitu halnya dengan faktor risiko lainnya seperti aktivitas fisik, dan perilaku diet. Begitu halnya studi Framingham menunjukkan bahwa rata-rata tekanan darah lebih tinggi pada kelompok pendidikan rendah dibandingkan kelompok pendidikan cukup.Hal ini dikarenakan seseorang dengan tingkat pendidikan tinggi sering terpapar informasi mengenai kesehatan sehingga menyadari perlunya malakukan upaya pencegahan, terutama melakukan kebiasaan hidup sehat (Patel, 1995).

  • Pekerjaan
    Pekerjaan merupakan salah satu indikator yang menunjukkan kelas sosial ekonomi karena berhubungan dengan pendidikan (Gerward, et al 2010). Berdasarkan penelitianya, dilakukan pengkategorian perkerjaan berdasarkan tingkat pendidiakan, kedalam 5 kategori yaitu high-level unmanual skilled, medium level unmanual skilled, low unmanual level skilled, skilled manual level, unskilled manual level, dan self employed.

    Berdasarkan penelitian tersebut didapatkan bahwa proporsi faktor risiko kardiovaskular paling tinggi pada kelompok pekerja unskilled manual level baik pada laki-laki maupun perempuan. Persentase faktor risiko terbesar pada kelompok pekerja ini yaitu 70, 1% atau sekitar 1,5 kali dibandingkan kelompok pekerja high-unmanual skilled.

    Sedangkan penelitian oleh Purniawati (2010) mendapatkan prevelensi hipertensi pada responden yang tidak bekerja lebih tinggi yaitu 53%, sedangkan pada responden yang bekerja hanya 43%. Di sisi lain, penelitian kohort lainya oleh Nillson (2005) menunjukkan bahwa laki-laki pekerja Unmanual skilled menujukkan kematian kardiovaskular yang lebih tinggi dindingkan pekerja high-level unmanual (Gerward, et al , 2010).

    Pekerjaan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat stress seseorang yang dapat meningkatkan risiko terkena serangan jantung. Berikut beberapa hal terkait pekerjaan yang dapat meningkatkan psikososial seseorang, yaitu beban kerja yang besar, terlalu lama tidak bekerja, meningkatnya tanggungjawab kerja, memegang lebih dari satu pekerjaan, masalah dengan atasan, pekerjaan berat seperti pekerjaan fisik. Kehilangan prestasi kerja, rendahnya dukungan atasan, kerja shift malam, alokasi penempatan pekerjaan, atau masalah gaji yang tidak sesuai dengan apa yang dilakukan juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner terkait dengan stress akibat kerja
    (Patel, 1995).

10. Lingkungan Fisik

Peran lingkungan fisik terhadap penyakit kardiovaskular pada dasarnya tidak terlalu dominan, namun terdapat studi yang menemukan beberapa kaitan antara keadaan lingkungan dengan risiko penyakit jantung koroner. Berdasarkan studi Crowford tahun 1977 bahwa iklim, polusi udara, bekas logam dan kesadahan air mempunyai implikasi terhadap penyakit jatung terutama jantung koroner. Pada penelitian tersebut didapatkan hubungan terbalik dari konsumsi
hardness water dengan kematian PJK. Hal ini berhubungan dengan komponen yang terkandung pada air tersebut seperti zinc, magnesium, dan selenium.

Begitu halnya dengan penelitian lain yang dilakukan oleh Rogot dan Padgett tahun 1976 menemukan hubungan variasi iklim dengan implikasi PJK, dengan melihat perbandingan kematian PJK di United States dengan PJK pada bagian tenggara Atlantik mempunyai angka kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah pegunungan dan perbukitan ( Kaplan dan Stamler, 1983).

11. Umur

Menurut Young (1992), seiring dengan peningkatan usia ditemukan adanya kelainan awal di pembuluh darah dan plak aterosklerosis. Pada pertambahan usia terdapat perubahan fisiologis pada jantung yaitu otot jantung menjadi kurang relaks atau menjadi kaku, kemampuan jantung untuk memompa darah berkurang, kurang responsif terhadap adrenalin, kekuatan kecepatan kontriksi saat berolahraga berkurang, dinding jantung menebal, dan terjadi perubahan struktur pada pembuluh darah menjadi kurang elastis dan menyebabkan peningkatan darah sistolik.

Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya didapatkan bahwa peningkatan morbiditas dan mortalitas penyakit jantung dan pembuluh darah mulai terjadi pada usia 30-44 tahun dan semakin bertambah umur semakin berisiko. Salah satu penyakit kardiovaskular yang erat kaitannya dengan umur yaitu penyakit jantung koroner, didapatkan sekitar 55% serangan jantung terjadi pada usia diatas 65 tahun. Pada laki-laki, penyakit ini meningkat terutama pada usia antara 35-44 tahun, sedangkan pada perempuan meningkat setelah menopause. Begitu halnya dengan penyakit stroke, hanya sekitar 28% penderita stroke yang berusia di bawah 65 tahun. Setelah usia diatas 55 tahun insiden rate penyakit stroke menjadi 2 kali lebih besar (Smitth dan Pratt, 1993).

Penambahan usia juga berhubungan dengan faktor risiko lainnya terutama hipertensi. Prevalensi hipertensi di kalangan usia lanjut cukup tinggi yaitu sekitar 40%, dengan kematian diatas 45 tahun (Depkes, 2007). Penambahan usia juga berhubungan dengan kadar kolesterol yaitu kadar kolesterol total akan meningkat dengan bertambahnya umur. Di Amerika Serikat kadar kolesterol pada laki-laki maupun perempuan mulai meningkat pada umur 20 tahun. Pada laki-laki kadar kolesterol akan meningkat sampai umur 50 tahun dan akhirnya akan turun sedikit setelah umur 50 tahun. Kadar kolesterol perempuan sebelum menopause (45-60 tahun) lebih rendah daripada laki-laki dengan umur yang sama (Anwar, 2004).

12. Jenis Kelamin

Kematian akibat penyakit jantung koroner lebih sering terjadi pada pria. Namun pada kondisi tertentu kejadian PJK pada wanita sama banyaknya dengan pria terutama pada usia lanjut. Hal ini disebabkan terdapat faktor risiko yang lebih berbahaya pada wanita dibanding pria misalnya merokok, disamping itu prevalensi risiko tertentu lebih tinggi pada wanita dibanding pria misalnya diabetes mellitus dan depresi dan tingginya kadar gliserida (WHO, 2004 dalam Depkes, 2007).

Berdasarkan studi Framingham, didapatkan bahwa wanita usia 40-50 tahun yang sudah mengalami menopause mempunyai risiko 2 kali untuk mendapatkan penyakit jantung koroner dibandingkan wanita yang belum menopause (Kaplan dan Stamler, 1983).

Sedangkan untuk penyakit stroke, berdasarkan penelitian Smith dan Pratt didapatkan bahwa laki-laki 16% lebih tinggi megalami kematian akibat penyakit stroke terutama usia dibawah 65 tahun. Hal ini dikarenakan pada wanita sebelum menopause terdapat hormon estrogen yang berperan dalam peningkatan kadar HDL dan penurunan LDL (Brownson, Remington, & Davis, 1993).

13. Status Pernikahan/Perkawinan

Tingkat pendidikan dan status pernikahan dapat digunakan untuk mengidentifikasi status sosial individu. Seperti pada penelitian kohort yang dilakukan Fornari, et al menemukan hasil yang signifikan mengenai faktor risiko penyakit kardiovaskular pada kelompok yang menikah, begitu halnya dengan nilai risiko penyakit kardiovaskular menunjukkan lebih rendah pada kelompok yang menikah.

Case Fatallity Rate penyakit kardiovaskular pada kelompok laki-laki yang tidak menikah mempunyai risiko 3,2 kali dibandingkan kelompok laki-laki yang menikah (HR 3,20, 95% CI 2,2-4,64) (Fornary, et al , 2010).

Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Gerdward, et al (2010) mengenai status perkawinan terhadap risiko dan kejadian penyakit kardiovaskular. Didapatkan bahwa laki-laki yang tidak menikah, bercerai, atau cerai mati mempunyai risiko untuk mengalami kejadian penyakit jantung koroner masing- masing sebesar 1,1 kali, 1,42 kali dan 1,77 kali dibandingkan dengan laki-laki yang menikah. Sedangkan hubungan status pernikahan dengan faktor risiko penyakit kardiovaskular, digambarkan pada tabel dibawah ini

Tabel Faktor Risiko Kardiovaskular berdasarkan status pernikahan pada kelompok laki-laki dan perempuan yang mengalami kejadian coronary


Sumber: Gerward , et al dalam artikel berjudul “Marital status and occupation in relation to short-term case fatality after a first coronary event - a population based cohort”, 2010

14. Riwayat Keluarga

Kondisi penyakit kardiovaskular seperti miokardial infark, stroke dan faktor masalah utama seperti tekanan darah tinggi, Diabetes Mellitus dan aterosklerosis berhubungan dengan riwayat keluarga. Riwayat keluarga merupakan hasil generasi silang dikenal dengan determinan genetik. Meskipun demikian tidak semua riwayat keluarga berdasarkan genetik tetapi karena kebiasaan atau tradisi kelurga, seperti kondisi lingkungan secara mental seperti kondisi sosial dan perilaku yang dapat mempengaruhi anggota keluarga lainnya. Oleh karena itu pengaruh genetik secara bersama-sama dengan lingkungan berperan dalam penyakit kardiovaskular (Labarthe, 2011).

15. Etnik atau Ras

Perbedaan risiko PJK antara ras didapatkan sangat jelas, walaupun bercampur baur dengan faktor geografis, sosial dan ekonomi. Di Amerika perbedaan antara ras Caucasia dengan Non-Caucasia (tidak termasuk Negro) didapatkan risiko PJK pada non Caucasia kira-kira separuhnya ( Anwar, 2004).

Berdasarkan studi yang dilakukan di Singapura terhadap pendudukmya yang berasal dari 3 negara yaitu China, India dan Malaysia, didapatkan bahwa untuk laki-laki penduduk india mempunyai risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular 1,4 kali dibandingkan dengan penduduk dari China atau Malaysia. Sedangkan untuk perempuan, penduduk asli India juga mempunyai risiko yang lebih tinggi yaitu 1, 1 kali dibandingkan penduduk Malaysia. Sedangkan untuk penduduk China di Singapura lebih rendah 1,6 kali dibanding Malaysia dan 1,7 kali dibandingkan penduduk India (Hughes, 1993).

Berdasarkan data Riskesdas 2007, prevalensi nasional penyakit jantung adalah 7,2% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi penyakit jantung diatas prevalensi nasional. Provinsi dengan prevalensi terbesar yaitu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sebesar 12,6 , diikuti Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 11,9 dan Provinsi Sumatera Barat sebesar 11,3%. Hal ini mungkin berkaitan dengan perilaku makan dari daerah tersebut yang cenderung memakan banyak makanan yang mengandung lemak (Riskesdas, 2007).