Apa Saja Faktor Penghambat Berkembangnya Islam di Kalangan Cina Benteng?

Cina Benteng
Apa Saja Faktor Penghambat Berkembangnya Islam di Kalangan Cina Benteng?

Merupakan pandangan yang bisa dimaklumi, jika disebutkan Islam merupakan agama minoritas bagi masyarakat Cina Benteng . Apalagi di antara orang Tionghoa Keturunan, dalam sejarahnya banyak yang memilih menjadi warga pribumi dengan meninggalkan adat istiadat serta budaya yang menjadi identitas Tionghoa. Akan muncul dua sudut pandang antara Cina Benteng yang Muslim yang masih melakukan tradisi ketionghoaan dan Cina Benteng Muslim yang berasimilasi dengan penduduk pribumi, sehingga mereka hampir tidak bisa lagi dikatakan sebagai Tionghoa Keturunan. Terlepas dari itu, setidaknya kini masih dapat dijumpai orang Cina Benteng yang Muslim meskipun terbatas.

Keinginan orang memeluk Islam seyogyanya tidak berhenti pada masalah hidayah. Petunjuk dari Tuhan merupakan lahan lain yang sifatnya transendental, tidak bisa diungkap secara ilmiah. Jikapun bisa maka sifatnya terlalu subjektif. Ketertarikan orang akan suatu agama juga bisa dilihat dari kondisi sosial, yakni menyangkut pergaulannya dengan orang di sekitarnya. Begitu pula sebaliknya, ada faktor sosial lainnya yang menyebabkan seseorang justru enggan masuk dalam suatu agama tertentu. Alasan terkuat salah satunya adalah menyangkut latar belakang budaya yang dimilikinya.

Terdapat beberapa alasan yang melatarbelakangi mengapa perkembangan Islam terhambat dalam tubuh masyarakat Cina Benteng, antara lain sebagai berikut:

Pertama, budaya judi dan makan daging babi yang telah mendarah daging di tengah kehidupan orang Tionghoa. Judi merupakan salah satu kebiasaan orang Tionghoa yang sudah mengakar, termasuk juga makan daging babi. Bagi mereka keduanya lebih dari pada sekedar aktivitas harian, melainkan sudah menjadi tradisi yang perlahan menyokong identitas ketionghoaan mereka. Dua hal ini merupakan larangan dalam ajaran Islam. Jika sudah menjadi Muslim, maka tidak diperkenankan untuk melakukan dua kegiatan itu. Bagi orang Tionghoa, meninggalkan keduanya adalah berat, sama halnya dengan memutuskan diri dari jalinan budaya nenek moyang.

Di Museum Benteng Heritage yang terletak di Kota Tangerang, terdapat meja judi orang Tionghoa tempo dulu yang bentuknya unik. Meja ini dibentuk sedemikian rupa, untuk mengakomodir aktifitas berjudi. Meja itu dilengkapi dengan laci tempat uang serta tempat makan bagi masing-masing pelakunya. Penyediaan fasilitas tempat makanan menggambarkan bahwa aktifitas judi bagi orang Tionghoa bisa berlangsung dalam tempo yang panjang sehingga dianggap perlu untuk menyediakan tempat makanan agar pelakunya tak perlu harus meninggalkan arena hanya karena rasa lapar. Peninggalan ini sekaligus menjadi penguat anggapan bahwa budaya judi begitu lekat dengan orang Cina Benteng. Berjudi merupakan wahana yang tepat dalam memupuk semangat kolektivitas. Terkadang jumlah yang dipertaruhkan tidaklah menjadi soal, asalkan mereka bisa berkumpul dengan teman sebangsanya. Jika mengalami kekalahan dalam berjudi, mereka menganggapnya sebagai buang sial.

Kedua, Materialisme. Ideologi ini begitu kuat mengakar dalam masyarakat Tionghoa. Secara umum begitulah anggapan awam terhadap masyarakat etnis ini. Etos kerja yang tinggi yang seharusnya mendapat apresiasi justru menjadi cemoohan dari beberapa kalangan. Para Kyai menyebutnya dengan “kedunyan” yang berarti orang yang terlalu mengutamakan kehidupan duniawi.Materialisme orang Tionghoa tidak saja terbatas pada kehidupannya, bahkan hingga kematiannya. Runtutan ritual kematian merupakan salah satu episode kehidupan paling penting bagi orang Tionghoa. Kematian tidak selesai jika hanya didoakan lantas dikremasi begitu saja. Mereka yang berasal dari kelompok berpunya, akan menjadikan kematian ini sebagai perayaan serta unjuk kekayaan yang disokong oleh megahnya pesta kematian serta jumlah massa yang datang berduyun-duyun. Upacara kematian orang Tionghoa kerap diselenggarakan hampir menyerupai suatu parade budaya yang sekaligus menampilkan kebesaran orang yang mati serta keluarga yang menyertainya.

Dalam prosesi penguburan jenazah, biasanya ikut dikuburkan pula barang-barang kesayangan si mati di masa-masa yang lalu. Barang kesayangan ini disertakan dalam liang pekuburan. Misalnya ia mencintai perhiasan serta uangnya, maka barang-barang itu akan dikuburkan di sisinya. Kepercayaan ini dilakukan agar si jenazah dapat tenang di alam kemudian. Benda-benda kesayangannya akan digunakan sebagai modal di sana. Orang Tionghoa percaya uang, perhiasan atau emas itu akan digunakan oleh roh orang yang mati sebagai bekal hidup di alam kelanggengan, sama seperti bekal kubur pada masyarakat sejak masa pra sejarah.

Lambat laun, penggunaan barang-barang asli sebagai bekal kubur mulai ditinggalkan. Sebagai gantinya, mereka membuat miniatur replika barang-barang tersebut, misalnya replika pesawat, mobil, emas-emasan, bahkan uang pun yang nantinya menjadi bekal adalah uang palsu atau dalam istilah mereka disebut “uang neraka”. Tidak jelas memang mengapa uang itu dinamakan demikian, namun yang jelas terjadi semacam perubahan persepsi mengenai barang-barang demikian, yang disandarkan pada pemikiran materialistis-pragmatis. Jika barang-barang palsu tersebut diyakini bisa menjadi bekal, maka mengapa harus menyertakan barang yang asli? Yang masih mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan dapat dipergunakan oleh keluarganya yang masih hidup, demikian hemat mereka.

Onghokham menyebutkan bahwa label Orang Tionghoa yang dikatakan sebagai “manusia ekonomi”, sesungguhnya adalah bentukan zaman. Sejak masa kolonial hingga Orde Baru, orang Tionghoa mengalami peminggiran hak-hak bernegara, berbudaya dan berpolitik dan satu-satunya peluang yang dimiliki mereka adalah bergerak di sektor ekonomi. Sejak masa kolonial, orang Tionghoa yang kaya sudah terbiasa menyelenggarakan upacara pemakaman yang monumental, seperti pemakaman Mayor Tan Tjien Kie, Mayor Cina Cirebon, Opsir Cina yang terkaya sepanjang abad 19. Biaya pemakamannya menyentuh angka 100.000 gulden. Mereka yang sudah meninggal disemayamkan di musoleum yang indah dan megah sebagaimana bisa dijumpai di pemakaman Karet Jakarta. Belum lagi yang hidup diharuskan membangun meja sembahyang untuk pemujaan nenek moyang yang menelan biaya yang tidak sedikit.

Sepertinya, kemegahan penguburan orang Tionghoa telah menjadi tradisi yang akarnya bisa ditemukan sejak masa prasejarah. Tonkin, disebut-sebut merupakan tempat asal migrasi produk-produk kebudayaan ke kawasan Nusantara. Daerah tersebut adalah pusat kebudayaan perunggu di Asia Tenggara. Di Dongson, juga ditemukan kepingan uang zaman Dinasti Han (Sekitar 100 tahun SM) dan nekara kecil sebagai bekal orang mati. Sejak masa yang lama kebudayaan orang Tiongkok telah sampai ke Indonesia. Hal ini bisa dijadikan alasan mengapa hingga kini orang Tionghoa masih menyertakan benda-benda yang dianggap mewakili kekayaan semasa hidup sebagai bekal kubur.

Dalam Islam dikenal kesamaan tindakan dalam memperlakukan orang mati. Baik miskin ataupun kaya, berpangkat atau tidak, maka tetap saja mereka akan disucikan, dikafani, dishalati lantas dimakamkan. Secara umum hampir tidak ada perbedaan yang mencolok dari prosesi kematian semua orang Muslim di Indonesia. Jika diperhatikan ajaran Islam lebih menempatkan prosesi kubur sebagai bentuk bersahaja dari pengamalan ketentuan Islam. Simbol-simbol yang terlihat berupa penggunaan kain putih sebagai pembungkus mayat, penguburan di tanah merah dan setiap prosesi diiringi dengan shalawat dan doa adalah rangkaian kegiatan yang jauh dari sifat materialistis. Amat berbeda dengan ajaran Orang Tionghoa.

Dalam kehidupan Muslim, kematian dianggap sebagai suatu fenomena yang pasti akan dialami setiap manusia. Tidur, dalam ajaran Islam sudah dianggap sebagai keadaan tubuh “mati sementara” yang tercermin dalam doa bangun tidur: “Segala puji bagi-Mu ya Allah, yang telah menghidupkan kembali diriku setelah kematianku, dan hanya kepada-Mu nantinya kami semua akan berpulang kepadaMu. Oleh orang Jawa, hidup diartikan sebagai “hanya mampir minum”, yang mengindikasikan bahwa dunia kematian adalah justru kehidupan yang sebenarnya. Setiap warna kehidupan sudah seharusnya diterima secara lapang dada dan disyukuri. Pada titik ini ada korelasi antara pandangan hidup orang Jawa dan ajaran Islam yang bermuara pada kepasrahan dan kebersahajaan.

Bagi orang Tionghoa yang masih memegang teguh adat nenek moyang serta kebesaran nama keluarga, penguburan model Islam tentu menjadi hal yang tidak terpikirkan. Mengantar orang yang mati dengan kebesaran adalah suatu tugas mulia, sebagai bentuk penghormatan terakhir baginya. Model penguburan orang Islam yang penuh kesahajaan dianggap bukan merupakan bukti penghormatan yang seharusnya dan bukan merupakan ajaran Tionghoa yang otentik. Untuk itu alasan ini kiranya juga menjadi latarbelakang mengapa orang Tionghoa, terutama yang kaya, enggan memeluk Islam.

Ketiga, orang Tionghoa akan mempertimbangkan agama Budhha ketimbang Islam . Secara kultural, ajaran Buddha lebih dekat dengan tradisi Tionghoa. Sama seperti Islam, ajaran ini juga mengedepankan kepasrahan dan kebersahajaan bagi penganutnya. Bahkan dalam beberapa segi, ajaran Buddha lebih radikal dalam mendudukkan makna kesederhanaan. Sama seperti Konghuchu, Budha merupakan kepercayaan yang banyak dipeluk orang Tionghoa. Bahkan pada satu fase, kepercayaan ini sempat mengalami fusi ke dalam aliran Tri Dharma, bersama pengikut ajaran Tao dan Konfusius.

Jika dilihat arsitektur vihara pengikut Tri Dharma bentuknya unik. Bangunannya begitu didominasi oleh unsur-unsur budaya Tionghoa, seperti cat berwarna merah, patung naga liong dan lain sebagainya. Namun yang menjadi fokus keunikan, adalah ketika memasuki ruang sembahyang utama, di meja altar terdapat tiga patung persembahan yang diletakkan sejajar. Ketiga patung itu adalah Buddha Gautama, Lao Tse dan Konfusius. Vihara ini menjadi titik berkumpul penganut tiga aliran ini. Sisi positif yang bisa dilihat dari keberadaan Tri Dharma adalah menciptakan persatuan Tionghoa.

Meskipun tata cara peribadatan Buddha lebih sederhana, namun ajaran ini termasuk banyak dianut oleh orang Tionghoa. Kebersahajaan yang ditampilkan mampu memikat orang-orang yang mendambakan kesederhanaan dan berusaha positif dalam kehidupan. Di tambah lagi, aliran Budha termasuk kepercayaan yang sudah berkembang pesat di Tiongkok Daratan. Tionghoa penganut Buddha tentu merasa mereka masihlah berada dalam koridor tradisi nenek moyang, dan tidak tercerabut jauh dari para kerabatnya yang menganut kepercayaan penyembahan dewa-dewa yang amat banyak itu. Bikkhu Sujato menjelaskan bahwa dalam perspektif Budhis, kehidupan manusia layaknya api. Di dalam kehidupan berisi segala bentuk problematika hidup. Seseorang yang ingin mencapai nirwana, maka harus “keluar dari nyala api”. Proses berada di alam api adalah sebagian dari proses spiritual yang harus dilalui dan masanya adalah panjang tidak bisa hanya seketika (sebentar). Kalimat “keluar dari api” terjadi secara alami,yakni setelah manusia merasakan api itu sendiri. Dengan kata lain “keluar dari api” adalah hasil dari pencapain spiritual yang hampir selesai.

Keempat, Islam adalah agama yang dianut oleh mayoritas pribumi, Islam adalah representasi dari pribumi yang identik dengan kurang berpendidikan, miskin, primitif dan barbar. Kristen menjadi pilihan yang dianggap lebih realistis bagi orang Cina benteng yang ingin melakukan konversi agama. Pada masa kolonial, masuk ke dalam Kristen dapat menyejajarkan diri dengan orang-orang Eropa. Sebagaimana kita ketahui bahwa pada masa kolonial, masyarakat dibagi menjadi tiga golongan, yang paling atas adalah golongan Eropa, yang kedua adalah golongan Asia (Jepang dan Tiongkok) dan Timur asing (Arab). Yang paling bawah adalah Pribumi, bangsa terjajah.

Dengan memeluk Kristen, mereka dapat beribadah bersama orang-orang Eropa, dapat mengenakan busana Eropa, mengikuti pesta dansa yang sering kali diadakan orang-orang Eropa, menggunakan nama-nama Eropa di depan nama keluarga mereka, dan pada gilirannya dapat menjalin hubungan bisnis dengan orang-orang Eropa yang biasanya mereka terdiri dari aparat penguasa kolonial dan pengusaha besar yang biasanya menguasai perkebunan besar yang tentu saja mereka membutuhkan sarana distribusi bagi hasil perkebunan mereka. Anggapan itu tidak begitu saja bisa terhapus hingga sekarang.

Kelima, Islam identik dengan kengerian . Islam dianggap agama yang mengajarkan tentang hal-hal yang menakutkan yang tidak diajarkan agama-agama lain di muka bumi ini. Hal-hal mengenai siksa kubur, siksa neraka yang digambarkan begitu menyeramkan menjadi sesuatu yang tidak ingin mereka memikirkannya, apalagi mengalaminya. Radikalisme yang ditanamkan beberapa aliran Islam juga ikut mempengaruhi citra Islam di kalangan masyarakat Tionghoa.

Kelima faktor di atas merupakan sebagian dari alasan mengapa Orang Tionghoa tidak mau menjadi Muslim. Islam bagi masyarakat Cina Benteng memang menjadi suatu ingatan historis keberadaan mereka. Mereka tidak menampik bahwa leluhur mereka ada yang berasal dari kalangan Tionghoa Muslim. Bagi Tionghoa peranakan, Ibu mereka juga orang pribumi yang dapat dipastikan Muslim. Namun, pada perkembangannya Islam tidak menjadi agama mayoritas yang dipeluk oleh Tionghoa. Ini merupakan suatu kasus unik dalam kajian sejarah Indonesia, di mana Islam justru surut dalam perkembangannya.

Sumber:

https://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/tamaddun/article/view/4498