Apa saja Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Konsep Diri?

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Konsep Diri

Menurut Burns (Metcalfe, 1981, dalam Pudjijogyanti, 1993) konsep diri adalah hubungan antara sikap dan keyakinan tentang diri kita sendiri. Sedangkan Cawagas (1983, dalam Pudjijogyanti, 1993) menjelaskan bahwa konsep diri mencakup seluruh pandangan individu akan dimensi fisik, karakteristik pribadi, motivasi, kelemahan, kepandaian, kegagalan, dan lain sebagainya. Menurut Fitts (Rahman, 2009), diri yang dilihat, dihayati, dan dialami ini disebut sebagai konsep diri. Jadi konsep diri merupakan sikap dan pandangan individu terhadap seluruh keadaan dirinya.

Apa saja Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Konsep Diri ?

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Konsep Diri


Pudjijogyanti (1993) mengemukakan ada beberapa peranan atau faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri, antara lain :

  1. Peranan citra fisik
    Tanggapan dari individu lain mengenai keadaan fisik individu yang ia lihat akan didasari oleh adanya dimensi tubuh ideal. Dimensi mengenai bentuk tubuh ideal berbeda antara kebudayaan satu dengan kebudayaan lain dari waktu ke waktu. Tetapi pada umumnya bentuk tubuh ideal laki-laki adalah atletis, berotot, dan kekar, sedangkan bentuk tubuh ideal wanita adalah halus, lemah, dan kecil. Dengan adanya dimensi tubuh ideal sebagai patokan untuk menganggapi keadaan fisik individu lain, maka setiap individu berusaha mencapai patokan ideal tersebut. Setiap individu menganggap bahwa ia akan mendapat tanggapan positif dari individu lain apabila ia berhasil mencapai patokan tubuh ideal. Kegagalan atau keberhasilan mencapai patokan tubuh ideal yang telah ditetapkan masyarakat merupakan keadaan yang sangat mempengaruhi pembentukan citra fisiknya, padahal citra fisik merupakan sumber untuk membentuk konsep diri.

  2. Peranan jenis kelamin
    Adanya perbedaan biologis antara laki-laki dan wanita menentukan pula peran masing-masing jenis kelamin. Perbedaan peran tersebut menyebabkan dunia wanita hanya terbatas pada dunia keluarga, sehingga dikatakan wanita tidak akan mampu mengembangkan diri sepanjang hidupnya. Sementara itu, laki-laki dapat lebih mengembangkan diri secara optimal, karena laki-laki berkecimpung dalam kehidupan di luar rumah (Budiman, 1982, dalam Pudjijogyanti, 1993). Dengan adanya perbedaan peran jenis kelamin, wanita selalu bersikap negatif terhadap dirinya. Wanita juga kurang percaya diri apabila ia diminta menunjukkan seluruh kemampuannya. Wilson dan Wilson (1976, dalam Pudjijogyanti, 1993) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa laki-laki mempunyai sumber konsep diri yang berbeda dengan wanita. Konsep diri laki-laki bersumber pada keberhasilan pekerjaan, persaingan, dan kekuasaan. Konsep diri wanita bersumber pada keberhasilan tujuan pribadi, citra fisik, dan keberhasilan dalam hubungan keluarga. Sejalan dengan penelitian ini Douvan dan Adelson (1996, dalam Pudjijogyanti, 1993) menyimpulkan bahwa konsep diri laki-laki dipengaruhi oleh prestasinya, sedangkan konsep diri wanita oleh daya tarik fisik dan popularitas diri. Dari kedua penelitian ini dapat disimpulkan bahwa konsep diri laki-laki bersumber pada keberhasilan dalam menunjukkan citra kelaki-lakiannya, yaitu keagresifan dan kekuatan. Sedangkan konsep diri wanita bersumber pada keberhasilan menunjukkan citra kewanitaannya, yaitu kelembutan.

  3. Peranan perilaku orang tua
    G.H Mead (1934, dalam Pudjijogyanti, 1993) menulis bahwa konsep diri merupakan produk sosial yang dibentuk melalui proses internalisasi dan organisasi pengalaman-pengalaman psikologis. Pengalaman-pengalaman psikologis ini merupakan hasil eksplorasi individu terhadap lingkungan fisiknya dan refleksi dirinya yang diterima dari orang-orang penting di sekitarnya. Lingkungan pertama yang menanggapi perilaku kita adalah lingkungan keluarga, maka dapat dikatakan bahwa keluarga merupakan ajang pertama dalam pembentukan konsep diri anak. Cara orang tua memenuhi kebutuhan fisik anak dan kebutuhan psikologis anak merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap seluruh perkembangan kepribadian anak. Pengalaman anak dalam berinteraksi dengan seluruh anggota keluarga merupakan penentu pula dalam berinteraksi dengan orang lain di kemudian hari. Jadi, bagaimana pandangan dan sikap individu terhadap dunia luar, mempercayai atau mencurigai, banyak dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil ketika berinteraksi dengan lingkungan keluarga.

  4. Peranan faktor sosial
    Konsep diri terbentuk karena adanya interaksi individu dengan orangorang disekitarnya. Apa yang dipersepsi individu lain mengenai diri individu, tidak terlepas dari struktur, peran, dan status sosial yang disandang individu. Struktur, peran, dan status sosial merupakan gejala yang dihasilkan dari adanya interaksi antara individu dengan kelompok, atau antara kelompok dengan kelompok. Adanya struktur, peran, dan status sosial yang menyertai persepsi individu lain terhadap diri individu merupakan petunjuk bahwa seluruh perilaku individu dipengaruhi oleh faktor sosial. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan Kurt Lewin, yaitu perilaku individu merupakan fungsi dari karakteristik individu dan karakteristik lingkungannya

Menurut Maria (2007) faktor-faktor lain yang mempengaruhi konsep diri adalah :

  1. Usia
    Grinder (1978, dalam Maria 2007) berpendapat bahwa konsep diri pada masa anak-anak akan mengalami peninjauan kembali ketika individu memasuki masa dewasa. Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa konsep diri dipengaruhi oleh meningkatnya faktor usia. Pendapat tersebut diperkuat oleh hasil penelitiannya Thompson (dalam Partosuwido, 1992, dalam Maria 2007) yang menunjukkan bahwa nilai konsep diri secara umum berkembang sesuai dengan semakin bertambahnya tingkat usia.

  2. Tingkat Pendidikan
    Pengetahuan merupakan bagian dari suatu kajian yang lebih luas dan diyakini sebagai pengalaman yang sangat berarti bagi diri seseorang dalam proses pembentukan konsep dirinya. Pengetahuan dalam diri seorang individu tidak dapat datang begitu saja dan diperlukan suatu proses belajar atau adanya suatu mekanisme pendidikan tertentu untuk mendapatkan pengetahuan yang baik, sehingga kemampuan kognitif seorang individu dapat dengan sendirinya meningkat. Hal tersebut didasarkan pada pendapat Epstein (1973, dalam Maria 2007) bahwa konsep diri adalah sebagai suatu self theory, yaitu suatu teori yang berkaitan dengan diri yang tersusun atas dasar pengalaman diri, fungsi, dan kemampuan diri sepanjang hidupnya.

  3. Lingkungan
    Shavelson & Roger (1982, dalam Maria 2007) berpendapat bahwa konsep diri terbentuk dan berkembang berdasarkan pengalaman dan interpretasi dari lingkungan, terutama dipengaruhi oleh penguatan-penguatan, penilain orang lain, dan atribut seseorang bagi tingkah lakunya.