© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian seseorang?

image

Banyak faktor yang mempengaruhi perubahan dan dinamika kepribadian seseorang. Faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi perubahan kepribadian seseorang ?

image

Faktor yang mempengaruhi perubahan dan dinamika kepribadian seseorang di pengaruhi oleh banyak faktor. Kepribadian merupakan karakteristik yang relatif stabil. Perubahan dalam kepribadian tidak bisa terjadi secara spontan, tetapi merupakan hasil pengamatan, pengalaman, tekanan dari lingkungan sosial budaya, rentang usia dan faktor-faktor dari individu:

  • Pengalaman Awal: Sigmund Freud menekankan tentang pentingnya pengalaman awal (masa kanak kanak) dalam perkembangan kepribadian. Trauma kelahiran, pemisahan dari ibu adalah pengalaman yang sulit dihapus dari ingatan.

  • Pengaruh Budaya: dalam menerima budaya anak mengalami tekanan untuk mengembangkan pola kepribadian yang sesuai dengan standar yang ditentukan budayanya.

  • Kondisi Fisik: kondisi fisik berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap kepribadian seseorang. Kondisi tubuh meentukan apa yang dapat dilakukan dan apa yang tidak dapat dilakukan seseorang. Secara tidak langsung seseorang akan merasakan tentang tubuhnya yang juga dipengaruhi oleh perasaan orang lain terhadap tubuhnya. Kondisi fisik yang mempengaruhi kepribadian antara lain adalah kelelahan, malnutrisi, gangguan fisik, penyakit menahun, dan gangguan kelenjar endokrin ke kelenjar tiroid (membuat gelisah, pemarah, hiperaktif, depresi, tidak puas, curiga, dan sebagainya).

  • Daya Tarik: orang yang dinilai oleh lingkungannya menarik biasanya memiliki lebih banyak karakteristik kepribadian yang diinginkan dari pada orang yang dinilai kurang menarik, dan bagi mereka yang memiliki karakteristik menarik akan memperkuat sikap sosial yang menguntungkan.

  • Inteligensi: Perhatian lebih terhadap anak yang pandai dapat menjadikan ia sombong, dan anak yang kurang pandai merasa bodoh. Apabila berdekatan dengan orang yang pandai tersebut, dan tidak jarang memberikan perlakuan yang kurang baik.

  • Emosi: ledakan emosional tanpa sebab yang tinggi dinali sebagai orang yang tidak matang. Penekanan ekspresi emosional membuat seseorang murung dan cenderung kasar, tidak mau bekerja sama dan sibuk sendiri.

  • Nama: walaupun hanya sekedar nama, tetapi memiliki sedikit pengaruh terhadap konsep diri, namun pengaruh itu hanya terasa apabila anak menyadari bagaimana nama itu mempengaruhi orang yang berarti dalam hidupnya. Nama yang dipakai memanggil ,mereka (karena nama itu mempunyai asosiasi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dalam pikiran orang lain) akan mewarnai penilainya orang terhadap dirinya.

  • Keberhasilan dan Kegagalan: Keberhasilan dan kegagalan akan mempengaruhi konsep diri, kegagalan dapat merusak konsep diri, sedangkan keberhasilan akan menunjang konsep diri itu.

  • Penerimaan Sosial: anak yang diterima dalam kelompok sosialnya dapat mengembangkan rasa percaya diri dan kepandaiannya. Sebaliknya anak yang tidak diterima dalam lingkungan sosialnya akan membenci orang lain, cemberut, dan mudah tersinggung.

  • Pengaruh Keluarga: pengaruh keluarga sangat mempengaruhi kepribadian anak, sebab waktu terbanyak anak adalah keluarga dan di dalam keluarga itulah diletakkan sendi sendi dasar kepribadian.

  • Perubahan Fisik: perubahan kepribadian dapat disebabkan oleh adanya perubahan kematangan fisik yang mengarah kepada perbaikan kepribadian. Akan tetapi, perubahan fisik yang mengarah pada klimakterium dengan meningkatnya usia dianggap sebagai suatu kemunduran menuju ke arah yang lebih buruk.

Sigmund Feud memiliki teori yang sangat spektakuler dalam perkembangan dinamika psikologi yang dikenal dengan struktur kepribadian yaitu id, ego dan superego.

  • Id
    Adalah struktur paling mendasar dari kepribadian yang di miliki seseorang sejak di lahirkan, seluruhnya tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan (pleasure principle), tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera.

  • Ego
    Ego muncul setelah usia 1 tahun, ego berkembang dari id, struktur kepribadian yang mengontrol kesadaran dan mengambil keputusan atas perilaku manusia. Superego, berkembang dari ego saat manusia mengerti nilai baik buruk dan moral.

  • SuperEgo
    Superego muncul ketika dewasa, ia bertugas merefleksikan nilai-nilai sosial dan menyadarkan individu atas tuntutan moral. Apabila terjadi pelanggaran nilai, superego menghukum ego dengan menimbulkan rasa salah.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadian. Namun 3 faktor ini dianggap sebagai faktor-faktor utama yang dapat membentuk kepribadian seseorang. Berikut ini adalah ketiga fakto tersebut:

  • Faktor biologis
    Merupakan faktor yang mengarah kepada hal-hal yang bersifat genetik. Faktor ini menjelaskan bahwa kepribadian individu bisa terbentuk karena masalah genetik. Misalnya orang tua dengan kecenderungan kepribadian ekstrovert, maka anaknya pun akan mengalami kecenderungan kepribadian yang ekstrovert juga.

  • Faktor sosial
    Faktor sosial merupakan faktor berikutnya yang dianggap sebagai faktor utama pembentuk kepribadian individu. Faktor sosial mencakup interaksi seseorang dengan lingkungan sosial, tempat tinggal, teman dekat, relasi sosial dengan keluarga dan orang lain, serta lingkungan pekerjaan ataupun sekolah/pendidikan

  • Faktor budaya
    Faktor utama lainnya yang bisa membentuk kepribadian seseorang adalah fakto budaya. Faktor budaya ini berhubungan dengan adat istiadat, dan kepercayaan serta nilai dan juga norma yang berlaku di dalam masyarakat.

Kepribadian merupakan sebuah kesatuan yang terintegrasi, dimana terdiri dari aspek psikis dan fisik. Aspek psikis contohnya kecerdasan, sifat, tindakan, minat, cita-cita, bakat, pola pikir, idealisme dll. Sedangkan aspek fiisk meliputi bentuk tubuh, kesehatan jasmani dll.

Berikut faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorang :

  • Pengalaman Awal, Freud menyatakan bahwa peran masa kecil (kanak-kanak) bahkan sejak lahir seperti trauma kelahiran adalah pengalaman yang sulit dilupakan dalam ingatan. Bisa jadi seseorang tidak ingat betul apa yang sudah terjadi pada dirinya waktu kecil, namun ternyata memeori tersebut bisa tersimpan di alam bawah sadar. (Baca : Teori Belajar dalam Psikologi)

  • Lingkungan (Budaya), seseorang harus menyesuaikan diri terhadap tekanan yang datang dari kebudayaan yang berlaku dilingkungannya dalam pengembangan pola kepribadian dirinya.

  • Kondisi Fisik, keadaan yang menimpa fisik seseorang seperti kelelahan, kekurangan gizi, penyakit tahunan, gangguan pada kelenjar endoktrin ke tiroid akan membuat seseorang merasakan perasaan negative pada dirinya. Misalnya saja, menjadi pemarah, hiperaktif atau bahkan depresi.

  • Daya Tarik, jika sebuah lingkungan mengatakan bahwa seseorang memiliki daya Tarik tertentu. Hal ini akan membuat sikap sosial yang menguntungkan bagi seseorang yang dianggap menarik tersebut. Sehingga hal ini akan membentuk kepribadian tertentu pada orang tersebut. (Baca juga: Kepribadian Ganda)

  • Kecerdasan, sering kali seseorang yang memiliki prestasi dalam hal kecerdasan akan mendapatkan penghargaan dan pujian dari banyak orang. Ada beberapa kasus yang memungkinkan seseorang menjadi sombong dan membuat orang yang berada dibawahnya merasa menjadi orang yang bodoh.

  • Emosi, seseorang yang tidak stabil emosinya dan cenderung meledak-ledak, akan menjadikan individu tersebut sebagai orang yang murung dan kasar perangainya.

  • Nama, sebuah nama ternyata dapat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang. Tergantung apakah asosiasi nama tersebut cenderung mengarah pada hal yang menyenangkan atau tidak. Misalnya saja sebutan dan julukan yang buruk akan menjadikan seseorang untuk berperilaku seperti namanya.

  • Keberhasilan atau Kegagalan, Pribadi akan tumbuh dengan adanya fase keberhasilan dan kegagalan. Jika seseorang mendapatkan kesuksesan, maka hal ini akan berpengaruh kepada konsep yang ada dalam diri orang tersebut.

  • Penerimaan Sosial, jika seseorang diterima dalam lingkungan sosialnya, maka hal tersebut akan berpengaruh kepada kepribadiannya dikarenakan rasa kepercayaan diri yang dimilikinya.

  • Lingkungan Keluarga, Sama seperti penerimaan sosial, atmosfer keluarga dimana seseorang tumbuh menjadi salah satu pilar dasar pembentukan kepribadian seseorang.

  • Perubahan Fisik, perubahan fisik juga bisa menjadi salah satu faktor pembentukan kepribadian seseorang. Misalnya saja pertumbuhan usia manusia.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian itu dapat dibagi sebagai berikut (Purwanto, 1992):

  1. Faktor Sosial

    Faktor sosial disini adalah masyarakat, yakni manusia lain disekitar individu yang mempengaruhi individu yang bersangkutan. Dalam faktor ini peranan lingkungan keluarga sangatlah penting dan menentukan bagi perkembangan pribadi anak selanjutnya. Pengaruh lingkungan keluarga terhadap perkembangan pribadi anak sejak kecil adalah sangat mendalam dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Hal ini disebabkan karena (Purwanto, 1992):

  • Pengaruh itu merupakan pengalaman yang pertama.

  • Pengaruh yang diterima anak itu masih terbatas jumlah dan luasnya.

  • Intensitas tinggi karena berlangsung terus-menerus siang dan malam.

  • Umumnya pengaruh itu diterima dalam suasana aman bersifat intim dan bernada emosional.

    Dari penjelasan di atas, nyatalah betapa besar pengaruh faktor sosial yang diterima anak itu dalam pergaulan dan kehidupannya sehari-hari dari kecil sampai besar, terhadap perkembangan kepribadiannya.

  1. Faktor Kebudayaan

    Menurut Ralph Linton (1978) dalam kutipan Ngalim Purwanto (1992) merumuskan kebudayaan itu seperti berikut; “Kita mengetahui bahwa kebudayaan itu tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat. Kita dapat mengenal pula, bahwa kebudayan tiap daerah/ negara berlainan.” Sehingga ini semua menunjukkan cara-cara hidup, adat-istiadat, kebiasaan-kebiasaan, bahasa, kepercayaan, dan sebagainya. Dengan demikian perkembangan kepribadian pada diri masing-masing anak tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakat di mana anak itu dibesarkan. Kemudian juga di dalam faktor ini terdapat beberapa aspek kebudayaan yang sangat mempengaruhi perkembangan kepribadian remaja dalam kehidupan sehari-hari, antara lain adalah (Purwanto, 1992):

  • Nilai-nilai

    Di dalam setiap kebudayan terdapat nilai-nilai hidup yang dijunjung tinggi oleh setiap manusia yang hidup dalam kebudayan itu. Mentaati dan mematuhi nilai-nilai hidup di dalam kebudayaan, sehingga nilai-nilai itu menjadi idaman dan kewajiban setiap anggota masyarakat. Dan semuanya itu akan dapat diterima sebagai masyarakat, yang harus memiliki kepribadian yang selaras dengan kebudayan yang berlaku di masyarakat.

  • Adat dan Tradisi

    Di setiap daerah terdapat adat dan tradisi yang berlainan. Sehingga dengan adat dan tradisi yang ada di dalam masyarakat dan yang masih berlaku disuatu daerah, di samping menentukan nilai-nilai yang harus ditaati oleh anggota-anggotanya, juga menentukan pula cara bertindak dan bertingkah laku manusia-manusianya.

  • Pengetahuan dan Ketrampilan

    Pengetahuan yang dimiliki setiap orang sangat mempengaruhi sikap dan tindakan. Tiap orang pula memiliki pengetahuan yang berlainan, dari pengetahuan yang sangat elementer sampai kepada yang tinggi dan luas. Demikian pula kecakapan dan ketrampilan seseorang membuat dan mengerjakan sesuatu adalah merupakan bagian dari kebudayaan.

  • Bahasa

    Di samping faktor-faktor kebudayaan yang telah diuraikan di atas, sesungguhnya bahasa merupakan salah satu faktor yang turut menentukan ciri-ciri khas dari suatu kebudayaan. Betapa eratnya hubungan bahasa dengan kepribadian manusia yang memilki bahasa itu. Pertama, kita mengetahui bahasa merupakan alat komunikasi antara individu dengan individu lain yang sangat penting. Kedua, bahasa adalah alat

    berfikir bagi manusia. Sehingga dengan begitu jelasnya, bahwa bagaimana sikap dan cara kita bertindak dan reaksi terhadap orang lain, bagaimana cara kita hidup bermasyarakat, sebagian besar dipengaruhi oleh bahasa yang kita miliki. Demikianlah bahasa merupakan faktor kebudayan yang sangat penting, dan turut mempengaruhi dan bahkan menentukan kepribadian seseorang (Purwanto, 1992).

    Dari uraian di atas, jelaslah kiranya bahwa perkembangan kepribadian seseorang sangatlah dipengaruhi oleh faktor-faktor biologis, faktor sosial, dan faktor kebudayaan. Sehingga dalam ketiga faktor ini yang akan mempengaruhi dan menjadikan suatu kepribadian sesuai dengan pola atau arah perkembangannya ke depan.

Faktor kepribadian adalah kesadaran dari dalam diri seseorang itu sendiri untuk menjadi disiplin berdasarkan nilai-nilai yang dianut atau yang ditanamkan oleh seseorang (Lewin, 1966). Menurut Helmi (1996) faktor kepribadian adalah berkaitan dengan sistem nilai yang dianut oleh individu tersebut. Nilai - nilai yang menjunjung disiplin yang diajarkan atau ditanamkan orang tua, guru, dan masyarakat digunakan sebagai kerangka acuan bagi penerapan disiplin.

Faktor yang mempengaruhi kepribadian menurut Robbins (1996) adalah:

  • Keturunan, menunjuk kepada faktor - faktor yang ditentukan pada saat pembuahan
  • Lingkungan, faktor-faktor yang menggunakan tekanan dalam pembentukan kepribadian kita dibesarkan.
  • Situasi, situasi mempengaruhi dampak keturunan dan lingkungan terhadap kepribadian.

Menurut Robbins (2001:53), kepribadian adalah total jumlah dari cara-cara di mana seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain paling sering digambarkan dalam bentuk sifat-sifat yang dapat diukur yang diperlihatkan oleh seseorang. Lima faktor kepribadian :

  • Kepekaan Sosial: suatu dimensi kepribadian yang menggambarkan seseorang yang senang bergaul, kemampuan bicara, dan tegas.

  • Mampu bersepakat: suatu dimensi kepribadian yang menggambarkan seseorang yang baik hati kooperatif dan mempercayai.

  • Mendengarkan kata hati: suatu dimensi kepribadian yang menggambarkan seseorang yang bertanggung jawab, dapat diandalkan, tekun dan berorientasi prestasi, disiplin, jujur.

  • Kemantapan emosional: suatu dimensi kepribadian yang menampung kemampuan seseorang untuk menahan stres. Orang dengan kemantapan emosional positif cenderung berciri tenang, bergairah dan aman. Mereka dengan skor negatif yang tinggi cenderung gelisah, tertekan, dan tidak aman.

  • Keterbukaan dalam pengalaman: suatu dimensi kepribadian yang mencirikan seseorang yang imaj inatif, benar-benar sensitif, dan intelektual.