Apa Saja Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kemampuan Seseorang dalam Mengatasi Stres?

stress

Zaman yang semakin modern ternyata tidak hanya dapat memudahkan manusia, tetapi juga dapat membuat manusia mengalami stress karena sulitnya kehidupan. Stres adalah suatu kondisi dimana fisik dan mental seseorang mengalami ketegangan, hal tersebut membuat penderita mengalami suatu tekanan pada pikiran atau badan. Tidak jarang juga ada penyakit yang disebabkan stress, bahkan sampai memicu kondisi psikologis kejiwaan orang tersebut.

Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kemampuan seseorang dalam mengatasi stres?

Reaksi individu dalam menghadapi stressor tentunya akan berbeda-beda, sehingga akan berpengaruh terhadap pemilihan coping strategy yang akan dipilih untuk mengatasi stressor, untuk itu berikut adalah beberapa faktor yang dirasa memengaruhi coping strategy, antara lain :

  • Usia
    Dalam rentang waktu tertentu, individu memiliki tugas perkembangan yang berbeda, ini juga tentunya berpengaruh terhadap pola pikir dan cara adaptasi dari individu tersebut.

  • Pendidikan
    Pendidikan juga memengaruhi dalam pemilihan strategy coping menghadapi stres. Individu yang berpendidikan lebih tinggi, akan menilai segala sesuatunya lebih realistis, dibandingkan dengan individu berpendidikan lebih rendah.

  • Status sosial ekonomi
    Status sosial ekonomi disini berperan dalam coping yang digunakan, karena apabila seseorang berada dalam situasi sosial ekonomi yang rendah, maka ia akan memiliki tingkat stres yang lebih tinggi, terutama dalam masalah ekonomi mereka.

  • Dukungan sosial
    Jika seseorang merasa didukung lingkungan, maka segala sesuatu akan dirasakan lebih mudah untuk dijalani, terutama untuk kejadian-kejadian yang menegangkan. Ada 4 jenis dukungan sosial yaitu: dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental, serta dukungan informatif.

  • Jenis kelamin
    Terdapat perbedaan dalam menghadapi suatu masalah antara pria dan wanita, hal tersebut dikarenakan wanita lebih menunjukan reaksi emosional dibandingkan dengan pria.

  • Karakteristik kepribadian
    Suatu model karakteristik yang berbeda akan memiliki cara coping yang berbeda pula.

  • Pengalaman
    Pengalaman yang dimiliki individu akan membentuk tindakan-tindakan yang diambil oleh individu untuk mengatasi masalahnya.

Ada begitu banyak hal yang membuat seseorang stres. Kemampuan untuk mengatur/mengelola diri sendiri merupakan suatu proses yang memerlukan adanya kemauan untuk mengubah diri sendiri. Mengelola stres dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengatur individu dalam menyesuaikan diri terhadap tuntutan yang dihadapi. Ada beberapa cara mengelola stres menurut Nasir dan Muhith (2011), yaitu:

  1. Identifikasi penyebab stres
  • Memahami penyebab stres
  • Memahami tingkatan stres
  1. Manajemen waktu yang baik
  2. Berbagi dengan orang lain
  3. Membicarakan masalah yang dihadapi dengan orang yang dipercaya
  4. Relaksasi
  5. Mengatasi rasa takut akan kegagalan.

Mekanisme Koping


Sarafino (2006) mengatakan bahwa koping adalah proses saat individu berusaha untuk mengatasi ketidaksesuaian antara tuntutan-tuntutan dengan sumber-sumber pada situasi yang stressfull . Individu melakukan perilaku koping sebagai upaya untuk mengurangi stres. Koping adalah proses yang digunakan seseorang untuk mengatur peristiwa-peristiwa yang dialami, dirasakan, diartikan sebagai sesuatu yang penuh tekanan (Craven, 2003).

Faktor yang Mempengaruhi Mekanisme Koping


Ada berbagai hal yang dapat mempengaruhi koping individu, baik yang datangnya dari individu itu sendiri maupun yang berasal dari luar individu atau yang berasal dari lingkungannya. Nasir & Muhith (2011) mengatakan bahwa mekanisme koping dipengaruhi oleh:

  • Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri meliputi umur, jenis kelamin, kepribadian, pendidikan, agama, budaya emosi dan kognitif.

  • Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri individu meliputi dukungan sosial, lingkungan, keuangan dan penyakit.

Berdasarkan faktor-faktor yang diungkapkan diatas, faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut diantaranya:

  1. Umur

Kehidupan seseorang akan mengalami fluktuasi sepanjang masa hidup manusia sesuai dengan tahap perkembangan. Pada saat seseorang berkembang, manusia akan lebih memperhatikan cara berinteraksi dengan lingkungannya, dia akan mengalami berbagai emosi seperti rasa percaya, rasa aman dan nyaman. Apabila manusia merasa kurang akrab dengan lingkungannya maka akan muncul rasa takut. Sejalan dengan pertambahan usia, maka seseorang akan mampu menghadapi berbagai masalah yang menimpanya.

  1. Jenis Kelamin

Setiap individu memiliki memiliki cara yang berbeda untuk menghadapi stres dan tekanan yang dialami. Salah satu faktor yang mempengaruhi koping adalah jenis kelamin. Taylor (2002; Santrock, 2007) mengungkapkan bahwa perempuan cenderung kurang berespon terhadap situasi stres dan mengancam dibandingkan laki-laki. Laki-laki biasanya memiliki koping yang lebih baik terhadap perubahan yang terjadi di sekelilingnya jika dibandingkan dengan perempuan. Laki-laki lebih sering menggunakan koping yang berfokus pada masalah (Ptacek et al, 1992; Passer & Smith, 2001), sedangkan perempuan lebih sering mencari dukungan sosial (Billings & Moos, 1984 dalam Schwazer, 1998; Passer & Smith, 2001) dan perempuan juga lebih sering menggunakan mekanisme koping yang berfokus pada emosi.

  1. Lingkungan/Tempat Tinggal

Lingkungan akan sangat mempengaruhi kepribadian individu, karena seseorang melakukan interaksi sosial sehari-hari dengan lingkungannya. Selain itu, dukungan dari lingkungan terutama dukungan dari keluarga juga akan mempengaruhi pemikiran seseorang terhadap apa yang dialaminya. Recker (2007) mengatakan bahwa dukungan sosial terutama keluarga sangat dibutuhkan untuk mengatasi stres.

  1. Agama

Agama atau kepercayaan memiliki pengaruh cukup kuat dalam mempengaruhi pembentukan koping seorang individu. Agama atau kepercayaan dapat mempengaruhi sikap dan tingkah laku individu yang menyangkut tata cara berpikir, bersikap, berkreasi dan bertingkah laku yang tidak dapat dipisahkan dari keyakinan karena keyakinan masuk dalam konstruksi kepribadian individu. Keterkaitan agama dengan mekanisme koping adalah mengajarkan individu untuk menilai setiap kejadian stres, mengembangkan keterampilan dalam menghadapi stres dan menggunakan keterampilan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Mekanisme koping dibedakan menjadi dua tipe menurut Kozier (2004) yaitu mekanisme koping berfokus pada masalah ( problem focused coping ) dan mekanisme koping berfokus pada emosi ( emotional focused coping ). Lazarus dan Folkman (1984; Nasir & Munith, 2011) juga membagi mekanisme koping menjadi dua strategi sama.

  1. Koping yang berfokus pada masalah ( problem focused coping )

Problem focused coping merupakan usaha dalam mengatasi stres dengan cara mengatur atau mengubah masalah yang dihadapi dan lingkungan sekitarnya yang menyebabkan tekanan meliputi usaha untuk memperbaiki suatu situasi dengan membuat perubahan atau mengambil beberapa tindakan dan usaha segera untuk mengatasi ancaman pada dirinya. Contohnya adalah negosiasi, konfrontasi dan meminta nasehat. Strategi yang dipakai dalam problem focused coping ini adalah sebagai berikut:

  • Confronting coping : usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan dengan cara yang agresif, tingkat kemarahan yang cukup tinggi dan pengambilan resiko.

  • Seeking social support : usaha untuk mendapatkan kenyamanan emosional dan bantuan informasi dari orang lain.

  • Planful problem solving : usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan dengan cara yang hati-hati, bertahap dan analisis.

  1. Koping yang berfokus pada emosi ( emotion focused coping )

Emotion focused coping yaitu usaha untuk mengatasi stres dengan cara mengatur respon emosional dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh situasi penuh tekanan, meliputi usaha-usaha dan gagasan yang mengurangi distres emosional. Mekanisme koping berfokus pada emosi tidak memperbaiki situasi tetapi seseorang sering merasa lebih baik. Strategi yang digunakan adalah:

  • Self control : usaha untuk mengatur perasaan ketika menghadapi situasi dengan tekanan.

  • Distancing : usaha untuk tidak terlibat dalam permasalahan.

  • Positive reappraisal : usaha untuk mencari makna positif dari permasalahan dengan berfokus pada pengembangan diri.

  • Accepting responsibility : usaha untuk menyadari tanggung jawab dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dan mencoba menerimanya.

  • Escape/avoidance : usaha untuk mengatasi situasi menekan dengan lari dari situasi tersebut atau berusaha untuk menghindarinya.

Koping berdasarkan penggolongannya dibagi menjadi dua (Stuart dan Sundeen, 1995; Mustikasari, 2006) yaitu ; mekanisme koping adaptif (konstruktif) dan mekanisme koping maladaptif (destruktif). Mekanisme koping adaptif adalah mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar dan mencapai tujuan. Kategorinya adalah berbicara dengan orang lain, memecahkan masalah secara efektif, teknik relaksasi, latihan seimbang dan aktivitas konstruktif. Sedangkan mekanisme koping maladaptif adalah mekanisme koping yang menghambat fungsi integrasi, memecah pertumbuhan, menurunkan otonomi dan cenderung menguasai lingkungan. Kategorinya adalah makan berlebihan/tidak makan, bekerja berlebihan, menghindar.

Mekanisme koping dikatakan adaptif atau konstruktif ketika kecemasan diperlakukan sebagai sinyal peringatan dan individu menerimanya sebagai tantangan untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya tesebut. Mekanisme koping adaptif adalah mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar, dan mencapai tujuan. Santrock (2005) juga berpendapat ada berbagai strategi koping dalam menyelesaikan masalah.