Apa Saja Faktor-Faktor yang Membuat Seseorang Bahagia?

menurut KBBI, bahagia/ba·ha·gia/ 1 n keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan)

Bahagia itu adalah sebuah emosional dari dalam hati manusia yang menandakan suasana hati nya itu tenang, senang dan aman.

faktor-faktor yang membuat seseorang bahagia adalah:

  1. Keluarga Yang Harmonis
  2. Sahabat Yang Baik
  3. Pasangan Yang Tepat
  4. Lingkungan Yang Nyaman
  5. Rekan Kerja Yang Asik
  6. Diri Kita Sendiri

sumber : https://www.hipwee.com/list/faktor-yang-dapat-membuat-kita-bahagia/

Berikut ini adalah penjabaran dari faktor-faktor lingkungan yang berkontribusi terhadap kebahagiaan seseorang menurut Seligman (2005), diantara lain adalah :

  1. Uang
    Dinegara-negara yang sangat miskin, yang disana kemiskinan dapat mengancam nyawa, memang kaya bisa lebih berarti bahagia. Namun, dinegara yang lebih makmur, tempat hampir semua orang memperoleh kebutuhan dasar, peningkatan kekayaan tidak begitu berdampak pada kebahagiaan pribadi. Individu yang menempatkan uang di atas goal (tujuan) yang lainnya juga akan cenderung menjadi kurang puas dengan pemasukan dan kehidupannya secara keseluruhan (Seligman 2005).

  2. Pernikahan
    Pernikahan memiliki dampak yang jauh lebih besar dibanding uang dalam mempengaruhi kebahagiaan seseorang. Individu yang menikah cenderung lebih bahagia dari pada mereka yang tidak menikah, namun jika isteri merasa tidak bahagia dalam rumah tangganya, ia memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih rendah dibandingkan mereka yang bahkan tidak menikah. Lebih bahagianya individu yang telah menikah bisa karena pernikahan menyediakan keintiman psikologis dan fisik, konteks untuk memiliki anak, membangun rumah tangga, dan mengafirmasi identitas, serta peran sosial sebagai orang tua.

  3. Kehidupan Sosial
    Orang yang sangat bahagia berbeda dengan orang rata-rata dan orang yang tidak bahagia. Individu yang memiliki tingkat kebahagiaan tinggi umumnya memiliki kehidupan sosial yang memuaskan dan menghabiskan banyak waktu bersosialisasi. Orang yang sangat bahagia paling sedikit menghabiskan waktu sendirian. Sehingga keikutsertaan seseorang dalam aktivitas yang membuatnya bertemu dengan banyak teman akan berkontribusi positif terhadap kebahagiaan. Pertemanan yang terjalin juga sebaiknya terbuka antara satu sama lain sehingga berkontribusi terhadap kebahagiaan, karena dalam pertemanan tersedia dukungan sosial dan terpenuhinya akan kebutuhan afiliasi.

  4. Emosi Positif
    Melalui penelitian yang dilakukan oleh Norman Bradburn (1969) diketahui bahwa individu yang mengalami banyak emosi negatif akan mengalami lebih sedikit emosi positif, dan sebaliknya. (Seligman, 2005) Hanya terdapat sedikit korelasi negatif antara emosi positif dengan emosi negatif. Ini berarti, jika memiliki banyak emosi negatif, maka dimungkinkan memiliki lebih sedikit emosi positif dibandingkan dengan rata-rata. Meskipun demikian, tidak berarti orang yang memiliki banyak emosi negatif akan tercampak dari kehidupan yang gembira. Demikian pula meskipun individu memiliki banyak emosi positif dalam hidup, tidak berarti individu tersebut sangat terlindung dari kepedihan.

  5. Usia
    Sebuah studi mengenai kebahagiaan terhadap 60.000 orang dewasa di 40 negara membagi kebahagiaan ke dalam tiga komponen, yaitu kepuasan hidup, afek menyenagkan, dan afek tidak menyenangkan. Kepuasan hidup meningkat perlahan seiring dengan usia, afek menyenagkan menurun sedikit, dan afek tidak menyenangkan tidak berubah. Berdasarkan hasil tersebut, maka usia muda bukan berarti lebih bahagia dibandingkan dengan usia tua.

  6. Agama
    Hubungan sebab akibat antara agama dan hidup yang lebih sehat dan lebih promasyarakat sudah bukan misteri. Banyak agama melarang penggunaan narkotika, kejahatan, perselingkuhan, dan sebaliknya mendukung untuk beramal, hidup sederhana, dan bekerja keras. Pada masa puncak behaviorisme, manfaat emosional dari agama dijelaskan berasal dari dorongan emosional yang lebih besar. Menurut pandangan ini pula orang-orang religius berkumpul bersama membentuk suatu komunitas perkawanan yang simpatik dan ini membuat mereka merasa lebih baik. namun, tidak hanya sekedar itu, terdapat korelasi yang lebih mendasar. Agama mengisi manusia dengan harapan akan masa depan dan menciptakan makna dalam hidup. Oleh karena itu, individu yang religius, dalam artian menjalankan perintah agama dan mengikuti perintah keagamaan tertentu akan mendapatkan kontribusi yang positif terhadap kebahagiaannya dibandingkan yang tidak religius.

  7. Kesehatan
    Kesehatan yang dapat berpengaruh terhadap kebahagiaan adalah kesehatan yang dipersepsikan individu (kesehatan subyektif), bukan kesehatan yang sebenarnya dimiliki (kesehatan obyektif). Sehingga individu yang merasa dirinya sehat akan mendapat kontribusi positif terhadap kebahagiaannya dibanding individu yang merasa dirinya kurang sehat, terlepas dari kondisi kesehatan mereka yang sesungguhnya. Namun jika sakit yang dialami parah dan berkepanjangan, kebahagiaan dapat mengalami penurunan walaupun tidak terlalu banyak.

  8. Pendidikan, Iklim, Ras, dan Jender
    Keempat hal ini memiliki pengaruh yang tidak terlalu besar terhadap tingkat kebahagiaan seseorang. Pendidikan mempunyai pengaruh yang sedikit terhadap kebahagiaan. Pendidikan dapat sedikit meningkatkan kebahagiaan pada mereka yang berpenghasilan rendah karena pendidikan merupakan sarana untuk mencapai pendapatan yang lebih baik. iklim di daerah dimana seseorang tinggal dan ras juga tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kebahagiaan. Sedangkan jender, antara pria dan wanita tidak terdapat perbedaan pada keadaan emosinya, namun ini karena wanita cenderung lebih bahagia dan lebih sedih dibandingkan pria.