Apa saja faktor-faktor yang melatarbelakangi munculnya Islamofobia di Eropa ?

Islamphobia

Islamphobia menjadi fenomena yang banyak dibahas akhir-akhir ini. Salah satu yang mendapat sorotan dari dunia adalah gerakan Islamphobia yang terjadi di Eropa.

Apa saja faktor-faktor yang melatarbelakangi munculnya Islamofobia di Eropa ?

Faktor utama yang melatarbelakangi munculnya Islamofobia di Eropa dibagi menjadi dua, yaitu: orientalisme barat dan tragedi 9/11 WTC di Amerika Serikat.

Pertama, pemahaman orientalisme barat yang muncul pada abad ke-18 dan ke-19 yang mengarah pada perspektif subordinasi non-barat. Lalu, adanya tragedi 11 September 2001 di WTC yang memicu ketakutan berlebih pada terorisme yang dikaitkan dengan stereotip muslim.

Untuk elaborasi poin pertama dimulai pada sisi historis Eropa pada abad ke-18 dan ke-19 di mana pada era negara-negara Eropa berlomba untuk mengumpulkan negara koloni. Kolonialisasi yang mengarah pada negara- negara timur menyebabkan implikasi dan transfigurasi nyata terhadap perspektif barat pada timur (non-barat), dalam hal ini termasuk pada Islam (yang dianggap berasal dari timur). Secara tidak langsung, adanya superioritas negara Eropa yang menyatakan bahwa identitas wilayah timur (dalam hal ini termasuk muslim) adalah primitif, uncivilized, barbar, irasional, dan ditempelkan nilai-nilai yang inferior dibanding negara Eropa. Paham subordinasi barat ini berdampak jelas pada rasisnya masyarakat Eropa terhadap sesuatu di luar barat.

Jika dikaitkan dengan konsep ‘the Other’, timur diandaikan sebagai ‘the Other’ dan barat sebagai ‘the Self’ di mana budaya timur tidak memiliki kesamaan nilai budaya dengan barat. Bahkan, non-barat dapat dikategorikan sebagai " radical Other". Seperti tertulis pada publikasi The Rudymede trust , sebuah badan NGO di UK pada tahun 1997 bahwa nilai budaya timur dinyatakan tidak memiliki pengaruh pada budaya barat. Asumsi ini didukung oleh teori bentrokan budaya oleh Samuel Hutington pada tahun 1996 menyatakan bahwa kebudayaan Eropa berakar pada “Judeo-christian” yang menjadi identitas. Hal ini menyebabkan Islam dan Arab yang hidup di Eropa menjadi sebuah ancaman, dilihat baik dari nilai tradisi, identitas, dan keamanan. Hal nyata terjadi dalam dunia politik Eropa di mana golongan ekstrim kanan cenderung xenofobia bahkan Islamofobia, contoh pada Jean-Marie Le Pen dan Nicholas Sarkozy dari Prancis.

Superioritas Eropa menyebabkan mental masyarakat yang sulit menerima adanya perbedaan, sehingga masyarakat cenderung rasis dan menolak adanya integrasi dengan ‘yang bukan barat’. Hal ini jugalah yang menjelaskan terjadinya xenofobia pada sebagian besar masyarakat Eropa. Ketakutan akan orang luar disinyalir akibat eksklusivitas ‘barat’, sehingga timbullah antipati tinggi pada non-barat. Sebagai akibatnya, timbul miskonsepsi yang mengarah pada sterotip-stereotip negatif bermunculan seiring dengan sikap rasis masyarakat. Hal ini dapat terlihat pada abad ke-19 di mana tingkat imigran asing meningkat pesat di Eropa. Adanya diskriminasi dan rasisme terhadap warna kulit menjadi fokus pada masa itu. Eropa melihat orang kulit hitam sebagai ‘budak’, 'tidak berpendidikan, lebih rendah dari orang kulit putih.

Ketakutan akan pendatang (terutama kaum imigran) atau yang dikenal dengan xenophobia ada di Prancis dan berkembang menjadi Islamofobia pasca tragedi WTC. Tragedi 11 September 2001 membangkitkan rasa takut berlebihan pada terorisme yang diasosiasikan dengan Islam, sehingga menyebabkan alienasi pada kaum muslim dalam segala bidang dari pekerjaan, pendidikan, dan rumah tangga. Menurut data Eurospheres , Islamofobia semakin meningkat pada enam tahun terakhir ini.

Islamofobia juga ditandai dengan dibuatnya " La Loi Contre La Burqa " oleh Jean-François Cope, Presiden UMP ( Union pour Un Mouvement Populaire ), pada 11 April 2011 dalam Assemblé Nationale. RUU ini kemudian disahkan oleh dewan dan dinyatakan adanya pelarangan pemakaian burqa di tempat umum. Tidak hanya di Prancis, di Swiss terjadi pelarangan pembangunan mesjid yang disuarakan oleh generasi muda. 7 Juli 2005 terjadi pengeboman yang menewaskan 53 orang di London, pelaku adalah pemuda muslim Inggris. Demonstrasi ini sampai ke Prancis, mahasiswa menolak adanya pembangunan masjid sembari mengangkat tinggi-tinggi tulisan bahwa mereka mendukung Le Pen dengan gerakan nasionalisme ekstrim kanan. Berikut diperlihatkan salah satu contoh demo yang menyatakan dukungan pada Le Pen sebagai gambaran Islamofobia yang terjadi di Prancis.

Di saat yang bersamaan, Nicolas Sarkozy mengesahkan putusan mengenai pelarangan penuh pemakaian burqa pada 21 April 2011. Hal ini menyebabkan adanya kesenjangan sosial antara penduduk asli dan pendatang (maghribi), perempuan dan laki-laki serta Katolik dan Islam. Ketiga minoritas itu tinggal di tempat ghetto dan banyak tempat tinggal mereka terletak di Paris Arr. yang dikenal dengan daerah dengan tingkat kriminalitas yang cukup tinggi. Masalah kausalitas antara tingkat kesejahteraan imigran yang rendah dan kriminalitas merupakan masalah lain, dari sterotip negatif itu kita melihat bahwa integrasi multikultural kembali dipertanyakan statusnya.

Tahun 2015 merupakan tantangan bagi Multikulturalisme di Prancis. Dalam 10 bulan, Prancis mengalami dua serangan teroris yang menewaskan 146 korban. Kedua tragedi itu dilatarbelakangi oleh islamofobia. Data yang dicatat Collectif Contre L’Islamophobie in France (CCIF), tiga minggu sejak penyerangan Charlie Hebdo bulan Januari, terdapat 120 tindak kriminal berdasarkan islamofobia. Begitu pula tragedi 13 November, peristiwa ini membangkitkan reaksi negatif publik terhadap kaum muslim di Prancis. Dalam laporan tahunan CCIF seperti yang tertera pada gambar di bawah ini, tindak islamofobia meningkat pesat sebesar 18,5%, dari 764 kasus di tahun 2014 menjadi 905 di tahun 2015.

image
Gambar Diagram peningkatan Islamofobia di Prancis (2013-2015) Sumber: Laporan Tahunan CCIF 2015

Fakta ini didukung oleh laporan tahunan (2015) CNCDH ( Commission Nationale Consultative des Droits de L’Homme ) yang menyatakan bahwa ‘iklim diskriminasi’ di Prancis meningkat dalam lima tahun terakhir. Dalam survei yang dilakukan CNCDH tentang praktik keagamaan Islam, shalat dan makanan halal yang dianggap sebagai ‘penghalang’ kehidupan bersama. Sekitar 47% penduduk Prancis memiliki opini negatif tentang kaum Muslim yang berada di Prancis, hanya 26% yang beropini positif. Hal ini membuktikan adanya radikalisasi terhadap opini publik terhadap Islamofobia (CNCDH, 2015).

image
Gambar Diagram tipe tindakan Islamofobia di Prancis 2015 Sumber: Laporan Tahunan CCIF 2015

Fenomena Islamofobia meningkat dalam berbagai jenis tindakan. Dalam gambar diatas, CIFF melakukan survei dan mendata keluhan yang masuk terkait Islamofobia pada tahun 2014-2015 dan memperlihatkan bahwa tindakan Islamofobia dibagi dalam empat tindakan: diskriminasi, kekerasan (fisik dan verbal), hate speech , dan penodaan terhadap agama. Diskriminasi mencapai 588 kasus, tapi hanya 20 laporan yang masuk ke CCIF. 97 kasus kekerasan (baik fisik maupun verbal) serta 55 laporan yang terdata. Sementara itu, tidak ada laporan dari 160 kasus hate speech yang terjadi. Lalu, terhitung 51 dari 60 kasus penodaan agama yang dilaporkan (CCIF 2015).

CCIF mendata bahwa penyerangan fisik meningkat hingga 150%. Tahun 2014, hanya tercatat 22 laporan dan naik secara signifikan menjadi 55 laporan (naik 2,5%). Kekerasan simbolik naik hingga 140% dibandingkan tahun sebelumnya. Diskriminasi terhadap kaum muslim mencapat tahap krusial. Kaum muslim tidak hanya diserang, tapi juga ditargetkan dan ditolak keberadaannya dalam kehidupan sehari-hari (CCIF 2015).

Peristiwa yang terjadi di Prancis pada tahun 2015 menimbulkan pemahaman keliru antara terorisme dan Islam. Kekeliruan ini tidak hanya terjadi di masyarakat saja, tapi menyeluruh pada tokoh politik dan jurnalis. Kedua kelompok itu memegang peranan kunci terjadinya radikalisasi pada kaum muda di Prancis. Segregasi masyarakat yang menganggap Islam adalah teroris merupakan dampak dari ketidakpedulian masyarakat Prancis. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: ketimpangan akses pendidikan, tingkat pengangguran yang tinggi, diskriminasi dalam dunia kerja (INED, 2016).

Referensi : Petsy Jessy Ismoyo, Islamofobia di Prancis: Diskriminasi perempuan muslim maghribi, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga