Apa saja fakta yang anda ketahui di balik film 1917?

1917

Film 1917 yang tayang pada awal tahun 2020 menceritakan fragmen sejarah tentang dua orang prajurit Inggris yang diutus oleh Jenderal untuk menyampaikan pesan pembatalan serangan terhadap pasukan Jerman kepada batalyon yang sudah siap menyerang di esok hari. Film sejarah Perang Dunia 1 ini memancing keingintahuan penonton mengenai fakta-fakta yang ada di baliknya. Apa fakta di balik film 1917 yang anda ketahui?

1. Film ini dijawalkan akan rilis di Indonesia pada 22 Januari 2020 dan hanya tayang di CGV

Instagram.com/rottentomatoes

2. Film 1917 dirilis perdana pada 4 Desember 2019 di acara Royal Command Film Performance

1917.movie

3. Dilansir The Numbers , budget pembuatan film ini sekitar USD100 juta (sekitar Rp1,4 triliun)

1917.movie

4. Film 1917 berhasil menang dua penghargaan pada ajang Golden Globe Awards 2020

Instagram.com/1917

5. Film ini memperoleh rating 8,6 dari IMDb dan mengalahkan Avengers: Endgame (2019) dengan rating 8,5

nsnews.com

6. Film 1917 dibintangi Dean-Charles Chapman, Benedict Cumberbatch, dan Geoge MacKay

1917.movie

[

7. Film ini disutradarai oleh Sam Mendes, sosok di balik suksesnya film 1917

8. Seluruh cerita dalam film ini ditulis oleh Sam Mendes dan Krysty Wilson-Cairns

9. Tak lupa juga, Roger Deakins yang merupakan sinematografer di balik kerennya efek pada film ini

10. Film ini diproduseri oleh Pipa Harris, Sam Mendes, Brian Oliver, Callum McDougall, dan Jayne-Ann Tenggren

11. Film 1917 berada di bawah perusahaan produksi ternama yaitu Universal Pictures

12. Ini pengenalan perdana tentang film dan aktor di New York Comic Con pada Oktober 2019 silam

Jadi, itulah dua belas fakta tentang film 1917 . Ternyata, film ini juga dibintangi oleh sederetan artis papan atas, salah satunya Benedict Cumberbatch, lho!

Ada beberapa fakta yang saya tau di balik film 1917.

  • Orang yang menginspirasi film 1917
    Naskah 1917, yang ditulis oleh Mendes dan Krysty Wilson-Cairns, diilhami oleh “potongan-potongan” cerita dari kakek Mendes, yang menjadi “pelari” - pembawa pesan untuk Inggris di Front Barat. Tapi film ini bukan tentang peristiwa aktual yang terjadi pada Kopral Lance Alfred H. Mendes, yang menceritakan kisah ke cucunya tentang bagaimana ia terkena gas dan terluka saat berlari di “No Man’s Land,” wilayah antara parit Jerman dan Sekutu.

    Dalam film tersebut, Jenderal Erinmore (Colin Firth) memerintahkan dua kopral lance, Blake (Dekan-Charles Chapman) dan Schofield (George MacKay), untuk melakukan perjalanan berbahaya melintasi No Man’s Land untuk mengirimkan surat kepada seorang komandan, Kolonel Mackenzie ( Benedict Cumberbatch). Surat itu berisi perintah agar mereka membatalkan serangan yang direncanakan terhadap Jerman yang telah mundur ke Garis Hindenburg di Perancis utara.

image

  • Kehidupan di parit
    Para pembuat film melakukan syuting film tersebut di Inggris Barat Daya. Latar dibuat dengan menggali parit sepanjang 2.500 kaki, yang dikenal sebagai ciri khas Front Barat dalam perang.

    Jenis perang parit banyak digunakan sebagai taktik perang darat pada Perang Dunia 1. Terdapat lebih dari satu parit untuk seluruh pasukan. Parit garis depan (front line) adalah tempat dimana pasukan menyerang atau bertahan. Di belakangnya, terdapat parit untuk membawa suplai logistik sekaligus tempat tunggu untuk prajurit sebelum mendapat perintah pergi ke garis depan. “Kamar mandi” terdapat di parit jamban.

    Parit di Front Barat dibuat zigzag dengan total panjang sekitar 35.000 mil. Panjang aslinya adalah 430 mil, membentang dari Selat Inggris di Utara hingga Pegunungan Alpen Swiss di Selatan.

    Paul Biddiss, veteran Angkatan Darat Inggris bertindak sebagai penasihat teknis militer dalam film. Ia kebetulan juga memiliki tiga kerabat yang bertugas dalam Perang Dunia I. Mereka mengajar para aktor tentang teknik yang tepat untuk memberi hormat dan menangani senjata. Dia juga menggunakan buku petunjuk militer dari zaman itu untuk membuat kamp pelatihan, yang dimaksudkan untuk memberi para prajurit perasaan nyata tentang bagaimana rasanya bertugas di parit. Para aktor juga membaca referensi tentang kehidupan prajurit di parit dalam buku-buku seperti Forgotten Voices from 1914-1945 karya Max Arthur. , The Last Fighting Tommy: The Life of Harry Patch karya Richard van Emden dan The Soldier’s War: The Great War through Veterans’ Eyes.

    Dalam pelatihan, Biddiss menempatkan para aktor di berbagai korps dengan tugas berbeda-beda seperti korps medis, korps logistik dan lain-lain. Mereka juga melakukan kegiatan-kegiatan seperti perawatan parit, mengisi karung pasir, membunuh kutu dengan lilin dan juga mengisi kegiatan hiburan dengan catur atau dam. Selain itu juga banyak aktivitas diam dan menunggu untuk mendapatkan gambaran kebosanan para prajurit yang menunggu perintah maju ke garis depan.

  • Pembawa pesan yang sesungguhnya
    Plot film berpusat pada dua pembawa pesan yang berlari melintasi No Man’s Land untuk mengirim pesan. Pada kenyataannya perintah seperti itu terlalu berbahaya untuk ditetapkan. Menurut Doran Cart, seorang kurator senior di National World War I Museum and Memorial di Kansas City, pembawa pesan manusia semacam itu hanya dikerahkan dalam situasi terdesak dan putus asa. Dalam perang biasanya pesan disampaikan melalui merpati kurir, lampu sinyal dan kode morse. Di parit juga ada telepon untuk keperluan komunikasi

    Ketika pembawa pesan manusia dikerahkan, risiko kematian oleh penembak jitu Jerman sangat tinggi sehingga mereka dikirim berpasangan, untuk berjaga-jaga apabila terjadi sesuatu pada salah satu diantara mereka, maka satu orang lagi bisa menyelesaikan pekerjaan. Cart memaparkan bahwa di beberapa tempat No Man’s Land berjarak sedekat 15 yard dan di tempat lain jaraknya satu mil. Medan itu sangat berlumpur, dipenuhi bangkai hewan, bangkai manusia, kawat berduri, puing-puing longsongan peluru dan bom yang meledak, hampir tidak ada tumbuhan. Hampir tidak ada orang yang sanggup melalui No Man’s Land dengan resiko besar terkena tembakan artileri, senapan mesin dan gas beracun dari musuh.

  • 6 April, 1917
    Kisah 1917 berlangsung pada 6 April, dan sebagian terinspirasi oleh peristiwa pemindahan pasukan oleh Jerman. Dari 23 Februari hingga 5 April tahun itu, Jerman memindahkan pasukan mereka ke Garis Hindenburg, kira-kira di sepanjang Sungai Aisne, Prancis. Menurut Cart, bagi Jerman, langkah tersebut merupakan “penyesuaian” dan “hanya memindahkan sumber daya yang diperlukan ke lokasi terbaik,” sementara Sekutu menyebut tindakan Jerman itu sebagai “mundur” atau “penarikan,”.