Apa Saja Dampak Pornografi pada Otak dan Kejiwaan Seseorang?

dampak pornografi

Menurut KBBI pornografi adalah penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi; bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi dalam seks.
Menurut American Heritage Dictionary, pornografi adalah gambar, tulisan atau material lain yang memiliki tujuan utama memenuhi hasrat seksual Hal ini didukung dengan pernyataan dari Greek word pornographia bahwa pornografi adalah tulisan atau gambar yang berbau prostitusi (Larson, 2007)

Menurut Family English Dictionary karya Collin, pornografi adalah tulisan-tulisan, gambar atau film yang didesain untuk keperluan kepuasan atau kesenangan seksual. Pendapat ini didukung oleh Risman (2007) yang mendedinisikan pornografi meliputi gambar atau tayangan naked/nudity (ketelanjangan), orang yang berbusana tidak pantas/minim, situasi seksual, kissing, touching antar lawan/sejenis, dan humor porno.

Kemudahan akses internet saat ini ternyata juga menjadi sebuah peluang kemudahan akses pornografi. Apalagi anak yang mengakses internet tanpa pengawasan orang tua sangat berpotensi terpapar konten porno.Ternyata efek pornografi pada seseorang bukanlah hal yang main-main, namun masih banyak yang belum memahami dampaknya. Pornografi menimbulkan kerusakan lebih dari narkoba. Adiksi narkoba dapat merusak tiga bagian otak sementara adiksi pornografi merusak lima bagian otak (bagian lobus Frontal, gyrus Insula, Nucleus Accumbens Putamen, Cingulated dan Cerebellum) yang berperan di dalam kontrol perilaku yang menimbulkan perbuatan berulang – ulang terhadap pemuasan seksual (Dr Donald Hilton Jr, dokter ahli bedah syaraf AS). bukan hanya itu, dampak pornografi juga menimbulkan beberapa bahaya bagi kesehatan tubuh manusia dan juga kejiwaan seseorang.
Berikut beberapa dampak pornografi pada manusia :

Kerusakan Otak
Ahli Bedah Otak dari AS, Dr. Donald Hilton Jr, mengatakan bahwa pornografi sesungguhnya merupakan penyakit, karena mengubah struktur dan fungsi otak, atau dengan kata lain merusak otak. Terjadi perubahan fisiologis ketika seseorang memasukkan gambar-gambar pornografi lewat mata ke otaknya. Kerusakan yang dihasilkan sangat dahsyat. Bila kecanduan narkoba mampu merusak tiga bagian otak, maka penggunaan materi pornografi yang berkelanjutan mampu merusak lima bagian otak. Dr. Mark Kastelmen penulis buku “The Drugs of The Millenium” memberi nama pornografi sebagai visual crack cocain atau narkoba lewat mata. Bagian otak yang paling dirusak adalah pre frontal cortex (PFC) yang membuat seseorang sulit membuat perencanaan, mengendalikan hawa nafsu dan emosi, serta mengambil keputusan dan berbagai peran eksekutif otak sebagai pengendali impuls-impuls.

Merusak keseimbangan hormon
Pelaku yang pernah mengakses pornografi dan mengulanginya lagi terancam keseimbangan hormonnya akan terganggu. Karena ada hormon-hormon dalam tubuh yang secara fisiolgis dibuat bekerja terus menerus oleh pronografi. Hormon yang terganggu adalah dopamin, neuropiniphrin, serotonin, oksitosin. Hormon memaksa seseorang untuk mengakses pornografi, meskipun ia mengetahui bahwa perbuatannya itu tidak benar. Ia pun melakukannya pada saat kesendirian karena ia sadar perilaku itu salah. Namun ia tetap melakukannya dan tidak dapat melawannya. Gangguan hormonal ini menyebabkan seseorang tidak dapat berfikir jernih, malas berfikir, dan tidak dapat berfikir kreatif. Para pecandu pornografi jadi seperti terikat lahir batin dengan pornografi. Jika tidak melihat pornografi beberapa hari, ia akan merasa kangen. Hormon di dalam tubuhnya membuat seseorang jadi terikat pada pornografi.

Perpustakaan Porno di otak
Orang yang sering mengakses pornografi akan memiliki perpustakaan pornografi di otaknya. Kemudian ada semacam dorongan untuk terus menambah koleksinya. Di awal seseorang melihat pornografi ia akan puas dengan gambar yang ringan saja. Lama kelamaan ia akan terdorong untuk melihat yang lebih parah. Mencari kepuasan yang lebih besar. Untuk mendapatkan sensasi berikutnya, tak cuma melihat namun juga terdorong untuk melakukannya. Lama kelamaan ia bisa mengalami penyimpangan seksual. Seratus persen orang yang melakukan kekerasan seksual diawali dari mengakses pornografi. Karena teko hanya mengeluarkan apa isi yang didalamnya. Semakin sering ia terpapar pornografi maka semakin sulit ia melepaskan pikiran tersebut. Parahnya bukan hanya ia yang jadi korbannya tapi orang lain menjadi korban kejahatan seksualnya.

Bahaya bagi yang belum menikah
Bagi orang yang belum menikah ketika terpapar pornografi ia akan tergoda melakukan aktifitas seksual yang mereka lihat. Hal tersebut dapat dilakukan kepada orang dekatnya, menjajal dunia prostitusi atau bahkan melakukan kekerasan seksual kepada orang di sekitarnya yang lebih lemah. Ia merusak dirinya dan merusak orang lain.

Bagi yang sudah menikah, berpotensi merusak hubungan dengan pasangan
Semakin sering seseorang melihat pornografi, semakin rendah kepuasan yang mereka dapatkan terhadap tindakan seksual yang ringan. Apalagi jika tindakan ini berat sebelah, hanya dilakukan oleh salah satu pasangan saja. Tentunya terjadi ketimpangan ketika melakukan hubungan seksual karena perbedaan ‘ilmu’. Bisa jadi salah satunya akan merasa tidak puas dan terdorong untuk melakukan dengan bukan pasangannya untuk mencari kepuasan yang lebih besar. Pada akhirnya dapat memicu perselingkuhan dan perceraian di dalam rumah tangga.

Dampak terhadap keturunan, vibrasi pornografi
Jika orang tua melakukan akses pornografi untuk alasan apapun itu dan mengulanginya lagi, lagi dan lagi, akan terjadi dampak pada anak. Apa yang dirasa, dipikir oleh orang tua dapat dirasakan vibrasinya oleh anak. Semacam ada efek resonansi. Misalnya orang tua yang sedang memiliki emosi negatif berlebihan, vibrasinya bisa berdampak pada anak jatuh sakit. Konten pornografi yang menjalar pikiran dan perasaan orang tua akan tertangkap vibrasinya oleh anak. Secara psikologis vibrasi negatif ini akan mempengaruhi tumbuh kembang anak. Ketika anak tak sengaja terpapar pornografi efek vibrasi ini bekerja. Anak terancam mengalami adiksi pornografi sejak dini. Tanpa sadar hal itu terjadi karena ulah orang tuanya sendiri.

Setelah mengetahui dampak dari pornografi sebaiknya kita hindari sebelum terjerumus. Akan sulit untuk menyembuhkan otak yang rusak bila sudah terkena adiksi dari pornografi. Hanya kemauan dan niat yang kuat dalam diri seseorang yang perlahan mampu menyembuhkan adiksi pornografi. Tentunya dengan usaha yang kuat dan bantuan dari berbagai pihak.

References:
kbbi.web.id
http://www.landasanteori.com/2015/09/pengertian-pornografi-dan-definisi.html
http://www.umdah.co/2015/08/dampak-pornografi-terhadap-otak-dan.html

1 Like

Menurut Cline (1986), menyebutkan bahwa ada tahap-tahap efek pornografi bagi mereka yang mengonsumsi pornografi. Namun, efek pornografi tidak terjadi secara langsung. Efek pornografi dapat dilihat setelah beberapa waktu (jangka panjang).

Tahap-tahap di bawah ini adalah tahap efek pornografi yang dialami oleh konsumen pornografi:

1) Tahap Addiction (kecanduan).

Sekali seseorang menyukai materi cabul, ia akan mengalami ketagihan. Kalau yang bersangkutan tidak mengkonsumsi pornografi, maka ia akan mengalami ‘kegelisahan’. Ini bahkan dapat terjadi pada pria berpendidikan atau pemeluk agama yang taat.

2) Tahap Escalation (eskalasi).

Setelah sekian lama mengkonsumsi media porno, selanjutnya ia akan mengalami efek eskalasi. Akibatnya seseorang akan membutuhkan materi seksual yang lebih eksplisit, lebih sensasional, lebih ‘menyimpang’ dari yang sebelumnya sudah biasa ia konsumsi.

Bila semula, ia sudah merasa puas menyaksikan gambar wanita telanjang, selanjutnya ia ingin melihat film yang memuat adegan seks. Setelah sekian waktu, ia merasa jenuh dan ingin melihat adegan yang lebih eksplisit atau lebih liar, misalnya adegan seks berkelompok (sex group).

Perlahan-lahan itupun akan menjadi nampak biasa, dan ia mulai menginginkan yang lebih ‘berani’ dan seterusnya. Efek kecanduan dan eskalasi menyebabkan tumbuhnya peningkatan permintaan terhadap pornografi. Akibatnya kadar ‘kepornoan’ dan ‘keeksplisitan’ produk meningkat. Kedua efek ini berpengaruh terhadap perilaku seks seseorang.

3) Tahap Desensitization (Desensitisasi).

Pada tahap ini, materi yang tabu, imoral, mengejutkan, pelan-pelan akan menjadi sesuatu yang biasa. Pengkonsumsi pornografi bahkan menjadi cenderung tidak sensitif terhadap kekerasan seksual.

Sebuah studi menunjukkan bahwa para pelaku masuk dalam kategori ‘hard core’ menganggap bahwa para pelaku pemerkosaan hanya perlu diberi hukuman ringan.

4) Tahap Act-out.

Pada tahap ini, seorang pecandu pornografi akan meniru atau menerapkan perilaku seks yang selama ini ditontonnya di media. Ini menyebabkan mereka yang kecanduan pornografi akan cenderung sulit menjalin hubungan seks penuh kasih sayang dengan pasangannya. Ini terjadi karena film-film porno biasa menyajikan adegan-adegan seks yang sebenarnya tidak lazim atau sebenarnya dianggap menjijikan atau menyakitkan oleh wanita dalam keadaan normal. Ketika si pria berharap pasangannya melakukan meniru aktivitas semacam itu, keharmonisan hubungan itupun menjadi retak

Menurut Donald (2004), mengonsumsi pornografi dapat memberikan dampak-dampak pada otak dan kejiwaan sebagai berikut:

  • Mendorong seseorang untuk meniru melakukan tindakan seksual, khususnya remaja yang masih mempunyai kemampuan menyaring informasi rendah. Para ahli di bidang kejahatan seksual terhadap remaja juga menyatakan bahwa aktivitas seksual pada remaja yang belum dewasa selalu dipicu oleh 2 (dua) kemungkinan, yaitu:

    • Pengalaman atau melihat pornografi atau aktivitas porno, baik dari internet, HP, VCD, komik atau media lainnya.
    • Mereka akan terdorong untuk meniru melakukan tindakan seksual terhadap anak lain ataupun siapapun obyek yang bisa mereka jangkau.
  • Membentuk sikap, nilai dan perilaku yang negatif. Beragam adegan seksual, dapat terganggu proses pendidikan seksnya. Hal itu dapat diketahui dari cara mereka memandang wanita, kejahatan seksual, hubungan seksual, dan seks pada umumnya. Remaja tersebut akan berkembang menjadi pribadi yang merendahkan wanita secara seksual, memandang seks bebas sebagai perilaku normal dan alami, permisif terhadap perkosaan, bahkan cenderung mengidap berbagai penyimpangan seksual.

  • Menyebabkan sulit konsentrasi belajar hingga terganggu jati dirinya. Pornografi juga bisa mengakibatkan kesulitan membangkitkan konsentrasi untuk belajar dan beraktivitas, hari-harinya didominasi oleh kegelisahan dan sedikit sekali produktivitasnya.

  • Tertutup, minder dan tidak percaya diri. Remaja pecandu pornografi yang mendapat dukungan teman-temannya sesama penggemar pornografi, akan terdorong menjadi pribadi yang permisif (memandang maklum) terhadap seks bebas dan mereka melakukan praktik seks bebas di luar pantauan orang tua. Sedangkan remaja pecandu pornografi yang dikelilingi oleh teman-teman yang terbimbing dan bebas dari pornografi, akan cenderung merasa minder dan tidak percaya diri.