© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa saja dampak pencemaran air bagi kesehatan?

Dampak pencemaran air bagi kesehatan tidak dapat dianggap remeh. Mulai dari beragam penyakit, hingga rusaknya ekosistem dapat terjadi sebagai dampak pencemaran air. Apa dampak pencemaran air bagi kesehatan?

1. Kolera

Penyakit ini timbul akibat infeksi bakteri Vibrio cholera. Bakteri ini akan menyebabkan infeksi pada usus. Diare dengan tinja cair yang berjumlah banyak dan muntah merupakan ciri utama kolera.

Bakteri penyebabnya dapat masuk ke tubuh saat seseorang mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi oleh feses dari pengidap kolera.

Di samping menggunakan air yang terkontaminasi untuk minum, memasak, dan mencuci makanan, mengonsumsi makanan laut mentah atau setengah matang yang ditangkap di perairan yang terkontaminasi pun bisa menularkan kolera.

2. Disentri

Infeksi yang terjadi pada usus ini dapat menyebabkan kram perut, mual, hingga diare yang disertai darah dan lendir. Pada beberapa kasus, penderita juga mungkin mengalami demam tinggi dan dehidrasi berat.

Disentri digolongkan menjadi 2 jenis berdasarkan penyebabnya, yakni disentri basiler yang disebabkan oleh bakteri Shigella dan disentri amoeba yang disebabkan oleh parasit Entamoeba histolytica.

Penularan penyakit ini terjadi saat bakteri atau parasit tertelan melalui makanan atau penggunaan air yang tercemar.

3. Keracunan Timbal

Paparan timbal dapat menyebabkan beragam gangguan kesehatan, khususnya pada anak-anak. Timbal yang mencemari air merupakan penyebab paling umum paparan terhadap logam berat ini, terutama akibat penggunaan pipa berbahan timbal pada konstruksi gedung, permukiman, dan saluran air.

Hingga saat ini, belum diketahui manfaat timbal bagi kesehatan manusia. Namun zat ini memiliki beragam pengaruh buruk pada tubuh, terutama pada sistem saraf, reproduksi, serta ginjal.

Logam berat ini juga meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami tekanan darah tinggi dan anemia. Efek buruk timbal terutama adalah gangguan perkembangan otak pada janin dan anak-anak, juga berbahaya bagi wanita hamil.

Pada kadar yang sangat tinggi, logam ini dapat menyebabkan kejang, penurunan kesadaran, hingga kematian.

4. Hepatitis A

Penyakit pada hati ini disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A. Gejalanya bisa berupa kelelahan berlebih, hilangnya nafsu makan, nyeri otot, mual, muntah, serta demam.

Virus hepatitis A umumnya ditularkan ketika seseorang mengonsumsi makanan atau air yang sudah tercemar dengan feses dari pengidap hepatitis A lainnya.

Penampungan air yang tercemar, makanan yang terkontaminasi, sanitasi yang buruk, hingga kontak langsung pada penderita dapat menjadi salah satu sarana penularan virus ini.

5. Keracunan Merkuri

Air raksa, atau yang juga dikenal sebagai merkuri, termasuk dalam jajaran atas zat yang banyak mencemari air maupun tanah. Bila mengonsumsi ikan atau minum air yang telah tercemar itu, kita berisiko mengalami keracunan merkuri.

Gejala dari keracunan ini dapat meliputi gangguan suasana hati, seperti kecemasan dan depresi, gangguan ingatan, tremor, rasa kebas, kesulitan mendengar dan bicara, lemah otot, masalah pada penglihatan, hingga sulit berjalan.

Logam berat ini dapat menghambat proses tumbuh kembang bayi dan anak-anak, seperti munculnya gangguan kemampuan bicara, bergerak, maupun kognitif yang lamban.

Setelah mengetahui dampak dari pencemaran air bagi kesehatan di atas, saatnya untuk memerhatikan kebersihan air yang kita gunakan. Pastikan air berasal dari sumber yang higienis dan terjamin.

Menjaga kebersihan diri sendiri juga tidak kalah penting, seperti mencuci tangan sebelum mengolah atau mengonsumsi makanan.

Tidak hanya itu, mencegah terjadinya pencemaran pun termasuk krusial. Cara yang paling mudah adalah dengan membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya, dan bukan di saluran air, serta sedapat mungkin menghindari paparan limbah tersebut dalam hidup kita sehari-hari.

Sumber

Pencemaran air yang berat biasanya mengandung bahan atau logam yang berbahaya seperti arsenat, uradium, krom, timah, air raksa, benzon, tetraklorida, karbon dan lain-lain yang dapat merusak organ tubuh manusia atau dapat menyebabkan kanker. Sejumlah besar limbah dari sungai akan masuk ke laut.

Polutan ini dapat merusak kehidupan air sekitar muara sungai dan sebagian kecil laut muara. Bahan-bahan yang berbahaya masuk ke laut atau samudera mempunyai akibat jangka panjang yang belum diketahui. Banyak jenis kerang-kerangan yang mungkin mengandung zat- zat yang berbahaya untuk dimakan.

Laut dapat pula tercemar oleh yang asalnya mungkin dari pemukiman, pabrik, melalui sungai, atau dari kapal tanker yang rusak. Sebagai contoh efek keracunan dapat dilihat di Jepang. Merkuri yang dibuang oleh sebuah industri ke teluk minamata terakumulasi di jaringan tubuh ikan dan masyarakat yang mengkonsumsinya menderita cacat dan meninggal.

Peran air sebagai pembawah penyakit menular bermacam-macam antara lain air sebagai media untuk hidup mikroba pathogen, sebagai sarang insekta penyebar penyakit, sebagai media untuk vektor penyakit. Ada beberapa penyakit yang masuk dalam kategori water borne diseases atau penyakit-penyakit yang di bawah oleh air antara lain gatroenteristis , disentry, cholera, hepatitis A, polio melitis, typhus abdominalis, aschariasis, taeniasis, schistosomiasis, penyakit kulit.

Mengingat air dapat berfungsi sebagai media penularan penyakit, maka untuk mengurangi timbulnya penyakit atau menurunkan angka kematian salah satu usahanya meningkatkan penggunaan air yang memenuhi persyaratan kualitas maupun kuantitas. Kegunaan air bagi tubuh manusia antara lain untuk proses pencernaan, metabolesme mengangkut zat-zat makanan dalam tubuh, mengatur keseimbangan suhu tubuh, jangan sampai tubuh kekurangan cairan yang mengakibatkan kematian contoh penderita gastroenteristis dan kolera. (Totok, 2004).

Banyak penyakit ditularkan kepada manusia melalui air yang terkontaminasi, tetapi dengan adanya peningkatan dan pengembangan atas air limbah, perlindungan dan penyehatan air, keberadaan penyakit-penyakit infeksi bersumber dari air telah berkurang di Negara-Negara maju.

Achmadi (2011), mengklasifikasikan penyakit-penyakit bersumber dari air atas dasar pertimbangan epidemik yang ditimbulkan, yaitu :

  1. Waterborne disease : bibit penyakit masuk ke dalam tubuh manusia melalui air minum yang terkontaminasi seperti kolera, tipus dan lain-lain

  2. Water-Washed disease : penularan bibit penyakit erat hubungannya dengan sanitasi buruk dan kebiasaan-kebiasaan kotor dan tidak cukupnya air untuk kebersihan dan untuk mandi. Timbul penyakit pada mata dan jaringan kulit seperti trachoma, dermatitis, infeksi konjuctivitas, scabies dan penyakit-penyakit disendtri (diarrchea)

  3. Water-Based diseases : kuman pathogen berada dalam air atau tergantung pada orgaisme aquatic untuk kelangsungan hidupnya. Contoh, schistosomiasis, ditularkan melalui kontak dengan air tercemar schistosomiasis.

  4. Water-Vectored : penyakit-penyakit demam kuning, dengue, filariasis, malaria dan penyakit tidur ditularkan oleh serangga yang bertelur dalam air seperti nyamuk atau serangga yang menggigit dekat seperti cacing filariasis, lalat dan sebagainya

Penduduk yang baru memasuki lingkungannya akan beradaptasi sehingga menjadi biasa terhadap lingkungannya. Rangsangan-rangsangan berlangsung secara konstan sehingga reaksi terhadap rangsangan akan semakin kecil, lama kedalaman akan menjadi terbiasa terhadap lingkungannya