Apa Saja Ciri-Ciri dari Keluarga yang Tidak Harmonis?

keluarga yang tidak harmonis

keluargayang harmonis adalah keluarga yang mencapai keserasian, kebahagiaan dan kepuasan terhadap seluruh keadaan, mampu mengatasi permasalahan dengan bijaksana sehingga dapat memberikan rasa aman disertai dengan berkurangnya kegoncangan, adanya waktu luang untuk keluarga, adanya komunikasi antara orang tua dan anak, dapat menerima kelebihan dan kekurangan pasangan diringi dengan sikap saling menghargai dan melakukan penyesuaian dengan baik.

Lalu apa saja ciri-ciri keluarga yang tidak harmonis ?

1 Like

menurut Rutter (dalam Safaria, 1980:51) keluarga yang tidak harmonis dicirikan sebagai :

  1. Kematian salah satu orang tua juga bisa menjadi penghambat pembentukan Kepribadian anak. Terutama jika orang tua tunggal tidak mampu membimbing anak secara optimal. Bagaimanapun anak membutuhkan figur ayah dan ibu. Namun tidak berarti bahwa kematian salah satu orang tua menyebabkan terjadinya krisis. Hal ini tergantung dari upaya dan kemampuan orang tua tunggal dalam menyelesaikan persoalan dan perannya. Tergantung juga pada ketersediaan waktu orang tua tunggal untuk memeperhatikan anak-anaknya. Kadang-kadang kematian pasangannya, orang tua tunggal harus bekerja ekstra untuk mencari tambahan penghasilan, sehingga kehabisan waktu untuk memeperhatikan anak-anaknya.

  2. Kedua orang tua bercerai. Perceraian bagi anak biasanya menjadi peristiwa yang menyedihkan sekaligus menyakitkannya. Anak pada dasarnya menginginkan kedua orang tuanya tidak berpisah dan bisa hidup bersama secara harmonis. Sebab seringkali anak menjadi korban dari perceraian orang tuanya. Apalagi jika perceraian tersebut tidak bisa terselesaikan secar konstruktif. Anak mengalami masa-masa sulit dimana ia banyak melihat percekcokan dan pertengkaran dirumahnya. Hal ini akan membuat trauma dalam jiwa anak. Banyak anak-anak yang orang tuanya bercerai, akhirnya, mengalami krisis yang berat. Mereka kehilangan kepercayaan diri, merasa hidupnya hampa, dan tak berdaya. Sekaligus merasa bersalah atas perceraian kedua orang tuanya.

  3. Hubungan kedua orang tua tidak harmonis (penuh konflik). Anak akan menghadapi masa yang sulit dan traumatis ketika menyaksikan kedua orang tuanya bertengkar. Anak menjadi tidak betah dirumah. Ia merasa kehilangan kasih sayang dan kebutuhannya terabaikan.

  4. Suasana rumah tangga yang penuh ketegangan, distress, dan konflik. Jika suasana keluarga penuh dengan konflik dan ketegangan, maka jiwa anak akan tersiksa. Bagaimanapun untuk mengembangkan kebermaknaan spiritual anak dibutuhkan iklim dan suasana keluarga yang penuh kedamaian dan kasih sayang. Suasana penuh kedamaian dan kasih sayang dalam keluraga ini akan menjadi wadah yang positif bagi anak dalam mngembangkan kepribadiannya. Sebab hanya dalam suasana keluarga yang damai akan menentramkan jiwa anak. Sehingga bibit-bibit pribadi yang baik dapat tumbuh dengan optimal.

  5. Orang tua sibuk dan jarang dirumah juga menjadi salah satu faktor yang menghambat terbentuknya kebermaknaan spiritual anak. Jika orang tua jarang berada dirumah dan tidak punya waktu untuk proses pembimbingan anak maka pembentukan kebermaknaan spiritual pada anak akan terhambat. Karena anak menjadi tidak optimal mendapat bimbingan dan didikan kedua orang tuanya. Apalagi jika kedua orang tua sama-sama sibuk, maka akan bertambah beratlah hambatan yang dialami anak dalam mengembangkan kebermaknaan spiritualnya.

Adapun ciri-ciri rumah tangga tidak bahagia atau tidak harmonis antara lain yaitu:

1. Sering terjadi perdebatan

Di awal kehidupan berumah tangga perdebatan yang dilakukan oleh sepasang suami-istri bisa dikatakan wajar karena satu sama lain masih berusaha memahami karakter masing-masing. Namun, bila setelah sekian lama hidup bersama tetapi masih belum bisa menemukan titik temu, bagaimana mengatasi percekcokan yang sering terjadi, maka perlu diwaspadai dan berhati-hati, bisa jadi selama ini hubungan dengan anggota keluarga memang tidak harmonis serta bahagia.

2. Komunikasi berkurang

Komunikasi yang baik bertujuan untuk menyamakan persepsi serta cara paling ampuh untuk menghindari kesalahpahaman. Oleh karena itu, sesama anggota keluarga perlu mengevaluasi kembali bagaimana komunikasi selama ini berlangsung. Jika komunikasi tiba-tiba berkurang, maka jangan dibiarkan berlarut-larut, sehingga membahayakan keutuhan dan keharmonisan keluarga.

3. Saling berbohong

Kejujuran adalah hal terpenting dalam kehidupan berumah tangga, namun apabila masing-masing pasangan sudah tidak lagi bisa saling memercayai dan cenderung lebih suka berbohong, maka sesama anggota keluarga harus segera mengatasinya jika masih ingin mempertahankan keharmonisan dan kebahagiaan keluarganya.

4. Tidak memiliki waktu baik untuk keluarga maupun pasangan

Anggota keluarga sudah tidak lagi merasa nyaman berada di rumah, sehingga lebih suka menghabiskan waktu di tempat kerja atau keluar bersama teman-teman atau di lingkungan luar. Akibatnya, sering tidak memiliki waktu, baik untuk anak-anak maupun untuk pasangannya.

5. Hilangnya keakraban

Di dalam keluarga tidak hanya terdiri dari suami dan istri, tetapi juga melibatkan anak-anak, orang tua dan sanak saudara yang lain. Ketika tidak ada lagi keakraban di antara anggota keluarga, maka hal ini bisa menjadi indikasi bahwa rumah tangga tersebut sedang bermasalah dan tidak harmonis.

6. Mengonsumsi zat-zat berbahaya

Rumah tangga tidak bahagia penuh dengan tekanan. Tidak jarang mereka yang terlibat di dalamnya berusaha melarikan diri dari permasalah yang sedang dihadapi dengan cara mengonsumsi zat-zat berbahaya, seperti alkohol atau narkoba, agar dapat melupakan sejenak permasalahan hidup yang sedang dihadapi.