Apa saja bentuk-bentuk dalam puisi Jawa tradisional ?

sastra_jawa

( Aurora Ridha Zetana) #1

sastra jawa

Sastra Jawa secara umum dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu yang ditulis dalam bentuk prosa atau puisi. Dalam bentuk prosa biasanya disebut gancaran dan dalam bentuk puisi biasa disebut dengan istilah tembang. Sebagian besar karya sastra Jawa ditulis dalam bentuk tembang mulai dari awal bahkan sampai saat ini.

Apa saja bentuk-bentuk dalam puisi Jawa tradisional ?


(Bima Satria) #2

Dalam sastra Jawa, terutama dalam puisi Jawa tradisional, sering terdapat bentuk- bentuk tertentu yang disertakan sebagai unsur-unsur yang ikut menentukan maknanya. Unsur-unsur yang dimaksud antara lain paribasan, bebasan, saloka, pepindhan, candra, wangsalan, sandi-asma, dan sengkalan (Padmosoekatjo, tt).

  • Paribasan, bebasan, dan saloka adalah bahasa kiasan dalam bahasa Jawa yang wujud kata-katanya tetap, tidak boleh diganti dengan kata-kata yang lain. Paribasan yaitu bahasa kiasan yang tidak menggunakan perbandingan (pepindhan). Bebasan yaitu bahasa kiasan yang menggunakan perbandingan (pepindhan), yang diperbandingkan adalah orang, yang ditekankan adalah sifat atau watak orang tersebut. Adapun saloka adalah bahasa kiasan yang menggunakan perbandingan, yang diperbandingkan adalah orang, yang ditekankan adalah orangnya.

    • Contoh paribasan: adigang-adigung-adiguna yakni orang yang menyombongkan diri. Ana catur mungkur yakni orang yang tidak suka kasak-kusuk membicarakan buruknya orang lain. Welas temahan lalis yakni cara berbelas-kasihan yang salah yang menyebabkan orang yang dikasihani menjadi celaka. Dsb.

    • Contoh bebasan: kebak luber kocak-kacik yakni orang yang sakit ingatan karena ilmu tertentu. Sawat abalang wohe yakni orang yang mencintai dengan meminta pertolongan saudara orang yang dicintai. Lahang karoban manis yakni tampan atau cantik dan berbudi baik. Dsb.

    • Contoh saloka: asu belang kalung wang yakni orang yang tidak baik tapi kaya harta. Gajah ngidak rapah yakni orang yang melanggar apa yang dijanjikan sendiri. Ketepang ngrangsang gunung yakni orang yang lemah menginginkan sesuatu yang sulit dijangkaunya.

  • Pepindhan merupakan kata atau kelompok kata yang yang bermakna seperti atau bagaikan atau bak. Dalam hal ini yang ditekankan adalah pembentukan katanya. Adapun candra yakni jenis pepindhan yang menekankan penggambaran sesuatu. Bebasan, saloka, dan candra termasuk dalam pepindhan.

    • Contoh pepindhan : netrane abang angatirah, artinya matanya merah seperti daun Katirah, maknanya marah sekali.

    • Contoh candra: netra lir baskara kembar artinya matanya seperti matahari kembar.

  • Wangsalan merupakan semacam teka-teki (Jawa: cangkriman) yang bertujuan mengarahkan pembicaraan pada suatu jawaban yang dari segi bentuknya mirip dengan jawaban pada teka-tekinya. Jadi cara mengutarakan tidak langsung eksplisit tetapi disandikan.

    • Contoh Wangsalan: njanur gunung. Janur gunung yang dimaksudkan adalah daun pohon Aren. Yang dimaksud dengan njanur gunung adalah kadingaren (tumben). Nguler kambang alon-alonan. Uler kambang yakni ulat yang di air namanya Lintah. Nguler kambang maksudnya satitahe atau ora ngaya, jadi alon-alonan (pelan-pelan dengan sekenanya atau santai)
  • Sandi-asma merupakan pencantuman nama pengarang dalam baris-baris puisi Jawa dengan cara tidak langsung atau disandikan. Misalnya setiap suka kata dari nama pengarangnya ditempatkan sebagai suku kata awal setiap baris puisi Jawa (misalnya: dalam tembang).

    • Contoh_Sandi-asma_ : dari Serat Aji Pamasa karya R. Ng. Ranggawarsita.

      Rasikaning sarkara kaesthi / Denya kedah mardi mardawa / Ngayawara puwarane / Bela-belaning ukara / Inukarta nis karteng gati / Rongas rehing ukara / Gagaranirantuk / Warta wasitaning kuna / Sinung tengran Janma Trus Kaswareng Bumi (sengkalan tahun 1791) / Talitining carita

Sumber : Afendy Widayat, Teori Sastra Jawa, Universitas Negeri Yogyakarta