Apa perbedaan antara Computational Thinking dengan berpikir secara biasa pada kebanyakan orang umumnya ?

Computational Thinking (CT)

Computational Thinking (CT) adalah sebuah pendekatan dalam proses pembelajaran. CT memang memiliki peran penting dalam pengembangan aplikasi komputer, namun CT juga dapat digunakan untuk mendukung pemecahan masalah disemua disiplin ilmu, termasuk humaniora, matematika dan ilmu pengetahuan.

Apa perbedaan antara Computational Thinking dengan berpikir secara biasa pada kebanyakan orang umumnya ?

Perbedaan Computational Thinking dengan berpikir secara kebanyakan orang pada umumnya?
Sebelum memasuki pembahasan tentang perbedaan diatas, perlu di identifikasi terlebih dahulu satu persatu apa itu computational thinking dan berpikir secara biasa(kebanyakan orang pada umumnya).

Computational thinking adalah membuat keputusan sebuah masalah dengan berpikir secara pemikiran yang dilakukan komputer dalam menyelesaikan sebuah masalah. Dengan decomposition, pattern recognition, abstraction, algorithm. Perlu diperjelas lagi bahwa computational thinking bukanlah learning about programming. Computational thinking merupakan berpikir secara analytical, dan juga menyangkupkan berpikir secara matematika untuk memecah belah maslaah dan membuat solusi dalam sebuah masalah. Computational thinking juga bisa berpikir sebagai pemikiran orang Teknik pada umumnya dengan mengambil inti dari engineering thinking yaitu dimana kita bisa merancang dan mengevaluasi sebuah sistem besar dan kompleks yang beroperasi dalam batasan-batasan. Atau (CT) juga bisa dikaitkan dengan pemikiran secara ilmiah dengan cara umum dimana mengambil pendekatan mengenai pemahaman komputabilitas, kecerdasan dan pikiran.

Sedangkan berpikir secara kebanyakan orang umumnya yaitu berpikir secara biasa atau bisa dikatakan berpikir secara aman (still in the box) dan takut mengambil resiko dalam kebanyakan. Dan juga penyelesaian masalah dalam berpikir secara biasa yaitu tanpa mengambil dan memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi karena berpikir secara biasa tidak mengandalkan analytical thinking sehingga keputusan yang dicapai dalam berpikir secara biasa kurang bisa maksimal, karena terus menerus berpikir secara umum tanpa membedakan permasalahan yang mana umum dan yang mana harus dikhususkan untuk penyelesaian yang tepat.

Perbedaan yang mendasar tentang kedua cara berfikir diatas yang pertama yaitu tentang perbandingan populasi di jaman sekarang yang sudah berpikir secara computational thinking dan juga berpikir secara biasa, bisa dikatakan berpikir secara biasa masih mendominasi untuk saat ini karena computational thinking pada orang yang sudah berumur sulit untuk dipelajari dan sebenarnya computational thinking merupakan skill dan bukanlah sebuah pengetahuan, untuk itu seseorang harus bisa mengasah dan membiasakan untuk berpikir secara computational thinking sehingga terbiasa memecahkan sebuah masalah-masalah yang ada. Jika computational thinking merupakan pengetahuan maka siapapun dapat cepat menguasainya dengan belajar secara terus menerus tetapi computational thinking bukanlah hal yang mudah untuk dikuasai diperlukan pemikiran secara bertahap. Perbedaan yang paling penting pada saat memecahkan sebuah masalah, computational thinking akan berpikir sampai ke akar permaslahan sedangkan berpikir secara biasa hanya memikirkan secara universal bagaimana mengatasinya. Contoh paling sederhana yaitu dikatakan sebuah permasalahan tentang rusaknya modem wifi, disitu orang yang berkomputational thinking berfikir hingga mengidentifikasi setiap permasalahan dan membagi baginya seperti halnya mengecek router, kabel lan, apakah ada yang salah dengan server ISPnya, apakah ada gangguan dari pihak pusat, semuanya dilakukan pengecekan satu persatu sehingga nantinya menemukan pokok permasalahan. Beda halnya dengan berpikir secara biasa dia hanya berpikir kenapa itu bisa rusak dan hanya menebak suatu permasalahan yang biasanya umum terjadi. Disitulah kita bisa menangkap banyak perbedaan antara computational thinking dengan berfikir secara biasa. Tetapi berfikir secara biasa sebenarnya dapat diubah ke computational thinking dengan terus-terusan berlatih dan membiasakan dalam menghadapi permasalahan.

Referensi :


https://www.quora.com/Whats-the-difference-between-computational-thinking-in-humans-and-algorithmic-thinking
https://www.quora.com/Why-should-I-learn-computational-thinking

Perbedaan Computational Thinking dengan berpikir secara kebanyakan orang pada umumnya?
Sebelum memasuki pembahasan dari pertanyaan diatas, perlu diketahui terlebih dahulu satu persatu apa itu computational thinking dan berpikir secara biasa(kebanyakan orang pada umumnya).

Berpikir komputasi (Computational Thinking) adalah cara berpikir untuk pemecahan masalah dengan mengaplikasikan/melibatkan teknik yang digunakan oleh software engineer dalam menulis program. Berpikir komputasi tidak berarti berpikir seperti komputer, melainkan berpikir tentang komputasi di mana sesorang dituntut untuk (1) memformulasikan masalah dalam bentuk masalah komputasi dan (2) menyusun solusi komputasi yang baik (dalam bentuk algoritma). Bisa disimpulkan bahwa berikir komputasi itu berpikir secara sistematis dan terarah yang dalam prosesnya sendiri terdapat 4 proses yaitu decomposition, pattern recognition, abstraction, algorithm.

Sedangkan kebanyakan orang cara berpikir untuk menyelesaikan masalahhnya adalah dengan lansung mencari solusi atau jalan keluar dari masalah yang dihadapi tanpa membagi masalah ke dalam ruang lingkup yang lebih kecil. Sehingga tidak dicapai alternatif yang maksimal untuk penyelesaian maslah tersebut. Dan juga biasanya urutan cara berpikir orang umumnya yaitu dari masalah lansung ke solusi tanpa melakuan pengenalan pola dan abstraksi.

Jadi dapat disimpulkan bahwa perbedaan dari keduanya yaitu dari proses mencari solusinya. Bila CT harus membagi masalahnya menjadi ruangg lingkup yang lebih kecil maka cara berpikir biasa tidak perlu membaginya. Serta dalam CT terdapat proses pattern recognition, abstraction yang dapat membantu mengarahkan untuk pencarian solusinya yang tepat.

Computational thingking bermanfaat bagi karir di hampir semua sektor, termasuk produk konsumen, bisnis dan pasar keuangan, energi, perjalanan dan pariwisata, atau layanan publik seperti perawatan kesehatan, pendidikan dan hukum dan ketertiban. Tempat kerja membutuhkan karyawan untuk berperan aktif dalam memikirkan masalah melalui dan menciptakan solusi. Sehingga dengan computational kita dilatih keluar dari zona nyaman kita.

http://www.bcs.org/content/ConWebDoc/55416

Computational Thinking merupakan cara berpikir yang memungkinkan untuk menguraikan suatu masalah menjadi beberapa bagian yang lebih kecil dan sederhana, menemukan pola dalam dan masalah tersebut, serta menyusun langkah-langkah solusi mengatasi masalah. Jadi Computational Thinking berbeda dengan cara berpikir biasa. Dalam berpikir, diperlukan konsep atau metode agar pemecahan sebuah masalah menjadi lebih mudah.

Dan dalam Computational Thinking ada beberapa kunci diantaranya:

  • Decomposition : memecah masalah yang lebih besar/kompleks menjadi bagian-bagian yang lebih kecil/sederhana.
  • Pattern recognition: mencari/menemukan pola/kesamaan antar masalah maupun dalam masalah tersebut.
  • Abstraction: fokus pada informasi penting saja, dan mengabaikan detail yang kurang relevan.
  • Algorithms : membangun langkah-langkah solusi terhadap masalah.

Sedangkan berpikir secara biasa tentu tidak memiliki konsep-konsep atau metode dalam pemikirannya, sehingga akan lebih tidak efektif dalam pemecahan masalahnya. Dan berpikir biasa cenderung masih dalam zona aman dan in the box, berbeda dengan berpikir secara Computational Thinking yang memiliki tahapan dan proses juga cenderung out of the box.

Lalu, apasih thinking out of the box itu?

Berpikir out of the box, seperti yang sudah kita tahu adalah bagaimana kita bisa berpikir di luar kebiasaan. Berpikir out of the box adalah bagaimana kita berpikir dan kemudian menciptakan gagasan di luar kebiasaan-kebiasaan yang ada, untuk menjawab suatu tantangan. Gambaran yang paling mudah misalnya adalah saat Wright Bersaudara berpikir bagaimana manusia ‘bisa terbang’. Saat itu dalam pikiran mereka tercipta gagasan untuk membuat suatu pesawat dengan meniru anatomi burung. Orang-orang umumnya pada waktu itu berpendapat bahwa kedua orang ini gila karena bagaimana mungkin manusia yang berat ini bisa terbang di udara? Memangnya kapas? Tetapi justru dari berpikir di luar kebiasaan itulah akhirnya ditemukan pesawat terbang.

Ini berbeda dengan mereka yang berpikir di dalam kotak atau In of the Box. Mereka yang berpikir seperti ini lebih suka menjadi pengikut, tidak suka yang aneh-aneh, sesuai standar, dan biasa-biasa saja. Tidak pernah mencoba suatu menghasilkan suatu gagasan yang baru, pokoknya semua sesuai dengan apa yang ada dan disepakati. Orang ini kalau disuruh gambar pasti gambarnya dua gunung, di tengahnya ada jalanan dan disamping-sampingnya ada sawah.

Masih ingat bahwa masalah-masalah baru tidak akan bisa dipecahkan dengan cara-cara yang lama? Itulah tantangan pendidikan di Indonesia. Di tengah pesatnya kemajuan zaman dan teknologi, rata-rata pendidikan di Indonesia (setidaknya hingga saat ini), merupakan pendidikan untuk mempersiapkan menyambut era industri. Ya, kita semua disiapkan untuk menjadi tenaga kerja para pemilik modal, yang kemudian menjadi karyawan/pegawai, pensiun, dan siklus itu terus berulang.

Padahal, sekali lagi kita sudah di abad konsep. Untuk itu, kita harus mulai mengubah pola pikir kita yang masih biasa saja dan mulai berpikir dengan konsep, berpikir secara Computational Thinking. Karena pendidikan saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang siap tempur di era yang semakin modern ini, tentu diperlukan pemikiran dengan Computational Thinking.