Apa perbedaan antara anorexia nervosa dan bulimia nervosa?

Diet

Agak sulit untuk mengingat perbedaannya, karena seringkali kedua sindroma perilaku ini terjadi pada saat yang sama pada seseorang. Jadi, apa yang membedakan keduanya? Apa saja faktor yang menyebabkan keduanya dan bagaimana cara penyembuhannya?

Wajar saja bila keduanya sering sulit dibedakan, karena keduanya memang sama-sama gangguan makan, dan benar, seringkali seseorang bisa memiliki keduanya secara bersamaan. Pada dasarnya, gangguan makan dapat disebabkan oleh beberapa sebab, yaitu:

  • Kepribadian
    Memiliki perasaan rendah diri, kurang kendali atas kehidupannya, takut merasa gemuk, depresi, cemas, marah, kesepian, patuh, suka memendam perasaan dan prefeksionis seringkali menjadi ciri orang dengan gangguan makan.
    Singkatnya, bila orang tersebut terlalu sering mengkritisi diri sendiri hingga depresi dan cemas serta tidak percaya diri dengan penampilannya, ia cenderung rentan terkena gangguan makan.

  • Genetic
    Terlihat pada beberapa anak kembar, bila seorang terkena gangguan makan, kembarannya juga dapat memiliki gangguan makan pula.
    Namun faktor genetic ini tidak begitu kuat bila dibandingkan dengan faktor lingkungan.

  • Lingkungan
    Gangguan Makan bisa disebabkan oleh hubungan keluarga yang tidak baik dan ketidakmampuan seseorang dalam menyampaikan emosi dan perasaannya.
    Tekanan budaya dimana seseorang hanya dapat dikatakan menarik bila memiliki berat badan yang ideal dan masyarakat yang kebanyakan hanya menghargai seseorang yang berpenampilan menarik saja dapat menimbulkan turunnya kepercayaan diri seseorang sehingga mudah mendapat Gangguan Makan. Terutama bila ada riwayat sering diejek orang tentang berat badannya.
    Pada sekitar 60-75% penderita Gangguan Makan juga ditemukan trauma seksual, fisik, atau mental.

  • Neurotransmitter
    Pada orang dengan Gangguan Makan, ditemukan ketidakseimbangan sistem neuroendokrin, terutama Serotonin dan Norepinephrine yang jumlahnya berkurang secara akut (maka dari itu sering dikaitkan dengan depresi), sehingga kontrol terhadap lapar, selera makan, pencernaan, fungsi seksual, tidur, fungsi jantung dan ginjal, daya ingat, emosi dan berpikirnya terganggu. Selain kedua neurotransmitter tersebut, Kortisol juga naik.

Anorexia Nervosa dan Bulimia Nervosa sama-sama sering muncul pada wanita di usia remaja hingga 20-an tengah.

Pada Anorexia Nervosa, penderitanya mengurangi berat badan dengan sengaja melalui bebrapa cara yang ekstrim seperti dimuntahkan, penggunaan obat pencahar, olahraga berlebihan ataupaun mengguanakan penekan napsu makan. Berat badannya hanya dipertahankan bila mencapai 15% dari berat badan yang sehat, karena penderita Anorexia Nervosa memiliki distorsi body image.

Sedangkan pada Bulimia Nervosa, orang tersebut memiliki keinginan makan yang terus menetap dan tak bisa dilawan, kemudian setelahnya akan merasa menyesal dan memutuskan untuk menggunakan cara seperti muntah, menggunakan obat pencahar berlebihan, pasa berkala, aau obat-obatan agar makanan yang telah ia konsumsi secara berlebihan dapat keluar dengan cepat.

Penderita BN biasanya pernah mengalami AN.

Untuk pengobatannya, ada sedikit perbedaan pada keduanya.

Pada AN, karena berat badannya sangat kurang, dokter perlu memperbaiki berat badannya, selain mengobati masalah psikologisnya (kurang PD, konflik interpersonal, distorsi body image). Semakin awal ditangani, serta memiliki hubungan keluarga yang baik, prognosisnya akan semakin baik.

Pada BN, tujuan utamanya adalah untuk menghilangkan dorongan makan berlebih dan keinginan muntah. Dibutuhkan dukungan psikologis untuk memperbaiki perilaku egodistonik (perasaan selalu merasa tidak nyaman terus menerus), melakukan pola hidup sehat, dan mengatasi cemas atau depresi, serta konseling gizi dan obat-obatan antidepresan seperti golongan SSRI.

Kedua Gangguan Makan ini dapat kambuh kembali bila orang tersebut belum belajar mengelola emosinya, terlalu sering melihat timbangan, atau menahan keinginan untuk makan terlalu keras.

Sumber:
Kuliah
Kaplan Sadock
Medscape

1 Like

Bulimia berasal dari bahasa Yunani yang artinya “lapar seperti sapi jantan”. Gangguan makan ini mencakup episode mengonsumsi makanan dengan jumlah besar secara cepat kemudian diikuti dengan perilaku kompensatori seperti muntah, puasa atau olahraga secara berlebihan untuk mencegah bertambahnya berat badan. Bulimia Nervosa tidak didiagnosis jika makan berlebihan dan pengurasan hanya terjadi dalam konteks anoreksia nervosa dan penurunan berat badan ekstrem terkait dengannya.

Perbedaan antara bulimia nervosa dan anoreksia nervosa adalah kalau anoreksia nervosa mengalami penurunan berat badan secara drastis, sedangkan pasien yang mengalami bulimia anoreksia tidak demikian.

Pada pasien bulimia, makan berlebihan biasanya dilakukan secara diam- diam, hal tersebut dapat terjadi karena dipicu oleh stres dan berbagai emosi negatif yang ditimbulkannya dan akan terus berlangsung hingga orang yang bersangkutan akan merasa sangat kekenyangan. Berbagai makanan yang dapat dikonsumsi oleh pasien dengan cepat adalah makanan yang manis seperti es krim dan cake. Suatu studi menemukan bahwa para wanita yang mengalami bulimia nervosa lebih mungkin melakukan makan makanan berlebihan ketika mereka sedang sendirian atau pada saat siang hari. Kemudian mereka biasanya akan menghindari makanan favorit mereka pada satu harian.

Setelah selesai makan berlebihan, akan timbul rasa jijik, rasa tidak nyaman, dan takut apabila berat badan akan bertambah sehingga akan memicu tahap kedua bulimia nervosa, pengurasan untuk menghilangkan efek asupan kalori karena makan berlebihan dengan cara memuntahkannya dengan sengaja. Hal yang paling sering mereka lakukan untuk memaksa diri mereka agar muntah yaitu dengan mamasukkan jari-jari mereka ke tenggorkan hingga tersedak, namun apabila mereka sudah sering melakukan hal tersebut mereka akan lebih mudah memuntahkan makanan tersebut tanpa harus membuat diri mereka tersedak terlebih dahulu. Penyalahgunaan obat pencahar serta berpuasa dan olahraga yang berlebihan juga sering mereka lakukan untuk mencegah bertambahnya berat badan.

Pemantauan jangka panjang pada para pasien bulimia nervosa mengungkapkan bahwa 70 persen memperoleh kesembuhan, walaupun sekitar 10 persen tetap sepenuhnya mengalami simtomatik. Para pasien bulimia nervosa yang lebih sering makan berlebihan dan muntah, komorbid dengan penyalahgunaan zat, atau memiliki riwayat depresi memiliki prognosis lebih buruk dibanding paseien tanpa faktor-faktor tersebut.

Dari beberapa gangguan makan diatas tentu terdapat beberapa penanganan yang dapat dilakukan seperti dengan intervensi psikologis dan biologis terhadap para pasien. Penanganan biologis terhadap gangguan bulimia adalah karena bulimia nervosa sering kali komorbid dengan depresi, gangguan ini ditangani dengan berbagai antidepresan. Fluoksetin ternyata lebih memberikan hasil dibanding plasebo untuk mengurangi makan berlebihan dan muntah, juga akan mengurangi depresi dan sikap yang menyimpang terhadap makanan dan makan. Untuk gangguan anoreksia nervosa juga terkadang dilakukan penanganan biologis namun, hal itu jarang mendapatkan hasil yang memuaskan dan tidak terlalu berhasil.