Apa Penyebab Gangguan Kesehatan Mental Masyarakat di Masa Karantina?

drawing
sumber: deccanherald.com

Bagaimana keadaan kesehatan mental masyarakat dunia di masa karantina akibat COVID 19? Saat ini, hampir seluruh masyarakat di dunia sedang menjalankan karantina akibat adanya virus corona. Masyarakat kini harus bekerja dari rumah untuk mengurangi kontak. Dengan begitu, penyebaran virus mematikan ini dapat diminimalisir. Tentunya kebijakan karantina berdampak pada perubahan yang besar di berbagai sektor kehidupan, seperti ekonomi, politik, pendidikan, dan juga sosial di masyarakat. Perubahan secara tiba-tiba tersebut mampu memengaruhi kondisi mental masyarakat. Meskipun ada masyarakat yang merasa senang karena memiliki waktu bersama keluarga yang lebih panjang, kebijakan ini juga memberikan dampak negatif bagi sebagian masyarakat. Samantha Brooks dari King’s College London , menemukan bahwa karantina menghasilkan berbagai dampak buruk pada kesehatan mental, meliputi trauma, kebingungan, dan kemarahan (Brooks, 2020). Selain itu, sebuah studi dilakukan oleh Sprang dan Silman (2013), dalam karya Posttraumatic Stress disorder in Parents and Youth after Health-related Disasters , mengemukakan bahwa stres pascatrauma rata-rata pada anak-anak yang telah dikarantina empat kali lebih tinggi daripada yang tidak dikarantina. Penelitian ini juga melaporkan bahwa 27 dari 98 orang tua yang dikarantina mengalami gejala trauma terkait gangguaan kesehatan mental. Berbeda dengan orang tua yang tidak dikarantina, gejala tersebut hanya dialami oleh 17 dari 299 orang (Brooks, dkk. 2020). Terdapat beberapa hal yang menjadi pemicu timbulnya gangguan kesehatan mental masyarakat di masa karantina, diantaranya meningkatnya pengangguran, menurunnya interaksi sosial, dan peningkatan kekerasan dalam rumah tangga.

Meningkatnya pengangguran mengakibatkan gangguan kesehatan mental pada masyarakat. Adanya kebijakan karantina akibat virus corona menyebabkan banyak pekerja yang harus menjadi pengangguran. Pasalnya beberapa pihak yang memberikan pekerjaan tidak lagi mampu memberi upah kepada pekerja. Beberapa pekerjaan yang tidak bisa beralih menjadi sistem daring pun tidak dapat dijalankan kembali selama masa karantina. Selain itu, di beberapa negara terdapat kebijakan agar beberapa sektor yang tidak diprioritaskan harus diberhentikan. Akibatnya banyak pekerja yang secara terpaksa harus menjadi pengangguran. Hal ini merupakan bencana besar karena dengan hilangnya pekerjaan, masyarakat tidak lagi memiliki sumber pendapatan sehingga kebutuhan untuk keberlangsungan hidup pun tidak dapat dipenuhi. Hilangnya sumber pencaharian ini berakibat fatal pada kondisi kesehatan mental masyarakat. Apalagi banyak masyarakat yang mengandalkan kebutuhan keluarga dari pekerjaan yang harus dicabut paksa tersebut. Tyler Norris dari The Well Being Trust, menunjukkan bahwa setiap kenaikan satu persen pengangguran akan berakibat pada meningkatnya angka kecanduan opioid sebesar 3,5 persen (Brooks, 2020). Maka dapat disimpulkan bahwa karantina dapat berakibat pada kenaikan angka pengangguran dan berakhir dengan meningkatnya masyarakat yang kecanduan obat-obatan dan mengalami masalah kesehatan mental.

Pada masa karantina, terjadi penurunan interaksi sosial antar masyarakat yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan mental. Masyarakat yang sebelumnya hampir setiap hari berinteraksi satu sama lain kini harus menjalani karantina tanpa kontak langsung sama sekali. Dengan adanya perubahan tersebut, sebagian masyarakat harus beradaptasi dengan pola interaksi yang berbeda seperti secara daring. Akan tetapi, tedapat beberapa masyarakat tidak mampu beradaptasi. Akibatnya dapat terjadi penurunan kesehatan mental pada sebagian masyarakat. Karantina juga berakibat pada pola masyarakat yang cenderung menyendiri dan mengonsumsi media sepanjang hari (Brooks, 2020). Pola hidup tersebut berakibat buruk pada kesehatan mental yang berlanjut menimbulkan gejala stres.

Karantina berakibat pada meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dapat berakibat fatal pada gangguan kesehatan mental. Korban kekerasan ini akan mengalami tekanan psikologi yang sangat berat. Hal ini dapat berdampak pada timbulnya Battered Women Syndrome yang sering ditemukan pada wanita dengan siklus KDRT berkepanjangan, yakni berupa perilaku tak berdaya, menyalahkan diri, serta ketakutan akan keselamatan diri. Selain itu KDRT juga menimbulkan gangguan stress pascatrauma yang dapat berupa ketakutan, gelisah, menghindari situasi tertentu, serta mimpi buruk. Korban juga dapat merasa depresi dengan ciri timbulnya perasaan murung, kehilangan semangat hidup, serta pikiran untuk bunuh diri. Selain itu juga dapat timbul gejala panic dan keluhan psikosomatis. Adanya karantina menyebabkan sebagian masyarakat terjebak di rumah dengan pelaku kekerasan. Di Perancis dilaporkan bahwa kasus kekerasan dalam rumah tangga meningkat sekitar sepertiga (Brooks, 2020). Dengan adanya karantina, warga yang mengalami kekerasan juga akan lebih sulit untuk mendapat pertolongan dari orang sekitarnya. Maka dari itu, meningkatnya KDRT berakibat pada memuruknya kondisi kesehatan mental masyarakat.

Kebijakan karantina memberikan dampak negatif pada kesehatan mental sebagian masyarakat di dunia. Hal-hal yang menyebabkan gangguan kesehatan masyarakat akibat karantina adalah meningkatnya pengangguran, keterbatasan interaksi sosial, serta kekerasan dalam rumah tangga yang meningkat. Faktor-faktor tersebut memberikan pengaruh buruk terhadap kesehatan mental, meliputi timbulnya stres, depresi, atau bahkan pikiran untuk bunuh diri. Sebagai manusia sudah selayaknya merasa tertekan apabila mendapat cobaan tersebut. Namun hal tersebut bukan berarti masyarakat bisa menyerah begitu saja. Masyarakat harus berusaha untuk memperbaiki keadaan dengan memotivasi diri sendiri sebagai faktor yang paling kuat dalam mengatasi masalah kesehatan mental. Dalam periode karantina, masyarakat dapat mengatasi masalah dengan menentukan alternatif yang kreatif, Hal tersebut dapat berupa menciptakan sistem pekerjaan yang berbasis online. Selain itu masyarakat dapat menerapkan pola hidup sehat seperti berolahraga dan tidur yang cukup agar pikiran tetap fresh dan terhindar dari stres. Jangan pernah ragu untuk melapor kepada pihak berwajib apabila mendapatk perlakuan kekerasan. Selain itu, perlu diingat quotes dari Albus Dumbledore yang mengungkapkan bahwa:

“Happiness can be found even in the darkest of times, if one only remembers to turn on the light.”

Jadi, perlu diingat bahwa setiap masalah memiliki alternatif solusi untuk menyelesaikannya. Jangan pernah gadaikan kesehatan mentalmu hanya karena adanya karantina dari COVID 19!

Refrensi: