Apa manfaat dan efek samping dari daun katuk?

Daun katuk bisa dikonsumi mentah layaknya salad, ditumis, hingga dijadikan sup. Hal yang mengejutkan, daun ini kaya akan protein hingga mencapai 7,4 g dari setiap 100 g. Kandungan lain dari sayuran ini adalah lemak, serat, karoten, riboflavin, tiamin, potassium, mangan, sodium, seng, tembaga, zat besi, magnesium, kalsium, dan vitamin C.

Beberapa riset memberikan gambaran menarik terkait potensi kegunaan daun katuk ditinjau dari segi medis. Beberapa potensi tersebut antara lain:

Sebagai antidiabetes
Sebuah studi menunjukkan bahwa daun ini mungkin bermanfaat bagi mereka yang menderita diabetes. Pasalnya, daun katuk ternyata berpotensi untuk mengontrol kadar gula dalam darah setelah makan.

Efek ini bisa didapatkan dari indeks glikemik daun katuk yang tergolong rendah. Indeks glikemik adalah angka yang menunjukkan seberapa cepat tubuh akan mengolah makanan menjadi sebuah glukosa di dalam darah.

Menurunkan berat badan
Siapa sangka bahwa manfaat daun katuk baik bagi mereka yang ingin mempertahankan berat badan idealnya. Berdasarkan studi yang dilakukan pada tikus, salah satu senyawa dari daun ini mampu mengurangi asupan makanan hingga 15 persen.

Penelitian tentang hal ini memang baru dilakukan pada tikus, namun bukan tidak mungkin studi lanjutan yang melibatkan manusia juga dapat memberikan hasil yang memuaskan.

Berguna untuk menyembuhkan luka
Ekstrak daun katuk yang diberikan pada tikus menunjukan bahwa bahan ini membuat luka lebih cepat mengecil, merangsang pembentukan kembali jaringan epitel, dan meningkatkan proses penyembuhan.

Dengan kata lain, katuk memiliki potensi yang besar untuk digunakan sebagai obat penyembuh luka, meski untuk digunakan secara luas masih diperlukan penelitian lebih lanjut.

manfaat daun katuk dokterbabe

Daun katuk juga mengandung antimikroba dan antioksidan yang dipercaya bagus untuk kesehatan - dokterbabe
Memiliki sifat antiperadangan
Penelitian juga menunjukkan bahwa ekstrak daun katuk memiliki sifat antiperadangan. Hal ini terutama jika ekstrak etanolik yang dipakai. Bukan tidak mungkin penelitian lebih lanjut akan membuat daun ini menjadi solusi bagi masalah peradangan.

Memiliki sifat antioksidan
Beberapa penelitian juga menemukan bahwa katuk memiliki sifat antioksidan yang kuat. Daun ini ternyata memiliki kandungan polifenol yang tinggi, mampu melawan radikal bebas, juga mengurangi efek ion besi dalam menghambat antioksidan.

Hal yang mengejutkan, dibandingkan dengan tanaman asli Indonesia lainnya, ternyata katuk menempati urutan teratas untuk kandungan flavonoid.

Bersifat antimikroba
Menurut beberapa studi, daun katuk juga memiliki sifat antimikroba baik terhadap bakteri maupun jamur. Adapun bakteri yang efektif dihambat oleh ekstrak daun ini adalah Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, dan Proteus vulgaris.

Sementara itu, golongan jamur yang dihambat ekstrak katuk adalah Aspergillus flavus dan Candida albicans.

Meski aneka studi membuktikan bahwa manfaat daun katuk bukan hanya isapan jempol, namun tetaplah berhati-hati jika ingin mengonsumsinya terutama untuk jangka panjang.

Salah satu akibat negatif yang mungkin muncul adalah bronchiolitis obliterans. Kondisi tersebut adalah terjadinya penyempitan saluran-saluran udara kecil pada paru-paru.
Munculnya akibat negatif tersebut dilaporkan terjadi di negara Asia Timur, seperti Taiwan dan Jepang.

Sebagaimana disinggung sebelumnya, di Taiwan daun ini dipakai untuk membantu mengontrol berat badan. Artinya, konsumsi katuk dilakukan dalam jumlah yang besar dan waktu yang lama. Senyawa papaverin alkaloid yang ada dalam tanaman ini dianggap sebagai pemicu munculnya efek negatif tersebut.

Hal lain yang perlu diwaspadai terkait pemakaian daun katuk untuk menurunkan berat badan terutama bagi mereka yang menderita diabetes. Daun ini dianggap terkait dengan munculnya penyakit hati, gangguan paru, dan ginjal.

Kalaupun ingin mengonsumsi bahan ini untuk tujuan melangsingkan badan atau dikonsumsi dalam jangka panjang, sebaiknya jangan dilakukan sembarangan. Konsultasikan hal ini terlebih dahulu pada dokter.

Pasalnya, meski manfaat daun katuk sudah dikenal sejak lama namun masih dibutuhkan banyak penelitian untuk membuktikannya. Ingat, kondisi setiap orang berbeda sehingga reaksi terhadap suatu bahan mungkin juga akan berbeda.

Sehingga, berhasil pada orang lain belum tentu berhasil untuk kita. Untuk itulah, petunjuk dokter tetap diperlukan ketika hendak mengonsumsi bahan herbal yang penelitiannya masih belum maksimal.