Apa makna yang terkandung di dalam Surat Al Waqi'ah ?

al_quran

(Alexander Supertramp) #1

Surah Al-Waqi’ah (“Hari Kiamat”) adalah surah ke-56 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri atas 96 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah. Surah ini dinamai dengan Al Waaqi’ah (Hari Kiamat), diambil dari perkataan Al Waaqi’ah yang terdapat pada ayat pertama.


Apa manfaat dan keutamaan membaca surat al waqiah ?
(Bhanu Wayan Mehrunisa) #2

Asbabun Nuzul Surat Al-Waqi’ah adalah sebagai berikut. Dari 96 Ayat yang terdapat dalam Surat Al-Waqi‟ah hanya beberapa Ayat saja yang ada Asbabun nuzulnya, di antara Ayat tersebut ialah :

Ayat (11-14), dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika turun, idza waqa’atil waqi’ah (Apabila terjadi hari kiamat), dan di dalamnya diterangkan, Tsullatum minal awwalina wa qalilum minal akhirin (Segolongan besar dari orang-orang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian). Umar berkata “ ya Rasulullah ! Tsullatum minal awwalina wa qalilum minna ? (Segolongan besar dari orang- orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari kita ?).”

Setahun kemudian barulah turun Ayat berikutnya (Al-Waqi’ah : 39-40), yang menegaskan bahwa segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan besar pula dari golongan orang-orang yang hidup kemudian (yang masuk surga). Ketika itu Rasulullah saw memanggil Umar :

”Hai Umar! Mari dengarkan apa yang telah diturunkan Allah, Tsullatum minal awwalina wa qalilum minal akhirin (segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan besar pula dari orang- orang yang kemudian).

Hadits di atas telah diketengahkan pula oleh Imam Ibnu Abu Hatim melalui Urwah Ibnu Rawayyinm secara mursal. Saˈid Ibnu Mansur di dalam kitab sunnahnya telah mengetengahkan sebuah Hadits, demikian Imam Baihaqi di dalam kitab Albaˈis melalui Athaˈ dan Mujahid, kedua-duanya telah menceritakan, ketika penduduk Thaˈif meminta kepada Nabi Saw, akan sebuah lembah yang dipagari buat mereka, di dalam lembah itu terdapat banyak lembah madunya, lalu Nabi Saw mendoakannya buat mereka. Maka jadilah lembah itu sangat menakjubkan sehingga orang banyak mendengar kisahnya, lalu mereka mengatakan, sesungguhnya di dalam syurga terdapat ini dan itu. Mereka mengatakan pula ˝aduhai, seandainya kita di syurga nanti memiliki lembah seperti lembah Thaˈif ini, maka Allah menurunkan firmannya dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu mereka berada di antara pohon bidara yang tidak berduri (Q.S Al-Waqiˈah, 27-28 seterusnya).

Imam Baihaqi telah mengetengahkan sbeuah Hadits melalui jalur lain yang bersumber dari Mujahid. Mujahid telah menceritakan, bahwa mereka merasa takjub dengan Wajj (nama sebuah lembah di Thaˈif) yakni tentang naungannya yang rindang, dan pohon-pohon pasangan yang banyak buahnya serta pohon-pohon bidaranya yang banyak lalu Allah menurunkan firmannya.

Dan segolongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu mereka berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas (Q.S Al-Waqiˈah, 27-30).

Imam Muslim telah mengetengahkan sebuah Hadits yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a yang telah menceritakan, bahwa pada zaman Rasulullah Saw. Orang-orang diberi hujan, maka Rasulullah Saw berkata : jadilah sebagian di antara manusia ada yang bersyukur (atas nikmat ini) dan ada pula di antara mereka yang mengingkarinya.

Sebagian di antara mereka ada yang mengatakan, bahwa hujan ini merupakan rahmat yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. Akan tetepi sebagian di antara mereka ada pula yang mengatakan, bahwa bintang benar-benar telah menepati janjinya (yakni apabila bintang tersebut muncul maka pasti turun hujan di kalangan mereka). Lalu turunlah ayat ini yaitu mulai dari firmannya :

Maka aku bersumpah dengan nama tempat-tempat terbenamnya bintang-bintang. (Q.S AL-waqiah 75).

Sampai dengan firmanNya dan kalian mengganti rezeki Allah berikan dengan mendustakan (Allah). (Q.S. AL-Waqiah 82).

Imam Ibnu Abu hatim telah mengetengahkan sebuah hadits melalui Abu khazrah yang telah menceritakan, bahwa ayat-ayat ini di turunkan berkenaan seorang laki-laki dari kalangan Anshar dalam perang tabuk, lalu pasukan kaum muslimin sampai di daerah Al-Hijr, lalu Rasulullah Saw memerintahkan kepada mereka, hendaknya mereka jangan mengambil atau membawa air di daerah tersebut walaupun sedikit.

Selanjutnya Rasulullah Saw bersama pasukannya meneruskan perjalanan hingga sampai pada tempat yang lain lalu mereka beristirahat disitu. Sedangkan pada saat itu persediaan air mereka tidak ada dan sudah habis. Mereka mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah Saw lalu Rasulullah Saw berdiri melakukan shalat 2 rakaat dan berdoa meminta hujan kepada Allah. Maka Allah SWT segera mengirimkan awan yang membawa air, lalu turunlah hujan atas mereka sehingga mereka mendapat air minum.
Ada seseorang dari kalangan sahabat Anshar berkata kepada orang lain yang juga kaumnya, hanya ia dicurigai sebagai orang munafik. Beruntunglah kamu, Apakah kamu tidak melihat apa yang telah di doa oleh rasulullah Saw buat kita semuannya sehingga Allah SWT menurunkan hujan kepada kita tetapi laki-laki lain itu menjawab sesungguhnya kami diberi hujan oleh bintang ini dan bintang itu.

Tafsir Surat Al-Waqi’ah


iżā waqa’atil-wāqi’ah
Apabila terjadi hari Kiamat,

laisa liwaq’atihā kāżibah
terjadinya tidak dapat didustakan (disangkal). Ayat 1-2

Ayat ini menerangkan bahwa apabila terjadi hari kiamat, maka kejadian itu tidak dapat didustakan dan juga tidak dapat diragukan, tidak seorangpun yang dapat mendustakannya atau mengingkarinya dan nyata dilihat oleh setiap orang. Tatkala di dunia, banyak manusia yang mendustakannya dan mengingkarinya karena belum merasakan azab sengsara yang telah diderita oleh orang-orang yang telah disiksa itu.

khāfiḍatur rāfi’ah
(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain). Ayat 3

Ayat ini menjelaskan bahwa kejadian hari kiamat akan merendahkan satu golongan dan meninggikan golongan yang lain, demikian kata Ibnu 'Abbbas. Karena kejadian yang besar pengaruhnya membawa perubahan yang besar pula. Kemudian diterangkan bahwa hari kiamat itu menurunkan derajat golongan yang satu dan meninggikan golongan yang lain. Tatkala itu, ada gempa yang menghancurkan semua yang ada di atas, gunung-gunung dan bangunan-bangunan hancur lebur seperti debu yang beterbangan diu dara. Manusia ketika itu terbagi atas tiga golongan, yaitu golongan kanan (Ashabul-yamin), golongan kiri (Ashabusy-syimal), dan golongan orang yang terdahulu beriman (As-sabiqun).

Di dalam Tafsir Al-Misbah Ayat 1-3, surat Al-Waqi‟ah menamai hari kiamat atau peristiwa. Karena kejadiannya yang sedemikian jelas dan pasti, sehingga walaupun tidak dijelaskan peristiwa apa itu, seharusnya manusia telah mengetahuinya.

iżā rujjatil-arḍu rajjā
Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya, Ayat 4

Ayat ini menjelaskan bahwa pada hari kiamat akan timbul gempa bumi yang sangat dahsyat dengan guncangan-guncangan yang hebat di segenap pelosok bumi, menghancurkan benteng-benteng dan gunung-gunung, merobohkan rumah-rumah dan bangunan- bangunan, serta apa saja yang terdapat dipermukaan bumi. Dalam Ayat ini Allah berfirman :

(hari) Kiamat itu adalah suatu (kejadian) yang sangat besar.” ( Al-Hajj : 1)

wa bussatil-jibālu bassā
dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya,

fa kānat habā`am mumbaṡṡā
maka jadilah ia debu yang beterbangan, Ayat 5-6

Ayat ini mengungkapkan bahwa pada hari kiamat gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya menjadi tumpukan tanah yang bercerai berai, menjadi debu yang beterbangan seperti daun kering yang diterbangkan angin. Gunung-gunung akan hilang dari tempatnya sesuai dengan Ayat 9 Al-Ma‟arij.

“ dan gunung-gunaung bagaikan bulu ( yang beterbangan ).” ( Al-Ma‟arij : 9).

Tafsir Al-Misbah Ayat 4-6, ayat yang lalu menguraikan kepastian terjadinya kiamat. Ayat-ayat di atas menjelaskan sebagian rincian kejadian itu. Allah berfirman : Apabila bumi yang demikian luas digoncangkan seluruh kawasannya dengan goncangan sedahsyat- dahsyatnya, dan gunung-gunung yang demikian tegar dihancurluluhkan sehancur-hancurnya, sehingga jadilah ia debu yang sangat kecil dan halus yang beterbangan.

wa kuntum azwājan ṡalāṡah
dan kamu menjadi tiga golongan, Ayat 7

Ayat ini menjelaskan bahwa manusia pada waktu itu terdiri atas tiga golongan, yaitu golongan kanan, golongan kiri, dan golongan orang-orang yang paling dahulu beriman.

fa aṣ-ḥābul-maimanati mā aṣ-ḥābul-maimanah
yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu,

wa aṣ-ḥābul-masyamati mā aṣ-ḥābul-masyamah
dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu, Ayat 8-9

Ayat ini menjelaskan bahwa “golongan kanan” adalah orang-orang yang menerima buku catatan amal mereka dengan tangan kanan, yang menunjukkan bahwa mereka adalah penghuni surga. Tentulah keadaan mereka sangat baik dan sangat menyenangkan. “golongan kiri” ialah orang-orang yang menerima buku catatn amal mereka dengan kanan tangan kiri yang menunjukkan bahwa mereka adalah penghuni neraka dan akan mendapatkan siksaan serta hukuman yang sangat menyedihkan.

Tafsir Al-Misbah ayat 7-9, ayat ini menjelaskan keadaan dan kelompok-kelompok penghuni bumi. Ayat di atas menyatakan : Ketika terjadi peristiwa itu kamu semua wahai manusia akan memperoleh balasan dan ganjaran setimpal dan kamu seluruhnya menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan, apakah yakni alangkah muliannya golongan kanan itu, dan golongan kiri, apakah yakni alangkah sengsaranya golongan kiri itu.

was-sābiqụnas-sābiqụn
dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga). Ayat 10

Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang yang paling dahulu beriman kepada Allah tidak asing lagi bagi kita, karena kepribadian mereka yang luhur serta perbuatan-perbuatan mereka yang mengagumkan. Dapat pula diartikan bahwa orang-orang yang paling dahulu mematuhi perintah Allah, mereka pulalah yang paling dahulu menerima rahmat Allah.

ulā`ikal-muqarrabụn
Mereka itulah orang yang dekat (kepada Allah),

fī jannātin-na’īm
Berada dalam surga kenikmatan, Ayat 11-12

Ayat ini menerangkan bahwa mereka yang paling dahulu beriman itulah yang menerima ganjaran yang lebih dahulu dari Allah. Mereka adalah ahli surga yang dilimpahi nikmat-nikmat yang tidak pernah dilihat oleh mata dan didengar oleh telinga serta terpikirkan oleh siapapun.

ṡullatum minal-awwalīn
segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu,

wa qalīlum minal-ākhirīn
dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Ayat 13-14

Ayat ini menerangkan bahwa prosentase umat dahulu yang termasuk “As-sabiqunal-Muqarrabun” lebih besar dibandingkan dengan prosentase Umat Nabi Muhammad. Namun karena jumlah Umat Nabi Muhammad itu lebih besar dari jumlah Umat Nabi- nabi sebelumnya, maka jumlah Umat Nabi Muhammad yang termasuk “As-sabiqunal-Muqarrabun” jauh lebih besar dari jumlah Umat dahulu.

Tafsir Al-Misbah 10-14, Ayat ini juga menjelaskan kelompok ketiga dari manusia, setelah ayat yang lalu menyebut dua kelompok. Kelompok ketiga adalah orang-orang yang mendahului sejawat mereka yang mukmin dalam segala bidang kebijakan, mereka itulah orang yang mendahului siapapun memasuki syurga dan meraih kenikmatan abadi. Mereka itulah yang sungguh tinggi kedudukannya yang merupakan orang-orang didekatkan kepada Allah. Masing-masing mereka ditempatkan di dalam syurga-syurga na‟im yakni yang penuh kenikmatan. Mereka adalah sekelompok besar dari ummat yang terdahulu yakni yang bersama Nabi mereka masing-masing dan sedikit dari ummat yang kemudian yakni dari ummat Nabi Muhammad SAW. Mereka kecil jika dibandingkan dengan jumlah Nabi Muhammad SAW secara keseluruhan.

’alā sururim mauḍụnah
Mereka berada di atas dipan-dipan yang bertahtakan emas dan permata,

muttaki`īna 'alaihā mutaqābilīn
mereka bersandar di atasnya berhadap-hadapan. Ayat 15-16

Ayat ini menjelaskan bahwa mereka duduk santai berhadap-hadapan di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata. Mereka dalam keadaan rukun, damai, hidup berbahagia dan bergaul dengan baik, tidak terdapat di hati mereka perasaan permusuhan atau kebencian yang akan memisahkan seseorang dengan yang lain.

yaṭụfu 'alaihim wildānum mukhalladụn
Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, Ayat 17

Ayat ini mengungkapkan bahwa mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda serta menyenangkan bila dipandang, mereka ini bertindak selaku pelayan yang melayani penghuni-penghuni surga di waktu makan, minum, dan lain-lain.

bi’akwābiw wa abārīqa wa ka`sim mim ma’īn
dengan membawa gelas, cerek dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir,

lā yuṣadda’ụna 'an-hā wa lā yunzifụn
mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk, Ayat 18-19

Ayat ini menjelaskan bahwa anak-anak muda tersebut melayani penghuni surga dengan membawa gelas, piala, cerek, dan minuman khamar yang diambil dari air yan mengalir dari mata airnya. Tidak diperas, benang dan bersih yang tidak habis-habisnya. Mereka dapat mengambil dan minum semaunya dan hal itu tidak membuat mereka pening dan mabuk.

Dalam Tafsir Al-Misbah ayat 15-19 menggambarkan sekelumit dari nikmat atau keadaan mereka. Ayat di atas menyatakan mereka berada di atas dipan-dipan yang terakhit dengan kukuh dan indah berlapisan emas dan permata, seraya bertelekan dengan santai di atasnya lagi berhadap-hadapan dengan mesra dan penuh kisah. Berkeliling yakni senantiasa berbolak balik guna melayani dan memenuhi permintaan mereka, pelayan-pelayan dalam bentuk remaja-remaja yang tetap muda belia tidak disentuh oleh ketuaan, dengan membawa gelas kosong dan ceret-ceret penuh aneka minuman serta seloki yang berisi Khamr Surgawi yang diambil dari sumber yang mengalir dan tidak pernah habis-habisnya, mereka tidak pening karena meminumnya dan tidak pula mabuk kehilangan akal dan keseimbangan.

wa fākihatim mimmā yatakhayyarụn
dan buah-buahan apa pun yang mereka pilih,

wa laḥmi ṭairim mimmā yasytahụn
dan daging burung apa pun yang mereka inginkan. Ayat 20-21

Ayat ini mengungkapkan jenis minuman dan makanan di dalam surga yaitu berupa buah-buahan yang mereka kehendaki dan daging burung yang mereka sukai, yang membangkitkan selera karena lezat rasanya, sebagaimana firman Allah dalam Surat (Muhammad : 15) :

Artinya : (Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam Jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya? (Q.S Muhammad : 15).53

Dalam Tafsir Al-Misbah ayat 20-21 setelah menjelaskan minuman yang diantar dan dihidangkan oleh anak-anak muda bagi as- Sabiqun, ayat di atas menjelaskan makanan yang mereka hidangkan. Allah berfirman : “dan disamping minuman-minuman, anak-anak muda yang menjadi pelayan-pelayan itu membawa juga berkeliling aneka buah yang lezat dari apa yang mereka pilih dari sebelumnya, dan juga dihidangkan kepada mereka daging burung dari apa yang mereka inginkan dari jenis burung dan cara masakannya.

wa ḥụrun 'īn
Dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah,

ka’amṡālil-luluil-maknụn
laksana mutiara yang tersimpan baik. Ayat 22-23

Ayat ini mengungkapkan, di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik. Bidadari bagaikan mutiara yang belum tersentuh tangan dan bersih dari debu, sangat cantik dan memesona. Pada Umumnya para Mufassir menafsirkan Ayat ini bahwa yang dimaksud dengan hawatiyyun adalah Perempuan yang putih, matanya sangat jelas warna putih dan hitamnya.

azā`am bimā kānụ ya’malụn
Sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan. Ayat 24

Ayat ini mengungkapkan sebab mereka mendapat nikmat yang luar biasa, yang merupakan balasan bagi apa-apa yang telah mereka kerjakan di dunia. Menunaikan kewajiban, mematuhi perintah Allah swt, dan menjauhkan diri dari larangan-laranganNya dengan sebaik-baiknya. Mereka bangun tengah malam, shalat, memuji, berdzikir, merenungkan kebesara Allah dan memohon ampunNya serta berpuasa siang harinya.

Tafsir Al-Misbah ayat 22-24 menjelaskan setelah ayat-ayat yang lalu menyebut tempat penghuni syurga serta makanan dan minuman mereka, maka ayat di atas menyebut pendamping mereka. Karena kenikmatan baru dapat dikatakan sempurna begitu pula makan dan minuman baru terasa lezat bila ada yang mendampinginya, maka ayat 22 di atas menyatakan bahwa dan disamping apa yang telah disebut sebelum ini, ada juga di dalam syurga itu, pendamping-pendamping penghulunya yaitu wanita-wanita syurgawi yang bermata indah, kebeningannya dan kecemerlangan mata mereka laksana mutiara yang tersimpan baik sehingga tidak disentuh oleh sedikit kekeruhanpun. Itu semua sebagai balasan apa yang telah mereka kerjakan.

lā yasma’ụna fīhā lagwaw wa lā ta`ṡīmā
Di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia maupun yang menimbulkan dosa,

illā qīlan salāman salāmā
tetapi mereka mendengar ucapan salam. Ayat 25-26

Ayat ini mengungkapkan, bahwa di dalam surga itu tidak akan terdengar kata-kata sia-sia, yang memuakkan, yang tidak layak diucapkan oleh orang baik-baik yang mempunyai akhlak tinggi dan mempunyai perasaan yang halus, terlebih kata-kata yang menimbulkan dosa. Di sana akan terdengar ucapan-ucapan salam dan kata-kata yang baik, yang enak didengar telinga.

Tafsir Al-Misbah ayat 25-26 juga menjelaskan setelah ayat- ayat yang lalu menguraikan secara singkat kesempurnaan nikmat yang dialami oleh penghuni syurga, maka guna melengkapi penjelasannya, kedua ayat di atas secara singkat pula menafikan segala macam kekurangan yang boleh jadi terbayang dalam benak seseorang dengan menyatakan bahwa: mereka tidak mendengar di dalamnya yakni dalam syurga itu perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi yang mereka dengar hanyalah ucapan sikap dan perlakuan yang mengandung makna salam yang disusun lagi secara bersinambung tanpa putus dengan salam sejahtera serupa.

wa aṣ-ḥābul-yamīni mā aṣ-ḥābul-yamīn
Dan golongan kanan, siapakah golongan kanan itu.

fī sidrim makhḍụd
(Mereka) berada di antara pohon bidara yang tidak berduri,

wa ṭal-ḥim manḍụddan
pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya),

wa ẓillim mamdụddan
naungan yang terbentang luas,

wa mā`im maskụb
dan air yang mengalir terus-menerus,

wa fākihating kaṡīrah
dan buah-buahan yang banyak,

lā maqṭụ’atiw wa lā mamnụ’ah
yang tidak berhenti berbuah dan tidak terlarang mengambilnya,

wa furusyim marfụ’ah
dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.

innā ansya’nāhunna insyā`ā
Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) secara langsung,

ja’alnāhunna abkārā
lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan,

uruban atrābā
yang penuh cinta (dan) sebaya umurnya,

li`aṣ-ḥābil-yamīn
untuk golongan kanan,

ṡullatum minal-awwalīn
segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu,

wa ṡullatum minal-ākhirīn
dan segolongan besar pula dari orang yang kemudian. Ayat 27-40

Setelah Allah menceritakan tempat kembali orang- orang terdahulu, yakni orang-orang yang mendekatkan diri, maka dia menjelaskan keadaan Ash-Haabul Yamiin (orang-orang yang termasuk golongan kanan), mereka adalah orang-orang yang suka berbuat baik.

Segolongan besar dari orang-orang terdahulu, dan segolongan besar pula dari orang-orang kemudian. Maka kami katakan: diantara kami ada yang termasuk ketujuh puluh ribu orang tersebut. Lebih lanjut kami katakan mereka itulah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak Musyrik sama sekali.

Tafsir Al-Misbah ayat 27-40 menjelaskan setelah ayat yang lalu menguraikan kenikmatan kelompok yang paling tinggi derajatnya disisi Allah, ayat-ayat di atas dan selanjutnya menguraikan kelompok penghuni syurga yang kedudukannya lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang lalu. Namun itu bukan berarti kenimatan yang mereka raih tidak sempurna. Allah berfirman: Dan kelompok kedua adalah golongan kanan, apakah yakni alangkah bahagianya orang itu, tidak terbayang betapa kenikmatan yang diraih golongan kanan itu! Mereka berada diantara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang atau kurma yang buahnya bersusun-susun dengan indah menarik, dan naungan yang terbentang luas sepanjang masa dan diseluruh tempat, dan air yang tercurah setiap diinginkan, dan buah-buahan yang banyak jenis, rasa dan ragamnya, tidak putus-putusnya seperti halnya di dunia yang hanya ditemukan pada musim-musim tertentu dan tidak juga terhalangi untuk mengambilnya, baik karena bersangkutan jemu atau karena tinggi dan jauhnya buah itu atau sebab apapun dan kasur-kasur yang diangkat ke atas ranjang-ranjang tidur, atau bersusun satu dengan yang lain sehingga terasa empuk. Ayat di atas menjawab dengan menyatakan bahwa ada teman-teman yang menyertai mereka sesungguhnya kami menciptakan mereka yakni wanita-wanita syurgawi yang menjadi teman dan pasangan penghuni syurga dengan penciptaan sempurna dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya dan bentuk badannya satu dengan yang lain, atau sebaya dengan pasangan-pasangan mereka. Mereka kami ciptakan untuk golongan yang kanan. Mereka itu sekelompok besar dari ummat yang terdahulu, yang hidup pada masa para Nabi yang lalu dan sekelompok besar pula dari ummat yang kemudian yang hidup pada masa Nabi Muhammad Saw serta generasi sesudah mereka.

wa aṣ-ḥābusy-syimāli mā aṣ-ḥābusy-syimāl
Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu.

fī samụmiw wa ḥamīm
(Mereka) dalam siksaan angin yang sangat panas dan air yang mendidih,

wa ẓillim miy yaḥmụm
dan naungan asap yang hitam,

lā bāridiw wa lā karīm
tidak sejuk dan tidak menyenangkan. Ayat 41-44

Pada Ayat ini Allah menyebut Ashabusy-Syimal, kemudian di ulang kata-kata itu dalam bentuk pertanyaan dengan maksud mencela, kemudian diterangkan azab yang akan menimpa mereka yaitu :

  1. Angin panas yang tertiup dengan membawa udara yang sangat panas dan menyengat seluruh tubuh. Mereka lari mencari naungan dari asap jahanam.

  2. Air yang disediakan untuk minuman mereka bukan air yang sejuk, tetapi air mendidih yang panasnya tidak terhingga.

  3. Awan yang berada di atas mereka berupa gumpalan awan, dari asap api neraka yang sangat hitam yang tidak menyejukkan dan tidak menyenagkan.

Tafsir Al-Misbah ayat 41-44 menjelaskan keadaan golongan manusia yang ketiga yakni penghuni neraka, setelah sebelumnya telah menguraikan kedua golongan penguhuni syurga. Ayat di atas menyatakan : dan kelompok ketiga yang akan hadir di hari kemudian, adalah golongan kiri, apakah yakni alangkah buruk dan ngeri apa yang dialami oleh golongan kiri itu! Mereka berada dalam wadah siksaan berupa angin yang amat panas yang menembuh pori-pori dan air panas yang mendidih, dan dalam naungan asap hitam yang panan dari hembusan neraka jahannam. Tidak sejuk sehingga meringankan panasnya udara dan tidak menyenagkan bila dihirup.

innahum kānụ qabla żālika mutrafīn
Sesungguhnya mereka sebelum itu (dahulu) hidup bermewah-mewah,

wa kānụ yuṣirrụna 'alal-ḥinṡil-'aẓīm
dan mereka terus-menerus mengerjakan dosa yang besar,

wa kānụ yaqụlụna a iżā mitnā wa kunnā turābaw wa 'iẓāman a innā lamab’ụṡụn
dan mereka berkata, “Apabila kami sudah mati, menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali?

wa ābā`unal-awwalụn
Apakah nenek moyang kami yang terdahulu (dibangkitkan pula)?” Ayat 45-48

Dalam Ayat 45-48, Allah Swt menjelaskan apa sebabnya mereka golongan kiri itu menerima siksa yang sedemikian pedihnya. Dahulu, sewaktu mereka hidup di dunia semestinya mereka wajib beriman kepada Allah dengan menjalankan berbagai amal saleh serta menjauhkan larangan Tuhannya, tetapi mereka menjalankan adalah sebaliknya, yaitu :

  1. Mereka hidup bermewah-mewah.
  2. Mereka tidak henti-hentinya mengerjakan dosa besar.
  3. Mereka mengingkari adanya hari kebangkitan.

qul innal-awwalīna wal-ākhirīn
Katakanlah, “(Ya), sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan yang kemudian,

lamajmụ’ụna ilā mīqāti yaumim ma’lụm
pasti semua akan dikumpulkan pada waktu tertentu, pada hari yang sudah dimaklumi. Ayat 49-50

Ayat ini berhubugan dengan ejekan dan cemoohan mereka itu, Allah memerintahkan kepada Rasulnya supaya memberikan jawaban yang tegas dan tandas, bahwa sesungguhnya nenek moyang mereka yang mereka anggap mustahil dapat dibangkitkan dan anak cucu mereka kemudian yang mereka anggap tidak akan dibangkitkan, pasti benar sumuanya akan dikumpulkan di padang mahsyar pada hari yang sudah ditentukan.

Tafsir Al-Misbah ayat 45-50, menjelaskan beberapa sebab utama dari siksa tersebut. Allah berfirman: sesungguhnya mereka secara mendarah daging sebelum siksa yang menimpa mereka itu yakni di dunia ini, hidup berlebih-lebihan atau berfoya-foya, angkuh sambil melupakan Allah pemberi nikmat dan mengabaikan tuntunan-Nya, dan di samping itu mereka juga terus-menerus bersi keras mengerjakan dosa yang besar yakni sumpah palsu, berkhianat dan lain-lain. Dan mereka juga mengingkari keniscayaan kiamat dan senantiasa dari saat ke saat mengatakan: Apakah apabila kami mati dan kelak menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan kembali? Apakah bapak-bapak kami terdahulu, juga akan dibangkitkan? Padahal keadaan mereka jauh lebih mustahil dari kebangkitan kami. Karena pastilah sekian lama mereka mati, tulang berulang mereka telah punah dan tidak ada bekas-bekasnya lagi? Allah swt, memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw bahwa, “ katakanlah kepada mereka dan semacam mereka bahwa tidak ada bedanya di sisi Allah dalam hal membangkitkan manusia, tidak ada yang sulit atau lebih sulit bagi-Nya:” sesungguhnya orang-orang yang terdahulu mati dan yang kamu kira lebih sulit dibangkitkan dan orang-orang yang mati kemudian termasuk kamu, benar-benar akan sama-sama dan bersamaan dikumpulkan dengan sangat mudah di waktu dan tempat tertentu pada hari yang ditentukan oleh Allah swt.

ṡumma innakum ayyuhaḍ-ḍāllụnal-mukażżibụn
Kemudian sesungguhnya kamu, wahai orang-orang yang sesat lagi mendustakan!

la`ākilụna min syajarim min zaqqụm
pasti akan memakan pohon zaqqum,

fa māli`ụna min-hal-buṭụn
maka akan penuh perutmu dengannya.

fa syāribụna 'alaihi minal-ḥamīm
Setelah itu kamu akan meminum air yang sangat panas.

syāribụna syurbal-hīm
Maka kamu minum seperti unta (yang sangat haus) minum. Ayat 51-55

Kemudian Allah menjelaskan kepada mereka yang sesat, yang senantiasa mengerjakan dosa besar dengan mendustakan para Rasul dan mengingkari hari kebangkitan dan hari pembalasan, bahwa mereka benar-benar akan memakan buah pohon zaqqum yang dimakannya, melainkan mereka memakan sepenuh perutnya, dan karena perasaan haus dan dahaga yang tidak tertahankan lagi, maka mereka kembali minum air yang sangat panas bagaikan cairan timah dan tembaga yang mendidih. Namun mereka tetap minum terus bagaikan minumnya unta yang sangat haus dan sangat dahaga.

hāżā nuzuluhum yaumad-dīn
Itulah hidangan untuk mereka pada hari pembalasan.” Ayat 56

Dalam Ayat ini Allah menegaskan bahwa pohon zaqqum dan minuman air yang sangat panas itu, adalah hidangan pertama yang disediakan untuk golongan kiri tersebut. Hal tersebut disebutkan juga dalam surah Adh-Dukhan ayat 43 yang berkenaan dengan makanan yang disediakan untuk orang yang berdosa. Golongan kiri adalah orang kafir atau berbuat dosa.

Ayat 51-56, ayat di atas merupakan lanjutan dari apa yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad saw, untuk disampaikan kepada para pengingkar kiamat. Di sini diuraikan siksaan yang akan dialami para pendurhaka dengan menjelaskan sebab utamanya. Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw menyampaikan bahwa katakan juga kepada mereka, kemudian sesungguhnya kamu hai orang-orang sesat yakni yang tidak bahkan enggan mengikuti jalan yang benar bagi para pengingkar kebenaran. Benar-benar kamu semua pasti akan memakan makanan yang diambil dari pohon yaitu zaqqum yaitu pohon yang sangat buruk bentuk, rasa dan aromanya serta yang akarnya tumbuh di jurang neraka, lalu kamu juga secara mantap tetapi terpaksa akibat rasa lapar yang kamu derita pasti memenuhi dengannya yakni dengan pohon itu saja perut-perut kamu masing-masing. Lalu kamu akan meminum atasnya yakni atas penuhnya perut kamu itu atau sesudah makan itu dari air yang sangat panas dan yang tidak menghilangkan dahaga. Maka kamu minum dengan sangat banyak seperti unta yang sangat haus. Namus dengan demikian dahaga kamu tidak juga hilang.

naḥnu khalaqnākum falau lā tuṣaddiqụn
Kami telah menciptakan kamu, mengapa kamu tidak membenarkan (hari berbangkit)? Ayat 57

Dalam Ayat ini, Allah menciptakan manusia dari tidak ada sama sekali. Bukankah hal tersebut suatu dalil yang tidak dapat dibantah lagi tentang kekuasaan Allah? Dan hal tersebut bukankah suatu dalil yang kuat bahwa Allah maha kuasa untuk menghidupkan kembali manusia dari kuburnya setelah ia mati, dan hancur tulang-tulangnya?

Hal tersebut adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah lagi tentang adanya hari kiamat, hari kebangkitan manusia dari dalam kuburnya, dan hal tersebut adalah penolakan atas anggapan orang-orang kafir dan orang-orang yang tidak mempercayai adanya hari kiamat.

Dalam tafsir Al-Misbah ayat 57, setelah ayat-ayat yang lalu menyebut keniscayaan kiamat, kini Allah mengarah kepada seluruh manusia yang terbagi pada tiga golongan itu, menyampaikan salah satu argumentasi keniscayaan kebangkitan. Allah berfirman : Kami semata- mata sendiri yang telah menciptakan kamu, padahal tadinya kamu tidak wujud, maka mengapa kamu tidak membenarkan yakni percayalah kuasa kami membangkitkan kamu kembali. Bukankah dalam ukuran logika kamu, menciptakan sesuatu yang belum pernah wujud, sebagai mana keadaan kamu semula ? bukankah itu bukti bahwa kami kuasa menghimpun orang-orang terdahulu yang telah mati dan orang yang kemudian akan mati ?

Dalam penegasanNya bahwa Dia sendiri yang menciptakan manusia, terdapat juga isyarat tentang kuasaNya mengatur ciptaanNya itu dalam hidup ini dan setelah kematian mereka serta bahwa Dia Maha mengetahui apa yang dilakukanNya terhadap mereka, juga sebagian dari hal tersebut adalah kebangkitan, ganjaran berikut balasan bagi setiap manusia.

a fa ra`aitum mā tumnụn
Maka adakah kamu perhatikan, tentang (benih manusia) yang kamu pancarkan.

a antum takhluqụnahū am naḥnul-khāliqụn
Kamukah yang menciptakannya, ataukah Kami penciptanya? Ayat 58-59

Allah menekankan lagi berupa pertanyaan bagaimana orang kafir dapat memproses kejadian air mani (sperma) yang dipancarkan kedalam rahim? Merekakah yang memproses air mani itu menjadi manusia yaitu tubuh yang lengkap dengan badan, kepala, kaki dan tangan, yang dilengkapi pula dengan mata, hidung, mulut dan telinga ataukah Allah yang menciptakannya?

Pastilah orang kafir tidak dapat menjawab kecuali mengakui bahwa sebenarnya Allah yang menyebabkan air mani tersebut menjadi manusia, dan Allah pula yang menentukan apakah air mani tersebut menjadi manusia pria dan wanita, demikian pula, hanya Allah sajalah yang menetapkan berapa umur manusia tersebut.

Bukankah Allah yang berkuasa mencipatakan manusia pertama kalinya, juga Maha kuasa menghidupkannya kembali sesudah matinya, dengan membangkitkannya pada hari kiamat untuk menerima baslasan yang paling sempurna.

naḥnu qaddarnā bainakumul-mauta wa mā naḥnu bimasbụqīn
Kami telah menentukan kematian masing-masing kamu dan Kami tidak lemah,

’alā an nubaddila amṡālakum wa nunsyi`akum fī mā lā ta’lamụn
untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (di dunia) dan membangkitkan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui. Ayat 60-61

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah menentukan kematian manusia, dan bahkan ia telah menetapkan waktu tertentu bagi kematian setiap manusia, yang semuanya itu ditentukan dan ditetapkan menurut kehendak-Nya, suatu hal yang mengandung hikamh dan kebijaksanaan yang tidak dapat diketahui oleh manusia. Ketentuan dan ketetapan Allah dalam menciptkan atau mematikan seseorang tidaklah dapat dipengaruhi atau dihalang-halangi oleh siapa pun. Demukian juga Allah maha kuasa untuk menggatikan suatu Umat dengan Umat yang lain yang serupa dan Maha kuasa melakukan sesutau yang belum pernah dilakukan oleh Manusia, antara lain membangkitkan Manusia kembali dari kuburnya, manusia tidak dapat mengetahui kapan terjadinya.

wa laqad 'alimtumun-nasy’atal-ụlā falau lā tażakkarụn
Dan sungguh, kamu telah tahu penciptaan yang pertama, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Ayat 62

Ayat ini menjelaskan bahwa sesungguhnya manusia itu mengetahui bahwa Allah lah yang menciptakan mereka dari semula, sejak tidak ada, dan tidak pernah menjadi sebutan sebelumnya.

Cobalah mereka pikirkan dan renungkan bahwa Allah yang Maha kuasa menciptakan mereka dan penciptaan yang pertama, tentunya ia maha kuasa menciptakan mereka lagi pada penciptaan yang kedua, yakni Allah Mahakuasa menghidupkan mereka dari tulang- tulang, yang sekian lamanya di alam kubur, Allah Mahakuasa menghidupkan kembali seperti keadaan sebelum mati.

Dalam tafsir Al-Misbah ayat 58-62, menghubungkan ayat ini dengan ayat yang lalu dengan menyatakan bahwa sebenarnya kebangkitan hanyalah perubahan dari sesuatu yang telah lapuk atau bercampur dengan tanah ke keadaan sebelumnya yakni kehidupan. Jika demikian mereka diajak untuk memperhatikan bagaimana kuasa Allah mengalihkan sesuatu ke sesuatu yang lain. Yang pertama disebut adalah kejadian manusia.

a fa ra`aitum mā taḥruṡụn
Pernahkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam?

a antum tazra’ụnahū am naḥnuz-zāri’ụn
Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkan? Ayat 63-64

Allah mengungkapkan kepada manusia bahwa sebagian besar dari mereka lupa akan keagungan nikmat yang diungkapkan tersebut, walaupun mereka merasakan kelezatan nikmat- nikmat tersebut sepanjang masa. Allah menyampaikan pertanyaan kepada manusia, untuk dipikirkan dan direnungkan mengenai berbagai tanaman yang ditanam oleh manusia, baik yang ditanam di sawah, ladang, maupun bibit pohon-pohonan yang ditanam di perkebunan. Diungkapkan bahwa bagi semua tanaman tersebut di atas, kedudukan manusia hanya sekedar sebagai penanamnya, memupuk dan memeliharanya dari berbagai gangguan yang membawa kerugian. Tetapi kebanyakan manusia lupa terhadap siapakah yang menumbuhkan tanaman tersebut. Siapakah yang menambah panjang akarnya menebus kedalam tanah, sehingga pohon tersebut dapat berdiri tegak? Siapakah yang menumbuhkan daun dan dahanya? Siapa pula yang menumbuhkan bunga dan buahnya?

Pertanyaan-pertanyaan yang dikumpulkan dalam Ayat ini adalah soal-soal penting yang sering diabaikan manusia. Buaknkah manusia sekedar mencakul dan menggemburkan tanah? Bukankah manusia sekedar menanamkan bibit yang telah dipilihnya sebagai bibit yang terbaik? Dan bukankah manusia sekedar menyiram, mengairinya, dan membersihkannya dari berbagai rumput dan hama yang menganggu pertumbuhannya dan bukankah manusia sekedar memupukya?

Tetapi yang terang dan jelas serta tidak ragu-ragu lagi adalah bahwa Allah menumbuhkan tanaman tersebut, menumbuhkan tunas membesarkan pohon-pohonya, menambahkan dahan dan ranting serta memakarkan bunga sampai menjadi buah yang bisa dinikmati manusia.

lau nasyā`u laja’alnāhu huṭāman fa ẓaltum tafakkahụn
Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami hancurkan sampai lumat; maka kamu akan heran tercengang,

innā lamugramụn
(sambil berkata), “Sungguh, kami benar-benar menderita kerugian,

bal naḥnu mahrụmụn
bahkan kami tidak mendapat hasil apa pun.” Ayat 65-67

Kemudian dijelaskan oleh Allah, bahwa walaupun tanaman tersebut sangat baik pertumbuhan dan buahnya yang menimbulkan harapan untuk mendatangkan keuntungan berlimpah- limpah, namun apabila Allah menghendaki lain daripada itu, maka tanaman yang diharapkan itu dapat berubah menjadi tanaman yang tidak berbuah, hampa atau terserang berbagai macam penyakit atau hama, seperti hama wereng, hama tikus, dan sebagainya. Sehingga pemiliknya tertegun dan merasa sedih, karena keuntungannya dalam sekejap mata menjadi kerugian yang luar biasa. Sedang membayar berbagai macam pengeluaran seperti ongkos-ongkos mencakul, menanam, menyiram, memupuk, dan membersihkan rumput merupakan beban berat dan merugikan baginya.

Dalam tafsir Al-Misbah ayat 63-67, setelah ayat yang lalu menguraikan kejadian manusia dari sperma sebagai bukti kuasaNya membangkitkan mereka guna memperoleh ganjaran dan balasan, kini disebutkan salah satu dari kebutuhan pokok manusia yang mereka lihat sehari-hari dan yang juga dapat mengantar kepada keyakinan akan keniscayaan kiamat. Allah berfirman: Maka apakah kamu melihat dengan mata kepala atau hati, keadaan yang sungguh menakjubkan, terangkanlah kepadaKu tentang benih yang kamu dari saat kesaat tanam. Kamukah yang menumbuhkanNya setelah benih itu kamu tanam, sehingga dia pada akhirnya berbuah ataukah kami para penembuhnya ? kalau kami kehendaki maka benar-benar kami menjadikannya yakni tanaman itu kering tidak berbuah dan hancur berkeping-keping sebelum kamu petik, akibat terkena sengatan panas atau dimakan hama, maka kamu terus menerus sepanjang hari menjadi heran tercengang seraya berkata: “sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian waktu, tenaga dan harta benda, setelah kami bersungguh-sungguh berupaya, bahkan nasib kami buruk, sehingga kami jadi orang-orang yang tercegah memperoleh sedikit hasilpun.”

a fa raaitumul-māallażī tasyrabụn
Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum?

a antum anzaltumụhu minal-muzni am naḥnul-munzilụn
Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan?

lau nasyā`u ja’alnāhu ujājan falau lā tasykurụn
Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur? Ayat 68-70

Dalam Ayat ini Allah mengungkapkan salah satu dari nikmatNya yang agung, untuk direnungkan dan dipikiran oleh manusia apakah mereka mengetahui tantang fungsi air yang mereka minum. Apakah mereka yang menurunkan air itu dari langit yaitu air hujan ataukah Allah yang menurunkannya.

Air hujan itu manakala direnungkan oleh manusia, bahwa ia berasal dari uap air yang terkena panas matahari. Setelah menjadi awan dan kemudian menjadi mendung yang sangat hitam bergumpal-gumpal, maka turunlah uap air itu sebagai air hujan yang sejuk dan tawar, tidak asin seperti air laut. Air tawar tersebut menyegarkan badan serta menghilangkan haus. Bila tidak ada hujan, pasti tidak ada sungai yang mengalir, tidak akan ada mata air walau berapa meter pun dalamnya orang menggali sumur, niscaya tidak akan keluar airnya. Bila tidak ada air, rumput pun tidak akan tumbuh, apalagi tanaman yang ditanam orang.

Apabila tidak ada hujan, pasti tidak ada air yang dapat dimamfaatkan oleh manusia. Kalau tanaman dan tumbuh-tumbuhan tidak tumbuh, maka binatang ternak pun tidak ada. Tidak akan ada ayam, tidak akan ada kerbau dan sapi, tidak akan ada kambing dan domba. Sebab hidup memerlukan makan dan minum. Kalau tidak ada yang dimakan, dan tidak ada yang diminum, bagaimana bisa hidup? Dan kalau tidak ada tanaman dan tumbuh-tumbuhan, dan tidak ada air tawar untuk diminum, bagaimana manusia bisa hidup? Apakah mesti makan tanah? Dan apakah yang akan diminum?

Jika air dijadikan Tuhan asin rasanya, pasti tidak bisa menghilangkan haus dan tidak dapat dipergunakan untuk menyiram atau mengairi tanaman. Dan siapakah menurunkan hujan tersebut? Bukankah hanya Allah saja yang dapat menurunkan hujan sehingga mengalir dan sumur dapat mengeluarkan air? Mengapakah manusia tidak bersyukur kepada Allah? Padahal Dialah yang menurunkan hujan yang demikian banyak manfaatnya. Ayat inipun menegaskan kembali bahwa Allah-lah yang menurunkan hujan.
Dalam tafsir Al-Misbah ayat 68-70, setelah ayat yang lalu mempertanyakan kuasa manusia dalam menumbuhkan tumbuhan, ayat di atas mempertanyakan tentang kuasa mereka menurunkan hujan. Allah berfirman : Maka apakah kamu melihat dengan mata kepala atau hati, keadaan yang sungguh menakjubkan? terangkanlah kepadaku tentang air yang dari saat ke saat kamu minum? kamukah yang menciptakannya atau mengatur prosesnya sehinggga menjadi tawar lalu menurunkannya dari awan dalam keadaan enak diminum ataukah kami para penurunnya? kalau kami mengehendaki niscaya kami menjadikannya yakni air yang turun itu asin lagi sangat pahit membakar perut, serupa dengan rasanya sebelum menguap dari laut sehingga tidak dapat kamu minum, maka mengapakah kamu tidak terus menerus bersyukur kepada Allah yang menjadikanmya tawar dan enak dimunum?

Ayat di atas dikomentari oleh tim penyusun tafsir Al- Muntakhab bahwa : Untuk terjadinya hujan diperlukan keadaan cuaca tertentu yang berada diluar kemampuan manusia, seperti adanya angin dingin yang berhembus diatas angin panas, atau keadaan cuaca yang tidak stabil. Ada juga yang menguraikannya awan putih yang mengandung air. Ini menurut mereka adalah air yang paling jernih dan sedap. Apapun maknanya, yang jelas air ini mengisyaratkan bahwa tidak semua awan dapat mengakibatkan turunnya hujan, tetapi hanya awan tertentu yang mengandung benih-benih lahirnya. Adapun hujan buatan yang kita kenal itu sampai saat ini masih merupakan percobaan yang prosentase perwakilannya masih sangat kecil, disamping masih memerlukan beberapa kondisi alam tertentu juga.

a fa ra`aitumun-nārallatī tụrụn
Maka pernahkah kamu memperhatikan tentang api yang kamu nyalakan (dengan kayu)?

a antum ansyatum syajaratahā am naḥnul-munsyiụn
Kamukah yang menumbuhkan kayu itu ataukah Kami yang menumbuhkan?

naḥnu ja’alnāhā tażkirataw wa matā’al lil-muqwīn
Kami menjadikannya (api itu) untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir.

fa sabbiḥ bismi rabbikal-'aẓīm
Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar. Ayat 71-74

Ayat ini mengungkapkan tentang nikmat yang hampir dilupakan manusia. Ungkapan tersebut berbentuk pertanyaan untuk dipikirkan dan renungkan oleh manusia, apakah manusia mengetahui pentingnya fungsi api? Cara membuat api yang dilakukan pada zaman purba adalah dengan cara menggosok-gosokan dua batang kayu, hingga menyala, atau dengan cara menggoreskan baja di atas batu, sehingga memercikan api dan ditampung percikan tersebut pada kawul (semacam kapuk berwarna kehitam-hitaman yang melekat pada pelepah aren) tersebut, yang demikian dapat dipergunakan untuk menyalakan api di dapur guna memasak berbagai masakan yang akan dihidangkan untuk dinikmati oleh manusia. Dengan gambaran tersebut, jelaslah bagaimana pentingnya api bagi keperluan hidup manusia. Karena api itu didapat dengan mudah setiap hari, maka hampir-hampir tidak terpikirkan oleh manusia betapa api itu memberi kenikmatan. Hampir-hampir jarang orang bersyukur dan berterima kasih atas adanya api. Allah menegaskan bahwa api dijadikan untuk peringatan bagi manusia dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir, maka wajarlah manusia bertasbih dengan menyebut nama Tuhan yang Mahabesar.

Dalam tafsir Al-Misbah ayat 71-74, setelah menyebut kuasa Allah dalam turunnya air dari langit, kini disebut lawannya air yakni api.

Maka apakah kamu melihat dengan mata kepala atau hati, keadaan yang sungguh menakjubkan ? terangkanlah kepadaKu tentang api yang kamu nyalakan yang berasal dari kayu yang kamu gosok-gosokkan! kamukah yang menjadikannya yakni arti itu atau kayu itu memiliki potensi pembakaran atau kamikah para pembuatnya? kami menjadikannya untuk peringatan tentang siksa neraka yang artinya jauh lebih panas dan dahsyat dan juga agar bermanfaat bagi para musafir di padang pasir, seperti untuk memasak, menjadi alat penerang, penghangat badan, untuk mengusir binatang buas dan lain-lain. Demikian juga untuk orang-orang miskin dan kaya kapan dan di manapun.

fa lā uqsimu bimawāqi’in-nujụm
Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang.

wa innahụ laqasamul lau ta’lamụna 'aẓīm
Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui, Ayat 75-76

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Qur‟an guna menunjukkan betapa pentingnya hal tersebut. Allah menegaskan bahwa sumpah dalam bagian-bagian Al-Qur‟an tersebut sangat besar artinya, karena hal itu mengandung isyarat terhadap agungnya kekuasaan Allah dan kesempurnaan kebijaksanaan-Nya dan keluasan rahmat-Nya tidak menyia-nyiakan hamba-Nya.
Dalam Ayat 75, Allah bersumpah untuk meyakinkan terhadap hamba-hambaNya dengan sesuatu yang menggambarkan kemahakuasaanNya terhadap alam jagat raya ini, yakni suatu tempat beredarnya binatang-binatang.

Bagaimanapun, hal itu secara jelas diterangkan kepada manusia dalam Al-Qur‟an yang diwahyukan ketika itu, karena Al-Qur‟an sebenarnya adalah kalam dari sang penguasa, yang Maha menjaga dan memelihara kestabilan alam semesta ini.

Dalam tafsir Al-Misbah ayat 75-76, ayat di atas Allah mengukuhkan pemberitaan Al-Quran itu dengan menyatakan: Maka setelah penjelasan-penjelasan yang lalu itu aku tidak bersumpah atau aku benar-benar bersumpah dengan tempat-tempat beredar atau tenggelamnya binatang-binatang. Sesungguhnya ia yakni sumpah itu kalau kamu mengetahui hakikatnya, atau pikirkan kandungannya atau kamu orang-orang yang berpengetahuan maka kamu akan menyadari bahwa ia adalah sunpah yang besar.

innahụ laqur`ānung karīm
dan (ini) sesungguhnya Al-Qur’an yang sangat mulia,

fī kitābim maknụn
dalam Kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh),

lā yamassuhū illal-muṭahharụn
tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan.

tanzīlum mir rabbil-'ālamīn
Diturunkan dari Tuhan seluruh alam. Ayat 77-80

Allah menjelaskan bahwa Al-Qur‟an ini adalah wahyu ilahi yang mengandung faedah dan kemanfaatan yang tiada terhigga dan berisi ilmu serta petunjuk pasti yang membawa kebahagiaan kepada manusia untuk kehidupan dunia dan akhirat, dan membacanya termasuk ibadah.

Jumhur Ulama mengistimbatkan bahwa ayat 79 ini melarang orang-orang yang berhadas kecil maupun hadas besar, menyentuh atau memegang mushaf Al-Qur‟an. Ada dua pendapat tentang hukum menyentuh mushaf yaitu :
Imam empat mazhab berpendapat tidak boleh, menyentuh mushaf tanpa wudu. Menuru imam Nawawi, firaman Allah : ia yamassuhu illal mutahhirin bermakna tidak menyentuh mushaf ini kecuali orang suci dari hadas.

Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa Al-Qur‟an ini sesungguhnya diturunkan dari Tuhan yang menguasai alam semesta.Sebagai pedoman hidup untuk dibaca, dihafal, dipahami dan diamalkan.Maka sungguh sesatlah orang-orang yang menuduh bahwa Al-Qur‟an ini sihir atau syair.

Dalam tafsir Al-Misbah ayat 77-80, pernyataan ayat yang lalu mengandung penekanan melalui sumpah atau tanpa sumpah. Hanya di sana belum dijelaskan apa apa yang ditekankannya itu. Ayat di atas menjelaskan hal tersebut, Allah berfirman: Aku bersumpah bahwa sesungguhnya ia yakni Al-Qur‟an ini benar-benar adalah bacaan sempurna yang sangat mulia, ia bermaktub pada kitab yang terpelihara yakni Lauh Mahfuz, sehingga ia tidak akan hilang atau mengalami pergantian atau perubahan. Tidak ada yang menyentuhnya kecuali hamba-hamba Allah yang disucikan. Kitab suci itu di turunkan dari Tuhan pemelihara semesta alam.

a fa bihāżal-ḥadīṡi antum mud-hinụn
Apakah kamu menganggap remeh berita ini (Al-Qur’an),

wa taj’alụna rizqakum annakum tukażżibụn
dan kamu menjadikan rezeki yang kamu terima (dari Allah) justru untuk mendustakan(-Nya). Ayat 81-82

Allah mencela orang-orang yang meremehkan Al- Qur’an, yang memandangnya sebagai ucapan manusia biasa, mereka juga mencemoohkan orang-orang yang berpegang kepada Al-Qur‟an dan tidak membelanya bila ada orang-orang yang menghinannya.
Selanjutnya Allah swt mencela orang yang tidak mensyukuri nikmat-nikmat Tuhan yang dikaruniakan kepada mereka, bahkan nikmat-nikmat tersebut mereka sambut dengan mendustakannya.

Dalam tafsir Al-Misbah ayat 81-82, setelah ayat yang lalu melukiskan betapa agung Al-Qur‟an, kini ayat di atas menoleh untuk mengecam mereka yang tidak mengagungkannya. Allah berfirman: maka apakah terhadap ucapan ini kamu bersikap peremeh yang demikian jelas dan keras atau munafik-munafik yang bermuka dua, dan kamu menjadikan yakni menggantikan kewajiban mensyukuri rezeki kamu yang telah Allah anugerahkan dengan terrus menerus mendustakan yakni mengingkarinnya?
Thabathba‟I memahami rezeki yang dimaksud adalah kebajikan-kebajikan yang dapat mereka raih melalui Al-Qur‟an. Yakni kebajikan yang mestinya dapat mereka raih itu, mereka tukar dengan kebohongan (yang tentu saja mengakibatkan sanksi dan siksa).

falau lā iżā balagatil-ḥulqụm
Maka kalau begitu mengapa (tidak mencegah) ketika (nyawa) telah sampai di kerongkongan,

wa antum ḥīna`iżin tanẓurụn
dan kamu ketika itu melihat,

wa naḥnu aqrabu ilaihi mingkum wa lākil lā tubṣirụn
dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat, Ayat 83-85

Ayat-ayat ini menjelaskan, betapa ngerinya kalau nyawa manusia sudah sampai di tenggorokkannya.Keluarga-keluarga yang hadir datang hanya untuk melihat dan menyaksikan peristiwa tersebut sebagai pertemuan terakhir. Dalam peristiwa tersebu, keluarganya tidak dapat menyaksikan malaikat yang mencabut nyawa saudaranya, padahal ia berada disebelahnya.

Keadaan ini menggambarkan bahwa setiap insan tidak dapat mempertahankan rohnya dari malaikat maut. Ini suatu bukti bahwa baik roh maupun jasad bukan milik manusia.

falau lā ing kuntum gaira madīnīn
maka mengapa jika kamu memang tidak dikuasai (oleh Allah),

tarji’ụnahā ing kuntum ṣādiqīn
kamu tidak mengembalikannya (nyawa itu) jika kamu orang yang benar? Ayat 86-87

Ayat ini menerangkan tentang manusia yang sedang menghadapi sakratulmaut, mereka dalam keadaan sama sekali tidak berdaya, dan manakala mereka mempunyai kesanggupan dan kemampuan, tentulah mereka dapat menahan nyawa mereka ketika sampai di tenggorokan, untuk mengembalikannya kepada keadaan semula seperti ketika keadaan sehat.

Anggapan mereka bahwa hari kebangkitan dan pembalasan semuanya itu tidak ada.Kenyataannya, mereka tidak berdaya menahan rohnya ketika sampai di tenggorokannya, namun mereka membangkang.

Dalam tafsir Al-Misbah ayat 83-87, ayat yang lalu berbicara tentang kuasa Allah membangkitkan manusia setelah kematiannya, dan bahwa hal tersebut diuraikan dalam Al-Qur‟an yang diremehkan oleh kaum musyrikin, walaupun hati kecil mereka mengakui kehebatannya.

Disini Allah memperingatkan sekali lagi tentang kekuasaanNya, seakan-akan ayat di atas menyatakan: Allah telah menyampaikan kepada kamu bahwa ada hari kebangkitan dan pembalasan. Itu akan terjadi setelah kematian kamu. Salah satu bukti kuasa Allah untuk melakukan pembalasan dan ganjaran itu adala kuasaNya mencabut nyawa kamu secara paksa. Jika memang kamu mampu maka mengapa ketika ia yakni nyawa seseorang telah mencapai kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat dengan mata kepala kamu, siapa yang sedang sekarat, dan dengan kuasa kami serta para malaikat kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat, kamu atau para malaikat dan tidak juga mengetahui hakikat keadaan ketika itu apalagi merasakannya. Maka mengapa jika kamu tidak dikuasai oleh Allah dan akan diberi balasan serta ganjaran mengapa kamu tidak berusaha atau berhasil mengembalikannya yakni nyawa itu kepada jasad yang bersangkutan sehingga dia dapat hidup sebagaimana sedia kala? Mengapa kamu tidak lakukan itu jika memang kamu adalah orang-orang yang benar dalam kepercayaan kamu bahwa tidak ada kebangkitan dan tidak ada juga balasan dan ganjaran?

Ayat di atas menyatakan bahwa tujuan kematian adalah memberi balasan serta ganjaran kepada masing-masing yang meninggal itu. Seakan-akan ayat di atas menyatakan kalau bukan karena keniscayaan adanya pembalasan dan ganjaran, maka kamu tidak akan dimatikan Allah swt. Karena manusia adalah hamba-hamba yang dikuasai dan dimiliki sepenuhnya oleh Allah swt. Dialah sendiri yang mengatur hidup dan mati mereka.76

fa ammā ing kāna minal-muqarrabīn
Jika dia (orang yang mati) itu termasuk yang didekatkan (kepada Allah),

fa rauḥuw wa raiḥānuw wa jannatu na’īm
maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga (yang penuh) kenikmatan.

wa ammā ing kāna min aṣ-ḥābil-yamīn
Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan,

fa salāmul laka min aṣ-ḥābil-yamīnmaka,
“Salam bagimu (wahai) dari golongan kanan!” (sambut malaikat).

wa ammā ing kāna minal-mukażżibīnaḍ-ḍāllīn
Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan dan sesat,

fa nuzulum min ḥamīm
maka dia disambut siraman air yang mendidih,

wa taṣliyatu jaḥīm
dan dibakar di dalam neraka.Ayat 88-94

Ayat ini mejelaskan keadaan manusia setelah meninggal dunia. Mereka itu terbagi 3 golongan yaitu :

  1. Golongan orang-orang yang selalu mendekatkan diri kepada Allah (al-muqarrabin) dengan mengerjakan berbagai macam ibadah dan meninggalkan segala laranganNya. Mereka ini akan mendapat kemenangan dan kegembiraan serta memperoleh rezeki yang luas dan macam-macam nikmat, tempat kediaman mereka di surga, di mana mereka akan menikmati di dalamnya segala sesutau yang belum pernah dipandang oleh mata, didengar oleh telinga, dan terlintas di hati.

  2. Golongan kanan (Ashabul-yamin) yang akan menerima catatan amalnya dengan tangan kanannya. Mereka itu akan disambut dengan gembira oleh para malaikat sambil menyampaikan salam dari teman-teman mereka dari kalangan Ashabul-yamin.

  3. Golongan orang-orang kafir (ashabusy-syimal) ialah mendustakan Allah dan Rasulnya, sehingga mereka tersesat dari jalan yang lurus dan akan menerima catatn amalnya dengan tangan kirinya. Mereka akan ditempatkan dalam api neraka yang berkobar-kobar nyalanya, diberi minum air yang sangat panas, dan makan buah zaqqum sehingga menghancurkan isi perut dan seluruh kulit badan mereka.

Dalam tafsir Al-Misbah ayat 88-94, ayat lalu menegaskan kuasa Allah mematikan sekaligus menyatakan keniscayaan pembalasan yang tidak dapat dielakkan manusia. Ayat-ayat berikut menguraikan sekilas tentang pembalasan dan ganjaran itu dengan menunjuk ke tiga golongan manusia yang disebut pada surah (ayat 7). Di sini Allah menyatakan bahwa: adapun jika dia orang yang mati itu termasuk orang yang di dekatkan kepada Allah yakni As-Sabiqun maka dia memperoleh kenyamanan dan ketentraman dari segala kegelisahan, penyakit dan yang mengaruhkan perasaan, dan juga rezeki yakni rahmat yang melimpah dan memuaskan, atau penyambutan dengan kembang- kembang yang beraroma harum serta surga kenikmatan ukhrawi yang tidak terlukiskan atau tertampung oleh kata-kata. Dan adapun jika dia yang mati itu termasuk golongan kanan yakni Ash-hab Al-Maimanah yang kedudukannya relatif lebih rendah dari golongan yang lalu, maka keselamatan dan kesejahteraan serta penghormatan bagimu secara khusus dari rekan-rekanmu Ash-bab Al-Yamin. Dengan demikian engkau tidak memperoleh kecuali keharmonisan hubungan dengan mereka.

Ayat 92-94, Setelah ayat yang lalu menjelaskan ganjaran penghuni surga, ayat-ayat di atas menjelaskan siksa penghuni neraka yang merupakan Ash-bab Al-Masy‟amah atau Asy-Syimal. Allah berfirman: dan adapun jika dia yang mati itu termasuk golongan para pembohong dan pengingkar kebenaran lagi sesat maka dia mendapat hidangan selamat datang berupa air mendidih, dan dibakar serta dipanggang oleh neraka jahim.

inna hāżā lahuwa ḥaqqul-yaqīn
Sungguh, inilah keyakinan yang benar.

fa sabbiḥ bismi rabbikal-'aẓīm
Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar. Ayat 95-96

Ayat ini menerangkan bahwa segala sesuatu yang telah diungkapkan dalam surah ini, baik yang mengenai hal-hal yang berhubungan dengan hari kebangkitan yang mereka dustakan maupun yang bertalian dengan bukti-bukti yang menunjukkan kebenaran adanya hal-hal yang akan terjadi setelah hari kebangkitan, yaitu hari yang berkaitan dengan nikmat-nikmat Tuhan yang diterima oleh golongan (muqarrabin) ashabul-yamin dan siksaan Tuhan yang akan menimpa golongan Ashabusy-syimal, semua itu adalah berita yang meyakinkan, yang tidak mengandung sedikutpun hal-hal yang diragukan.
Berhubungan dengan itu, manusia diperintahkan oleh Allah supaya memperbanyak ibadah dan amal saleh, antara lain dengan membaca tasbih, untuk mengagungkan Allah, Tuhan yang mahaagung.

Dalam tafsir Al-Misbah ayat 95-96, setelah menguraikan kepastian kiamat pada awal surah dan pembagian manusia kepada tiga golongan disertai dengan gambaran tentang balasan dan ganjaran masing-masing, surah ini ditutup dengan menyatakan bahwa: sesungguhnya yang diraikan oleh surat yang mulia ini adalah Al-Haq dan Al-Yakin, yakni keyakinan yang haq, atau keyakinan berganda sehingga sangat-sangat benar. Jika demikian itu halnya dan demikian itu sikap manusia, maka sucikanlah yakni tingkatkanlah upayamu menyucikan nama Tuhan pemelihara dan pembimbingmu yang Maha Agung.

Referensi :

  • Quraish Shihab, Tafsir Al-misbah, (Jakarta : Lentera Hati, 2002).
  • Muhaimin, Abdul Mujib, Jusuf Mudzakkir, Studi Islam dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan, ( Jakarta, Prenada Media Group : 2005).
  • Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya, ( Jakarta: Lentera Abadi, 2010).
  • Abdullah Bin Muhammad Bin Ishaq Al-Sheikh, Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 8 (Bogor : Pustaka Imam Syafi‟I, 2008).