Apa Kaitan dan perbedaan antara Empirisisme dan Positivisme ?

perbedaan antara Empirisisme dan Positivisme

Positivisme dalam bahasa filsafat bermakna sebagai suatu peristiwa yang benar-benar terjadi, yang dapat dialami sebagai suatu realita. Ini berarti, apa yang disebut sebagai positif bertentangan dengan apa yang hanya ada di dalam angan-angan (impian), atau terdiri dari apa yang hanya merupakan konstruksi atas kreasi kemampuan untuk berpikir dari akal manusia. Positivisme secara terminologis berarti merupakan suatu paham yang dalam “pencapaian kebenaran”-nya bersumber dan berpangkal pada kejadian yang benar-benar terjadi.

Apa Kaitan dan perbedaan antara Empirisisme dan Positivisme ?

Positivisme merupakan sebuah paham lain di dalam dunia filsafat yang berkembang pada abad ke-19, yaitu setelah masa perkembangan empirisisme dan rasionalisme. Positivisme sendiri sesungguhnya berakar dari paham empirisisme. Salah satu tokohnya, Auguste Comte (1798-1857), juga dikenal sebagai seorang penganut empirisisme (Tafsir, dalam Ikhwanuddin, 2002). Menurut positivisme, ilmu yang valid adalah ilmu yang dibangun dari empiri sensual.

Ada asumsi dari sebagian kalangan yang menganggap bahwa positivisme lahir karena adanya beberapa kelemahan dari paham empirisisme, meskipun sebenarnya banyak manfaat yang bisa diperoleh dari paham ini terhadap perkembangan pengetahuan.

Menurut Honner dan Hunt (1985), ada tiga hal yang perlu dicermati sebagai kelemahan empirisisme, yaitu:

  1. Empirisisme didasarkan atas pengalaman. Tetapi sebagai sebuah konsep, ternyata pengalaman tidak berhubungan langsung dengan kenyataan objektif yang sangat dijunjung oleh kaum empiris. Pengalaman merupakan pengertian yang terlalu samar untuk dijadikan dasar bagi sebuah teori pengetahuan yang sistematis.

  2. Empirisisme tidak mempunyai perlengkapan untuk membedakan antara khayalan dan fakta, karena panca indera manusia terbatas dan tidak sempurna.

  3. Empirisisme tidak memberikan kepastian. Apa yang disebut pengetahuan sebenarnya juga meragukan karena adanya kelemahan inderawi manusia.

Meskipun memiliki kesamaan dengan paham empirisisme di dalam memandang empiri sensual/ pengalaman sebagai bahan dasar pembentukan pengetahuan, tetapi di dalam paham positivisme terdapat banyak perbedaan mendasar dengan empirisisme, khususnya di dalam proses penemuan pengetahuan itu sendiri. Perbedaan tersebut adalah:

Perbedaan empirisme dan positivisme